Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 46 Lelaki Tampan di Rumah Asmi


__ADS_3

Pangeran Hasyeem mengantar Asmi ke rumahnya. Pangeran tampan jelmaan jin itu sengaja mengantarkan Asmi ke rumahnya atas permintaan dari wanita itu. Katanya ada sesuatu yang harus di urusnya.


" akhirnya aku kembali lagi ke rumah. Home sweet home!! " kata Asmi sambil merentangkan kedua tangannya.


Hasyeem menggeleng - gelengkan kepala melihat tingkah Asmi.


Asmi masuk ke kamar dan langsung membuka bajunya lalu berjalan ke kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh hanya sampai sebatas dada. Dia lupa jika Hasyeem masih ada di belakangnya.


Pangeran Hasyeem yang melihat Asmi membuka seluruh pakaian di hadapannya langsung menghilang dari kamar Asmi. Dia tak ingin mencuri kesempatan walaupun dia bisa saja melakukannya.


Selesai mandi Asmi bersantai di depan televisi sambil memainkan handphone.


Tok! tok! tok! pintu rumahnya di ketuk seseorang dari luar. Asmi membuka pintu rumah dan tampak terkejut ketika mengetahui siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum, Asmi.! "


" Waalaikum salam! " balas Asmi jutek.


"Ngapain kamu datang kesini?" tanya Asmi pada Ilham. Ya... mantan suami Asmi yang tak punya malu itulah yang datang bertamu pagi- pagi ke rumah Asmi.


" Masnya dipersilahkan masuk, dulu toh, dek! " kata Ilham pada Asmi dengan wajah memelas.


" Nggak perlu! "sentaknya. " Katakan saja apa perlumu, Ilham! " Asmi berdiri dengan tangan bersidekap di depan dada. Tatapannya lurus menatap ke arah lelaki yang dulu sekali pernah membuatnya tergila- gila hingga lupa akan kenyataan bahwa suaminya itu telah berkhianat.


" Mas hanya mau mengunjungimu! " jawab lelaki itu santai.


Mendengar jawaban dari lelaki itu, tangan Asmi langsung bergerak hendak menutup pintu, tapi rupanya gerakannya terbaca oleh lelaki itu yang langsung bergerak menahan daun pintu rumah Asmi hingga urung menutup.


" Kenapa kamu bersikeras tak mau memberi kesempatan pada, Mas! Mas minta maaf, jika dulu pernah menyakiti kamu. Tapi Mas mohon beri Mas kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita bisa memulainya dari awal. Apalagi sekarang Mas sudah memiliki anak dari Ayu. Kita bisa mengasuhnya bersama, dek! " kata Ilham dengan lembut.

__ADS_1


Lelaki itu mencoba meluluhkan hati Asmi dengan cara membujuk perempuan itu dengan kata - katanya yang lembut. Sejenak Asmi terdiam mendengar kata-kata Ilham. Dia memang tak bisa memberikan keturunan. Vonis mandul yang menempel pada dirinya membuat lelaki mana pun pasti berpikir dua kali jika ingin memperistri dirinya.


Tawaran Ilham yang terdengar tulus sebenarnya sempat membuat hati Asmi tadi goyah. Memang benar, jika dia kembali lagi pada Ilham, dia akan berkesempatan mengecap manisnya sebutan 'mama' yang terucap dari mulut seorang anak.


Namun kilasan balik penghianatan dan juga perlakuan keji Ilham dan ibunya serta tamparan dari wanita yang menjadi istri selingkuhan mantan suaminya itu, membuat luka di hati Asmi kembali meradang. Luka itu menganga kembali dan menyemburkan darahnya hingga dada Asmi sesak oleh benci dan amarah.


Asmi menggelengkan kepalanya.


" Tidak, pulanglah, Ilham. Aku sudah tak berminat lagi untuk kembali bersamamu. Aku.... "


" Mengapa, Apa karena sekarang kamu sudah punya pacar? Siapa, Si Wira? atau siapa ? atau laki-laki yang kemarin.....! "


" Sayang,.... kamu bicara dengan siapa? " sebuah suara dari dalam rumah Asmi, membuat Ilham urung melanjutkan pertanyaannya.


Matanya menatap tak berkedip pada lelaki muda yang berwajah tampan yang kini sedang berdiri di belakang mantan istri cantiknya itu.


" Bukan siapa-siapa, sayang. Hanya tetangga saja yang datang minta sumbangan RT. " jawab Asmi sekenanya.


" Siapa dia? mengapa dia berada di rumahmu? " tanya Ilham dengan nada tinggi. Mendadak dia menjadi panas dan terbakar cemburu. Ada amarah di dalam dirinya yang tidak menyangka ada bahwa ada laki-laki lain selain dirinya yang datang ke rumah Asmi pagi ini.


" Bukan urusanmu, sekarang silahkan pergi karena aku mau sarapan bareng sama calon suami aku! " usir Asmi setelah itu langsung menutup pintu rumahnya dan tak perduli dengan Ilham yang marah dan berteriak-teriak memaki dirinya.


Asmi menghempaskan bokongnya pada kursi panjang di ruang tamu. Ada kesal di hatinya karena pagi - pagi sudah harus bersitegang dengan si cecunguk Ilham.


Bluss! Hasyeem kembali muncul di hadapannya. Jin tampan itu langsung memeluk tubuh mungil kekasihnya yang sedang kesal dan menghadiahinya dengan kecupan mesra di dahi dan pipinya.


" Kenapa marah, biarkan saja mantan suamimu itu berbuat apa yang dia mau. Toh... pada akhirnya, dia tidak akan memperoleh apa pun juga. Aku berani pastikan bahwa kekasihku yang cantik ini segera akan menjadi ratuku hingga impian Ilham untuk kembali padammu hanya tinggal mimpi, hahaha! " ucap pangeran Hasyeem seraya mempererat pelukannya di tubuh Asmi.


Asmi menghembuskan nafasnya dengan keras. Ada kekesalan yang masih tersisa di raut wajahnya meskipun tak sebesar tadi.

__ADS_1


" Tapi aku kesal karena dia tak mau menandatangani berkas perceraian kami.! " kata Asmi seraya menghentakkan kaki ke lantai rumah.


" Sudahlah, biar saja. Lagi pula masih ada waktu bagi kita untuk mempersiapkan semuanya." kata Pangeran Hasyeem dengan lembut.


Asmi mengangguk tanda setuju dengan perkataan Hasyeem.


" Hasyeem, ah.. aku lapar! " rengek wanita itu kemudian. Hasyeem tersenyum melihat tingkah Asmi. Lihat lah, betapa gampangnya mood wanita itu berubah. Sedetik yang lalu masih mode marah dan jutek. Nah... sekarang pake mode manja dan menggemaskan.


Tanpa banyak bicara lagi Hasyeem ******* rakus bibir Asmi seraya membopong tubuh Asmi ke kamar..... eh salah! ke dapur! Kan, mau sarapan. Aduh.... readers pasti berpikirnya lain. Maaf ya.... hehehehe.


Sementara itu Ilham yang gagal membujuk Asmi kembali ke rumah dengan amarah yang melunjak - lunjak.


Kepalanya masih di liputi tanda tanya akan identitas lelaki muda berwajah tampan di rumah mantan istrinya itu.


" lelaki itu lagi. sudah tiga kali aku bertemu dengan lelaki itu. Tapi aku masih tidak tahu siapa laki-laki itu."


" Siapa dia? sepertinya laki-laki itu bukan berasal dari daerah sini! " Ilham mengepalkan tinjunya. Dia merasa kesal karena merasa mendapatkan saingan berat dalam merebut hati Asmi, mantan istrinya.


" Aku harus mencari tahu tentang laki-laki itu dan membuat perhitungan dengannya. Karena dia sudah berani menggangu hubunganku dengan Asmi dan merusak rencanaku, hub! " geram Ilham.


Kekesalan hilang ketika mendengar suara tangisan bayi dari kamar sebelah.


" Ayu kemana, sih. Anak nangis kejar gitu, kenapa di biarkan! " keluhnya. Namun tak urung kakinya bergerak juga mendatangi anaknya yang ada di kamar sebelah.


Dia tidak mendapati Ayu di kamarnya. Sedangkan Yusuf, bayi mungil itu masih terus menangis karena tidak mendapatkan respon dari siapapun.


Ilham meraih bayi mungil itu dan menggendongnya dalam dekapannya.


" cup, cup ya sayang. Anak papa, kenapa nangis? lapar ya? sabar ya sayang, papa lagi usaha buat ngebujuk mama Asmi supaya mau jadi ibunya Yusuf.... "

__ADS_1


" Apa, Mas! kamu mau balikan lagi sama mantanmu yang mandul itu, ya!!! Nggak..Aku nggak rela. Aku nggak mau, ya Mas.!!" suara Ayu menggelegar bagai bom nuklir di kuping Ilham.


" Ayu!! "


__ADS_2