
Selang beberapa saat kemudian.
" Tolong...tolong...Pocong...ada Pocong..!!" terdengar jeritan kengerian dan minta tolong dari dalam rumah, yang menembus keheningan malam hingga membangunkan penduduk desa dari lelapnya tidur. Mereka semua bertanya - tanya, apa yang sebenarnya sedang terjadi??
Penduduk desa yang terbangun beramai-ramai mendatangi rumah Barja, juragan sapi yang memiliki peternakan sapi yang luas. Mereka ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada juragan Barja.
Sesampainya mereka di sana, mereka dibuat bingung. Pasalnya mereka menemukan lelaki itu terduduk dengan tubuh gemetaran. Pandangan matanya menatap kosong ke depan. Mulutnya tak hentinya meracau.
" Tolong.... ada setan. Tolong.... ada pocong...! " racaunya sambil menunjuk - nunjuk ke suatu tempat. Warga setempat menjadi ketakutan melihat juragan Barja.
" Jangan ganggu, pergi..! Jangan mendekat..! Pergi... pergi..! " usirnya pada para warga yang datang melihat.
Warga yang berkumpul menjadi heran.
Salah seorang diantara mereka maju dan memperhatikan wajah Barja. " Sepertinya juragan Barja kesambet setan, hiiiiii..! " seru warga tersebut sambil bergidik ngeri.
Yang lain menatap dengan heran bercampur was - was. Mengapa juragan Barja bisa kesurupan. Apakah dia telah. melakukan sesuatu.
" Tak ada setan, Juragan." kata salah seorang warga. Namun, juragan Barja tidak menggubris perkataan warga tersebut. Dia masih saja terus meracau dengan mengatakan ada setan, ada pocong. Warga yang menyaksikan hal itu hanya bisa beristighfar, memohon ampun dan perlindungan pada Yang Maha Perkasa.
Begitulah keadaan juragan Barja hingga sampai pagi menjelang, barulah juragan Barja berhenti meracau dan akhirnya tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Keadaan juragan Barja terus berlanjut sampai berhari-hari. Setiap menjelang senja, juragan Barja selalu saja bertingkah seperti orang yang sedang ketakutan. Dia berteriak-teriak histeris meminta tolong sambil menutup mata. Tak peduli siapa pun yang dia temui, dalam penglihatan dia, selalu saja ada pocong yang mengikuti. Hingga dia selalu saja ketakutan.Bahkan saat mengerjakan sholat lima waktu, Juragan sapi itu tak bisa khusyuk, karena merasa ketakutan saat melihat pocong yang ikut berdiri di belakangnya.
Begitulah seterusnya keadaan Juragan Barja hingga sampai pagi menjelang, barulah juragan Barja bisa kembali tertidur.
Memang lah... warga tidak bisa melihat apa yang tengah dilihat oleh juragan sapi tersebut. Di mata warga biasa, tak ada apa - apa yang tampak di depan juragan Barja selain dari barang - barang mahal yang terpajang di rumahnya yang lumayan mewah itu. Namun berbeda halnya dengan apa yang terjadi dengan juragan Barja. Lelaki itu melihat apa yang orang lain tidak bisa melihat. Dia melihat penampakan pocong di mana - mana. Di ruang tamu, di halaman, di kamar mandi, di dapur, dan bahkan di kamar tidurnya.
Di saat beraktivitas untuk melaksanakan sholat pun, dia selalu di ganggu. Hingga laki-laki tersebut jadi urung untuk melaksanakan ibadah sholat yang sudah seharusnya dia kerjakan. Na'uzubillah himinzalik.
Sudah banyak dukun dan orang pintar yang datang untuk mengobati laki-laki itu. Namun hasilnya nihil.
Tak sedikit dukun yang datang untuk mengobati Juragan Barja, mengalami kesurupan dan kejang-kejang. Mereka yang awalnya merasa yakin bisa mengusir gangguan yang di alami oleh juragan Barja, kini harus menelan kesombongan mereka sendiri. Mereka harus pulang dalam keadaan shock atau kesurupan.
Gangguan pocong itu masih saja terus dia alami. Hingga laki-laki itu hampir putus asa dalam menghadapi keadaan tersebut. Tubuhnya dari hari ke hari makin kurus kering.
" Luna, .. apa kamu tidak mendengar cerita terbaru yang terjadi di desa ini? " tanya Sang nenek pada cucu cantiknya yang baru saja tiba.
Luna datang berkunjung ke rumah Sang nenek karena beberapa hari yang lalu neneknya mengubungi dirinya. Neneknya itu merasa kangen pada cucu cantiknya itu. Dan lagi pula dia sedang di landa ketakutan karena isu pocong yang selalu mendatangi rumah juragan Barja.
Keadaan rumah Sang nenek saat ini sedang sepi. hanya dia dan Sang nenek yang masih setia berada di dalam rumah ini. Sedangkan semua saudara ibunya pergi merantau ke luar daerah, bahkan hingga ke luar pulau.
" Cerita apa, Nek? " tanya gadis cantik itu penasaran. Sepintas matanya sempat menangkap ada chat masuk ke hapenya. Pesan singkat dari Panji yang menanyakan keberadaannya. Gadis cantik itu merasa serba salah. Dia tak ingin memberikan harapan pada pemuda itu. Namun dia juga tak tega untuk menyakiti hati pemuda sholeh itu. Hal itu membuat dia jadi merasa menjadi serba salah. Akhirnya dia memutuskan untuk membalas pesan dari Syafrie, bahwa saat ini dia berada di rumah Sang nenek.
__ADS_1
" Itu Juragan Barja, paman si Panji yang jadi juragan Sapi di desa ini, katanya rumahnya selalu saja di datangi pocong." Kening Luna berkerut mendengar cerita neneknya. Dia pernah mendengar cerita tentang hantu pocong dari cerita almarhum ibunya. Hantu yang menurut cerita ibunya itu berbentuk seperti guling besar.
" Oh, ya. Menarik juga, nek. Terus bagaimana? Apakah sampai sekarang pamannya Panji itu masih suka melihat penampakan hantu pocong di rumahnya? " tanya Luna lagi.
" katanya sih, iya. Tapi walahu alam. Yang bisa lihat tuh pocong, hanya pamannya Panji saja. Semua keluarganya dan juga warga kampung ini, tak ada yang pernah melihatnya."
" Hmm, aneh juga ya, nek. Jadi apa karena alasan itu, nenek takut tinggal sendirian." tanya Luna.
" Sebenarnya sih bukan itu. Nenek tidak pernah merasa takut. Nenek hanya merasa nggak enak saja kalau sendirian. Sepi banget rasanya." kata nenek Luna mencoba berkilah. Luna tersenyum mendengar itu.
" Iya, aku tahu kalau nenek adalah wanita yang pemberani." ucap Luna.
Sementara itu di rumah kediaman Keluarga Juragan Barja, seluruh keluarga termasuk juga Panji dan ayahnya sedang bermusyawarah untuk mencari cara agar masalah yang di alami oleh juragan Barja cepat teratasi. Mereka kembali ingin mencari orang pintar atau kiayi yang barangkali bisa mengobati Sang juragan.
Kemudian diputuskan bahwa mereka akan segera kembali mencari orang pintar. Di tengah musyawarah, sekilas Panji sempat melihat chat balasan dari Luna. Tarikan lebar di sudut bibirnya nyata sekali menggambarkan hatinya yang sedang merasakan desiran aneh. Hati pemuda itu semakin berbunga - bunga saat Luna mengatakan bahwa dia ingin bertemu.
Tak sabar ingin segera berjumpa dengan gadis pujaan hatinya, Panji pun minta izin untuk keluar sebentar. Setelah mendapat izin dari ayah ibunya, Panji pun langsung berangkat menemui Luna.
Sesampainya di rumah neneK Aluna. Pemuda itu melangkah dengan tergesa-gesa, seakan-akan takut kalau Luna keburu menghilang.
Baru saja dia ingin mengetuk pintu, seraut wajah cantik tiba-tiba muncul di depan pintu dan menyapanya.
__ADS_1
" Hai." sapanya ramah sambil tersenyum manis. Jantung Panji seakan mau ledak. " Sarang hae, Luna! " katanya dalam hati.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata berbintik kuning di tengah, sedang menatap mereka. Tatapannya tak terbaca. Namun ada rasa marah lewat pancaran netranya saat mendengar isi hati Panji.