
" Katakan padaku, mengapa Aluna dan ayahnya pergi diam - diam ke Australia, ayahanda? tanya Alyan dengan wajah gusar.
" Entahlah, mungkin saja ada sesuatu yang harus mereka kerjakan di sana, sebuah tugas atau urusan keluarga paman Ammar, barangkali." jawab Pangeran Hasyeem sekenanya.
Alyan mendengus kesal, tak puas dengan jawaban dari ayahandanya. Dia merasa sesuatu telah disembunyikan darinya.
Tanpa mengucap sepatah kata lagi, pemuda itu segera pergi meninggalkan balairung istana. Dia melangkah menuju ke bilik nya sendiri.
Dihempaskannya tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kesal. Menutup matanya sejenak untuk melepaskan penat di tubuh dan pikiran.
Tok! tok! tok!
" Kanda Alyan ! Apakah kanda sudah tidur? " tanya Azzura adiknya, dari balik pintu.
Pemuda gagah itu baru pulang dari berburu bersama dengan teman - temannya. Dia memang hobi sekali berburu. Kemampuannya dalam berburu dan memegang busur sudah tidak diragukan lagi.
Saat hendak masuk ke dalam kamar, tanpa sengaja ekor matanya melihat bayangan sang kakak berjalan masuk ke kamarnya dengan wajah di tekuk kesal.
Merasa heran dengan sikap sang Abang, pemuda dengan rambut hitam pekat warisan dari sang ibunda mengurungkan niat masuk ke kamarnya dan berbelok menuju kamar sang abang.
Krek! pintu kamar terbuka dan tampaklah wajah tampan kakaknya yang di tekuk. Azzura memandang kakak sulungnya yang hanya bercelana panjang saja, dengan pandangan penuh tanya.
" Ada apa, kak? "
" Hmm, tak ada.. Hanya sedikit kesal dengan seseorang saja." jawabnya lalu berlalu kembali menghempaskan diri ke atas tempat tidur.
Sang adik dengan cepat mengikuti kelakuan abangnya. Menghempaskan diri di atas tempat tidur.
" Kak Luna? " tebak Adiknya. Acuh Alyan hanya mengendikkan bahu, malas dan tanpa gairah.
" Sepertinya takdir mulai bergerak mendekatiku." lirihnya pelan.
" Apa kakak mau berdiam diri saja tanpa mau mencoba mencari tau seperti apa jalan takdir itu sendiri? "
__ADS_1
" Mereka tak ada yang mau jujur dan membiarkan takdir itu mendekatiku, Dinda Azzura... "
" Jikalau begitu sudah garis takdir yang sudah tertulis, walaupun beribu cara untuk mencegah, tak ada yang sanggup melawan sang pemilik takdir." kata Azzura bijak.
Alyan menoleh ke arah sang adik. Menarik sang adik ke dekatnya dan menjitak pelan kepala adiknya.
" Hahaha, aku heran. Darimana kamu belajar kata - kata bijak seperti itu. Biasanya tak ada barang sehari, mulut ibunda kita berhenti untuk menasehati dirimu yang nakal ini. Atau barangkali kamu sudah bertobat, dinda? "
" Huh, enak saja. Gini - gini aku adalah murid ki Anom dan juga murid ayah. Ki Anom banyak memberiku wejangan tentang hidup. Jadi sedikit banyak aku mengerti jika kakandaku sedang galau karena merindukan kak Luna...!" serunya sambil beranjak dari tempat tidur secepatnya sebelum jurus maut sang kakak keluar.
...----...
Alyan sudah berada di depan sebuah mansion yang berdiri megah di atas awan. Inilah negeri Cleveland. Negeri atas angin tempat tinggal Paman Ammar dan Aluna. Negeri ini terletak persis di atas kota Sidney, Australia.
Rasa penasaran dan juga kecemasannya akan nasib sahabatnya Aluna, membuat Alyan memutuskan untuk menyusul Aluna ke Australia.
Dan disinilah sekarang dia berada. Alyan memperbaiki sarung pedang di pinggangnya dan tas punggung yang berisi pakaian.
Alyan berjalan menapaki jalan setapak yang menuju ke pintu masuk mansion mewah di hadapannya.
Mereka berdiri menghalangi jalan Alyan untuk masuk ke mansion. Salah seorang penjaga berusaha menghentikan langkahnya.
" Berhenti di sana, wahai kau anak manusia! " bentaknya kasar pada Alyan.
Rupanya mereka adalah penjaga baru yang di tugaskan oleh Paman Ammar untuk menjaga pintu mansion.
" Ada perlu apa kau datang kemari? " kata sesosok makhluk bertubuh tinggi besar dengan wajah yang hitam dan mengerikan sambil mencekal lengan Alyan. Alyan menepis kasar tangan makhluk itu.
Tampaknya dia adalah pemimpin para pengawal yang berjaga - jaga di tempat itu.Taring besar di wajahnya menyeringai memandang ke arah Alyan.
" Aku Alyan, Putra Pangeran Hasyeem dari negeri seberang. Maksud kedatanganku kemari adalah untuk bertemu dengan pamanku Ammar dan nona Aluna! "
" Hm, rupanya kamu adalah teman nona Aluna. Sayang sekali, Tuanku Ammar dan nona Aluna sedang sibuk! Mereka tak bisa di ganggu sekarang!" bentak makhluk itu kasar. Matanya melotot besar dan berwarna merah.
__ADS_1
Alyan memandang ke arah penjaga itu dengan dingin. Sorot matanya tajam menusuk jauh ke dalam netra besar dan merah milik makhluk itu.
Ada sebuah cerita yang dia tangkap di sana. Tetapi tidak jelas karena terputus - putus.
" Sayang sekali juga, padahal aku sudah jauh - jauh datang dari seberang, untuk menyampaikan hal penting ini, tapi tampaknya tuan dan nonamu sedang sibuk. " kata Alyan dingin sambil berlalu hendak pergi.
" Tunggu dulu, katakan padaku! ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan pada tuan dan nona kami?" tanya penjaga itu.
" Katakan saja bahwa Alyan datang mencarinya. Tuan dan nonamu sudah mengenal aku. Aku sudah sering kali datang ke tempat ini. Tetapi tampaknya kamu tidak mengenal aku! " jawab Alyan.
Salah seorang dari mereka bergegas masuk ke dalam mansion. Tak lama kemudian, orang tadi kembali dan berbisik pada pemimpin penjaga tadi.
Seketika wajahnya berubah. Ada rasa takut terlihat dari sorot matanya yang tertangkap di mata Alyan.
" Ma.. maafkan saya, tuan. Hamba tidak tahu jika Anda adalah keponakan Tuanku Ammar. Kami harus bertindak hati- hati dan tidak gegabah karena ini menyangkut keselamatan nona kami. Apalagi hamba tadi sempat kembali aroma manusia pada tubuh Anda! " kata pemimpin penjaga itu dengan tubuh gemetar.
" Tak apa - apa. Aku memakluminya. Sekarang bisakah kau mengantarku menemui mereka! " kata Alyan masih dengan ekspresi dingin dan tegas.
" Baik, tuan. ikutlah dengan hamba!"
Segera setelahnya, Alyan diantar menuju ke sebuah ruangan yang letaknya tersembunyi di ruang bawah tanah.
Alyan tidak ingat kapan terakhir dia kemari. Tetapi dia tak pernah ingat bahwa ada ruangan tersembunyi yang terdapat di ruangan bawah tanah mansion keluarga Paman Ammar.
Alyan ingat, dulu dia dan Aluna sering sekali bermain di ruang bawah tanah ini. Mereka malah kadang berlatih ilmu kanuragan di sini, karena ruangan ini sangat luas. Luasnya hampir menyamai lapangan sepak bola mini.
" Tuan, kita sudah sampai! " kata penjaga tadi membuyarkan seluruh lamunan Alyan.
Pemimpin penjaga tadi mengetuk sebuah pintu besar yang terpampang di depan mereka.
Pintu dibuka dari dalam oleh seseorang. Dari celah pintu terlihat Ayah Aluna sedang duduk bersila di depan tubuh seseorang yang terbaring diam diatas tempat tidur.
" Aluna! " pekik Alyan tertahan saat dirinya mengenali siapa yang sedang terbaring diam disana.
__ADS_1
" Apa yang terjadi pada Aluna? "