
Semua peristiwa itu, terjadi begitu cepat dan tak di sangka - sangka. Disaksikan oleh polisi yang mengepung ruang bawah tanah itu, dan sesosok makhluk yang tak kasat mata. Yang kemudian melangkah pergi sambil menghela nafas panjang. Lagi - lagi masalah cinta yang harus berakhir dengan tragis. Cinta yang di baluri Oleh pengkhiatan tak pernah berakhir bahagia.
...------...
Arryan berjalan pelan menyusuri lorong Koridor kampusnya yang menuju ke halaman. Arryan menoleh ke kiri dan kanan. Suasana kampusnya sepi, karena hari ini dia agak telat keluar dari kelas. Setelah memastikan bahwa tak ada seorangpun yang ada di sana, dalam sekejab mata, tubuh Arryan kemudian menghilang dari tempat itu. Gadis itu ingin pergi ke rumah sakit untuk menemui Keanan.
Seperti hari - hari kemarin, dia akan selalu menyempatkan untuk datang ke rumah sakit tempat Keanan di rawat. Pemuda itu sendiri yang meminta Arryan untuk datang setiap hari ke rumah sakit. Selain untuk menjenguk dan menemani dirinya agar tidak bosan, pemuda itu juga menjadikan Arryan sebagai tangan kanannya untuk menyampaikan tugas-tugas kepada mahasiswa lainnya, selama dia masih dalam tahap pengobatan dan perawatan.
Kondisi Keanan saat ini sudah berangsur - angsur membaik pasca operasi pemasangan pen di tangan dan bahunya. Bekas jahitan di kepala dan wajahnya pun sudah dilepas. Bekas luka di kepala dan wajah pemuda itu terlihat sangat mengerikan. Ayah Keanan menyarankan agar pemuda itu segera melakukan operas plastik untuk menghilangkan bekas luka di wajah dan kepalanya. Dan tampaknya Keanan akan melakukannya dalam waktu dekat ini.
Arryan sudah menginjakkan kaki di depan pintu masuk rumah sakit, ketika instingnya yang tajam merasa bahwa seseorang sedang mengawasi dirinya. Reflek Arryan menoleh dan mendapati seorang kakek - kakek berjanggut putih sedang menatapnya dengan tatapan tajam. "Siapa kakek berjanggut putih itu? Mengapa dia menatapku sedemikian rupa?" tanya Arryan dalam hati.
Arryan tampak sedikit terkejut ketika kakek berjanggut putih itu kini sudah tak nampak lagi batang hidungnya. " Heh, kemana hilangnya kakek tua itu. Barusan aku melihat kakek itu masih berdiri di sini. Kini dia sudah menghilang saja dari pandanganku. Apa dia sejenis dengan ayahku ? Tapi mengapa aku tak mencium sedikitpun aroma yang sama seperti ayahku? " kata Arryan dalam hati.
Merasa tak harus ambil pusing dengan apa yang baru dia lihat barusan. Arryan pun berlalu dari sana. Dia bergegas berjalan menuju ruangan tempat Keanan di rawat.
" Assalamu'alaikum..! " Arryan memberi salam sambil mendorong pintu agar bisa masuk ke dalam. Dia tersenyum melihat Keanan yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidurnya. Keanan yang menyadari kehadiran wanita itu, melempar tersenyum lebar, menyambut kedatangan wanita itu.
"Hai,.. masuklah..!", sapanya ramah. Arryan segera melangkah masuk dan berjalan mendekat ke arah pemuda tampan itu. "Aku membawakan pesanan...." Kalimat Arryan terputus saat mendengar ada seseorang yang sedang membuka pintu ruangan Keanan. Keduanya menoleh bersamaan ketika daun pintu kembali terkuak.
Seseorang gadis cantik berwajah bule dengan dandanan yang modis, melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Wajah Keanan sedikit menegang saat melihat siapa yang baru saja datang.
"Katherine..! " desisnya lirih.
" Hello, sayang! Lama tak bertemu." wanita cantik itu melempar senyum saat berada di dekat Keanan. Tanpa malu - malu dia mencium pipi kanan dan kiri Keanan, tanpa repot - repot menoleh pada Arryan yang duduk di samping Keanan. Gadis itu meletakkan tasnya di nakas dan berdiri di sebelah Keanan.
" Ngapain kamu kemari? " tanya Keanan dingin. Dia kemudian beralih menatap ke arah Arryan yang kemudian mengangguk pelan. Dengan isyarat, Arryan mengatakan bahwa dia baik - baik saja.
" Ups, kenapa kamu bertanya demikian, sayang? Mana sambutan hangatmu padaku? Bukankah aku kekasihmu. Apakah kau tak merindukan diriku?" tanya Katherine seraya melirik ke arah Arryan. Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa gadis yang bersama Keanan saat ini.
" Jawab, Katherine! Untuk apa kamu datang kemari? " tanya Keanan dengan nada yang kini sedikit lebih tinggi.
__ADS_1
Katherine mengangkat bahu, lalu kembali tersenyum, menjawab pertanyaan Keanan.
" Tentu saja untuk menjenguk mu, sayang. Aku mendengar kabar dari adikmu Louisa, bahwa kamu mengalami kecelakaan beberapa waktu yang lalu. Maaf, aku baru bisa datang sekarang. Karena jadwal pemotretan aku sangat padat sekali."
" Oke, terima kasih. Kamu boleh pulang, sekarang. Karena aku tak membutuhkan kehadiran mu di sini. " ketus ucapan Keanan saat Katherine bermaksud ingin duduk di sebelah kasur Keanan.
Katherine bangkit dan menatap Keanan. "Sayang, kamu ngusir aku? Tapi, .. aku kan kekasih kamu. " ujar Katherine dengan wajah tanpa dosa.
" Stop mengatakan bahwa kamu kekasih aku. Hubungan kita telah lama berakhir, sejak kamu memutuskan untuk meninggalkan aku demi karir modeling kamu. Dan satu lagi, berhenti memanggilku sayang, karena aku bukanlah kekasihmu...! " Keanan berkata demikian karena sudah gerah dengan sikap Katherine yang baginya sangat memuakkan.
" Tapi sayang, aku masih mencintaimu.. " ucap Katherine dengan tatapan memelas.
" Tidak Katherine, cerita kita sudah usai. Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku ingin istirahat. "Usir Keanan halus.
Katherine menatap tajam ke arah Keanan , kemudian pandangannya beralih pada Arryan yang masih duduk dengan tenang di sebelah Keanan.
" Apa karena gadis ini, kamu sekarang menolakku? " tunjuknya pada Arryan. "Hah, payah sekali..! Ternyata, setelah berpisah dariku, selera kamu terhadap wanita turun drastis, sayang.." ejek Katherine sambil tangannya bersidekap memperhatikan Arryan dengan pandangan merendahkan.
" Kau..! " tangan Katherine sudah terangkat siap melayang ke. atas, namun keburu di tangkap dan diputar ke belakang oleh Arryan. Katherine meringis merasakan nyeri pada pergelangan lengan dan bahunya
" Aku peringatkan padamu nona, jangan coba - coba mengetes kesabaranku. Karena aku bukan dia yang masih bisa sabar dalam menghadapi wanita tak punya malu seperti dirimu. " bisik Arryan di telinga Katherine kemudian mendorong tubuh gadis itu menjauh darinya.
Keanan yang melihat aksi Arryan pada Katherine, sejenak terperangah. Dia tak percaya, Arryan yang biasa berpenampilan lembut dan kalem, bisa setegas dan seberani itu menghadapi Katherine, membuatnya makin kagum dengan gadis itu.
Katherine mengusap pergelangan tangannya yang memerah karena dicengkaram Arryan. Tanpa berkata-kata lagi, gadis cantik itu segera menyambar tasnya dan keluar dari ruangan Keanan dengan wajah kesal diliputi amarah.
" Maafkan aku atas suasana yang tidak menyenangkan tadi. " sesal Keanan yang merasa tak enak hati karena terpaksa melibatkan Arryan dalam hubungannya dengan Katherine.
" Sudahlah, aku tak apa - apa. " jawab Arryan. Gadis itu kemudian mengeluarkan semua barang pesanan yang di minta Keanan.
" Terima kasih, Ara.! " ucap Keanan yang memanggil Arryan dengan panggilan Ara.
__ADS_1
Kening Arryan berkerut saat mendengar Keanan memanggilnya dengan panggilan Arra.
" Kok ara, sih? " tanya Arryan heran. "Namaku Arryan, kak. Bukan Ara. "
" Tapi aku lebih suka memanggilmu dengan panggilan Ara, saja. Terdengar lebih manis dan menggemaskan. " jawab Keanan sambil tersenyum menggoda pada Arryan, membuat gadis itu merasa jengah.
" Terserah kakak saja, deh. Males aku berdebat... nggak guna banget. " sungutnya. Keanan yang mendengar hal itu langsung tertawa terbahak-bahak. Puas banget hatinya menggoda cewek yang akhir - akhir ini mulai mengisi ruang dihatinya yang lama kosong.
...-----...
Sementara itu , jauh di sana di Bukit Malaikat, dua orang bocah yang wajahnya nyaris serupa sedang asyik bermain rkejar - kejaran di taman istana. Sepasang mata cantik sedang mengawasi keduanya dengan pandangan yang tak pernah lepas. Sesekali dia berterriak memperingatkan kedua bocah itu agar tidak bermain terlalu jauh.
Itulah kedua anak kembar Asmi yang saat ini sedang bermain bersama saudara kembarnya. Walaupun usianya baru beberapa bulan saja. Namun pertumbuhan dan perkembangan mereka sangat pesat sekali. Tidak seperti ketiga kakak - kakaknya, kedua anak Asmi ini agak berbeda. Mata mereka persis seperti mata sang ayah. Coklat dengan bintik kuning di tengah. Mereka tumbuh dan berkembang dengan cepat. Umur enam bulan saja, mereka sudah seperti berumur enam tahun.
Mereka juga memiliki kemampuan sang ayah, yang bisa membaca dan mengetahui pikiran orang lain. Dan satu lagi, mereka asli berdarah jin. Karena mereka berdua bisa menghilang dan menembus dinding dengan mudah.
" Khalied, Khumaira! kemarilah, sayang!" panggil sang bunda kepada kedua saudara kembar tersebut.
Kedua bocah yang sedang bermain itu pun langsung melesat terbang menghampiri sang Bunda.
" Bunda, ada apa sih, panggil - panggil? " protes khumaira sambil memasang wajah cemberut.
" Putri bunda yang cantik, bermainnya sudah cukup. Ayo sekarang waktunya mandi. Ayo cepat bersihkan diri kalian..! Sebentar lagi guru kalian akan datang. " kata sang bunda kepada kedua bocah kembar kesayangannya itu.
Walaupun tak terima karena masih ingin bermain, keduanya terpaksa harus menurut kepada sang bunda. Ketiganya pun berjalan kembali menuju istana.
Mereka tak menyadari, jika dari tadi sepasang mata abu - abu dengan bintik kuning yang terang, tak henti- hentinya memperhatikan ketiganya dengan pandangan penuh arti.
" Asmi, kamu masih saja cantik dan menggoda seperti dulu. Aku tak tahu, mengapa aku selalu saja tak bisa menahan diri, jika melihatmu.. " lelaki itu menyeringai lebar saat mengingat betapa dia dulu hampir mendapatkan wanita itu, jika saja Pangeran Hasyeem tak keburu menemukannya.
" Asmi, aku sangat merindukanmu, sayang! " bisiknya sambil menahan sesuatu di balik celananya yang tiba-tiba saja mengeras.
__ADS_1