Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 24 Tamu Tengah Malam


__ADS_3

Hari sudah menjelang magrib ketika rombongan kecil Nazwa dan teman - temannya memasuki gerbang desa Kemang Balu.


" Alhamdulillah, akhirnya kita bisa pulang juga. Awas ! hati - hati loh, Is..! Gue takut entar ada yang 'nyangkut' ! " kata Doni sambil melirik pada Ryan dengan senyum menggoda.


Tatapan Ryan yang sedang fokus pada Isna menjadi sedikit teralihkan.


"Sialan ! Apaan sih, Don?" sungutnya kesal. Niat hati mau pedekate sama., Isna, jadi keganggu sama si cecunguk Doni.


" Aku langsung cabut ya, guys. " Nazwa pamit pada temannya. Dia ingin secepatnya sampai dan beristirahat di kosannya.


' Ayo, Nazwa. Gue antarin lo pulang. Sekalian gue juga mau pulang. Gerah banget. Bro lo antar Isna, ya! " seru Doni sambil menyalakan motor scoopy miliknya.


Segera Nazwa duduk di belakang Doni, sementara Ryan juga sudah duduk di atas tongkrongannya, Honda CBR1000RR-R miliknya.


" Ayolah aku antar kamu ke tempatmu.! " Ryan berkata pada Isna yang masih saja berdiri canggung dan malu malu.


Isna melangkah mendekati Ryan, lalu segera menghempaskan bokongnya di jok belakang motor Ryan. Setelahnya, motor Ryan meraung memecah kesunyian di sepanjang jalan menuju ke tempat kos kosan Isna.


Suasana di desa Kemang Balu, pagi itu sangat tentram. Kehidupan masyarakatnya yang sangat sederhana seolah menyatu dengan jiwa spritual mereka yang taat dan kuat dalam memegang teguh tradisi leluhur.


Pagi itu, Nazwa kembali ke rumah Datuk Melenggang Langit. Dia membutuhkan beberapa informasi dari tetua adat Desa Kemang Balu itu.


" Datuk, apakah selain bertani dan mengolah hasil hutan, apakah masyarakat desa Kemang Balu mempunyai usaha lainya? " tanya Nazwa.


" seperti yang kamu lihat dan ketahui, masyarakat di desa ini kebanyakan hidup dari bertani atau mengolah hasil hutan. Namun ada juga dari mereka yang memiliki profesi lain seperti bekerja sebagai PNS ataupun pedagang. Selain itu, karena minimnya pengetahuan, banyak dari warga desa yang hidup di bawah garis kemiskinan. " jawab Datuk melenggang langit.


Setelah cukup memperoleh informasi yang di butuhkan, Nazwa singgah ke rumah Isna. Bersama Isna, mereka pergi ke kosan Doni.


Rencananya, mereka ingin melihat hasil cetak foto foto yang mereka dapatkan di Hutan Alas Tirta, beberapa hari yang lalu yang sudah selesai Doni cetak.


Nazwa dan Isna baru saja sampai di kosan Doni. Begitu Nazwa dan Isna memasuki ruang tamu , mereka di sambut dengan wajah pucat oleh tuan rumah.

__ADS_1


" Wajah lo napa, Don.? kayak lihat sundel bolong habis nikah ama pocong? " kata Isna


" lo juga pasti bakal pingsan kalo liat foto yang habis gue cetak barusan. " jawab Doni dengan lemah.


" emangnya ada apaan, sih.. sampe segitunya reaksi, lo. ? "


" lo liat aja sendiri, WA! "? Doni menyodorkan hasil cetakan foto foto mereka saat di Air Terjun Hutan Alas Tirta.


Penasaran, Nazwa dan Isna meraih foto foto yang ada di tangan Doni.


" Astaghfirullahalazim.! " jerit mereka bersamaan seraya melempar hasil foto itu ke lantai.


Nazwa memeluk tubuh Isna yang sudah pucat, ketakutan di kursi.


" Apa itu, Don.? " tanya Nazwa pada Doni yang di jawab dengan gelengan kepala oleh Doni.


" Aku juga tak faham, Nazwa. Bayangan hitam di belakang foto foto kita itu awalnya aku kira karena kesalahan teknis saat pencetakan saja. Nyatanya aku salah.. Setelah aku cetak lagi, bayangan itu selalu ada di setiap foto foto yang tercetak. Dengan bermacam - macam posisi. " jawab Doni.


Mereka bertiga lantas memberitahu perihal foto foto tersebut pada Ryan. Wajah cowok gondrong itu mengeras seketika. Nampak sekali dia menyimpan amarah.


" sudah ku bilang, tempat itu tidak aman. Sekarang kita semua dalam bahaya.. Penunggu air terjun itu pasti sedang mengincar kita. Mulai sekarang kita harus hati- hati.! " pesan Ryan.


" Don, kalau bisa lo harus terus awasi si Nazwa.. Kayaknya ada yang ngincer tuh anak. gue baru liat barusan, Auranya gelap banget. " kata Ryan.


Ryan memang memiliki kemampuan untuk membaca aura seseorang. Tadi sewaktu Nazwa datang bersama Doni dan Isna, dia sempat melihat ada bayangan hitam yang berjalan di belakang gadis itu.


Dia juga melihat aura yang gelap yang terpancar dari tubuh gadis itu, pertanda akan adanya bahaya atau bisa juga menandakan akan hadirnya gangguan dari makhluk tak kasat mata.


Kali ini dia tampaknya sudah mulai khawatir terhadap nasib ketiga kawannya itu. Dia tak ingin kehilangan kawan lagi untuk yang kedua kalinya. Maka dari itu, dia meminta pada semua temannya untuk berhati-hati.


Malam harinya, Nazwa yang sudah kembali ke kosan ba' da magrib, segera membersihkan diri. Dia ingin langsung beristirahat, karena tubuhnya di rasa sangat lelah sekali.

__ADS_1


Banyak sekali aktivitas yang harus dia kerjakan karena masa KKN yang sebentar lagi akan berakhir. Itupun belum termasuk urusan laporan yang sudah menumpuk minta di selesaikan.


Menjelang tengah malam, Nazwa terjaga dari tidur oleh bunyi suara keras yang berasal dari sudut kamarnya.


Brugh!! kembali suara itu terdengar di telinga Nazwa. Gadis itu bangun dari tidurnya. Matanya nanar memandang sekelilingnya.


" Suara apa itu? " Nazwa yang penasaran segera berjalan ke sudut ruangan tempat asal suara gaduh tersebut.


Nazwa berdiri mematung. Mulutnya terkunci rapat. Sungguh, saat ini otaknya memerintahkan bahwa dia harus segera berlari keluar dari kamarnya, Namun tubuh dan semua anggota geraknya seakan di paksa untuk tetap di sana.


Di kegelapan sudut ruangan, mata jeli Nazwa menangkap sesosok makhluk dengan tubuh hitam legam dan mata yang menyorot merah sedang menatap ke arah Nazwa.


Mata makhluk itu terlihat mencorong jauh masuk ke dalam tertelan di wajahnya yang hanya berupa tengkorak hitam. Sepasang tanduk yang panjang bertengger kokoh di kepalanya.


Makhluk itu hanya berjarak beberapa kaki dari tempatnya berdiri sekarang. Tubuh Nazwa gemetar hebat hingga jatuh terduduk di lantai kamarnya. Kengerian terpancar jelas di kedua matanya.


" Wraggha!! " Makhluk itu memggeram ketika Nazwa menutup matanya. Ada kekuatan tak kasat mata yang seakan-akan menarik tubuh Nazwa, hingga gadis itu seperti di tarik dengan paksa mendekat kearah makhluk dengan wujud mengerikan itu. Tangan - tangannya yang panjang berbulu dan berkuku runcing bergerak ingin menyentuh Nazwa.


" Ya Allah, hamba berlindung dari segala kejahatan makhluk ciptaanMu. " doa Nazwa dalam hati dalam kepasrahan.


Di tengah keadaan dirinya yang tak berdaya, sekelumit kesadaran hadir dalam jiwanya untuk mengingat dan memohon pertolongan pada Sang Sang Khalik, yang maha Perkasa lagi Maha Agung.


" Ya, Allah. Hamba mohon perlindungan dari godaan Syaitan yang terkutuk. " selanjutnya mulut Nazwa komat kamit membaca beberapa doa yang dia ingat untuk memohon perlindungan kepada Sang Pencipta.


Allah memang tidak pernah tidur dan tidak pernah meninggalkan hambanya yang berdoa memohon pertolongan padanya.


Tepat sebelum makhluk itu berhasil menyentuh Nazwa, sebuah sinar terang berwarna keputihan hadir di hadapan Nazwa. Melesat menerjang makhluk itu.


Makhluk itu bergerak mundur sambil menutupi matanya karena tidak tahan dengan silau pancaran dari cahaya terang. Selanjutnya kemudian lenyap tak berbekas.


" Nazwa, Nazwa.!! sadarlah." sebuah tepukan di bahu gadis itu menyadarkan Nazwa dari ketidak sadarannya akan keadaan di sekelilingnya.

__ADS_1


" Kak Asmi!! "


__ADS_2