
" Apa maksud perkataanmu, Panglima Ammar? " tanya Pangeran Alyan dengan gusar. " Apakah kamu tidak menyetujui pernikahan kami? "
" Bukan seperti itu, Tuanku Pangeran. Tapi hamba mohon maaf yang sebesar - besarnya jika perkataan hamba ini nantinya akan melukai hati Putriku. Sesungguhnya Aluna bukanlah Puteri kandungku walau dia terlahir dari ibu yang sama dengan putraku. "
" Lalu aku harus bagaimana?
"Sepertinya kita harus mencari ayah kandung Luna yang sebenarnya" kata Panglima Ammar lagi. "Jika tidak, terpaksa pangeran Alyan dan putriku Aluna menikah dengan wali hakim." kata Panglima Ammar lagi.
Pangeran Alyan menatap kekasihnya dengan tatapan yang sulit di pahami. Ada rasa iba dan juga nelangsa saat menyadari betapa sedih dan kecewa hati sang kekasih saat ini. Bagaimana tidak? Orang yang selama ini dia sangka ayahnya ternyata bukan ayahnya. Sehingga saat ini pria yang ada di hadapan mereka tak bisa menjadi wali bagi kekasihnya.
Sementara itu, Luna tertunduk sedih ketika mendengar ucapan Ammar. Hatinya benar benar kecewa saat ini. Mengapa ibunya merahasiakan hal sebesar ini darinya. Jadi selama ini dia bukanlah anak kandung dari Panglima Ammar. Lelaki yang dia kenal selama ini, yang mencurahkan segenap kasih sayangnya dengan tulus ikhlas bahkan rela sampai harus mengorbankan nyawa, ternyata tidak memiliki hubungan darah sedikitpun dengannya. Lantas kemana ayah kandungnya selama ini. Mengapa ayah kandungnya tak pernah sedikitpun berkeinginan untuk mencarinya.
"Semenjak mengetahui ibumu hamil, kekasihnya yang merupakan ayah kandungmu, pergi begitu saja meninggalkan desa dimana ibumu tinggal. Ibumu harus menanggung penderitaan yang berat karena harus diusir oleh keluarganya dan juga warga di kampung itu. Bahkan hingga akhirnya kamu lahir, lelaki itu tak pernah kembali. Aku memutuskan untuk menikahi ibumu agar aku bisa melindunginya dan juga melindungimu dari incaran Penguasa Hutan Larangan." kata Ammar seolah faham akan pertanyaan yang ada di benak putrinya itu.
Aluna menangis tersedu-sedu mendengar kisah ibunya. Sungguh tragis sekali nasib ibunya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana ibunya bisa bertahan menghadapi semua itu. Entah mengapa dia menjadi sangat membenci ayah biologisnya. Karena pria itu, ibunya jadi menderita.
"Aku ingin mencari ayah kandungku yang sudah tega menyakiti dan menelantarkan aku dan ibuku. Aku ingin tahu apa alasan dia melakukan hal itu. " desis Luna geram.
Dia menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia keberatan jika putrinya tersebut melakukan hal itu.
"Biar ayah saja yang meminta anak ayah untuk melacak dimana ayah kandungmu berada. Ayah takut jika kamu mengalami beban mental dan shock saat mengetahui sesuatu yang diluar dugaanmu, Putriku.." kata Ammar .
" Tapi, ayah. Bagaimana bisa aku berdiam diri saja ketika mengetahui semua ini?" tanya Aluna kesal. Dia sangat marah kepada pria pengecut yang pergi begitu saja setelah menghamili ibunya.
"Sayang, Paman Ammar benar, sebaiknya kamu tak perlu turun tangan mencari lelaki itu. Biar pengawal ayahmu saja yang melakukannya."
" Tapi aku ingin bertemu dengan lelaki itu.Aku ingin tahu, seperti apa orang yang telah menyia - nyiakan ibuku."
" Sebenarnya itu adalah perkara mudah bagi bangsa kita, Panglima Ammar. Mengapa kamu tidak memerintahkan anak buahmu untuk melacak lelaki itu?"
" Astaga... anda benar sekali, tuanku." kata Panglima Ammar.
__ADS_1
" Putriku Aluna, ayah akan memerintahkan para pengawal untuk melacak di mana keberadaan ayah kandungmu. Bersabarlah sedikit, putriku." kata Ammar pada Aluna.
" Baik, ayah. Aluna akan bersabar mematuhi pesan ayah. Aluna sayang sama ayah." kata.Aluna.
Ammar memeluk putrinya dengan perasaan mengharu biru. Dia bisa memahami bagaimana perasaan putrinya. Dia sangat menyayangi putrinya tersebut walaupun bukan darah dagingnya.
Andai saja dia bisa menyimpan rahasia ini semua. Dia lebih memilih untuk menyimpannya saja untuk dirinya sendiri. Karena dia tak sampai hati untuk mengatakan semua kenyataan yang akan menyakiti hati putrinya tersebut. Tapi semua itu harus dia katakan kepada Luna karena walau bagaimana pun juga Luna berhak untuk mengetahui yang sebenarnya.
" Maafkan ayah, putriku..Ayah terpaksa mengatakan semua ini."
Aluna memeluk Ammar. Dia menangis di pelukan pria tampan itu. Pria yang sangat dia sayangi walaupun kini dia tahu bahwa ternyata pria itu bukanlah ayah kandungnya.
" Aluna sayang sama ayah." isak putri Aluna pilu di dada Ammar.
Kedua keluarga bangsawan jin tersebut belum bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk pernikahan kedua anak - anak mereka. Pangeran Hasyeem dan Ratu Asmi bisa memahami bagaimana situasi yang dialami oleh kekasih putra mereka. Sedangkan Pangeran Alyan tampak sedikit gusar karena menyaksikan kesedihan di mata sang kekasih.
" Jangan bersedih, sayang. Kita akan menghadapi masalah ini bersama - sama" bujuk Pangeran Alyan pada Luna. Dia berusaha untuk memberikan perhatian dan dukungan untuk kekasihnya.
Wanita cantik yang sedang hamil itu sedih karena merasa apa yang telah terjadi pada Aluna, bakal akan terjadi juga pada diri anaknya.
Berada di dalam garis takdir menjadi anaknya, cabang bayi yang kini berada di dalam kandungannya sejak awal sudah di tolak kehadirannya oleh sang ayah yaitu Arya. Entah bagaimana nasibnya kelak jika bayi ini lahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan seperti Aluna? Apakah dia juga akan mengalami nasib yang sama? Gadis tanpa Nasab.... Nisa merasa miris sendiri. Sungguh.... saat ini dia berharap sekali semoga saja yang lahir kelak adalah seorang anak laki-laki.
Malam sudah semakin larut, namun Anisa masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Wanita yang sedang hamil tua itu terlihat berulang kali membolak - balikkan tubuhnya karena merasa tak nyaman. Pikirannya melayang entah kemana.
" Apa yang sedang kamu pikirkan? " sebuah suara mengejutkan dirinya yang sedang asyik tenggelam dalam pikirannya.
" Ammar..... "
Sebuah bayangan tiba-tiba saja hadir di sisi sebelah dia berbaring.
__ADS_1
" Apa perutmu terasa sakit? " tanya Ammar. Pria itu mengelus perut Nisa yang sudah semakin buncit.
Dia merasa khawatir terhadap perempuan yang sedang hamil tua itu.
Nisa menggelengkan kepalanya. Tatapannya lurus tertuju pada Ammar. Dia melihat ke dalam manik mata yang berwarna abu-abu dengan bintik kuning di tengah. Tanpa sadar dia berguman sendiri.
" Indah sekali...... " ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
" Apa...? " tanya Ammar yang bingung dengan ucapan Nisa yang mengambang.
" Kedua matamu. Bentuk dan warnanya sangat indah. Andai bisa, aku ingin sekali memiliki seorang anak dengan mata seperti itu. " jawab Nisa.
Ammar terkekeh mendengar perkataan Nisa.
" Kalau begitu tampaknya tak ada cara lain selain kamu harus menikah denganku, Anisa .... "
" Baiklah tuan Ammar, akan aku pikirkan tawaranmu... "
Keduanya saling pandang sejenak. Entah siapa yang mulai, karena kemudian dua insan yang berbeda alam itu kini tengah bergumul liar di atas tempat tidur. Bibir keduanya saling memagut dan saling *******. Bahkan kini di tubuh keduanya tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka.
Napas keduanya terdengar memburu oleh nafsu yang semakin memuncak dan menuntut untuk di tuntaskan.
Nisa mengerang ketika tangan Ammar sudah menyentuh titik sensitifnya yang kini sudah basah.
" Ammar.... " desahnya nikmat.
Namun, sebuah kesadaran tiba-tiba saja hadir di benak Ammar. Pria itu langsung menyudahi aktivitas mereka dan lantas berdiri menjauh dengan nafas yang masih menderu.
Nisa menjadi heran melihat perilaku Ammar. Dengan sedih dia bertanya, "Apakah aku begitu menjijikkan di matamu, Ammar? Hingga kamu tak sudi untuk menyentuhku?" Ada raut sedih di wajah Nisa diantara gejolak birahinya yang tengah bergelora.
Ammar tertegun mendengar pertanyaan wanitanya. Dia kemudian memandang ke arah wanita hamil yang kini tergeletak polos di atas tempat tidur. Dia kembali berjalan mendekati wanita itu dan memeluknya erat dan menciumi kepalanya dengan sayang.
__ADS_1
" Maafkan aku, sayang. Aku khilaf menggodamu. Tapi sekarang ini kita belum saatnya melakukannya. Sekali lagi, maafkan aku sayang... "