
Keduanya menoleh. " Siapa lagi yang datang, ya? " tanya Mas Ardi. Mas Ardi kemudian beranjak untuk membuka pintu. Saat pintu terbuka, tampak seorang gadis yang sangat cantik dan seorang anak muda yang gagah berdiri di depan pintu.
" Arryan dan Azzura!" kata Asmi. Asmi dan suaminya saling bertukar pandang. Rupanya anak - anak mereka menyusul dirinya dan suaminya ke rumah sang Uwak di alam manusia.
" Assalamu'alaikum, Uwak! "
Kedua putra dan putri Pangeran Hasyeem itu tersenyum sambil memberi salam kepada uwak mereka.
" Kalian anak - anak Asmi? " tanya Mas Ardi. Keduanya mengangguk bersama - sama.
" Ya, Allah. Rupanya kalian berdua adalah keponakan uwak. Ayo masuk.. masuk! Jangan di luar.! " ajak Mas Ardi seraya menarik kedua keponakan masuk ke dalam rumah.
" Dek, kenapa kamu tak bilang kalau anak kalian juga ikut? " tanya Masnya.
" Iya, Mas. Kami lupa karena tadi keasyikan bicara."
" Oh, iya mas. Ini adalah Azzura, putra ke duaku. Dan yang perempuan adalah putriku, namanya Arryan." kata Asmi memperkenalkan kedua putra putrinya kepada Sang kakak.
Kedua putra Asmi lalu mendekati Mas Ardi dan istrinya. Mereka mencium tangan keduanya sebagai tanda hormat. Setelah itu, keduanya lantas mengambil tempat duduk mengapit kedua orang tuanya.
Mereka terlibat perbincangan yang hangat. Tak berapa lama, Mbak Nur datang dan mengajak mereka untuk makan malam bersama.
Kedua keluarga itu kemudian makan bersama dengan lahap. Bahri anak Mas Ardi sesekali melirik ke arah kedua sepupunya.
" Arryan cantik banget !" pujinya dalam hati.
Azzura yang mendengar hal itu mengeryitkan alis tanda tak suka. Lain halnya dengan sang Adik yang tampak biasa- biasa saja walaupun sebenarnya dia juga mendengarnya.
Sementara itu Alyan dan Aluna sudah berada di rumah kediaman keluarga Luna di Australia. Keduanya baru saja tiba. Ayah Luna, Ammar menyambut kedatangan keduanya dengan gembira.
" Ayaah! " Luna menghambur kedalam pelukan ayahnya. Gadis periang itu sangat terharu dapat bertemu kembali dengan ayahnya.
Demikian juga dengan Ammar. Dia sangat bersyukur kepada Tuhan masih memberikan kesempatan hidup kepada putri semata wayangnya.
" Terima kasih sudah menolong dan mengobati Luna, kamu memang sahabat sejati Aluna. Paman bangga padamu, Alyan! " kata Ammar sambil menepuk bahu bidang pemuda itu.
Dia sangat berterimakasih pada Alyan, karena pemuda itu mau bersusah payah membawa dan mengobati Aluna sampai sembuh kembali.
" Itu sudah kewajibanku, paman. Aku tak bisa membiarkan Luna menderita. Oh ya, bagaimana dengan keadaan di sini, paman? " tanya Alyan.
" Sungguh kacau. Kini Hades semakin kuat. Kami hampir kewalahan dalam menghadapinya! "
" Hmm, tampaknya kita harus segera menyusun siasat untuk menghadapi Hades dan juga pengikutnya."
" Iya, kamu benar Alyan. Kita memang harus memiliki rencana yang matang."
" Dan juga lebih banyak pasukan." tambah Alyan.
" Ayo, kita bicara di dalam saja. Tak baik berbicara di luar. Luna, ayo ajak Alyan agar masuk ke dalam!" kata Ammar.
Alyan dan Luna melangkah masuk ke dalam mansion.
" Paman, bisakah kita bicara berdua saja. Ada sesuatu yang ingin ku sampaikan pada paman." kata Alyan saat sudah berada di ruang tamu.
" Tentu saja. Kalau begitu, kita bicara di ruang kerjaku saja." ajak Ammar.
Ammar mengajak Alyan ke ruang kerjanya. Setelah menutup pintu, Ammar menatap Lurus ke wajah pemuda yang menjadi sahabat anaknya sejak kecil.
__ADS_1
" Katakan, apa yang ingin kau sampaikan padaku! " kata Ammar.
" Aku sudah mencari bantuan ke beberapa sahabat ayahku." ucapnya memulai percakapan.
Kening Ammar berkerut. Dia tampak tertarik dengan perkataan Alyan.
" Hmm, itu bagus. Kita memang membutuhkan bantuan."
" Dan aku juga sudah bicara dengan kakekku. Dia akan segera mengirimkan bala bantuan tentara dari Kerajaannya untuk membantu menghadapi Hades."
" Syukurlah jika demikian. Kami semua sangat bersyukur mendapatkan bantuan tersebut."
" Tapi aku tak akan meminta mereka untuk datang kemari saat ini. Karena... " Alyan tidak meneruskan ucapannya. Matanya melirik ke sekeliling.
Dia kemudian memberi kode pada sang Paman. Ammar yang mengerti segera beranjak mendekati pintu, dan...
Krekk! Ammar membuka pintu dengan tiba-tiba. Seseorang tertangkap basah sedang mencuri dengar pembicaraan mereka. Segera Ammar menarik dan membekuk mata - mata tersebut.
" Katakan, siapa yang menyuruhmu melakukan ini! " bentak Ammar pada mata - mata yang menyamar sebagai pengawal mansion.
" Cuih.. bunuh saja aku. Sampai mati pun aku tak akan memberitahumu! "
" Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Namun, sebelum itu kamu harus bertemu dulu dengan keponakanku tersayang. " Selesai berkata begitu, Ammar menyerahkan mata - mata itu pada Alyan.
Ammar mencekal tubuh mata - mata itu dan membawanya ke hadapan Alyan. Alyan tersenyum laksana iblis neraka. Dengan kasar dia menarik wajah mata - mata tersebut hingga berhadapan dengan wajahnya.
Matanya menatap lurus ke dalam manik mata orang itu.
Yah, seperti ayahnya, Alyan juga memiliki kemampuan untuk mengetahui isi hati dan pikiran seseorang. Mata - mata itu tidak bisa berkutik. Dia hanya bisa berontak dalam kukungan Ammar
Setelah beberapa lama, Alyan tersenyum puas.
" Berarti, itu sekitar satu minggu dari sekarang!" kata Ammar.
" Benarkah? berarti kita tak punya banyak waktu. Aku akan secepatnya menghubungi kakek dan juga yang lainnya." kata Alyan.
Ammar mengangguk paham. Sepertinya dia punya tugas yang berat kali ini. Dia harus mempersiapkan semua anak buahnya untuk bersiap - siap menghadapi serangan itu.
" Terus bagaimana dengan mata - mata ini? " tanya Alyan.
" Serahkan semua padaku. Aku punya sebuah kejutan untuknya! " jawab Ammar.
Ammar menyeret mata - mata itu ke salah satu ruangan di ruang bawah tanah mansion tersebut.
Tak berapa lama kemudian dia sudah kembali dengan senyum puas tercetak diwajahnya.
" Sudah beres. Sekarang tinggal menyusun rencana kejutan untuk Hades!" katanya.
Keduanya bergerak cepat. Alyan menghubungi ayahnya dan juga kakeknya.
Sesuai rencana, Ayahnya juga menghubungi kerajaan-kerajaan disekitarnya untuk bergabung dengan mereka menghadapi Hades. Mereka semua bergerak diam - diam.
...----...
Asmi merasa senang bisa berkumpul bersama saudara - saudaranya. Mas Ardi adalah yang paling repot dan cerewet. Apalagi saat mengetahui bahwa sang adik sedang mengandung.
Yah... saat ini memang Asmi sedang hamil lagi. Dia hamil anak ke empat. Di usianya yang tidak lagi muda, memang resiko untuk hamil sangat besar.
__ADS_1
Namun Asmi berbeda. Tubuhnya masih terlihat segar bugar. Jika orang awam yang baru bertemu dengannya pastilah menyangka jika wanita cantik ini baru berusia sekitar dua puluh lima tahun sampai tiga puluh tahunan saja.
" Sayang, apakah tidak apa - apa jika aku meninggalkanmu disini. Anak - anak sedang membutuhkan bantuanku? " kata Pangeran Hasyeem.
" Apa yang terjadi dengan anak - anak? " Asmi balik bertanya.
" Hmm, tidak ada. Hanya saja aku merasa mereka pasti sedang berbuat ulah lagi. Kamu tahu sendiri, kan. Anakmu itu selalu saja sukses membuat kekacauan.! " jawab Pangeran Hasyeem sambil terkekeh.
" Hmm, dia anakmu juga, sayang." Pangeran Hasyeem menggaruk - garuk kepala yang tak gatal.
Dia bingung mencari alasan untuk meninggalkan Asmi sesaat tanpa membuat sang istri curiga.
Sebenarnya, Azzura dan Arryan sudah memberitahukan padanya tentang rencana Alyan.
Putra sulungnya itu kini sedang menyusun rencana untuk menghadapi Hades.
Sesuai rencana, Sang putra meminta agar sang Ibunda sebaiknya di tempatkan di rumah sang uwak saja. Demi menjaga keselamatan sang Ratu.
" Ibunda Ratu! Apakah bunda Ratu melihat Ayahandanya?" tanya Arryan.
" Hmm, putriku sayang. Ada apa kamu mencari ayahmu? " tanya Asmi.
" Kanda Azzura mengatakan bahwa kanda Alyan sedang mencari ayahanda?"
Kening Asmi berkerut mendengar ucapan sang Putri.
" Ada apa dengan Alyan?"
" Biasa bunda, masalah antara laki-laki dan laki-laki!" jawab Arryan lagi.
Asmi tersenyum bijak mendengar jawaban putrinya. Jika sudah begini, maka Asmi tak bisa berkutik. Alyan memang sangat dekat dengan sang ayah.
" Pastilah mau curhat masalah luna."pikirnya.
" Ayahmu ada di kamar." kata Asmi.
Segera Arryan mendatangi sang ayah yang ternyata sedang bersiap untuk pergi.
" Ayah, kanda Alyan tadi menghubungi kanda Azzura. Ada sesuatu yang penting yang ingin dia katakan! " kata Arryan.
" Aku tahu, untuk itulah aku tadi minta izin pada ibundamu karena aku harus pergi ke istana Bukit Malaikat sekarang lalu setelah itu ayah akan menyusul kakakmu ke rumah paman Ammar di Australia!"
" Oh, begitu. Baiklah ayah, aku akan segera kembali untuk mengabari kanda Azzura."
" Mau kemana, sayang. Putri ayah yang cantik ini harus di sini saja. Tugas menjaga ibu, ayah serahkan padamu. Jaga ibundamu selama ayah pergi! " kata Sang pangeran pada Putri cantiknya itu.
" Baik ayah. Aku akan disini saja untuk menjaga ibuku. " jawab Arryan. Dia memang anak yang sangat penurut. Tak pernah sekalipun dia membantah perkataan kedua orang tuanya.
Sepeninggal Pangeran Hasyeem, Asmi dan Arryan tinggal berdua saja di kamarnya. Uwak mereka sedang menonton televisi di ruang keluarga.
Malam semakin larut. Di luar cuaca sedang hujan. Walaupun hujan tidak terlalu deras, namun mampu membuat udara menjadi sedingin es.
Tok! Tok! Tok! terdengar pintu depan diketuk oleh seseorang.
Mas Ardi mengeryitkan alis.Dia merasa heran. Siapa orang yang bertamu malam - malam begini ke rumahnya.
Mas Ardi berjalan ke depan untuk membuka pintu. Saat pintu ruang tamu terbuka, mata mas Ardi terbelalak kagett.
__ADS_1
" SI... SIAPA KALIAN!! " bentaknya.