
"Asmi, katakan dengan sejujurnya, siapa calon suamimu, dek! " lelaki bertubuh tinggi kurus itu bertanya pada adiknya dengan pandangan tajam.
Asmi tertegun mendengar pertanyaan dari kakaknya. Bingung dan tak tahu harus menjawab apa.??????
Mirna pun tak kalah terkejutnya dengan pertanyaan dari kakak tertua mereka. Dia bingung dan tak kalah penasarannya akan siapa jati diri dari calon kakak iparnya itu. Tentang laki-laki yang dalam sekejap hadir di hadapannya dengan kemunculannya menembus tembok rumah.
Asmi tak tahu harus berkata apa. Apakah dia mesti jujur dengan Mas Ardi dan juga kepada semua keluarganya dan mengatakan siapa sebenarnya pangeran Hasyeem.
" Hasyeem itu seorang pangeran, Mas." Ardi terkejut mendengar penjelasan adiknya bahwa Hasyeem adalah seorang pangeran. Itu menjelaskan kepada mereka mengapa Hasyeem sekaya itu.
" Asmi, mengapa tak kamu katakan sebenarnya siapa calon suamimu itu sejak awal, jadi kita bisa mengadakan penyambutan yang layak. Tidak seperti tadi, mas kan jadi merasa tak enak dengan calon mertuamu dan juga keluarga mereka." kata Mas Ardi.
" Itu atas permintaan dari Hasyeem, Mas. Dia tidak mau diperlakukan berlebihan. Katanya dia ingin yang sewajarnya saja, seperti kebanyakan orang." kata Asmi memberi penjelasan pada kakak dan juga pada keluarga yang lain.
" Ohhh, begitu. Baik hati benar, ya. Tidak sombong lagi! " kata mbak Nur.
Mas Ardi mengangguk - angguk tanda dia bisa menerima penjelasan Sang adik.
" Iya, tapi kita malu, dek. Masa seorang pangeran disambut biasa saja. Apa nanti kata keluarga calon suamimu?"
" Ya, santai saja, mas. Loh wong orangnya sendiri yang minta! " kata Asmi sekenanya. Mas Ardi melotot. Rasanya pengen menjitak kepala adiknya yang cantik itu biar pintar sedikit. Dia gemas, adiknya itu bisa bersikap acuh dan terkesan seenaknya pada calon keluarga suaminya yang notabene adalah seorang bangsawan.
" Ya, sudah. Ayo ini semua dibawa masuk. Bagikan saja pada tetangga makanan yang masih banyak. Biar nggak mubazir.! " kata mas Ardi.
Asmi menarik nafas lega. Syukurlah Mas Ardi tidak bertanya lebih lanjut tentang asal usul pangeran Hasyeem. Masa iya, dia harus mengatakan pada mas Ardi dan juga seluruh keluarga, jika pangeran Hasyeem adalah seorang yang berasal dari golongan jin. Meskipun Hasyeem berasal dari golongan jin muslim, tetapi tetap saja itu tak menjadi jaminan bahwa keluarga asmi akan bisa menerimanya.
Sudah dapat Asmi bayangkan, jika keluarga Asmi pastinya akan membatalkan seluruh acara pernikahan yang sudah di siapkan dan Asmi tak ingin itu semua terjadi.
Ditambah lagi ada janin dalam perut Asmi yang sedang tumbuh dan membutuhkan seorang ayah. Maka dari itu, Asmi memutuskan untuk menyembunyikan jati diri Hasyeem dulu untuk sekarang ini.
Biarlah cukup dia dan juga sepupunya Nazwa yang tahu tentang adalah usul Sang pangeran. Dia sudah mengatakan pada sepupunya itu untuk menyimpan rapat peristiwa tersebut dan bisa merahasiakan tentang jadi diri dari calon suami Asmi.
" Maafkan aku, mas Ardi. Maafkan aku saudaraku semua. Belum saatnya kalian tahu yang sebenarnya. " kata Asmi dalam hati.
Malam itu ditutup dengan acara makan - makan bersama bagi Asmi dan seluruh keluarga kecuali Delia adiknya yang masih berada di Australia, mengikuti suaminya.
Malam beranjak semakin larut. Asmi yang kelelahan langsung terlelap tanpa menyadari bahwa sesosok lelaki bertubuh kokoh tengah mendekap tubuh mungil Asmi yang semakin montok dan berisi ke dalam dekapannya. Mengusap lembut perut kekasihnya yang kini masih terlihat rata.
" Kamu semakin cantik saja, sayang! " bisiknya di telinga Asmi, mencium sekilas bibir ranum kekasihnya, lalu berbaring sambil memeluk tubuh kekasihnya yang tengah pulas tertidur. Tak lama, diapun juga akhirnya ikut tertidur bersama Sang kekasih.
...----...
__ADS_1
Kita tinggalkan Asmi dan Pangeran Hasyeem yang sedang bersiap-siap untuk menggelar pesta pernikahan mereka. Sekarang kita sedang berada di Australia.
Malam baru saja beranjak naik sesuai waktu Australia. Seorang wanita cantik yang wajahnya sepintas lalu mirip sekali dengan Asmi sedang duduk seorang diri di balkon apertementnya. Wajah cantiknya terlihat muram. Sebotol wine menemani kesendirian wanita itu.
Tadi siang baru saja Delia menerima telepon dari Mas Ardi, kakak lelaki tertuanya. Ini adalah yang pertama kalinya mereka menghubungi Delia semenjak wanita itu tinggal dan menetap di negeri kangguru.
Delia terharu memandang tubuh kurus milik Mas Ardi. Mata lelaki pengganti almarhum Ayahnya itu tampak berkaca-kaca saat berbicara dengannya.
" Kamu baik- baik saja, dek? " tanya laki-laki yang dipanggilnya Mas itu dengan wajah sedih.
" Iya, Mas.. Aku baik- baik saja. Mas apa kabar? "
" Kami semua baik - baik saja, dek.! "
" Kalian semua kelihatannya sedang bergembira, ada acara apa?"
" Iya, kami disini baru saja selesai acara. Mbak Asmi di lamar seseorang." kata Mas Ardi.
Delia sedikit terkejut. "Mbak Asmi dilamar orang? bukannya mbak Asmi sudah menikah dengan mas Ilham ?"
" Wah, kamu ketinggalan berita, dek. Mbakmu sudah lama bercerai sama si bajingan Ilham itu. Sekarang dia sudah dapat ganti yang baru. Yang lebih ganteng dari si Ilham dan juga yang pastinya lebih kaya."
" Wah, kalo gitu, aku sudah melewatkan beberapa berita, dong mas! " seru Delia. Dia baru tahu jika kakaknya Asmi sudah bercerai dengan suaminya dan sekarang akan menikah lagi.
Malam semakin larut, namun Delia masih saja betah duduk di sana. Dinginnya angin malam yang berhembus dan terasa menusuk kulit putihnya tidak membuatnya bergeming. Rasa sedih dan kecewa membuat dirinya mati rasa.
Berkali-kali diteguknya cairan memabukkan yang dia tuang dari botol sampai habis. Namun tak juga membuat sakit di hatinya hilang.
" Kamu kejam, mas Yovan.! " ucapnya lirih disela kesadarannya yang perlahan-lahan mulai hilang. Bahunya terguncang oleh isakannya.
Delia, wanita malang itu menangis sendiri. Dia merasa kesepian. Suami yang begitu dia cintai dan banggakan ternyata telah menghianatinya.
Siang tadi, setelah menerima telepon dari saudaranya, Delia bermaksud mendatangi tempat kerja Yovan, suaminya. Tempat kerja mereka memang berbeda lokasi. Jarak antara tempat kerja Delia dengan tempat kerja Yovan berjarak lima belas menit jika berkendara.
Delia telah sampai di kantor Yovan. Dengan terburu-buru dia memasuki ruang tempat kerja Yovan. Namun... wanita cantik itu tak menyangka jika harus disuguhi pemandangan yang sungguh membuat dadanya sesak.
Yovan suaminya terlihat sedang asyik menindih sekretarisnya di sofa ruang kerjanya. Nafas keduanya saling memburu berkejar-kejaran mencapai puncak kenikmatan dosa. Terdengar ******* nikmat dari wanita itu ketika Yovan mengguncang tubuhnya dengan hentakan kuat.
" Mas..! " Yovan sontak mendongak mendengar suara yang sudah sangat dihapalnya.
" Delia..!! " ucapnya lirih. Dengan terburu-buru Yovan merapikan kembali pakaiannya begitu juga yang dilakukan oleh sekertarisnya.
__ADS_1
Delia masih diam terpaku di muka pintu. Dia terlalu shock dengan kenyataan yang baru dia temui.
" Delia, mas bisa jelaskan padamu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." kata Yovan sambil memberikan isyarat kepada sekertarisnya agar meninggalkan mereka berdua.
Delia menatap suaminya dengan pandangan terluka.
" Kita bertemu di pengadilan saja, mas. Aku rasa mulai saat ini kita tak dapat lagi bersama." ucapnya dingin. Kemudian, Delia berbalik dan pergi meninggalkan Yovan yang terpaku diam tak bergeming.
Yovan tak menyangka jika Delia akan datang ke kantornya dengan tiba-tiba. Biasanya wanita cantik itu akan menelponnya terlebih dahulu jika ingin datang ke kantornya. Sehingga dia bisa mengatur semuanya agar tidak membuat curiga istrinya itu.
Namun, hari ini sungguh diluar dugaan. Hingga Delia memergoki dirinya yang sedang bercinta dengan Clara, sekertarisnya.
" Delia, maafkan mas! " bisiknya lirih. Kepalanya pusing. Pasti sekarang istrinya itu merasa sedih dan terpukul.
Yovan merasa bersalah dalam hatinya karena telah mengkhianati pernikahan mereka. Namun, dia lelaki normal yang tak mungkin tidak tergoda akan rayuan wanita secantik dan seseksi Clara.
Awalnya dia hanya berniat bermain - main saja dengan Clara. Namun, semakin lama dia merasa ketagihan akan permainan panas wanita bule itu. Hingga akhirnya, perselingkuhan itu pun berlanjut sampai akhirnya Delia memergoki mereka.
Kini, Yovan hanya bisa menyesali semuanya. Dia berniat akan meminta maaf pada Delia dan berjanji akan memperbaiki semuanya. Dia tak ingin berpisah dengan Delia. Karena pada dasarnya dia sangat mencintai Delia.
Sudah berpuluh-puluh kali Yovan menelpon Delia, namun wanita itu tak juga mau mengangkatnya. Bahkan chat dari Yovan saja tak dibaca olehnya.
Yovan prustasi menjambak rambutnya sendiri. Keadaannya terlihat kacau dan berantakan.
" Please, Delia. Angkat telepon aku, honey. Aku mau bicara!" bisiknya lirih dan prustasi.
Namun, sepertinya harapannya sia-sia. Delia, wanita itu kini sedang tenggelam dalam kesedihannya. Seorang diri di apartemennya, setengah sadar dan menangis sambil meratapi nasib.
" I hate you, Yovan. Kamu penghianat busuk. Matilah kamu Yovan. hahaha...! " umpat Delia sambil melangkah mendekati bibir balkon. Matanya menatap nanar ke bawah sana. Tinggi sekali, karena dia sedang berada di lantai lima apartemen ini.
Tiba-tiba tercetus ide dalam benaknya untuk mengakhiri hidupnya. Dia muak dengan semua hal yang telah dia lalui. Dia merasa tak berguna dan putus asa.
Perlahan - lahan kakinya menaiki pagar pembatas balkon dan sekarang sudah berada di atas pagar. Sebelah tangannya berpegangan pada langit-langit balkon.
" Mas Yovan, aku membencimu, ingatkan aku jika kita bertemu lagi di kehidupan berikutnya untuk memaafkanmu. Karena di kehidupan ini aku tak bisa melakukannya."
Dengan mata terpejam, Delia melepaskan pegangan tangannya pada langit-langit. Tubuh Delia meluncur turun dengan cepat ke bawah. Delia pasrah menjemput kematian dengan sadar.
" Maafkan aku, bapak, ibu!" lirih ucapannya.
Bug! Tubuh Delia terhempas jatuh. Delia memejamkan matanya. Merasakan gamang dan melayang rasa tak di bumi.
__ADS_1
Penasaran. Apakah dia sudah mati dan sekarang rohnya sedang melayang - layang. Perlahan Delia membuka matanya.
" Bunuh diri membuatmu mati dalam keadaan kafir dan tidak diterima oleh langit dan bumi."