Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 23 Kencan di Bukit Malaikat


__ADS_3

"Makhluk apa itu, Hasyeem?? "


Asmi bergeser ke arah Hasyeem. Dia sangat takut sekali. Seumur hidupnya baru kali ini dia melihat makhluk penghuni alam ghaib yang seseram itu.


Walaupun dia sudah sering melihat berbagai penampakan makhluk ghaib, namun jujur dia tidak pernah setakut ini.


"makhluk apa itu? mengapa seram sekali, Hasyeem? " tanya Asmi saat sudah berhasil memeluk Hasyeem dan berlindung di balik punggung jin tampan itu.


" itu Banaspati, sayang.! " jantung Asmi berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena panggilan 'sayang' yang barusan Hasyeem ucapkan sukses membuat Asmi melambung ke awan.


" Ba.. ba. Banaspati?? " jadi makhluk itu yang di sebut dengan nama panggilan Banaspati.


Asmi memang pernah mendengar tentang makhluk yang bernama Banaspati, namun baru kali ini dia melihat wujudnya secara langsung.


Makhluk itu berwujud tinggi besar dengan tubuh seperti manusia namun bertanduk panjang dan wajah yang sangat menyeramkan.


" tapi mengapa makhluk mengerikan itu bisa ada di sini.? " tanya Asmi. Dia tak habis pikir tentang keberadaan makhluk seram tak kasat mata itu di tempat kost Nazwa.


" tunggu, apa makhluk itu memang penghuni kos - kosan di sini? "


Hasyeem menggelengkan kepala. Dia menyentil hidung bangir Asmi gemas.


" bukan, dia adalah makhluk penghuni hutan Alas Tirta. "


" Hutan Alas Tirta? di mana itu, Hasyeem? "


" hutan Alas Tirta adalah hutan di wilayah sekitar bukit Malaikat. " jawab Hasyeem lagi.


" Bukit Malaikat? bukankah itu adalah tempat asalmu, kan? "


" hm, betul sekali. Aku memang tinggal dan berkuasa di bukit Malaikat. " kata Hasyeem dengan bangga.


" apakah bukit Malaikat letaknya jauh dari sini.? Asmi kini jadi penasaran dengan keberadaan bukit Malaikat.

__ADS_1


'hm, berarti bukit Malaikat adalah wilayah kekuasaan Pangeran Hasyeem. 'pikirnya.


Baru saja Asmi akan bergerak ke sisi Hasyeem, ekor mata Asmi melihat pergerakan makhluk itu yang seperti sedang mencari sesuatu. Asmi menjengkitkan kakinya berjalan kembali ke belakang Hasyeem dengan tidak bersuara.


" agaknya makhluk itu mulai merasakan keberadaan kita, tapi dia tak bisa melihat kita. Dia hanya membaui bau tubuhmu, karena kamu manusia." kata Hasyeem setengah berbisik.


" loh, dari tadi memangnya dia tak melihat kita.? " tanya Asmi.


" tidak bisa, karena aku sudah memasang pagar ghaib agar makhluk itu tak melihat keberadaan kita. Aku takut dia akan menyakitimu jika dia melihat keberadaan kamu." kata Hasyeem lagi.


Asmi menarik nafas lega, jadi dia bisa bebas bergerak ke sana ke mari tanpa di lihat makhluk seram itu.


" ayo kita pergi dari sini! " ajak Hasyeem.


" kemana? " Asmi penasaran kemana lagi Hasyeem akan mengajaknya pergi.


" ke istana ku. hm, atau apa kamu mau di sini saja. Tapi aku nggak jamin makhluk itu nggak akan lihat kamu. Lama - lama makhluk itu akan menemukan kamu dan mungkin juga jatuh cinta padamu? " goda Hasyeem pada Asmi.


Entah mengapa dia suka sekali menggoda wanita cantik itu. melihat pipinya yang bersemu merah merupakan candu tersendiri bagi Hasyeem.


" Ayo, kita pergi sekarang.!" Hasyeem berbalik dan memeluk tubuh Asmi, membawa tubuh gadis itu melesat melintasi waktu dan tempat. Menghilang lalu muncul kembali di atas puncak bukit Malaikat.


" Bukalah matamu, kita sudah sampai di puncak bukit Malaikat. "


Asmi membuka matanya. Yang pertama di lihat Asmi adalah kegelapan. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya bayangan gelap di kiri dan kanannya.


" Ah, Hasyeem, tempat ini gelap dan sepi sekali, aku takut.! " jerit Asmi manja memegang pergelangan tangan Hasyeem.


" Kamu tak perlu takut, kan ada aku. Kamu lupa, aku adalah penguasa tempat ini. Jadi aku pastikan, tak ada yang berani mengganggu kamu di tempat ini."


" Iya, aku tahu, tapi tetap saja aku takut. "


Hasyeem menggenggam jemari tangan Asmi. Kemudian dia menaikan sebelah tangannya yang lain ke atas, seperti sedang menyentuh sesuatu dan...

__ADS_1


Ajaib, di hadapan mereka kini bukan lagi kegelapan yang pekat, tetapi sebuah istana yang megah. Mereka berdua berada tepat di depan pintu gerbang istana megah itu. Mulut Asmi terbuka lebar.


"Ayo, sayang! " sepertinya Asmi harus membiasakan diri dengan panggilan baru Hasyeem padanya, yang seolah olah ingin menegaskan bahwa kau milikku, kekasihku, pada Asmi.


Hasyeem mengajak Asmi untuk masuk ke dalam istana. Di kiri kanan istana itu di batasi oleh dua buah sungai yang membuat istana itu seolah sedang berada di tengah - tengah danau.


" Istana siapa ini, Hasyeem?? " tanya Asmi yang bingung bercampur kagum.


" Ini adalah istanaku, sayang. " kata Hasyeem sambil menggenggam jemari Asmi dan membawa wanita cantik yang masih bingung itu untuk melangkah masuk ke dalam istana megah yang lantainya beralaskan marmer hitam mengkilap dengan dinding yang berhiaskan batu alam dan permata aneka warna. Cahaya temaram terburai dari pancaran Obor Obor besar yang tertancap di beberapa dinding istana itu.


Asmi melangkah di sisi Hasyeem. Wanita itu masih tak percaya akan dirinya yang berada di Istana ghaib penguasa Bukit Malaikat. Sedikitpun tak pernah terlintas dalam pikiran Asmi bahwa dia akan bisa melihat, bahkan memasuki sebuah istana, apalagi istana ghaib milik seorang pangeran Jin.


Asmi melihat di kiri kanannya, tampak beberapa orang pengawal yang berjaga-jaga. Wajah mereka, jangan di tanya lagi, Asmi sampai bergidik ngeri.


Wajah - wajah mereka berbagai macam bentuk yang menyeramkan, dan lebih mirip wajah hewan dengan taring panjang. Sedangkan bentuk tubuh mereka sama dengan bentuk tubuh manusia umumnya, hanya saja di penuhi bulu bulu lebat yang hampir seluruhnya menutupi tubuh bahkan ada yang hingga ke wajah.


" kamu tak usah merasa takut pada mereka. Mereka tak akan berani untuk mengganggumu. Apalagi mereka tahu bahwa yang aku bawa adalah bakal permaisuriku." kata Hasyeem yang mengetahui ketakutan Asmi.


Asmi tersipu malu mendengar perkataan Hasyeem. Hatinya berdesir aneh. Ada perasaan senang dan berbunga - bunga yang kini menjalari relung hatinya.


Istana Hasyeem sangat luas. Setelah cukup lama berjalan, mereka sampai di suatu ruangan yang lumayan luas namun sangat indah. Ruangan itu tampaknya seperti sebuah kamar.


Asmi mengedarkan pandangannya ke setiap inci pada detail tempat itu.


" Hasyeem, kamar siapa ini? Kemana sebenarnya kamu akan membawaku, Hasyeem? " tanya Asmi.


" Berkencan. " jawab Hasyeem kalem dengan senyuman mengoda.


Mata Asmi membulat sempurna.


" What, Oh my goodness.! berkencan? " tanya Asmi setengah tak percaya. Dia masih tak percaya jika ternyata Hasyeem membawanya ke istana ini dengan maksud untuk berkencan.


" hm, Ya. Aku membawa kekasihku yang cantik ini untuk berkencan denganku. Di sini, di istanaku. Dan akan ku pastikan dia di layani layaknya permaisuriku oleh semua dayang dayangku dan juga pengawalku. " kata Hasyeem sambil memeluk tubuh Asmi.

__ADS_1


Asmi pasrah saat Hasyeem membawa tubuhnya merapat ke dada Hasyeem yang bidang. Dan semakin Asmi terbuai kala bibir Hasyeem menyentuh lembut bibirnya, lalu **********.


Asmi pun terbang jauh melayang, berasa tak lagi dia menyentuh bumi.


__ADS_2