Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 187 Hantu Anak Bajang ( Part 4 )


__ADS_3

Kak, siapa orang terakhir  yang ditemui Sherly?"


" Amris....lelaki yang juga merupakan pacar Sherly" jawab Nadia.


" Berarti makhluk itu sekarang sudah berubah wujud menjadi Amris. " kata Pangeran Hasyeem.


" Benar sekali, bisa jadi sekarang dia sedang berburu mangsa. Karena kata ayahanda, dia hanya bertahan paling lama empat puluh hari di tubuh korbannya."


" Jika seperti itu, kita harus segera menemukan Amris. Kata Vina adiknya, sampai saat ini belum ada kabar dari Amris setengah menghilang dari penjara."


" Kalian memang harus secepatnya menemukan pemuda itu. Karena jika dia sudah berpindah tubuh, maka akan semakin sulit bagi kita untuk melacaknya." kata Pangeran Hasyeem.


" Baik, ayah... " kata Putri Arryan.


" Jika demikian, kami harus kembali secepatnya ke rumah, Paman. Karena kemarin lusa saya mendengar kabar bahwa Amris berhasil lolos dari penjara. Dia menghilang begitu saja di hadapan semua orang, setelah kemarin sempat diamankan oleh polisi karena melakukan penganiayaan kepada ibunya. "


" Baiklah.... Berhati-hatilah. Karena makhluk itu terkenal dengan kelicikannya. Dia bisa merayu dan memanipulasi pandangan mangsanya. "


" Ananda pamit mohon diri, ayah."


" Saya juga, Paman. " pamit Nadia pada Sang Paman. Gadis cantik keponakan Asmi itu sebenarnya sedikit merasa cemas karena beberapa temannya ada yang dekat dengan Amris. Tidak mustahil, Amris akan mendatangi salah seorang dari mereka.


" Oh.... ayah, ananda hampir kelupaan bertanya pada ayah, bagaimana caranya menghadapi makhluk itu ? Siapa tahu saja, kita tak sengaja berjumpa..? tanya Putri Arryan pada ayahnya.


" Jika bertemu dengan makhluk itu, usahakan jangan menatap matanya. Sebaiknya kalian membawa garam untuk berjaga-jaga. Makhluk itu sangat takut dengan garam... "


Keduanya mengangguk dan kemudian Putri Arryan dan Nadia pamit mohon diri ke tempat semula.


Sepeninggal Putri Arryan dan Nadia, sesosok makhluk berwujud seperti gorilla berbulu hitam dengan wajah yang amat menyeramkan masuk ke dalam ruangan Sang Pangeran. Sejurus dia menunduk dan memberi hormat kepada Sang penguasa Bukit Malaikat itu dengan takjim. " Hamba, tuanku.. "


" Jaga dan lindungi Putriku Arryan. Jangan biarkan makhluk itu sampai mencelakainya. Tapi ingat, jangan sampai terlalu mencolok. Awasi dari kejauhan saja..! "


" Baik, tuan... "


Makhluk itu kemudian berubah menjadi gumpalan bola api lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu menuju ke dunia manusia, tempat di mana Putri Arryan tinggal.


Sementara itu, Amries yang berhasil lolos dari tahanan polisi tak tahu harus pergi kemana. Lagi pula, dia tak terlalu tahan berada di keramaian di siang hari, hingga terpaksa memilih bersembunyi di dalam terowongan di kolong jembatan. Pemuda yang merupakan perwujudan makhluk pemakan manusia itu hanya meringkuk selama beberapa hari di sana. Dia menghindari bertemu dengan manusia lain.


Selama seminggu, pemuda itu hanya berdiam diri di dalam terowongan itu tanpa makan dan minum. Tubuhnya tampak dekil serta bau. Rambut yang semula tertata rapi dan bergaya, kini acak - acakan tak terurus dan dipenuhi kotoran.

__ADS_1


Setelah seminggu berada di tempat itu, pemuda itu kemudian mendatangi rumah kediamannya. Namun karena tak ada siapapun di rumahnya yang bersedia untuk membukakannya pintu, maka akhirnya dia mendobrak pintu rumahnya. Amris berhasil masuk kedalam rumah dan berdiam diri di kamar sampai keesokan harinya.


Bangun tidur, pemuda itu membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu pergi lagi dengan mengendarai motor kesayangannya.


"Hai, bro... Dari mana saja? Lama baru muncul, lo? " Afdal teman Amries menyapa pemuda itu ketika melihatnya memarkirkan Honda CBR miliknya. Keduanya sedang berada di sebuah kafe yang terletak kota.


" Lagi sibuk.." jawab Amries datar. Pemuda itu beranjak turun dari motornya. Dia menghampiri Afdal yang sedang duduk santai bareng April, ceweknya sore itu.


" Denger... denger, Si Sherly ngilang ninggalin, lo. Kabur kemana, tuh cewek? "


" Tauk....pusing, gue. Biar aja...gue udah capek sama tuh cewek..! Dia melirik ke arah cewek yang duduk di sebelah April.


Afdal tertawa terkekeh - kekeh ketika mendengar jawaban Amris.


" Minat, bro..? "


Amris tak menjawab, hanya tersenyum masam.


Afdal memberi kode pada April. April yang paham langsung beringsut mendekati cewek di sebelahnya.


" Stts.... Sisil, ada yang mau ngajak kenalan, loh. Boleh,nggak....?" bisiknya di telinga Sisi sambil melirik ke arah Amris. Sisil menoleh ke arah Amris. Lumayan juga nih cowok, pikirnya.


Sisil tersenyum dan mengangguk.


" Amris.... "


" Sisil... "


Keempat manusia yang berbeda jenis kelamin itu terlibat obrolan santai hingga tanpa terasa waktu sudah beranjak magrib.


Sementara itu, Nadia dan Putri Arryan sudah berada di kosan Putri Arryan. Dengan bantuan jin pengawal ayahnya, Putri Arryan dan Nadia berhasil melacak keberadaan Amris.


" Sepertinya aku mengenal tempat itu. Aku dan teman - temanku sering nongkrong di tempat itu, Dek.. " kata Nadia, saat pengawal pangeran Hasyeem itu menyebutkan ciri-ciri tempat di mana saat ini Amris berada. Bergegas keduanya mendatangi tempat tersebut.


Namun, setelah tiba di sana, keduanya tak mendapati keberadaan Amris. Mata Nadia celingukan mencari sosok keberadaan Amris, namun tak ada tanda - tanda sosok pemuda itu di antara pengunjung cafe di sana.


" Nadia...! Lo, tumben banget kemari. Ada apa ?" Tegur Afdal yang tiba-tiba muncul di hadapan Nadia.


Nadia menatap Afdal dengan inten membuat Afdal sedikit risih.

__ADS_1


" Lo liat Amris, kaga? "


Kening Afdal berkerut mendengar pertanyaan Nadia. Aneh banget kedengarannya. " Emang, ada apa lo nyari dia?"


" Gue nggak ada waktu buat ngejelasin sama lo. Tapi lo harus kasih tau aku sekarang, di mana Amris, Dal... "


" Eng.... itu, si Amris tadi emang sempat di sini. Terus tuh anak... pamit pulang. Katanya mau ke dokter praktek keluarga, gitu."


Tubuh Nadia menjadi lemas mendengar jawaban Afdal. Berarti ada kemungkinan makhluk itu akan mencari mangsa lain.


" Ayo, Dek. Kita harus secepatnya menemukan Amris atau akan ada jatuh korban lagi dari makhluk itu. "


Afdal kaget dan heran mendengar ucapan Nadia. " Maksud kamu apa, Nad? "


" Nanti saja, aku jelasin. Sekarang ayo ikut aku mencari Amris. Buruan.... kita nggak ada waktu... " Nadia dan Putri Arryan langsung tancap gas meninggalkan tempat tersebut. Di susul Afdal yang mengikuti mereka di belakang berboncengan dengan April. Tujuannya ke rumah Amris.


Sementara itu, di sebuah klinik swasta yang letaknya agak berjauhan dari rumah Amris. Klinik tersebut adalah klinik milik pribadi dokter Itano Wirayuda. Dokter Itano adalah seorang dokter blasteran Jepang Indonesia yang sudah lama menetap di Indonesia dan belum berkeluarga.


Seorang pemuda yang berwajah cukup menarik sedang duduk di sudut ruangan. Di lihat sepintas lalu, pastilah pemuda itu juga merupakan pasien yang sedang menunggu giliran untuk dilayani.


Namun anehnya, setiap namanya di sebut, dia selalu diam saja. Hingga akhirnya setelah sekian lama, pasien di klinik tersebut hanya tinggal dia seorang saja. Karena yang lain sudah pulang semua dan sebentar lagi klinik tersebut akan tutup, karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


" Bapak Amris.... "


kembali sebuah panggilan dari pengeras suara menyebutkan namanya. Pemuda itu kemudian beranjak masuk menemui perawat yang berjaga di tempat tersebut yang langsung mengantarkan Amris ke ruangan dokter.


" Malam, dok... " Sapa Amris dengan sopan saat sudah berada di depan pintu.


" Selamat malam... " jawab dokter Itano dengan ramah sambil mempersilahkan Amris duduk.


" Apakah ada yang bisa saya bantu, Mas? dokter itu mulai bertanya untuk mengetahui keluhan pasiennya.


" Begini, dokter.... Akhir - akhir ini, saya merasa ada yang aneh dengan perut saya. Saya selalu merasa bengah atau kembung. Selain itu, jika ada makanan yang masuk ke perut, akan selalu dimuntahkan kembali." keluhnya.


Dokter Tano berdiri dan meminta Amris untuk berbaring di ranjang. Dokter itu berniat untuk melakukan pemeriksaan pada perut Amris. Amris di minta untuk membuka kemejanya sedikit pada bagian perut agar dokter bisa memeriksa lebih teliti di mana bagian yang terasa sakit.


Namun, baru saja dokter tersebut hendak menyentuh perut Amris, secepat kilat pemuda itu bangun dan mencengkram leher sang dokter dan dengan sekali gebrakan dia berhasil mematahkan leher dokter itu hingga tewas seketika dengan tulang leher yang patah. Selanjutnya, mulut Amris terbuka lebar seperti tak bertulang dan langsung menelan tubuh dokter yang malang bulat - bulat tanpa sisa.


Untuk sejenak, perut Amris langsung membesar dan membuncit seperti perut ular yang habis menelan mangsanya. Amris tak bisa bergerak sedikitpun dengan perut yang sebesar itu hingga dia hanya diam saja hingga beberapa saat.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, tubuh Amris perlahan-lahan lenyap dan berubah bentuk menjadi dokter Itano.


Yah.....makhluk terkutuk itu kini sudah berhasil mendapatkan mangsanya dan berubah bentuk menjadi seperti mangsanya.


__ADS_2