Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 173 Perjalanan Ke Dimensi Alpa ( Part 1)


__ADS_3

Putri Ambika terdiam mendengar ucapan Pangeran Azzura. Ada keraguan yang jelas tersirat di wajah gadis tomboy yang ahli bertempur itu.


" Hmm, alasan apa yang membuatku harus menunda kepulanganku, pangeran Azzura?" tanya Putri Ambika dengan pandangan penuh tanya.


" Berkencan denganku... "


Putri Ambika terpana mendengar ucapan Pangeran tampan penguasa Hutan Alas Purwo itu. Untuk beberapa saat kedua pipinya bersemu merah. Jantungnya berdetak kencang ketika pemuda gagah itu kemudian berjalan mendekatinya.


Kedua lutut Putri Ambika mendadak lemas. Semuanya terjadi begitu cepat dan tak terduga. Pangeran Azzura merengkuhnya dan mendaratkan ciuman di bibir merah gadis itu. " Aku menganggap 'kediamanmu' sebagai tanda persetujuan, Putri."


Otak Putri Ambika mengatakan ingin berontak agar bisa melepaskan diri dari pagutan bibir Pangeran Azzura. Tetapi respon tubuhnya ternyata berlainan dengan otak. Dia kemudian membalas ciuman itu meski dengan sedikit canggung. Akhirnya, keduanya kini terlibat dalam ciuman yang panas hingga sebuah deheman membuat keduanya tersadar dan segera melepaskan diri.


Putri Ambika tertunduk malu saat mengetahui siapa yang berada di sana. Panglima Ammar beserta Hamish dan Aluna.


" Paman Ammar, Hamish dan Aluna. Paman mau kemana? " kata Pangeran Azzura gugup. Ada sedikit rasa malu karena perbuatannya dipergoki oleh ayah Aluna. Sedangkan Panglima Ammar yang melihat itu hanya tersenyum bijak, karena dia juga pernah muda dan pernah mengalami masa - masa yang penuh gejolak dan gairah.


" Pangeran Azzura, karena keadaan sudah terkendali, maka izinkan hamba dan kedua anak hamba mohon izin untuk kembali ke istana Bukit Duri." kata Panglima Ammar


" Baiklah, Paman Ammar. Terima kasih atas bantuan yang telah kalian berikan selama ini. Paman Ammar dan Hamish serta Luna, kalian boleh pergi."


" Kalau begitu, kami akan segera pergi. Permisi, Pangeran." Ketiganya lalu melesat pergi meninggalkan Pangeran Azzura dan Putri Ambika yang kembali menghabiskan waktu berdua bersama di istana Bukit Malaikat.


Sementara itu, Pangeran Hasyeem dan Pangeran Alyan bersama Ki Anom tidak langsung kembali ke Bukit Malaikat. Mereka semua pergi menemui Putri Arryan dan kedua adik kembarnya yang kini sedang berada di rumah sakit. Mereka masih setia menunggu ibunda mereka yaitu Ratu Asmi yang kini sedang terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri karena koma.


" Putri Arryan... " Gadis cantik berwajah cantik berkulit putih halus bak pualam itu menoleh dan mendapati ayah dan kakandanya sedang berdiri di depan pintu masuk ruangan tempat Asmi dirawat.


" Ayahanda.... " Putri Arryan menghambur memeluk sang ayah. Demikian juga halnya dengan kedua adiknya. Mereka sangat gembira bertemu kembali dengan sang ayah dan kakaknya. Hatinya sangat sedih sekaligus terharu karena akhirnya ayahnya datang juga mencari mereka. Apakah itu akhirnya musuh sudah berhasil dihalau.


" Ayah, ibu Ratu sedang sakit. Dia tak bisa membuka matanya." kata Khalied dengan polosnya.


Pangeran Hasyeem menoleh kepada Putrinya bertanya. " Putri Arryan... bagaimana keadaan ibunda kalian? Apa yang telah terjadi padanya. "


Putri Arryan lalu menceritakan kepada ayahnya apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya dan ibunya.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Uwaknya beserta istri tiba di tempat itu sambil membawakan makanan dan baju ganti seperti biasa. Saat melihat pangeran Hasyeem, Mas Ardi mendekati dan. memeluk adik iparnya itu dengan haru.


" Mas tahu, kamu pasti akan datang dan menyelamatkan istrimu, dek. "


Pangeran Hasyeem mengangguk faham saat mendengar perkataan Mas Ardi.


" Iya Mas, aku akan membawa kembali istriku bersama kita."


Pangeran Hasyeem duduk di sisi tempat tidur Asmi. Dia memandang wajah istri yang sangat dirindukannya itu. Sebelah tangannya terulur dan memegang erat tangan Asmi yang tidak terpasang jarum infus. Dia mencoba mencari tanda kehidupan pada istrinya tersebut. Aura Asmi terlihat gelap. Dia memang melihat tanda kehidupan pada istrinya itu, namun Asmi sudah kehilangan rohnya. Roh istrinya itu telah meninggalkan raganya. Itulah sebabnya Asmi belum sadar sampai saat ini. Boleh di bilang, sebenarnya istrinya tersebut sedang mengalami yang namanya mati suri.


Walaupun secara medis dia belum dikatakan meninggal, tapi sebenarnya dia sudah meninggal. Yah.....Asmi istrinya sang Pangeran Hasyeem sebenarnya sudah meninggal saat terlempar dan kepalanya membentur tembok pagar rumah Mas Ardi hingga koma beberapa waktu yang lalu.


Pangeran Hasyeem menatap Ki Anom dengan pandangan sedih. Ki Anom sangat faham akan arti tatapan itu. Dia turut merasakan kesedihan dari tuannya. Siapa yang tak bersedih jika istri tercinta berada di ambang kematian.


Pangeran Hasyeem menghela nafas panjang. Dia tak ingin anak - anaknya mengetahui jika ibunda mereka telah tiada. Dia masih akan berusaha untuk mendapatkan kembali roh istrinya tersebut. Dia tak ingin ditinggal begitu saja oleh sang istri. Dia tak akan rela jika harus berpisah dengan belahan jiwanya sekalipun itu sang maut yang akan memisahkan. Jadi, bagaimana pun dia harus mendapatkan kembali roh Asmi dan membawanya kembali masuk ke dalam raganya.


" Hmm, hamba tahu apa yang tuanku inginkan. Seseorang mungkin bisa memberi petunjuk apa yang harus anda lakukan tuanku." kata laki-laki paruh baya itu dengan senyum bijak.


" Sepertinya anda harus meminta bantuan Panglima Ammar, tuanku. Hamba rasa Panglima Ammar bisa menolong Ratu Asmi, menyelamatkan dirinya dari kematian."


" Apa maksudmu dengan Kematian? Ratuku belum meninggal, Ki. Rohnya hanya pergi dan tersesat.Aku harus mendapatkan kembali roh istriku dan membawanya kembali sebelum empat puluh hari sejak kepergian rohnya.? " kata Pangeran Hasyeem gusar. Dada Pangeran Hasyeem berdetak kencang. Sungguh dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika Asmi, istrinya itu benar-benar meninggal dunia seperti kata Ki Anom.


" Ampun, tuanku. Bukan hamba bermaksud lancang mendahului kehendak Sang Pemilik Jiwa, tapi tuanku sudah melihat sendiri bagaimana keadaan Ratu Asmi. Jika tuanku berkenan, maka izinkan saya memanggilnya Panglima Ammar kemari. Ini keadaan yang darurat, tuanku."


" Aku sudah di sini, Ki Anom." jawab Panglima Ammar yang tiba-tiba saja sudah berdiri diantara mereka. Dia datang bersama Pangeran Hamish dan juga Aluna, putrinya.


" Maafkan atas kelancangan kami yang datang secara tiba-tiba ditempat ini. kami tadinya ingin membesuk Ibunda Ratu asmi. Tapi saat mendengar percakapan kalian tadi, maka kami yakin, telah terjadi sesuatu dengan ibunda Ratu Asmi. Makanya aku bergegas ke mari. Aku ingin melihat langsung keadaan ibunda Ratu." kata Panglima Ammar.


Panglima Ammar berjalan mendekati Ratu Asmi. Tangannya terulur untuk melilhat aura yang terpancar dari tubuh Aami.


" Berarti waktu kita tak banyak lagi, tuanku. Jika terhitung dari hari di mana pengawal Elathan menyerbu kita, maka kita hanya memiliki waktu tujuh hari dari sekarang, sebelum roh Ratu Asmi benar-benar pergi meninggalkan raganya pada malam ke empat puluh."


" Itu berarti nyawa Ibunda Ratu berada di ujung tanduk, ayah. Jika kita terlambat, maka nyawa ibundaku menjadi taruhannya. Ayah, apa yang harus kita lakukan? " kata Pangeran Azzura yang mendadak muncul di tempat itu bersama Putri Ambika.

__ADS_1


Aluna melihat Putri Ambika menjadi bertanya - tanya dalam hati, apakah Pangeran Azzura dan Putri Ambika memiliki hubungan spesial?


" Kalian, tenanglah. Saat ini roh ibunda kalian sedang tersesat di antara dua dimensi. Rohnya berada di antara dimensi alam dunia dan alam kematian. Hanya saja perjalanan menuju ketempat itu penuh bahaya dan resikonya sangat besar. Kemungkinan yang terburuk adalah kita bisa saja tidak kembali lagi ke dunia karena terjebak di dimensi tersebut. "


Semua orang yang hadir di tempat itu terkejut mendengar keterangan Panglima Ammar.


" Aku siap menerima segala resikonya, demi mendapatkan kembali roh istriku." kata Pangeran Hasyeem.


" Tapi, ayah. Perjalanan ayah ke tempat itu sangat berbahaya. Bisa saja ayah tak bisa kembali lagi dan terjebak di sana bersama roh ibunda Ratu."


" Aku tak peduli berada di mana saja, asalkan saja bersama ibumu, maka aku rela menjalaninya. Ayah titip adik - adikmu, Pangeran Alyan. Jagalah mereka selama kepergian ayah."


Putri Arryan dan Pangeran Azzura saling pandang. Apa maksud perkataan ayah mereka. Apakah ayah mereka akan pergi juga untuk menyusul ibunda mereka?


" Apakah ayah akan pergi meninggalkan kami? " tanya Putri Arryan.


" Ayah harus melakukannya, Putriku. Jika tidak, kita akan kehilangan ibunda kalian untuk selamanya."


" Tapi, Ayah.... " Pangeran Azzura ingin protes dengan keputusan sang ayah.


" Tuanku, sekaranglah waktunya. Hamba sudah membuka portal yang menuju ke tempat itu."


Pangeran Hasyeem mengangguk dan segera melangkah memasuki jalan setapak yang kini sudah membentang di hadapan mereka.


" . Ikutilah jalan setapak yang ada di depan sana. Jika tuanku menemukan sebuah cahaya putih yang berbentuk bola terbang rendah di antara ribuan kilauan cahaya yang bentuknya seperti kunang-kunang, maka tuanku harus menangkapnya. Sebuah Hati yang bersih dan suci akan membimbing tuanku menemukan yang Mulia Ratu Asmi. Hamba dan Ki Anom akan terus mengawasi dan membantu tuanku dari sini. " pesan Panglima Ammar.


Panglima Ammar dan Ki Anom kemudian berkonsentrasi untuk memusatkan pikiran dan kekuatan untuk membantu Pangeran Hasyeem memasuki perjalanannya ke dimensi Alpa. Dimensi tempat para roh yang mati dengan tidak wajah atau roh yang masih terombang-ambing diantara hidup dan mati.


Perjalanan kali ini adalah perjalanan antara hidup dan mati Pangeran Hasyeem demi untuk menemukan kembali jiwa dari kekasih hati dan belahan jiwanya yang pergi menuju ke dunia kematian.


Semua yang berada di tempat itu memilih untuk berkumpul dan berdoa bersama. Mereka mengadakan sholat sunah dan zikir bersama untuk mendoakan Ratu Asmi dan Pangeran Hasyeem agar kembali dengan selamat.


Apakah Pangeran Hasyeem berhasil mendapatkan kembali jiwa Asmi dan membawa kembali kekasih hatinya itu ke dunia...? ikuti lagi lanjutannya di episode berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2