
Asmi tersenyum bahagia saat menyadari kini dia telah menjadi istri dari Pangeran Hasyeem dan calon ibu dari anaknya. Tercapai sudah impiannya untuk menjadi seorang istri dari seorang pangeran Hasyeem yang tampan.
Malam semakin larut, pesta pernikahan Asmi dan Pangeran Hasyeem sudah lama usai. Semua tamu undangan sudah pada pamit pulang ke rumah masing - masing.
Asmi baru saja selesai membersihkan diri ketika pangeran Hasyeem mendatanginya. Lelaki tampan jelmaan jin itu memeluk tubuh sang istri yang kini semakin montok dan berisi.
"Sayang, hmm bagaimana kalau malam ini kita tidur di istanaku saja?" ajak Sang pangeran pada Asmi yang sedang sibuk mengoleskan hand and body ke seluruh tubuh.
Bau harum tubuh Asmi benar-benar menggodanya untuk segera ******* habis Sang istri manusianya itu.
"Hmm,...boleh. Tapi tunggu dulu, aku akan minta izin sama Mas Ardi!"
"Iya, ayo kita temui mas Ardi!"
" hm, ayo! Asmi bergayut manja di lengan kokoh Sang suami. Berdua mereka mendatangi kamar Mas Ardi yang terletak di sebelah kamar Asmi.
"Mas, Hasyeem mau mengajak aku ke is..... eh maksudnya ke rumahnya malam ini." kata Asmi kepada kakak lelakinya itu. Hampir saja Asmi menyebutkan istana tadi.
"Kenapa harus malam ini, apa tidak bisa besok saja. Lagi pula ini sudah sangat larut sekali, dek!"
"Tapi, aku kasihan pada suami aku, mas. Dia tak bisa tidur dan gelisah!" kata Asmi kemudian. Mas Ardi memandang Pangeran Hasyeem.
"Hasyeem, tinggallah barang sehari di sini. Berilah kami waktu barang sehari untuk bisa berkumpul bersama saudara kami." Hasyeem pun mengangguk mengiyakan ucapan Sang kakak ipar.
"Baiklah, besok saja kita pergi ke rumahku, sayang. Malam ini kita tidur di rumahmu saja." kata Hasyeem pada Sang istri yang sedang cemberut.
Manjanya istrinya sedang kumat. Maklum saja, wanita hamil yang satu ini manjanya minta ampun. Apa karena ini adalah kehamilan pertamanya? pikir Hasyeem.
Akhirnya kedua pasangan itu kembali ke. kamarnya.
"Hasyeem, gendong!"
Dengan ringan Pangeran Hasyeem mengangkat tubuh Asmi dalam gendongannya.
" hmm, ibu dari anak - anakku mau apa?"
" Aku mau...mmppptthhhhhhh" belum selesai Asmi berucap bibirnya sudah di kunci oleh ciuman panas dari sang Pangeran. Sehingga Asmi tak dapat lagi meneruskan ucapannya. Tubuhnya menegang oleh perlakuan mesra suaminya.
Asmi semakin terbuai kenikmatan oleh permainan Pangeran Hasyeem yang melambungkannya ke alam nirwana melalui hentakan demi hentakan Sang pangeran yang sungguh membuatnya benar-benar lupa dunia.
Pangeran Hasyeem mengerang nikmat saat benihnya menyembur keluar membasahi inti kewanitaan Asmi.
Keduanya saling berpelukan dengan peluh yang sudah membanjiri di sekujur tubuh mereka.
Pangeran Hasyeem mencium kening Asmi. " Aku mencintaimu, istriku!" ucapnya lembut pada Asmi. Setelah itu dia menjatuhkan tubuhnya di sebelah Asmi.
Pangeran Hasyeem menutup tubuh istrinya dengan selembar selimut.
" Tidurlah jika kamu lelah. Atau kita akan melanjutkan lagi ' permainan ' manis kita, ratuku? "
" Aissshh, Hasyeem! " wajah Asmi tersipu malu. Belum kering peluh di tubuhnya, suaminya ini sudah minta lagi.
" Aku tidur dulu, sebentar. Aku lelah sekali. Kamu sih, ganas banget! " kata Asmi sambil terkekeh kecil.
" Habisnya kamu gemesin banget! aku jadi maunya pengen ngelumat habis tubuhmu, sayang! " jawab pangeran Hasyeem sambil memeluk tubuh Asmi.
" Hmm, baiklah ratuku. Tidurlah sekarang, aku akan meminta hakku lagi nanti! "
Asmi mengangguk sambil memejamkan matanya. Tak lama dia pun sudah terlelap dalam pelukan hangat suaminya, pangeran Hasyeem.
Dan benar saja. Menjelang subuh, kedua insan berbeda alam itu kembali melakukan aktivitas berpeluh mereka hingga pagi hari.
...------...
Kita tinggalkan saja Asmi yang sedang bahagia karena impiannya sudah menjadi nyata. Kini kita beralih menengok keadaan Delia.
Jika Asmi tersenyum bahagia karena sekarang sudah jadi istri babang Hasyeem yang tampannya selangit. Justru Delia kebalikannya.
Wanita cantik itu justru kini sedang berada dalam bahaya. Saat tengah lelap tertidur kemarin, lelaki pemilik penginapan tersebut diam- diam memasukkan obat bius dalam bentuk asap yang di masukkan lewat lubang ventilasi AC.
__ADS_1
Delia yang masih tertidur langsung tidak sadarkan diri karena menghirup asap tersebut. Sehingga dengan mudah lelaki itu kemudian memasuki kamarnya dan membopong tubuh Delia kemudian membawanya menuju ke sebuah lorong ruang bawah tanah penginapan tersebut.
Delia di bawa ke sebuah ruangan yang hanya berukuran 4 m x 2,5 m dalam keadaan masih tidak sadarkan diri. Dia membaringkan tubuh Delia di atas sebuah ranjang kecil.
Lelaki itu kemudian memborgol dan mengikat kaki Delia lalu meninggalkannya di tempat itu seorang diri hingga beberapa lama.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Yovan bagaikan orang gila mencari Delia ke sana kemari. Dia sudah menghubungi beberapa orang terdekat Delia, namun tak satupun dari mereka yang melihat Delia.
Mereka malahan merasa iba pada Yovan, mendapati lelaki itu masih mencari - cari istrinya. Mereka menganggap lelaki itu telah kehilangan kewarasannya karena tak bisa merelakan kepergian Delia yang mati dengan cara bunuh diri.
Ya, semua orang menganggap bahwa Delia sudah mati dengan cara bunuh diri. Karena beberapa video Delia saat melompati pagar pembatas Balkon sempat menjadi viral.
Bahkan saat Yovan melaporkan istrinya yang hilang ke kantor polisi, dia kembali mendapat tanggapan yang menyuruhnya pergi ke Phisikiater karena dianggap stress akibat tidak bisa menerima kehilangan istri.
Yovan menjadi bertambah bingung dan stress. Keadaannya sangat hancur dan berantakan sekali. Kacau....semua kini menjadi kacau. Yovan semakin menyesal dan diliputi rasa bersalah pada Delia, Sang Istri.
Kemana lagi dia harus mencari Delia. Dia percaya bahwa kemarin yang datang itu adalah memang benar-benar Delia. Dia yakin, bahwa Delia masih hidup.
Namun, dia juga tak habis pikir, jika memang benar yang melompat itu adalah Delia, mustahil dia bisa hidup, karena jarak antara lantai lima dengan dasar gedung apartemen mereka cukup tinggi. Dan lagi pula, lantai dasar gedung apartemen mereka terbuat dari coran beton.
Maka jika Delia memang melompat ke bawah, maka akan dapat dipastikan tubuhnya akan jatuh dan terhempas ke lantai dasar dan tewas seketika dengan tubuh yang patah - patah dan kepala pecah.
Yovan bergidik ngeri membayangkan tubuh Delia yang bersimbah darah tergeletak di lantai dasar apartemen.
Lantas, siapa yang datang padanya beberapa hari yang lalu? apakah itu hanya ilusinya saja karena rasa bersalah pada istri.
Tapi, semua terasa nyata bagi Yovan. Rasa itu bahkan masih terasa jelas dalam ingatannya ketika Yovan mencium bibir Delia atau saat dia memeluk tubuh Delia yang memberontak karena tak sudi di sentuh olehnya.
Dia juga bahkan ingat dengan jelas, setiap kata - kata yang keluar dari mulut Delia.
"akhhh, Delia! di mana kamu? Jangan hukum aku seperti ini! Delia... maafkan aku!! Delia..... kembalilah! Delia.... maafkan aku! " ratapnya putus asa.
Saat sedang menangisi kepergian Delia, tiba-tiba Yovan ingat sesuatu. Bergegas dia membuka handphone dan membuka sebuah aplikasi.
Dia melacak nomor ponsel Asmi karena seingatnya Asmi membawa Handphone dan mobilnya . Kening Yovan berkerut. Dia menemukan titik keberadaan istrinya itu di sebuah penginapan di pinggir kota.
" hmm, jadi benar. Aku tidak sedang bermimpi. Delia memang masih hidup. Dan pertengkaran yang terjadi beberapa malam yang lalu adalah nyata." pikirnya.
" Dapat!! aku akan menemukanmu, Delia!" katanya tersenyum senang.
Bergegas Yovan meluncur ke tempat di mana dia terakhir menemukan lokasi tempat istrinya itu bersembunyi.
Sementara Delia yang di sekap di ruang bawah tanah mulai sadarkan diri. Dia memandang nanar ke sekelilingnya.
" Akhh, kepalaku rasanya sakit sekali!" Delia memegang kepalanya yang berdenyut - denyut, sakit.
" Di mana aku? " kepala Delia berpendar mengamati ruangan tempat dia berada.
Seingatnya saat terakhir kali dia berada di kamarnya, sedang asyik memainkan handphonenya.
Tapi ini bukanlah kamar tempat terakhir kali Delia berada, pikirnya.
Ruangan ini hanyalah berupa kamar kecil yang hanya berukuran 4 x 2,5 meter.
Ada beberapa lemari yang tampaknya berisi barang - barang bekas, sebuah kursi sofa yang sudah usang dan di pojok sana ada sebuah kamar mandi kecil. Sebuah pistol kecil teronggok di atas sofa.
" Kau bangun juga akhirnya!" sebuah suara berat mengejutkan Delia.
Delia menoleh dan mendapati seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun dan berkulit putih pucat dengan wajah tirus sedang berdiri di ambang pintu sambil memandang Delia dengan pandangan lurus dan tajam. Tatapan matanya yang berwarna hijau kebiruan seolah- olah ingin menerkam Delia saat itu juga.
" Siapa kamu? ini..... ini di mana aku?!!!" bentaknya histeris. Semakin dia histeris saat menyadari tangannya dalam keadaan terborgol dan kaki yang terikat.
Delia memberontak berusaha melepaskan diri. Namun semua usahanya sia- sia saja.
Lelaki itu kemudian berjalan mendekati Delia. Delia beringsut mundur dan mentok di ujung sandaran ranjang.
" Jangan mendekat atau aku akan berteriak!" ancam Delia.
" Hahaha, berteriaklah sesuka hatimu. Tak ada yang akan mendengarmu!" katanya dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
Tangannya sudah bergerak menelusuri tiap lekukan di tubuh Delia, mulai dari wajah hingga ke ujung Kaki.
Delia memberontak sambil menangis.
" Jangan sentuh aku! jangan sentuh! hik..hik..hik! "
" Hmm, what the beautiful woman!" gumannya lirih.
Tangannya menyentuh bibir Delia yang merekah basah oleh air mata, mengusapnya dengan lembut, lalu kemudian menciumnya kasar. Tak ketinggalan juga tangannya bergerilya ke sana kemari menjamah tubuh Delia.
Delia memberontak sekuat tenaga untuk menghindar dan melepaskan diri. Namun yang dia rasa adalah tangannya terasa sakit dan berdarah karena gesekan borgol.
"hmm, aku suka wanita Asia. Mereka memiliki daya tarik yang luar biasa.!! "
Sesuatu dari balik celana panjangnya perlahan-lahan mulai mengeras. Membuat lelaki itu kemudian menaiki ranjang dan menindih tubuh Delia.
Delia hanya bisa pasrah sambil memejamkan kedua matanya karena merasa takut dan jijik saat tubuh lelaki menyentuhnya setiap bagian tubuhnya.
Meski lelaki itu tidak memasukinya namun dia sangat shock akan perlakuan tak senonoh dan pelecehan atas dirinya oleh lelaki itu. Delia menangis histeris berharap agar lelaki itu menghentikan kegilaannya.
"Plakk! plakk!" dua buah tamparan lelaki itu hadiahkan padanya. Rasa panas dan perih menjalari pipi Delia. Delia semakin histeris menangis.
Lelaki itu berhenti melakukan kegiatannya karena merasa terusik dengan tangisan Delia. Dia mengambil pistol kecil yang sedari tadi teronggok di atas sofa.
Dor! Dor! Dor!
"akhhh!!!! " jerit Delia sekuat tenaga saat mendengar bunyi tembakan dari pistol yang di tujukan tepat di sampingnya.
Tiga buah lubang peluru bersarang di dinding kamar itu tepat di samping Delia.
" the next it is maybe will trough in to your head if you still screaming, baby!" ucapnya dingin dan datar.
Delia menarik nafas dalam - dalam. Tubuhnya terasa lemas dan gemetar.
Lelaki itu berniat ingin mengulang kembali kegiatannya, namun..
" Drttt!! Drrtttt!" alarm di sudut ruangan itu menyala.
" ****!.. ok. Take a rest, baby. I will back later." Lelaki itu kemudian beranjak meninggalkan pergi ke luar ruangan. Meninggalkan Delia yang masih ketakutan dan gemetar.
Lelaki pemilik penginapan itu kini sudah berada di ruang resepsionis.
seseorang lelaki berdiri di depan meja resepsionis. Pemilik penginapan itu tersenyum menyapa lelaki itu
" Hai, Welcome to our stay. What can I do for you? " tanyanya.
" yeah, I need any information about this woman. She is my wife. And she is had been checking in this stay few day ago." kata lelaki itu sambil memperlihatkan foto Delia. Yah, lelaki itu adalah Yovan yang sedang bertanya pada pemilik penginapan tempat Delia di sekap.
Wajah lelaki itu tampak terkejut. Namun, sejenak kemudian dia kembali tersenyum.
" Sorry, I can't help you. She is already check out this morning. You late, bro!"
Pemilik penginapan itu menyeringai dalam hati. Untung tadi pagi dia sempat menyembunyikan mobil Delia dalam garasi. Hingga jejak wanita itu akan sulit untuk di lacak.
Yovan kembali mengecek keberadaan Delia melalui ponsel miliknya. Benar saja, benda kecil itu memberitahunya bahwa Delia masih berada di sana.
" No, maybe you wrong. My GPS tell me that my wife is still here.!" katanya.
Lelaki itu terdiam. ' wait, just a moment!" Lelaki itu masuk ke dalam dan tak lama kemudian kembali lagi keluar sambil menggengam sebuah benda kecil segi empat berbentuk pipih.
" maybe you mean this? she was sold these one to me to pay her bill" jelasnya pada Yovan.
Ya, itu adalah handphone milik Delia. Lelaki itu mengatakan bahwa Delia menjual benda itu padanya untuk membayar tagihan kamar.
Pantas saja Delia tak terlacak melalui rekening, karena dia tak menggunakan uangnya di rekening, melainkan menjual handphone miliknya, pikir Yovan.
Yovan tidak tahu, jika pemilik penginapan itu telah berbohong. Dia melakukan semua itu agar Yovan percaya bahwa istrinya itu sudah pergi dari penginapan tersebut.
Yovan akhirnya pergi dengan tangan hampa. Dia tidak dapat menemukan keberadaan Delia. Jejak istrinya itu seolah- olah hilang begitu saja sampai di penginapan ini.
__ADS_1
" Delia, kemana lagi aku harus mencarimu? " kata Yovan sambil membuka pintu mobilnya. Tak lama kemudian Yovan sudah meluncur pergi meninggalkan tempat itu di iringi seringai kemenangan di wajah pemilik penginapan.