
Hari belum beranjak malam lagi, ketika rombongan kecil itu sampai di kediaman Mirna. Rasa lelah karena asyik bermain dengan Nadia membuat Asmi sempat tertidur saat di mobil tadi.
" Mbak, nginep sini, ya!" pintar Mirna saat baru turun dari mobil.
" Tapi rumah mbak nggada yang jagain."
" Rumah kan nggak bisa kemana-mana, mbak. Ayolah... mbak kan sudah lama nggak nginep di rumahku!" rengek Mirna pada kakak perempuannya yang cantik itu.
" Tante... tante Asmi mau nginep di sini, kah? " Tanya gadis itu dengan muka penuh tanya.
" Iya, mama kamu mintanya agar tante Asmi nginep di rumah Nadia, sayang."
" Horeee, aku nanti di buatin gambar doraemon, ya tante.!"
" Iya, nanti tante buatin. Sekarang Nadia mandi dulu. Nanti badannya gatel - gatel kalau nggak mandi. Soalnya habis berenang di air terjun tadi."
Gadis kecil itu mengangguk dan tanpa bicara lagi langsung masuk ke dalam.
Sesuai janjinya, malam ini Asmi menginap di rumah Mirna. Selesai makan malam, Asmi berada di kamar Nadia. Dia sedang membuat gambar doraemon karena gadis kecil centil itu maksa minta dibuatkan gambar doraemon.
" Ini, gambar doraemonnya sudah selesai, Nadia. Nadia tinggal mewarnai saja.! "
" Wah, bagus banget, tante. Makasih ya, sudah gambarin Nadia. Nadia mau mewarnai gambar Nadia, dulu." Nadia meraih kotak pewarna yang sejak tadi sudah dia persiapan.
Tak lama kemudian, tangan Nadia sudah sibuk menorehkan pewarna biru di atas gambar doraemon miliknya. Memang gambar tokoh robot kucing milenial itu identik dengan warna biru.
" Nadia, tante mau ke kamar dulu, ya sayang. Mau bobok cantik. Tante Asmi sudah cape, nih!"
Nadia menatap Asmi sejenak kemudian mengangguk.
" Iya, tante Asmi. Tante tidur aja kalo memang sudah ngantuk. Nadia masih mau mewarnai." katanya.
Asmi lalu berlalu pergi menuju ke kamar tamu tempat biasa dia tidur jika menginap di rumah Mirna.
...------...
Rasa lelah membuat Asmi cepat sekali tertidur. Dia terlelap hingga tak menyadari sepasang mata tengah asyik memandangi dirinya.
" Cantik sekali.....!" gumannya tanpa sadar.
Namun baru saja dia ingin melangkah mendekati wanita itu, sebuah sinar terang menghantam tubuhnya.
" Wah, rupanya ada penjaganya!" dia tersenyum sinis seakan mengejek ke arah Asmi.
__ADS_1
" Pergi dari sini...!"
" Hmm, mengapa aku harus pergi. Lantas bagaimana jika aku tak mau pergi? "
" maka jangan salahkan kami jika berbuat kasar padamu! "
" Baiklah... aku akan pergi kali ini. Tapi bukan berarti aku takut pada kalian.! "
" cepatlah pergi. Jangan ganggu tuan putri kami. Jika tidak, maka kamu akan merasakan kemarahan dari tuanku junjungan kami pangeran Hasyeem!"
" Ohh, hebat sekali...Jadi dia adalah milik pangeran Hasyeem! hahahaha, ternyata dunia itu sempit. Aku baru tahu kalau pangeran Hasyeem memiliki mainan secantik ini.!".
Makhluk tak kasat mata yang berjenis kelamin laki-laki itu melesat pergi sambil tertawa nyaring mengejek, meninggalkan dua orang pengawal kepercayaan pangeran Hasyeem yang ditugaskan untuk menjaga Asmi.
" Apakah perlu kita laporkan pada tuanku pangeran Hasyeem? "
" Hmm, sebaiknya begitu. Aku takut jika dia kembali lagi untuk mendekati atau bahkan mengganggu tuanku putri."
" Kamu benar. Kita harus segera melaporkan ini pada pangeran Hasyeem."
Kedua pengawal kepercayaan pangeran Hasyeem itu segera berlalu dari kamar Asmi. Mereka ingin melaporkan tentang peristiwa yang baru saja terjadi pada pangeran bertubuh gagah itu.
Sementara itu di istana Bukit Malaikat, Pangeran Hasyeem sedang menghadiri sebuah pertemuan dengan para tetua dan juga sesepuh negeri atas Angin. Sebuah negeri yang letaknya tepat di atas bukit Malaikat. Mereka sengaja datang untuk bertemu dengan sang pangeran karena ingin membahas sebuah masalah dengan Sang pangeran penguasa Bukit Malaikat.
Kening Pangeran Hasyeem berkerut.
" Bantuan apa maksudnya , ki Jabat?"
" Negeri kami di serang oleh bangsa Siluman dari Gunung Tarub. Hingga kini kami semua masih berjuang mati - matian mempertahankan wilayah kami, Pangeran!"
" Bagaimana bisa negeri kalian sampai di serang Oleh bangsa siluman?" Tanya pangeran Hasyeem. Dia bingung, karena setahunya, negeri atas angin adalah negeri yang cinta damai, mereka tidak mempunyai musuh.
Ki Jabat menarik nafas dalam. Lalu berucap..
" Begini, Pangeran. Raja Bana, Raja Siluman Gunung Tarup menyukai Putri Arella. Putri Arella adalah istri dari Pangeran Anggada. Sebelumnya, dia pernah bermaksud ingin melamar dan mempersunting putri Arella."
"Namun sayangnya, putri Arella menolak lamaran Raja Bana. Karena kesal dan marah akibat lamarannya di tolak dan Putri Arella lebih memilih Pangeran Anggada sebagai suaminya, maka Raja Bana kemudian menyerbu kerajaan kami. Dia bermaksud ingin merebut Putri Arella dari tangan Pangeran Anggada."
" Untuk itulah, Pangeran Anggada minta bantuan tuanku untuk mengusir Raja Bana dan pasukannya dari negeri kami."
Pangeran Hasyeem mendengarkan cerita Ki Jabat dengan seksama.
" Sangat menarik, Lagi - lagi karena cinta. Seseorang bahkan bisa berbuat nekat dan diluar nalar hanya untuk bisa mendapatkan kebahagiaannya."
__ADS_1
" Begitulah, Pangeran. jadi Kami mohon sekali kiranya anda dapat membantu junjungan kami." Ki jabat dan juga utusan yang lain berbungkuk lalu sejurus kemudian bersujud memohon kepada Sang pangeran demi dikabulkannya permohonan mereka pada Sang Pangeran sakti yang pilih tanding itu.
" Baiklah, katakan pada junjungan kalian.. aku akan membantunya.!"
Serentak wajah semua utusan itu berseri senang. Mereka kemudian menatap Sang pangeran dengan pandangan gembira. Memang mereka tak salah memilih.
" Terima kasih, Tuanku Pangeran. Bantuan Anda sangat kami hargai. Jika bukan karena Anda, kami semua akan mati dengan konyol."
" Tak apa - apa. Itu semua sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong menolong. Aku rasa, demikian juga halnya yang berlaku pada Pangeran Anggada, jika aku suatu saat memohon bantuan padanya. "
" Tentu saja, Pangeran. Akan aku sampaikan apa yang menjadi harapan tuanku."
Pangeran Hasyeem manggut - manggut saat mendengar perkataan utusan itu.
" Baik, Pangeran. Kalau begitu kami mohon diri segera. Kami ingin secepatnya kembali ke negeri atas Angin. Kami ingin menyampaikan kabar baik ini pada Pangeran Anggada."
" Baiklah, aku juga akan mempersiapkan pasukanku. Kami akan menyusul ke sana secepatnya."
Utusan yang terdiri dari sesepuh dan tetua Adat Negeri atas angin segera mohon diri dan kembali ke negeri atas angin. Sementara pangeran Hasyeem memerintahkan pasukannya untuk bersiap - siap pergi ke negeri atas angin.
Sepeninggal para utusan itu, pengawal kepercayaan pangeran Hasyeem yang diperintahkan untuk menjaga Asmi datang menghadap.
" Lapor, tuanku. Tadi saat kami menjaga tuanku putri Asmi. Seseorang hadir di sana dan bermaksud ingin mendekati dan mengganggu tuanku putri asmi."
Wajah Pangeran Hasyeem sukses menjadi merah padam ketika mendengar laporan itu.
" Dimana? "
" Saat di air terjun dan di rumah adik tuanku putri. "
Tangan pangeran Hasyeem terkepal keras.
" Apakah kamu tahu siapa orang itu?"
" Ampun, tuanku pangeran.! "
Pengawal itu mendekat dan membisikkan sesuatu kepada Sang pangeran.
Rahang pangeran tampan itu mendadak mengeras. Senyum sinisnya terlontar keluar saat mengetahui siapa yang telah berusaha untuk mendekati dan mengganggu kekasihnya.
" Hmm, baiklah. Awasi terus apa yang akan dia lakukan dan, laporkan padaku. Aku ingin tahu, apa yang dia inginkan?" kata pangeran Hasyeem dengan senyuman bak devil.
" Kalau begitu, kami kembali dulu, tuanku." pamit Sang pengawal. Pangeran Hasyeem mempersilahkan dengan isyarat anggukan.
__ADS_1
Dia lalu melesat pergi mendatangi Sang kekasih yang sudah teramat sangat dia rindukan. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam yang lalu. Demikian itulah keadaannya. Ada beberapa perbedaan waktu antara dunia manusia dan dunia jin Dan untuk itulah dia menyadari, jika hal itu bukan lah hal yang utama.