Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 115 Bertemu Sonia


__ADS_3

Setelah mendengar perintah Ki Anom, Arryan segera pergi untuk mencari bahan - bahan yang diperlukan oleh mereka untuk dijadikan ramuan obat untuk Aluna.


Sedangkan kedua putra Pangeran Hasyeem lainnya yaitu Alyan dan Azzura membantu Ki Anom menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Aluna.


" Apakah kedatanganku menggangu kalian! " sebuah suara mengagetkan ketiganya. Serentak ketiganya menoleh ke arah datangnya suara tersebut.


Seorang lelaki tampan bertubuh atletis dengan rambut panjangnya berdiri tegak di depan pintu masuk ruangan Ki Anom.


" Ayahanda!"


Ketiganya berdiri dan berjalan menghampiri Pangeran Hasyeem lalu memberi salam.


" Salam, Tuanku. Maaf kami tidak mengetahui kedatangan tuanku. " kata Ki Anom. Dia membungkuk tanda hormat pada junjungannya yang sekaligus juga muridnya.


" Salam, ayahanda! " ucap kedua putra mahkota itu. Keduanya lalu memeluk sang Ayah yang masih saja terlihat tampan dan muda walaupun sudah berumur dan memiliki tiga anak remaja.


" Kalian sungguh keterlaluan. Mengapa tidak memberitahukan hal sepenting ini padaku! " kata Sang Ayah dengan ekspresi yang dibuat seolah-olah sedang marah.


" Maafkan kami ayahanda, ananda dan dinda Arryan baru saja mengetahui hal ini." kata Azzura


" Maafkan aku, ayah. Tadinya aku akan memberitahukan hal ini pada ayahanda. Tapi aku takut, akan terjadi kehebohan di istana. Apalagi jika sampai bibi Amirah tahu, paman Ammar berpesan agar bibi Amirah jangan sampai tahu dulu perihal Aluna." kata Alyan menjelaskan alasan mengapa dia tidak memberitahu tentang Aluna pada Ayahnya.


" Bagaimana sekarang keadaan Luna. Lukanya sangat parah. Pamanmu Ammar mengabarkan padaku bahwa keadaan sudah semakin berbahaya. Hades sudah mulai bergerak! " kata Pangeran Hasyeem.


" Jadi ayah sudah mengetahui tentang Hades? " tanya Alyan kepada Sang ayah.


Ternyata ayahnya sudah mengetahui terlebih dahulu tentang musuh mereka daripada dirinya. Alyan mengeluh dalam hati, kemana saja dia selama ini. Mengapa tak seorang pun yang memberitahu dia tentang semua ini, bahkan itu Luna sekali pun.


" Ayah yang memerintahkan pada pamanmu Ammar untuk mengawasi pergerakan Hades selama ini. Itulah sebabnya Ammar sering pergi ke sana. Karena gerbang Oreon berada di sana." lanjut sang Ayah.


" Apakah ayah tahu semua kejadian yang menimpa Aluna.? " tanya Azzura menimpali.


" Ayahlah orang yang membantu Paman Ammar saat keduanya terdesak dan Luna terkena pukulan Hades. Saat itu, Hades berhasil dipukul mundur setelah dia juga terkena pukulan Halilintar dari ayah. " jawab ayahnya.


" Jadi sebenarnya, Hades juga bisa dikalahkan? Buktinya ayah berhasil melukai Hades dengan pukulan Halilintar milik ayah." kata Alyan dalam hati.


Dia merasa bahwa Hades seperti halnya dirinya, pasti memiliki titik lemah. Dan dia hanya perlu bukti jika Hades mungkin saja manusia seperti dugaannya selama ini.


Sebenarnya untuk ilmu pukulan Halilintar, dia juga menguasai ilmu yang dahsyat milik Sang Ayah itu. Namun, dia jarang sekali menggunakannya kecuali jika terdesak. Selama ini dia seringkali menggunakan ilmu Pedang Bayangan yang diajarkan oleh sang Kakek, Raja Haizzar.


Kakeknya mengajarkan ilmu pedang itu secara diam-diam karena tahu jika cucunya itu sangat menyukai pedang. Sang kakek sangat sayang pada cucunya yang memiliki darah separuh manusia itu.


Walaupun Sang kakek jarang mengunjungi mereka, namun Alyan sering kali menyempatkan diri untuk mengunjungi Sang kakek sambil mempelajari ilmu pedang Sang kakek.


Sementara Alkan, putra bibi Bilqis juga selalu membantunya dalam hal berlatih ilmu pedang dan kelincahan memainkan senjata berbentuk panjang dan tipis itu.


Dia dan Alkan menyukai hal yang sama yaitu pedang. Kakek mereka Raja Haizzar melatih kedua cucunya itu dengan ilmu pedang yang sama.


Pengobatan Aluna sedang berjalan. Arryan dan Ki Anom bahu - membahu mengobati luka dalam yang di derita oleh Aluna.


Perlahan namun pasti, kondisi Luna mulai membaik. Wajahnya tak lagi pucat seperti saat pertama kali di bawa ke tempat itu. Lebam hitam yang terdapat di dadanya juga sudah tampak memudar.

__ADS_1


" Sepertinya Arryan sangat berbakat dalam hal pengobatan." kata Luna saat keduanya sedang berada di kamar Alyan.


" Hmm, sepertinya begitu. Oh.. ya. Kamu dari mana Luna? " tanya Alyan.


" Aku habis mengunjungi ibu dan adikku. Aku sedih, hanya bisa melihat mereka dari kejauhan saja. Aku merindukan ibuku." kata Luna.


Ada isak tangis yang terdengar dan Alyan tahu pasti bahwa gadis itu pasti sedang menangis.


" Bersabarlah, aku sedang memikirkan cara agar tubuhmu bisa bersatu kembali dengan bayanganmu." kata Alyan , mencoba menghibur hati sang sahabat.


" Apakah kamu ingin pergi ke suatu tempat? " tanya Aluna yang melihat Alyan meraih pedang dan mengikatnya di pinggang.


" Iya, aku akan pergi ke Gunung Khayangan untuk menemui kakekku Raja Haizzar. " jawab Alyan.


" Bolehkah aku ikut bersamamu, Alyan? Ayolah...aku bosan sekali di sini." rengek Aluna manja.


" Aku kira setelah menjadi bayangan, sifat manja dan kolokanmu akan hilang. Ternyata tidak, Ayolah... aku buru - buru!" ucap Alyan sambil membuka pintu biliknya dan melesat keluar.


" Kanda Alyan pergi dengan siapa, ya? Jika aku tak salah lihat, sepertinya ada bayangan yang mengikuti Kanda Alyan." kata Azzura. Pemuda itu baru saja ingin menemui sang kakak tapi urung karena dia melihat sang kakak yang melesat pergi meninggalkan istana.


" Akhh, firasatku mengatakan aku harus menyusul kanda Alyan." Putra kedua pangeran Hasyeem itu pun melesat pergi menyusul sang kakak.


" Tampaknya kanda Alyan pergi ke arah Gunung Khayangan. Apa kanda ingin menemui kakek Paduka Raja Haizzar?" Azzura bertanya dalam hati.


Tak berapa lama, dia melihat istana sang Kakek di depan mata. " oh.. ternyata benar dugaanku. Kanda Alyan pasti ingin menemui kakek. Sebaiknya aku ikut bersama kanda saja."


" Kanda, Kanda Alyan... tunggu! " serunya pada kakaknya. Alyan menoleh dan mendapati sang Adik berada tak jauh dibelakangnya.


"Tadinya aku ingin menemuimu di kamar. Namun dinda melihat kakanda pergi. Jadi dinda memutuskan untuk mengikuti kanda. Dinda juga ingin ikut ke istana kakek." jelas pemuda itu.


Alyan menarik nafas dalam. Adiknya yang satu ini memang sedikit bandel dan susah ditolak jika ada maunya.


" Kalau begitu, ayo kita ke sana sekarang!" ajak Alyan. Namun, Azzura hanya diam sambil memandang aneh ke arah Alyan.


" Mengapa? Apa ada yang aneh dengan diriku?" tanya Alyan yang bingung dengan tatapan Azzura.


" Bayangan siapa yang berdiri di sebelah kanda? " tanya Azzura dengan ragu - ragu.


Alyan tampak terkejut dengan pertanyaan adiknya. Akh... dia lupa satu hal, adiknya juga sama seperti dirinya. Separuh manusia separuh lagi jin. Jika dia bisa melihat keberadaan Aluna tentu saja sang adik juga.


" Dia Aluna." kata Alyan. Bola mata Azzura yang hitam membesar.


" A. l. u. n. a?!!! " serunya tak percaya. Alyan buru-buru menutup mulut sang adik sebelum ada yang memergoki mereka dan mendengar pembicaraan keduanya.


" Nanti saja aku ceritakan. Sekarang bisalah untuk sementara kamu menutup mulutmu untuk merahasiakan hal ini!"


" Mengapa Kanda tidak mengatakan hal ini pada ayah dan juga kami semua sejak awal?" tanya Azzura.


" Aku tak bisa, ayah tentu tak akan percaya karena dia tak akan bisa melihat keberadaan Aluna. Begitu pun halnya dengan Paman Ammar. " kata Alyan.


" Jadi maksud Kanda, hanya kita saja yang bisa melihat Aluna? "

__ADS_1


" Ya, karena kita memiliki darah manusia." jawab Alyan.


" Tunggu dulu, jika hanya kita yang memiliki darah manusia saja yang bisa melihat Aluna, apakah ibunya Aluna dan Hamish juga bisa? " tanya Azzura penasaran. Memang begitu watak Azzura, rasa penasarannya sangat tinggi terhadap sesuatu.


" Tentu saja mereka bisa, dinda! "


Azzura memandang ke arah bayangan Luna.


" Apakah kamu tidak berniat bertemu dengan ibu dan adikmu kak Luna? " tanya Azzura.


Bayangan Luna tampak tak bergerak. Seperti sedang termenung.


" Aku tak ingin membuat ibu dan adikku khawatir." kata Luna lirih.


" Oh begitu, baiklah aku mengerti." kata Azzura sambil tersenyum.


" Ayo, tunggu apa lagi? Bukannya tadi kita mau ke istana kakek di Gunung khayangan? katanya.


Alyan meraih tangan Aluna yang tak tampak di mata. Ketiganya kemudian berlari menuju istana sang kakek yang ssudah tampak di depan mata.


" Siapa kamu!! " bentak Alyan pada seorang gadis berbaju hijau pupus yang berdiri tepat dipintu masuk istana Sang Kakek.


Saat tiba di depan istana Gunung Khayangan tadi, ketiganya melihat seorang gadis dengan gerak - gerik yang tampak mencurigakan sekali.


Gadis itu memandang kedua pemuda yang berdiri di depannya. Seorang berambut kemerahan dengan wajah yang tampan namun dingin. Seorang lagi berambut hitam pekat dengan wajah yang tak kalah tampan namun memiliki karakter yang terlihat hangat.


" Aku Sonia!" jawab gadis itu dengan berani. Wajahnya cantik dengan kulit agak kecoklatan dan bermata coklat dan seperti biasa bintik kuning di tengah. Rambut panjangnya dikuncir setengah kebelakang dan diberi hiasan mahkota kecil pada puncak kepalanya.


Alyan dan Azzura sudah bisa menebak bahwa gadis itu berasal dari golongan yang sama dengan ayah mereka.


" Ada keperluan apa kamu di sini?" tanya Azzura. Dia merasa tertarik dengan gadis ini.


Sonia tidak menjawab pertanyaan Azzura. Pandangannya tertuju pada Alyan. Wajah tampan pemuda itu menarik perhatiannya.


" Akkh... rupanya kamu di sini, Sonia!" seru sebuah suara. Alkan, sepupu mereka datang menghampiri. Dia terkejut melihat kehadiran Alyan dan Azzura.


" Alyan, Azzura! kalian rupanya di sini juga? "


" Tadinya kami ingin masuk ke dalam istana kakek, tapi kami melihat gadis ini di depan istana kakek. Jadi kami memutuskan untuk menginterogasinya karena gerak - geriknya tampak mencurigakan sekali! " kata Alyan.


" Oh.. kalian tidak usah khawatir. Ini adalah Sonia. Dia adalah temanku. Dan kakek sudah mengenal Sonia karena Sonia sering datang untuk bermain bersamaku." kata Alkan menjelaskan perihal keberadaan Sonia di istana sang kakek.


Alyan tak berkata - kata lagi. Dia kemudian menarik Azzura untuk mengikutinya.


" Ayo dinda Alkan. Kita menemui kakek sekarang! " ajaknya.


Alkan mengangguk seraya menarik tangan Sonia. Dia mengajak gadis itu untuk turut masuk ke istananya bersama - sama kedua sepupunya yang lain.


Aluna memandang gadis itu dengan pandangan yang sulit di mengerti. Hanya sesama gadis saja yang faham akan arti pandangan itu.


" Tampaknya gadis bernama Sonia itu menyukai Alyan." bisiknya dengan hati yang cemburu.

__ADS_1


__ADS_2