
Sepeninggalan Mang Dadang, Nisa tersenyum penuh misteri. Perlahan-lahan, sosok Nisa kemudian berubah wujud menjadi sosok kuntilanak yang berwajah menyeramkan. Sosok kuntilanak itu tertawa terbahak - bahak.
" Hihihi.....Saya sudah melaksanakan semua perintah anda, tuanku. " katanya dengan suara yang berat.
" Aku tahu, terima kasih. Kamu boleh pergi sekarang.. " kata Ammar.
Sementara itu Arya yang telah berhasil mendapatkan rambut Nisa tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya menyeringai licik sambil sebelah tangannya menggengam beberapa helai rambut Nisa. Dia tak menyadari jika rambut itu sebenarnya berbeda dengan rambut istrinya. Rambut itu berwarna hitam dan sedikit kasar sedangkan rambut Nisa berwarna kemerahan dan halus. Namun dia tak memperhatikan perbedaan itu dengan teliti. Pikirannya hanya tertuju bagaimana cara membalaskan dendam pada Nisa.
" Nisa, sebentar lagi kamu akan bertekuk lutut kepadaku. Aku pastikan kamu akan jatuh ke dalam pelukanku kembali dan setelah itu aku akan membuat kamu lebih menderita dari sebelumnya, hahaha" Arya tertawa licik di balik kaca mata spion mobilnya yang terus melaju menuju rumah kediamannya.
Tanpa seorang pun tahu, jauh di sana, seseorang sedang memandang kepergian Arya dengan senyuman yang tak kalah liciknya. Wajahnya juga menyeringai penuh ejekan. "Aku ingin melihat bagaiamana efek ajian jaran goyang terhadap kuntilanak, hahaha. "
Beberapa hari yang lalu.
Setelah memastikan Nisa kembali tidur dalam keadaan aman, Ammar yang merasa penasaran langsung melesat pergi menuju rumah kediaman Arya. Dia ingin memastikan apa yang menjadi dugaannya selama ini.
Sesampainya di rumah pria itu, Ammar mendapati rumah Arya terlihat sepi. Dia menjelajahi seluruh isi ruangan dan mendengar suara Arya sedang berbicara dengan seseorang. Ammar tertarik untuk mencuri dengar pembicaraan antara pria itu dengan seseorang yang entah siapa. Ammar yang penasaran segera mengintip siapa orang yang sedang di ajak berbicara oleh Arya.
Ternyata orang yang sedang berbicara itu adalah Arya dan seekor siluman kuda berwarna hitam yang bisa berbicara. Dari pembicaraan keduanya, kemudian Ammar dapat menarik kesimpulan bahwa Arya lah orang yang telah mengirimkan ilmu ajian pelet Jaran Goyang kepada Nisa, mantan istrinya sendiri. Namun, Ammar masih belum paham apa motif Arya mengirimkan ajian jaran goyang untuk Nisa.
Kemudian Ammar lantas kembali melanjutkan kegiatannya mengintip dan mencuri dengar pembicaraan keduanya. Alangkah geram dan marahnya Ammar saat mengetahui ternyata tujuan Arya mengirimkan Ajian Pelet Jaran goyang adalah untuk menumbalkan bayi yang ada di dalam perut Nisa sebagai tumbal untuk Ki Hitam.
Hampir saja Ammar menghajar pria itu saking geramnya andai saja dia tak ingat keadaan Nisa. Namun, kembali Ammar dibuat terkejut dan bertambah geram saat mengetahui rencana jahat Arya yang sudah termakan hasutan dari Ki Hitam untuk mengirimkan ajian pelet Jaran goyang kepada Nisa kali ini dengan tujuan untuk membuat gadis itu takluk dalam di bawah kaki Arya sehingga Arya bisa dengan mudahnya membalaskan dendamnya dan menghancurkan wanita itu sampai tak bersisa.
__ADS_1
Ammar sangat geram sekaligus iba kepada Nisa. Mengapa ada manusia yang sejahat dan sekeji Arya. Bukankah seharusnya pria itu melindungi dan menjaga wanitanya, bukannya malah menyakitinya. Ammar tak habis pikir.. Terbuat dari apa hati dan perasaan Arya, hingga tega berbuat sekejam itu bahkan kepada darah dagingnya sendiri.
Begitulah manusia yang sudah digelapkan oleh kebencian dan dendam. Bagi Arya tak ada hal yang lebih indah selain menyakiti dan membuat Nisa menderita.
Dendam masa lalu terhadap mama Dewi yang tiada lain adalah mama kandung Anisa membuat dia kehilangan akal sehat dan hati nurani hingga tega bahkan sampai harus mengorbankan darah dagingnya sendiri.
Bayangan sang ibu yang terkulai bersimbah darah di kamar mandi selalu membayanginya. Semakin hari kebenciannya kepada ibu Dewi, mamanya Nisa semakin mendarah daging. Terlebih lagi ketika ayahnya dengan paksa menjodohkan dia dan gadis itu.
Namun kemudian dia menyetujuinya demi sebuah alasan untuk bisa menyakiti ibu Dewi melalui Nisa. Namun di kemudian hari, ayahnya menyerahkan tiga puluh persen kepemilikan saham atas nama gadis itu membuat dia menjadi naik pitam. Dia semakin membenci Nisa, ibunya Nisa dan juga ayahnya.
Ammar mengepalkan tinju ketika mendengar rencana jahat Arya yang ingin mencelakai Nisa. Akhirnya dia tahu rencana jahat apa yang akan dilakukan Arya untuk Nisa. Untuk itulah kemudian Ammar menyusun rencana untuk mengelabui Arya.
Keesokan harinyanya, tanpa sepengetahuan siapapun, Ammar membawa Anisa ke istana di bukit Duri. Ammar berpikir bahwa Anisa yang sedang hamil tua tentu akan aman dan terlindungi karena ada Luna dan Hamish yang akan menjaga dan mengawasi keselamatan wanita itu.
Malam hari, Arya sudah menyiapkan diri untuk melakukan ritual untuk memanggil sukma Nisa dengan ajian ilmu jaran goyang. Foto Nisa dengan ukuran besar terpampang di depan sesajen beserta rambut Anisa yang berhasil dia dapatkan kemarin siang.
Arya duduk bersila di depan Sesajen dan pedupaan sambil mulutnya komat kamit membaca mantra.
"sun matek ajiku Jaran Goyang, ora goyang ing tengah latar, upet-upetku lawe benang, pet sabetake gunung gugur, pet sabetake lemah Bangka, pet sabetake segara asat, pet sabetake ombak gede sirep, pet sabetake atine wong wadon, cep sido edan ora mari-mari yen ora isun seng nambani.”
Asap dupa memenuhi ruangan di kamar Arya. Bau dupa menyeruak hidung begitu asap dupa itu mengitari seisi ruangan. Bau rambut terbakar langsung tercium ketika Arya melemparkan rambut Nisa ke dalam pedupaan. Suara ringkih kuda terdengar ketika Arya selesai membacakan mantra pemanggil jaranan.
Bersamaan dengan terbakarnya rambut itu terdengar suara jeritan wanita yang memilukan hati. Sejenak Arya tertegun. Apa yang salah dengan mantra yang dia baca? pikirnya.
__ADS_1
Tiba-tiba, saja sesosok sinar masuk menerobos ke dalam kamar Arya melalui lubang angin. Saat tiba di hadapan Arya, sinar tersebut berubah wujud menjadi sosok kuntilanak yang berwajah menyeramkan. Kuntilanak tersebut menangis dengan air mata darah sambil meratap memanggil Arya.
Sontak Arya menjadi gelabakan. Antara takut dan bingung dia pun berteriak sambil berlari keluar ruangan. Namun kuntilanak tersebut masih tetap mengejar Arya. Bergegas Arya mengambil kunci mobil dan pergi menemui gurunya Ki Prana. Dia bermaksud ingin minta penjelasan akan semua ini sekaligus minta tolong pada Ki Prana untuk mengusir kuntilanak tersebut.
Rumah Ki Prana terlihat sepi. Arya mengetuk pintu rumah Ki Prana, namun belum sempat tangannya menyentuh daun pintu, pintu rumah Ki Prana sudah terbuka dengan sendirinya.
Dengan sedikit ragu, Arya melangkah memasuki rumah Ki Prana. Di ruang tamu, Arya melihat Ki Prana sedang duduk di depan sesajen dan juga pedupaan. Bergegas juga Arya berjalan ke arah Ki Prana.
" Duduklah anakku Arya... " terdengar perintah Ki Prana pada Arya. Dengan patuh Arya duduk di hadapan Ki Prana yang sedang duduk bersila dengan mata tertutup.
" Ki, tolong saya. Saya tak tahu mengapa tiba-tiba saya dikejar - kejar oleh sesosok kuntilanak. Aku merasa tidak pernah berurusan dengan makhluk seperti itu
Bagaimana hal ini bisa terjadi padaku, Ki? Tolonglah aku, Ki. " hiba Arya.
" Hihihi..... Mas Arya....... " sebuah suara bergema di ruangan itu.
Jlebb..... sesosok kuntilanak muncul di hadapan mereka berdiri tak jauh dari hadapan Arya. Ki Prana melemparkan garam yang sudah dia beri mantra ke arah Kuntilanak tersebut.
Kuntilanak itu langsung menghilang dari hadapan mereka.
" Kamu sudah melakukan kesalahan, Arya. Rambut yang kamu sertakan pada foto Anisa adalah rambut kuntilanak. " kata Ki Prana.
" Hah...? Astaga...... "
__ADS_1