
Asmi baru saja selesai mandi ketika Wira datang menjemputnya. Sesuai dengan janjinya beberapa hari yang lalu, hari minggu ini Wira akan mengajak Asmi jalan-jalan ke kota.
" Eh , mas Wira. Tunggu sebentar ya, Mas. Asmi mau pake baju dulu. "
" oke, santai saja, dek. Mas juga nggak buru - buru.! " jawab Wira sambil duduk diteras depan rumah Asmi.
Beberapa tetangga yang kebetulan melintas, menyapa ramah kepada pemuda tampan pemilik kulit sawo matang itu.
" santai, Mas Wira.! " sapa Pak Kardi, Ketua RT mereka.
" Eh, iya nih pak. Lagi iseng nunggu dek Asmi. " jawab Wira malu-malu.
Pak Kardi, manggut - manggut tanda faham.
" Asminya ada? " tanya Pak Kardi lagi.
" Ada, Pak. Ada." jawab Wira.
" kalo begitu, bisa tolong panggilkan, nggak? Saya ada perlu sedikit sama. Asmi. " kata Pak Kardi.
" Oh, begitu. Sebentar, Pak. Saya panggilkan Asmi dulu. " Wira pun pamit dan bergegas masuk ke rumah Asmi.
" Asmi, di luar ada Pak Kardi yang sedang mencari kamu. " lapor Wira.
" Pak Kardi.? maksud kamu Pak Kardi yang Ketua RT! itu? tanya Asmi memastikan.
" Iya, benar. " jawab Wira.
Asmi bergegas menemui Pak RT karena pikirnya pastilah ada hal yang penting.
" Eh, Pak RT. ada apa, ya Pak? " tanya Asmi pada Ketua RT mereka.
" hm, ini. kebetulan tadi ada yang datang ke rumah saya nganterin surat ini.Kayaknya itu surat panggilan sidang dari Pengadilan Agama untuk gugatan perceraian kamu sama si Ilham. " kata Pak Kardi.
Asmi berdehem, sambil melirik pada Wira yang membuang pandangan ke arah lain.
" hm, makasih ya, Pak. "
" iya, Sama-sama. "
Pak Kardi kemudian pamit pada Asmi. Sebelum berlalu, dia sempat menggoda Wira.
" kalo sudah sah bercerai, buruan gas, biar nggak keburu di samber orang. " Wira terkekeh mendengar godaan Pak Kardi.
" gas, sih gas, Pak. Kalo ceweknya kalem aja. Mau gimana? "
__ADS_1
Pak Kardi angkat bahu sambil terkekeh, berlalu dari rumah Asmi.
Sementara itu, Asmi yang sudah berpakaian rapi dan siap segera keluar dari rumahnya. Wira yang melihat penampilan Asmi, tertegun sejenak melihat kecantikan wanita itu.
" Mas, jadi nggak perginya? " tanya Asmi pada Wira yang terdiam terpaku.
" eh, iya. Tentu saja. Kamu sudah siap?? " tanya Wira pada Asmi.
" yes, tapi eh tunggu, aku kunci rumahku dulu, Mas. "
Setelah Asmi mengunci pintu rumahnya, mereka pun berangkat pergi dengan mengendarai motor besar milik Wira.
Mereka berjalan - jalan ke kota menghabiskan waktu bersama dari siang hingga sore hari. Menjelang malam hari, Wira mengantarkan Asmi kembali ke rumahnya.
" makasih, Mas. Atas traktiran dan belanjaannya. " kata Asmi.
" Kamu itu seperti orang lain saja sama mas. Justru mas senang karena hari ini Asmi sudah mau jalan sama mas. " balas Wira.
" Asmi masuk dulu, ya Mas. "
" Iya, masuklah. Ini sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat, pasti kamu lelah. Mas juga mau istirahat dan mandi, gerah banget. "
" Iya, Asmi juga, Mas. selamat malam, mas. "
" Malam, juga Asmi. Selamat beristirahat. "
Tubuh Asmi terasa segar setelah mandi dan membersihkan diri. Dia kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Iseng - iseng sambil rebahan Asmi memainkan game di handphone miliknya. Setelah cukup lama bermain, Asmi merasa bosan. Dia lalu beranjak ke ruang tamu untuk menonton televisi.
Sambil rebahan, Asmi menonton televisi di ruang tamu. Tak beberapa lama kemudian, wanita cantik itu sudah terlelap di depan televisi yang masih saja setia menampilkan acara demi acara walaupun penontonnya sudah terbang ke alam mimpi.
Sementara itu, jauh di tempat lain. Seorang perempuan tampak sedang duduk di depan sebuah pedupaan. Mulutnya terlihat komat - kamit seperti sedang membaca sebuah mantra.
Di hadapannya duduk dua orang perempuan yang datang dari luar kota. Perempuan yang satu tampak sudah berumur sedangkan yang satu lagi tampak terlihat masih muda.
" Ada maksud apa kalian datang kemari ? " tanya wanita itu ketus sambil menatap kedua orang itu dengan tatapan yang tajam.
" Begini, Nyai. Kami ingin minta tolong pada Nyai untuk.... anu
... eh itu.. " perempuan yang lebih tua dengan terbata - bata berusaha untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka.
" maksud kalian mau menyakiti seseorang.? "
" Iya, Nyai. Maksud kami seperti itu. Buat wanita itu menderita secara perlahan-lahan, baru kemudian di habisi. " kata perempuan yang lebih tua itu dengan wajah yang penuh kebencian.
__ADS_1
" Apa kamu bersedia memenuhi semua syarat - syaratnya.? "
" Saya bersedia, Nyai. Apapun persyaratannya akan saya penuhi. " jawab perempuan itu lagi.
Wanita itu menatap ke arah perempuan yang lebih muda.
" apakah ini ada hubungannya denganmu ? " tanya lagi.
Perempuan yang lebih muda itu menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, aku akan membantu kalian. Datanglah malam jumat ini dengan membawa foto orang yang ingin kau sakiti itu. " kata wanita itu.
Wajah kedua perempuan itu seketika menjadi gembira.
" Baik, Nyai. Kami akan datang malam jum'at ini bersama foto wanita sialan itu.!" jawab perempuan yang lebih tua.
Keduanya lantas mohon diri setelah wanita itu mengatakan apa saja persyaratan yang harus mereka penuhi untuk melaksanakan niat mereka.
...----...
Hari demi hari berlalu tanpa ada hal yang aneh ataupun istimewa dalam hidup Asmi. Hubungannya dengan Hasyeem masih mengambang tanpa ada kepastian lebih lanjut.
Rasa rindunya pada lelaki itu sekuat tenaga dia tahan. Gengsi dia kalau harus memanggil Hasyeem duluan. Walaupun janda, Asmi punya harga diri. Dia nggak mau di cap 'murah' walaupun sudah buka segel. Iiih... amit amit, deh.
Malam ini, adalah malam jum'at. Asmi sengaja tidur lebih awal setelah sholat isya karena besok pagi dia dan mirna akan membagikan sedikit makanan untuk warga yang kurang mampu.
Tadi siang dia dan Mirna sudah memesan seratus bungkus nasi kuning beserta lauknya untuk besok.
Tengah malam, Asmi merasa ada seseorang yang mengguncang - guncang bahunya, memintanya untuk segera bangun.
" Asmi, Asmi. Bangunlah cepat. Asmi.. " Asmi mengucek matanya. Rasa kantuk masih menguasai matanya.
" Asmi, ayo cepat bangun! kamu dalam bahaya.!" kembali bahunya di guncang seseorang karena Asmi yang tak kunjung juga membuka matanya.
Mendengar kata ' bahaya', seketika Asmi terbangun. Masih setengah sadar Asmi melompat turun dari tempat tidur.
" putri Azylla...?! "
" Akhirnya kamu bangun juga, ayo cepat ikut aku, seseorang berniat akan mencelakaimu ! " kata putri Azylla pada Asmi yang masih belum mengerti akan situasinya.
" Siapa? dari mana tuan putri Azylla tahu bahwa ada seseorang yang berniat akan mencelakai aku? " tanya Asmi yang masih terlihat ragu dan tidak percaya dengan perkataan putri Azylla.
" Mengapa kamu meragukan aku. Aku berkata yang sebenarnya. Ada seseorang yang sedang mengirim teluhnya saat ini. Kita tak ada waktu lagi sebelum teluhnya orang itu sampai padamu.! " kata putri Azylla panik.
Selesai berkata seperti itu, dari arah lubang angin jendela kamar Asmi masuk sebuah bola api yang langsung menyambar ke arah tubuh Asmi.
__ADS_1
Putri Azylla menarik tangan wanita itu ke samping untuk menghindari namun bola api itu berputar balik dan kembali menyerang Asmi.
Putri Azylla menyambar tangan Asmi dan kemudian membawa tubuh Asmi menghilang dari kamar itu. Meninggalkan bola api yang masih saja berputar putar mencari keberadaan sosok Asmi.