Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 195


__ADS_3

"Nanti malam, ada ayah dan ibu Pangeran Alyan kemari. Aku memintamu untuk hadir menemani kami semua menyambut kedatangan mereka. Apakah kamu bersedia? "


" Pangeran Alyan? Siapa Pangeran Alyan?" tanya Nisa.


Aluna tersenyum menatap Nisa. " Dia adalah kekasihku. Apakah kamu bersedia? "


" Baiklah, aku bersedia.. " jawab Nisa.


Malam harinya....


Nisa mematut diri di depan cermin. Sudah sejak tadi dia memandangi penampilan dirinya. Rasanya selalu saja ada yang kurang.


" Mengapa kamu harus repot - repot berdandan, Nisa ? Siapa yang ingin kamu buat terpesona. Wanita hamil seperti dirimu, apakah ada orang yang akan tertarik untuk melirikmu. " Nisa bermonolog di depan cermin. Dia merasa malu dan merasa tak pantas berada di sana karena dirinya bukan siapa-siapa Ammar.


" Sadar diri Nisa, memangnya kamu siapanya Ammar?" Nisa bertanya pada bayangannya sendiri.


" Kamu kekasihku.... " Tiba-tiba saja Ammar sudah muncul di kamar Nisa. Berdiri tepat di belakangnya.


" Ammar.. kau... "


" Apakah kamu bersedia menikah dengan duda beranak dua ini? " Tanya Ammar sambil memeluk Nisa dari belakang. Pria itu mengecup bagian belakang leher Nisa membuat Nisa sedikit merinding. Sebelah tangan Ammar kini sudah bergerak mengusap perut Nisa dengan lembut.


Nisa diam tak bergeming. Dia tak menjawab pertanyaan Ammar, karena asyik menikmati setiap sentuhan Ammar di perutnya. Hatinya juga berdesir ketika merasakan bibir Ammar menyentuh kulit lehernya.


" Setelah anakmu lahir, menikahlah denganku. Apakah kamu bersedia? " Ammar kembali mengajukan pertanyaan yang sama.


" Hmm, apakah anak - anakmu tak keberatan jika aku menjadi ibu sambung mereka? " tanya Nisa ragu.


" Mereka tak mempermasalahkan hal itu. Karena hidup masih panjang. Terlalu lama jika harus dijalani seorang diri. " kata Ammar.


" Kata siapa hidup ini panjang, Ammar? Hidupku amatlah singkat. Aku tak tahu apakah besok atau lusa aku masih bernafas atau tidak. "


Ammar tersenyum misterius.


Dia tahu berapa batas usia manusia biasa pada umumnya.

__ADS_1


" Aku tahu, maka dari itu, aku


mengajakmu mengisi hidup ini dengan kebahagiaan. Lupakan saja semua masa lalumu yang kelam dan menyedihkan itu. Hiduplah bahagia denganku. "


Nisa mengangguk dan menyandarkan diri dalam pelukan Ammar. Ada rasa damai di hatinya yang berbunga - bunga.


Ammar membalikkan tubuh perempuan hamil itu hingga menghadap ke arahnya.


" Jadi kamu bersedia mengarungi rumah tangga denganku? Kamu sudah tahu siapa aku? Apakah kamu merasa takut? "


Nisa menggelengkan kepala. " Tidak, aku tidak takut. Sebaliknya, aku merasa aman bila bersamamu. Kamu selalu ada untuk melindungi diriku. "


Ammar menatap wajah Nisa yang cantik walaupun hanya dipoles dengan make up yang tipis. Perlahan dia mendekati wajah cantik Nisa yang kini menunduk karena merasa malu ditatap olehnya.


Ammar sedikit menunduk untuk mencium bibir yang sangat menggoda itu. Memagutnya penuh gairah hingga Nisa pun membalas ciuman itu dengan gairah yang sama. Lama sekali dia tak pernah mendapat sentuhan lelaki. Terlebih sentuhan yang Ammar berikan begitu lembut dan memabukkan, hingga wanita itu semakin lama semakin terbuai. Namun tiba-tiba Ammar melepaskan ciumannya.


" Cukup......Jangan salah paham. Aku hanya tak ingin merusak dirimu sekarang. Biarkan bayi ini lahir terlebih Dahulu. Bukankah tidak boleh menikahi seorang wanita yang dalam keadaan hamil. " kata Ammar ketika mendapati raut kecewa di wajah Nisa.


Nisa hanya bisa mengangguk pasrah. Sungguh sebenarnya saat ini dia sedang terbakar gairah. Hal yang sama juga dialami oleh Ammar. Namun, pria itu lebih memilih menahan nafsunya dari pada berbuat yang tidak seharusnya pada wanita itu walaupun dia tahu jika Nisa juga menginginkan hal yang sama. Walaupun mereka sudah sama-sama dewasa namun tetap saja hal itu terlarang mereka lakukan karena belum adanya ikatan yang sah diantara mereka.


Kedua sejoli yang sedang kasmaran itu berjalan bergandengan menuju ruang tamu. Sampainya di ruang tamu, Nisa yang malu segera saja melepaskan genggaman tangan Ammar. Ammar hanya tersenyum geli menyaksikan tingkah lucu Nisa.


Ammar segera menghampiri Pangeran Hasyeem dan Pangeran Alyan. Malam ini seluruh keluarga Pangeran Hasyeem hadir pada acara lamaran tersebut. Tak lupa pula Ki Anom dan juga Andros yang datang terakhir bersama Putri Arryan.


" Tuanku, Selamat datang di rumah kami. Bagaimana kabarnya, Tuanku sekeluarga ?"


" Kabarku baik, Panglima Ammar. Sepertinya kamu memiliki kesibukan baru? " seloroh Pangeran Hasyeem.


Nisa menunduk malu karena merasa tersindir oleh perkataan Pangeran Hasyeem.


" Tuanku, Ibunda ratu, perkenalkan ini adalah Anisa. Dia adalah calon ibu untuk Aluna dan Hamish." Ammar memperkenalkan Nisa kepada Keluarga Pangeran Hasyeem.


" Nisa, ini adalah Pangeran Hasyeem. Wanita cantik di sebelahnya adalah Ibunda ratu Asmi. Dan ini adalah anak - anak mereka. Pangeran Alyan dan Pangeran Azzura dan Si Kembar Khalied dan Humairah. Sedangkan yang duduk di sana adalah Putri Arryan dan kekasihnya Andro." Ammar menunjuk seorang gadis yang sangat cantik yang sedang duduk di pojok ruangan. " Putri Arryan adalah seorang dokter. Mereka semua adalah Keluarga Pangeran Hasyeem. Pangeran Hasyeem adalah penguasa Di Bukit Malaikat. "


Ammar memperkenalkan keluarga Pangeran Hasyeem kepada Nisa. Mata Nisa terbelalak kaget ketika mengetahui profesi Putri Arryan. " Dia seorang dokter? Bagaimana ceritanya bisa seperti itu? " tanya Nisa setengah tak percaya. Bagaimana mungkin ada dokter yang berasal dari bangsa jin.

__ADS_1


" Mengapa tidak? Sedangkan Ibunda ratu saja seorang manusia. Tak ada yang mustahil di dunia ini. " kekeh Ammar dan Pangeran Hasyeem bersamaan.


Pembicaraan kedua sahabat itu kemudian berlanjut pada hal yang lebih serius.


" Tuanku, apakah benar yang disampaikan oleh Aluna, jika maksud dari kedatangan Anda kemari adalah untuk meminang putriku. " tanya Ammar.


" Benar, Panglima Ammar. Kedua anak kita sudah sama-sama merasa cocok satu sama lain. Keduanya saling mencintai. Jadi aku pikir tak ada salahnya jika kita selalu orang tua meresmikan saja hubungan mereka ke jenjang pernikahan. " kata Pangeran Hasyeem.


" Hamba setuju, Tuanku. Semakin cepat semakin baik. Bukankah begitu akan menghindarkan mereka dari dosa." jawab Ammar.


" Iya, aku setuju akan hal itu, Ammar? Jadi kapan kiranya kita bisa menetapkan hari pernikahan mereka, Tuanku Pangeran" tanya Ratu Asmi.


" Terserah dinda. Apakah dinda sudah menentukan hari dan tanggal pernikahan mereka? " ujar Pangeran Hasyeem.


" Aku sudah bertanya kepada penasehat istana, menurut kata penasehat istana, sebaiknya pernikahan Pangeran Alyan digelar minggu kedua bulan depan. Bagaimana, apakah kamu setuju dengan usulan itu, Panglima Ammar? "


" Hamba menyerahkan sepenuhnya kepada Baginda Ratu Asmi. " jawab Ammar. Dia bernafas lega sekarang. Namun ada hal yang masih menggangu pikirannya. Dan dia tak ingin mengatakan hal ini karena memikirkan perasaan Aluna. Dia tak ingin menyakiti hati gadis itu. Namun seperti hal itu harus dia lakukan.


" Tuanku, sebenarnya ada satu hal. yang mengganjal di hati hamba tentang pernikahan Aluna dan Pangeran Alyan. "


" Apa, itu Panglima Ammar? " tanya Pangeran Alyan yang merasa was - was. Dia takut jika Ammar berubah pikiran.


" Iya, katakan saja wahai sahabatku. Apa yang sedang kamu pikirkan. "


" Aku tak bisa menjadi wali bagi Aluna.. "


Deg.....


Jantung Aluna seakan berhenti berdetak mendengar perkataan ayahnya.


Sedangkan Pangeran Hasyeem dan juga istrinya hanya bisa menundukkan kepala. Mereka hanya bisa berdiam diri saja.


" Apa maksud perkataanmu, Panglima Ammar? " tanya Pangeran Alyan dengan gusar. " Apakah kamu tidak menyetujui pernikahan kami? "


" Bukan seperti itu, Tuanku Pangeran. Tapi hamba mohon maaf yang sebesar - besarnya jika perkataan hamba ini nantinya akan melukai hati Putriku. Sesungguhnya Aluna bukanlah Puteri kandungku walau dia terlahir dari ibu yang sama dengan putraku. "

__ADS_1


" Lalu aku harus bagaimana? "


__ADS_2