Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 194 Pelet Ajian Jaran Goyang ( Part 4)


__ADS_3

"Kamu sudah melakukan kesalahan, Arya. Rambut yang kamu sertakan pada foto Anisa adalah rambut kuntilanak. " kata Ki Prana.


" Hah...? Astaga...... "


Terkejut Arya setengah mati.. Bagaimana mungkin rambut yang nyata-nyatanya dengan jelas dia ambil sendiri dari kepala Nisa, menurut Ki Prana gurunya adalah rambut kuntilanak.


" Rambut kuntilanak? " Bagaimana mungkin, Ki? Aku sendiri yang mengambil rambut itu dengan tanganku dari kepala Nisa, Ki."


"Aku tahu, anakku. Tapi yang kamu temui saat itu bukanlah Nisa istrimu, tapi kuntilanak penghuni pohon Akasia yang berada di depan Vila keluargamu. Sudah ku katakan bahwa Jin itu amatlah sulit untuk kita hadapi. Bangsa mereka terkenal dengan tipu daya dan muslihat. Penuh dengan kelicikan. Jika tidak hat - hati, maka kita akan dengan mudah masuk ke dalam perangkap mereka. "


" Jadi, Nisa yang kutemui kemarin bukanlah Nisa yang sebenarnya, tetapi kuntilanak ? Pantas saja terasa ada yang aneh......" Arya mengingat - ingat kembali kejanggalan yang dia rasakan kemarin. Anisa yang dia hadapi kemarin sangat kuat, sedangkan Nisa yang dia kenal lemah lembut dan juga gampang menangis. Selain itu, rambut yang ada di tangannya terasa sedikit kasar. "Oh.... astaga...! " pekiknya ketika menyadari kesalahannya " rambut itu.....rambut itu berwarna hitam, sedangkan rambut mantan istrinya itu seingatnya berwarna merah kecoklatan. Arya menampar pipinya sendiri dengan gemas karena begitu bodohnya dirinya. Karena dendam Lantas dia sudah tak bisa lagi berpikir waras.


" Lantas, aku harus bagaimana, Ki? " tanya Arya bingung.


Ki Prana menggeleng pelan. "Maaf, anakku Arya. Ilmu Ajian Jaran Goyang yang sudah terlanjur dilepas, tak akan bisa ditarik kembali lagi. " jawab Ki Prana.


Pucat pasi wajah Arya mendengar jawaban Ki Prana. Itu artinya selamanya dia akan selalu dihantui oleh kuntilanak itu. Aduh.... bagaimana ini? pikir Arya.


" Apakah tak ada jalan lain lagi, Ki? Masa aku harus selamanya diikuti terus oleh hantu wanita itu. Tolonglah, Ki. Aku tak ingin berurusan terus menerus dengan hantu itu. " hiba Arya pada Ki Prana.


Pria tua yang masih saja berwibawa dan terlihat berpengaruh itu menghela nafas kesal. Nampak dia sejenak berpikir bagaimana caranya agar Arya tidak selalu diikuti kuntilanak itu terus - menerus.


Kemudian pria beranjak dari duduknya. Sejenak dia menghilang di balik pintu ruangan dan tak lama kemudian dia kembali lagi.


" Kamu pakai saja ini.! " Ki Prana menyodorkan sebuah kalung dengan liontin bergambar bintang lima dengan hiasan simbol mata berwarna merah darah pada tengah-tengahnya, kepada pada Arya.


" Apa ini, Ki? " tanya Arya saat melihat gurunya menyodorkan benda tersebut di hadapannya.


" Kalung ini akan menolongmu agar terhindar dari gangguan kuntilanak itu." jawab Ki Prana.


Arya dengan patuh memakaikan benda itu di lehernya. " Apakah sungguh tak ada cara lain, Ki? "


" Ada, caranya kamu harus bisa memusnahkan kuntilanak itu. Bagaimana, apa kamu sanggup? " tanya Ki Prana.


Arya tertegun mendengar ucapan gurunya. Bagaimana dia bisa mengalahkan sesosok kuntilanak. Dia tak memiliki kesaktian apa pun juga.


Arya kemudian berpamitan untuk pulang kepada Sang guru. Sepanjang perjalanan itu pikirannya sibuk memikirkan tentang Nisa. Dia ingin tahu, kemana mantan istrinya itu pergi. Karena menurut mata - mata yang dia tugaskan untuk mengawasi Nisa, wanita itu tak pernah terlihat keluar dari Vila itu. Paling jauh dia hanya berjalan - jalan di sekitar Vila saja.


" Aku harus menyelidikinya sendiri. Rasanya mustahil Nisa pergi dari sana tanpa diketahui anak buahnya. Kecuali..."


Mendadak Arya menghentikan laju kendaraannya....


" Kata Ki hitam.... Nisa berada di bawah perlindungan makhluk jin. Apa mungkin jin itu yang membawa Nisa pergi ke suatu tempat dan menyembunyikannya di sana. Semua itu bukan hal yang mustahil bagi bangsa jin untuk melakukannya. "

__ADS_1


Tangan Arya terkepal menghantam setir mobilnya. Dia merasa geram sekali. Bagaimana bisa dia tak menyadari berhadapan dengan siapa.


" Baiklah..... kita lihat seperti apa jin yang melindungimu, Nisa... " desis Arya sambil tersenyum keji. Di dalam otaknya kembali tersusun sebuah rencana jahat.


" Yang tak terlihat mesti dihadapi dengan yang tak terlihat juga, hahaha..... "


Cepat Arya melajukan mobilnya kembali ke rumahnya. Sesampainya di sana, dia menelpon seseorang. " Sani, cepat carikan aku dukun yang sakti. "


...-----...


Hari sudah pagi. Nisa menggeliat merentangkan kedua tangannya. Tubuhnya serasa sakit sekali. Hari ini dia merasa tak enak badan. Pikiran dan perasaannya sangat gelisah. Nisa tak tahu, apakah ini berhubungan dengan mimpinya semalam.


Tadi malam dia kembali lagi bermimpi yang aneh dan menyeramkan. Mimpi itu lagi. Mimpi yang sama. Dalam mimpinya itu rasanya dia seperti sedang berlari kencang karena ketakutan. Sesuatu yang tak terlihat seperti sedang mengejar - ngejar dirinya. Dia tak tahu, yang dia rasakan ada bahaya yang mengejarnya, dan suara itu, suara ringkihan kuda dan juga suara gamelan.... terus menerus mengejar dan mengikuti dirinya kemana pun dia berada.


Dengan malas Nisa melangkah ke kamar mandi. Dia hanya menggosok gigi dan membasuh wajah saja. Lalu bergegas kembali ke kamar dan berganti pakaian.


Lama Nisa terdiam di depan cermin memandang perutnya yang sudah semakin membesar dan kini terlihat agak turun ke bawah. Maklum saja, usia kandungannya sudah sembilan bulan. Ini berarti tak lama lagi dia akan melahirkan.


Nisa sebenarnya agak takut jika harus melahirkan seorang diri. Sebenarnya dia ingin melahirkan dengan ditemani oleh mama Dewi. Tapi dia tahu, keadaan tidak memungkinkan dia untuk meminta mama menemaninya. Dia tahu, mama pasti sibuk mengatur dan menjalankan perusahaan. Sedangkan kak Adel pasti juga sibuk dengan keluarganya. Namun yang dia risaukan adalah adik - adiknya.


Bagaimana jika Arya mengusik keselamatan adik - adiknya.


Namun kata Ammar dia tak usah mencemaskan mereka semua karena menurut Ammar, pria itu sudah memerintahkan kepada para anak buahnya untuk melindungi semua anggota keluarganya dari gangguan dan ancaman orang-orang suruhan mantan suaminya.


Dia menatap pantulan bayangan Luna yang cantik di dalam cermin. Cantik sekali...puji Nisa dalam hati. Putrinya saja cantik, lalu bagaimanakah ibunya? bathin Nisa lagi.


Dia sudah mengenal putri Ammar yang cantik itu. Dia merasa Luna hampir dengan dirinya. Mungkin terpaut dua tiga tahun di bawahnya.


Sungguh Nisa tak menyangka jika Ammar sudah memiliki putri sebesar Luna. Karena baik wajah maupun Phisik, tak menampakkan tanda - tanda jika Ammar itu seorang pria yang sudah memiliki anak remaja.


Semula dirinya menyangka jika Ammar adalah seorang pria lajang berumur tiga puluhan. Namun, kemudian semua itu berubah ketika dia bertemu dengan Hamish, putra Ammar. Dan kali ini, dia hampir dibuat tak percaya jika pria tampan itu sudah memiliki seorang putri yang bahkan sudah hampir menikah.


"Eh, iya.... " jawab Nisa sambil berbalik dan tersenyum pada Luna. " Ada apa, Luna? "


" Tak ada apa - apa. Aku hanya menyampaikan pesan ayahku. Dia sedang menunggumu di ruang makan." kata Luna.


" Baiklah, ayo kita ke sana. " ajak Nisa pada Luna.


" Apakah berat?"


" Hah, apa?" tanya Nisa tak mengerti.


" Itu, kandunganmu? Apakah kamu merasa berat dan kesulitan?" Luna kembali bertanya memperjelas.

__ADS_1


" Oh.... iya. Kadang aku sedikit kesulitan untuk bergerak. " jawab Nisa malu - malu sambil menggandeng tangan Luna. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Di sana sudah ada Ammar dan juga Hamish.


Dengan canggung Anisa duduk di sebelah Ammar. Entahlah, Nisa selalu saja merasa deg - degan jika berada di dekat Ammar. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Takut saja, dia kena serangan jantung sebelum melahirkan.


Walaupun ini bukan kali pertama dia duduk bersebelahan dengan Ammar di meja makan, tapi tetap saja dia selalu merasa canggung setiap kali duduk berdekatan dengan pria dua anak itu.


Nisa juga baru tahu satu hal, ternyata Ammar adalah duda. Status itu Nisa ketahui sehari setelah dia berada di tempat ini.


Ketika itu, Nisa yang merasa tak enak hati saat mengetahui Ammar sudah memiliki dua orang anak tapi masih memintanya untuk menemani pria itu duduk di meja makan bersama kedua anaknya, menolak dengan halus ajakan mereka dengan mengatakan dia merasa tak enak hati dengan ibu mereka nanti jika dia duduk di sana menemani mereka sarapan bersama.


Namun reaksinya Luna sungguh mengherankan. Gadis itu tertawa terkekeh - kekeh mendengar ucapan Nisa.


" Tenang saja, tak ada yang akan memarahi kamu jika duduk berdekatan dengan ayahku karena ayahku seorang duda. Ibuku sudah lama wafat. Dan kami juga tak Keberatan jika kamu menggantikan posisi ibuku. Ayahku masih sangat muda. Kami sadar dia merasa kesepian. "


Nisa terkejut bukan kepalang akan ucapan gadis itu yang to the point. Tanpa ragu - ragu dia mengatakan apa yang ada di hati dan pikirannya.


Sejak itu dia jadi menyukai Aluna. Dia merasa beruntung memiliki teman dan calon 'anak tiri' seperti gadis itu.


" Kamu melamun? " Ammar bertanya memecahkan lamunannya.


" Tidak... "jawab Nisa.


" Makanlah yang banyak. Anak dalam kandunganmu butuh asupan gizi yang banyak. Dan lagi pula sebentar lagi kamu akan melahirkan, persiapkan dirimu. " kata Ammar.


Nisa mengangguk malu - malu sambil menyuapkan sepotong roti ke mulutnya. Luna menyodorkan setumpuk anggur merah ke hadapannya.


" Makanlah jika kamu merasa malas untuk makan nasi. "


Ammar memetik sebutir anggur dan menyodorkan ke mulutnya.


" Buka mulutmu! " perintah pria itu.


" Aku bisa sendiri, Ammar.. " tolak Nisa halus. Dia merasa malu diperlakukan Ammar seperti ini.


" Buka...! " Terpaksa Nisa membuka mulutnya demi melihat tatapan tajam pria itu. Dia membiarkan Ammar menyuapkan anggur itu ke mulutnya. Sementara Luna dan Ammar senyum - senyum saja melihat semua itu.


" Nanti malam, ada ayah dan ibu Pangeran Alyan kemari. Aku memintamu untuk hadir menemani kami semua menyambut kedatangan mereka. Apakah kamu bersedia? "


" Pangeran Alyan? Siapa Pangeran Alyan?" tanya Nisa.


Aluna tersenyum menatap Nisa. " Dia adalah kekasihku. Apakah kamu bersedia? "


" Baiklah, aku bersedia.. " jawab Nisa.

__ADS_1


__ADS_2