Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 92 Siapa Kamu??


__ADS_3

Sementara itu Pangeran Hasyeem memperhatikan adik iparnya itu secara diam - diam.


" Siapa lelaki yang berdiri di belakang Delia. Dari aromanya, sepertinya dia juga berasal dari golongan bangsaku.? "


Pangeran Hasyeem kemudian berjalan menghampiri Asmi.


" Sayang, aku ada urusan sedikit. Aku akan meninggalkanmu sebentar. Kamu tidak apa - apa, kan? "


" Iya, aku juga masih mau ngobrol sama Delia. Kami akan pulang bersama. Setelah urusan jenazah Yovan selesai." kata Asmi pada suaminya.


Setelah memeluk dan mengecup sekilas sang istri, pangeran berwajah tampan itu kemudian pergi meninggalkan Asmi.


Di tempat yang agak tersembunyi, tubuh pangeran Hasyeem kemudian lenyap, menghilang tanpa jejak.


Sementara itu pihak keluarga Yovan sudah membawa jenazah lelaki itu menuju ke kediaman keluarga Permana di Semarang.


Rombongan mobil yang mengiringi mobil jenazah yang membawa jenazah Yovan bergerak cepat meninggalkan bandara yang sudah mulai sunyi. Asmi dan Delia satu mobil bersama mertuanya, Mommy Yunita dan Daddy Arras.


Sedangkan dua lagi mobil di belakang mereka ditumpangi oleh Mas Ardi dan mbak Nur serta Mirna bersama keluarga Yovan yang lain.


Malam bergerak semakin sendu dan dingin menghantarkan hati - hati manusia ke getar fitrah sejatinya diri, yaitu tenang dalam kesendirian.


Sepanjang jalan, dari bandara menuju Semarang, tak ada yang menyadari jika ada sosok makhluk tak kasat mata yang sedari tadi mengikuti masing-masing dari kedua wanita cantik itu.


Pangeran Hasyeem mengikuti sang istri dan Ammar mengikuti Delia.


Pangeran tampan itu memandang tajam pada sosok lelaki bermata abu - abu dengan bintik kuning di tengah seperti miliknya.


" Siapa kamu, wahai saudaraku. Mengapa mengikuti wanita ini? " tanya pangeran Hasyeem pada Ammar.


" Aku Ammar, aku kekasih dari wanita ini.!" kata Ammar seraya menunjuk pada Delia yang duduk bersebelahan dengan Asmi.


" Kamu berhubungan dengan wanita yang sudah bersuami? apakah kamu tahu itu adalah hal yang tidak benar! " tanya Pangeran Hasyeem dengan raut wajah tak senang.


" Rumit jika kujelaskan, tapi percayalah aku mengenal dan berhubungan dengannya disaat dia dan suaminya sudah akan berpisah! " jawab Ammar.


" Sudah akan berpisah? apa maksudnya?" tanya Pangeran Hasyeem tak mengerti.


Ammar lalu bercerita bagaimana awal dia mengenal Delia yang berniat bunuh diri dengan melompat dari Balkon apartemen mereka di lantai lima.


" Aku menolongnya karena merasa iba dengannya yang di khianati oleh suaminya namun dengan bodohnya malah berniat ingin bunuh diri.! " kata Ammar yang bercerita sambil matanya tak lepas sedikitpun dari wajah Delia.

__ADS_1


Pangeran Hasyeem menghela nafas panjang setelah mendengar cerita Ammar tentang Delia dan bagaimana kronologi kematian Yovan yang datang ingin membebaskan Delia dari cengkraman lelaki cabul pemilik penginapan yang menyekap dan ingin memperkosanya.


" mengapa kamu tidak menolong mereka dari awal? "


" a-aku tidak bisa. awalnya aku ingin menolong Delia, tapi suaminya sudah datang terlebih dahulu untuk menyelamatkannya. Jadi aku pergi karena aku takut kecewa jika Delia kembali bersama suaminya. " jawab Ammar


" Lantas apa yang membuatmu berubah pikiran dan menyelamatkannya? " tanya Pangeran Hasyeem pada Ammar.


" *Salah seorang kepercayaanku yang kutugaskan mengawasi Delia datang memberitahukan padaku bahwa Delia dalam bahaya dan suaminya sudah tewas di tembak oleh pemilik penginapan itu."


" Jadi karena itulah kamu kemudian datang kembali untuk menyelamatkan Delia*? " kata Pangeran Hasyeem.


Ammar mengangguk membenarkan ucapan Pangeran Hasyeem.


" Aku hanya ingin melindunginya! " katanya.


Pangeran Hasyeem mengangguk dan menepuk bahu lelaki itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.


"Kalau boleh aku tahu, ada hubungan apa anda dengan kakak Delia. Mengapa Delia dan mereka semua bisa melihat dirimu? bukankah bangsa kita adalah bangsa yang tersembunyi? "


" aku adalah suami dari wanita itu. Namaku Hasyeem, dia istriku dan kini sedang mengandung anak kami." kata Hasyeem menunjuk ke Asmi.


" Apa bedanya dengan dirimu? kamu juga memiliki hubungan dengan wanita yang berasal dari bangsa manusia.! "


Mereka berdua kemudian tertawa bersama - sama saat menyadari bahwa mereka berdua memiliki ketertarikan yang sama terhadap wanita dari bangsa manusia.


" Jadi sepertinya keluarga ini bakal memiliki dua menantu yang berasal dari golongan jin! " kata Ammar.


Pangeran Hasyeem tersenyum. " Jadi apakah itu artinya kamu berniat untuk menjadikan wanita ini sebagai istri*? "


tanya Pangeran Hasyeem pada Ammar.


" Aku tak tahu, apakah wanita ini bersedia menerimaku sebagai suaminya, sedangkan sebagai kekasih saja dia sepertinya enggan.!" keluh Ammar.


" putus asa, saudaraku. Kau tidak akan percaya jika kuceritakan padamu seperti apa perjuanganku untuk mendapatkan wanita itu. Aku sampai harus berseteru dengan ayah dan sepupuku karena mereka berniat untuk memisahkan aku dengan wanitaku."


" wah, menarik. Aku jadi tertarik untuk memperjuangkan cintaku pada Delia. Semoga saja kami berjodoh. Aku sungguh-sungguh ingin menjadikannya kekasih, istri dan juga ratuku. "


Pangeran Hasyeem terkekeh mendengar ucapan Ammar.


" Ternyata kita sama saja. seperti yang kaum manusia katakan, budak cinta! "

__ADS_1


Ammar dan Pangeran Hasyeem kembali tertawa bersama menyadari betapa mereka sama sama menjadi budak cinta untuk seorang wanita dari bangsa Manusia.


...----...


Jenazah Yovan di kebumikan di pemakaman umum dekat tempat tinggal mereka. Tampak sekali ibu Yovan tidak bisa menerima kematian sang Putra.


Delia menunduk memandang pusara yang bertuliskan Yovan bin Permana. Jiwa wanita cantik itu seakan luruh bersama luruhnya tanah Merah yang menutupi jenazah suaminya.


Matanya terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis. Asmi dan Mirna serta Mbak Nur menggandeng Delia agar tidak jatuh pingsan saat meninggalkan pemakaman itu.


Delia dan Asmi berada di rumah keluarga Yovan. Saat memasuki rumah, tampak mertua Delia, mommy Yunita sedang duduk di ruang tamu bersama Revan, kakak Yovan.


Lelaki itu memandang Delia dengan tatapan tajam dan menusuk saat Delia mengambil tempat duduk di depan mertuanya.


" Delia, apa yang kamu sembunyikan dari kami, tentang kematian Yovan! " katanya dingin dan tegas.


Deg!!! jantung Delia berdebar-debar mendengar perkataan Revan. Kakak Yovan itu memang terkenal bermulut pedas dan dingin. Tak heran sampai sekarang masih betah menjomblo. Mana ada perempuan yang betah berlama-lama pacaran sama kulkas berisi cabe.


" Apa maksud kak Revan bicara seperti itu? " tanya Delia berusaha tenang walaupun di hatinya merasa gugup. Haruskah pada akhirnya nanti dia harus mengatakan yang sebenarnya tentang aib Yovan kepada keluarganya.


" Kamu lebih faham apa maksud dari perkataanku. Mengapa Yovan bisa terlibat baku tembak dengan seseorang di penginapan itu. Apakah dia terlibat kerja sama dengan anggota geng? "


Bibir Delia bergetar oleh isak yang tertahan. Dia menggeleng lemah tak tahu harus menjawab apa.


" Mengapa kak Revan menanyakan sesuatu yang tidak aku tahu jawabannya. Andai aku tau, aku juga tak ingin mengatakannya kak, karena sama saja halnya aku membongkar aib suami aku sendiri! " kata Delia dengan emosi yang sudah mulai terpancing. Dia lelah dan muak dengan semuanya.


" Sudah.. sudah. Mommy mohon sudah Revan. Kita masih berkabung atas kepergian Yovan. Tapi kalian ribut dengan hal lain. Delia pergilah beristirahat di kamar kalian. Mommy tahu kamu tentu lelah. Kamar kalian masih sama seperti yang dulu. Asmi mommy minta tolong bawa Delia ke kamarnya !" kata Mommy Yunita


Asmi mengangguk patuh kemudian berdiri dan membawa adiknya itu menuju ke kamarnya di iringi tatapan tajam mata elang Revan.


" aku tahu ada yang disembunyikan Delia dengan kematian Yovan. Baiklah aku akan segera mencari tahu tentang hal itu secepatnya agar keluargaku bisa membalaskan dendam atas kematian Yovan.'" gumannya lirih nyaris tak terdengar.


Ammar menyeringai iblis mendengar perkataan Revan. Sementara Pangeran Hasyeem lebih memilih menemani sang Istri yang kini berada di kamar Delia.


"Huh, silahkan kamu berbuat semaumu , namun aku juga tak akan tinggal diam jika kamu menyakiti kekasihku! " kata Ammar lagi. Tentu saja kata - katanya tak mungkin di dengar oleh Revan.


Hari sudah beranjak malam. Delia sudah semenjak tadi tertidur lelap. Demikian pula halnya dengan Asmi yang akhirnya juga tertidur setelah mendapat usapan dan belain di punggungnya oleh sang suami.


Saat ini, tak ada yang bisa melihat Pangeran Hasyeem kecuali hanya Asmi seperti yang Pangeran Hasyeem inginkan.


Sementara itu Revan membayar seorang detektif untuk menyelidiki perihal tentang kematian Yovan yang di temukan tewas dengan luka tembak di bagian punggung. Karena banyak sekali dia menemukan keanehan seputar kematian adiknya yang tidak wajar.

__ADS_1


__ADS_2