Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 109 Ayah Yang Terbaik


__ADS_3

Tubuh kekar pangeran Hasyeem mengukung tubuh mungil Asmi.


Segera matanya menelisik dalam ke titik terdalam netra indah sang istri.


" Jangan lagi bersedih atas garis takdir putra kita. Karena jika yang maha kuasa sudah menentukan demikian, maka selalu akan ada pertolongan Allah padanya. Percaya dan serahkan semua kepada Allah yang mengatur dan menentukan nasib dan takdir manusia." kata sang pangeran dengan lembut


Asmi merebahkan tubuhnya di dada bidang dan kekar milik sang suami.


Ini adalah kehamilannya yang ketiga. Lelaki ini sudah memberinya dua anak lelaki.


Dan sekarang menjelang kelahiran anak yang ketiga. Kali ini agak sedikit berbeda.


Kehamilan yang ketiga, Asmi agak sedikit manja dan sensitif sekali. Dia betah berlama-lama dalam pelukan sang suami dan tak ingin jauh - jauh dari sang suami.


Pangeran Hasyeem, sang suami agaknya mengerti akan kondisi sang bayi yang ingin selalu di sayang oleh sang ayah.


" Hmm, anakku sayang! jangan nakal dan buat susah bundamu, ya. Kasihan bunda, nanti sakit." kata lelaki jelmaan jin itu seraya mengelus lembut perut sang istri yang tampak besar dan kencang.


" Pangeran, aku lelah dan mengantuk! aku ingin tidur!" kata wanita cantik itu dengan manja.


" Ratuku mau tidur di kamar atau di luar?" Tanya sang suami. Biasanya istrinya akan merengek minta tidur di luar jika merasakan hawa panas.


Di sini tak ada listrik. Jadi tidak memiliki kipas angin atau AC. Oleh sebab itu, satu - satunya cara adalah memanfaatkan energi angin.


Namun, Asmi masih beruntung. Istana sang pangeran terbuat dari batu alam, sehingga suasana dalam istana selalu sejuk dan adem.


" Aku ingin tidur di luar saja..!" kata Asmi.


Pangeran Hasyeem terkekeh. Kemudian la lantas menggendong tubuh sang istri ke luar kamar mereka menuju ke balkon.


Pangeran Hasyeem lalu merebahkan tubuh sang istri di atas kursi besar yang ada di balkon. Kursi itu sengaja sudah diberi alas berudu tebal yang di buat senyaman mungkin untuk sang istri yang sedang hamil.


Lelaki itu dengan sabarnya mengelus lembut punggung dan pinggang sang istri hingga akhirnya Ratu cantiknya itu pun tertidur pulas.


Sang pangeran kemudian mengambil selimut dan menyelimuti tubuh sang istri. Kemudian dia juga menyelinap di belakang tubuh sang istri, memeluknya dari belakang agar istrinya itu bisa mendapatkan posisinya yang senyaman - nyamannya.

__ADS_1


...------...


Pagi hari di sebuah desa yang tentram dalam damai. Suara ayam jantan yang berkokok menyambut pagi seakan menjadi warna tersendiri bagi kehidupan alam pedesaan lebih yang asri dan lugas.


Di rumah Asmi, tampak Mas Ardi sedang menikmati sarapan pagi yang dibuatkan oleh sang istri. Secangkir kopi hangat dan sepiring nasi goreng sudah lewat memasuki perutnya.


" Nur, Dek Asmi lama nggak ada kabar. Gimana sudah keadaan anak itu? " kata Mas Ardi setelah selesai sarapan dan beranjak ke ruang tamu.


Mau ngapain lagi selain menonton acara berita di televisi yang menjadi hobinya.


" adek nggak tahu juga sih, mas. Soalnya dek Asmi loh, nggak pernah nelpon." jawab Sang istri dari arah dapur.


" Iya, yah dek. Kayaknya sudah lama dek Asmi nggak pernah menghubungi kita. Mas jadi khawatir, ada apa ya? " mas Ardi sepertinya sedang berpikir dan terlihat cemas.


Sebenarnya wajar jika Ardi sebagai kakak dari Asmi merasa cemas. Sudah lama Asmi tidak pernah memberi kabar kepada keluarganya. Tepatnya sejak kehamilan anak ketiganya ini.


" Hmm, sayang. Sepertinya kakakmu Mas Ardi sedang cemas memikirkan dirimu." kata pangeran Hasyeem. Saat itu keduanya sedang duduk berdua di depan kolam pemandian istana. Sang Ratu sedang berbaring di paha Sang pangeran.


" Oh, ya. Benarkah? Tapi aku tak bisa menghubungi mereka. Kamu tahu kan, sayang. Mana ada sinyal di sini." jawab Asmi.


Mereka dengan mudah melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain karena kemampuan mereka yang bisa berpindah-pindah dengan cara muncul dan menghilang dari suatu tempat ke tempat lain.


" Persiapan dirimu, sayang. Ayo kita ke rumahmu. Kita semua akan mengunjungi keluargamu! " kata Sang pangeran.


Asmi mengangguk lalu memanggil para dayang istana untuk memijat dan membantu dia mandi berenang di kolam.


Pangeran Hasyeem hanya duduk saja menemani sambil bermain dengan Azzura. Bocah kecil itu terlihat senang sekali bermain bersama pengasuhnya.


" Zu, jangan terlalu dekat dengan kolam nanti jatuh! " kata Sang Ayah. Matanya tak lepas mengawasi pergerakan Sang Putera yang tampan itu.


Ketampanan putra kedua Asmi ini di dapat dari perpaduan antara wajah tampan Pangeran Hasyeem dan wajah cantik Asmi.


Pangeran Azzura mewarisi tajam mata dan hidung mancung sang ayah serta bentuk wajah dan mulut sang Ibu. Sehingga siapa saja yang melihat bocah ini akan gemas dan terpesona.


" Sayang, sudah berendamnya. Nanti kamu masuk angin. Tak baik buat anak kita di dalam sana."

__ADS_1


Asmi segera beranjak keluar dari kolam pemandian setelah mendengar ucapan dari sang suami.


Namun, karena perutnya yang sedang hamil besar, dia agak kesulitan bergerak. Sigap, sang pangeran membantu sang istri dengan cara menggendongnya. Dia menggendong tubuh telanjang sang istri keluar dari dalam kolam dan membawanya ke bilik peraduan.


Begitulah sang pangeran, selalu memberikan perhatian kepada anak dan istrinya dengan sabar dan penuh kasih sayang.


...----...


Pangeran Hasyeem membawa Asmi yang sedang hamil besar beserta kedua putra mereka, Alyan dan Azzura ke rumah Asmi.


Seperti biasa kedatangan mereka yang tiba-tiba tentu saja mengejutkan Mas Ardi sekeluarga yang tidak menyangka bahwa akan kedatangan tamu yaitu sang Adik tercinta beserta suami dan juga keponakannya yang tampan.


" Kenapa kamu nggak telpon Mas, kalau mau datang. Kan, Mas bisa jemput kamu loh dek! " kata Mas Ardi.


" Ahh, terlalu merepotkan, Mas. Lagi pula Asmi sedang hamil besar. Khawatir dia mudah lelah." jawab Sang pangeran.


" Alyan, Azzura! ayo beri salam sama Pakde dan bude mu! " kata Sang pangeran kepada kedua buah hatinya.


Keduanya bergegas mencium tangan pakde dan bude mereka.


" Wah, ganteng - ganteng keponakan pakde ini. Sudah besar kamu, Alyan!" kata Mas Ardi seraya mengelus rambut Alyan dan Azzura dengan sayang.


Kedua putra mahkota dari sang pangeran itu berbalik menatap bundanya.


Pangeran Azzura tersenyum ramah. Sedangkan sang kakak hanya diam dengan wajah dingin. Bocah itu hanya akan bersikap lembut dan tersenyum jika sedang bermain bersama Aluna.


Sekarang, dia merasa kesepian karena Aluna tak ada bersama mereka. Dia sebenarnya enggan untuk ikut serta, karena itu berarti dia akan jauh dari Aluna. Dan dia tak menyukai hal itu.


" Pangeran, mengapa diam. Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya sang bunda.


Pangeran Hasyeem menatap ke arah sang putra. Dan segera dia tahu, apa yang sedang di pikirkan oleh putra sulungnya itu.


Wajah Pangeran Hasyeem tersenyum sendiri saat mendengar isi hati dari sang putra.


" jangan bersedih! kamu bisa bebas bermain bersama Aluna. Gunakan saja kemampuanmu untuk menemuinya kapan saja kamu mau!" kata sang Ayah dalam hati.

__ADS_1


Alyan menatap sang ayah. Senyum lebar tercetak di bibirnya. Ayahnya memang ayah yang terbaik.


__ADS_2