Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 107 Alyan dan Luna Tersesat


__ADS_3

Karena terlalu asyik bermain, mereka tidak menyadari, bahwa mereka bermain sudah agak jauh dari wilayah istana.


Dari kejauhan, sepasang mata tak hentinya memandang dan mengawasi sepasang bocah ajaib yang memiliki kemampuan luar biasa itu.


" hmm, sepasang bocah ajaib. Pasti mereka yang sedang di buru oleh para penyihir dan penguasa hutan larangan." kata laki - laki itu sambil tersenyum licik.


Dalam bayangannya sudah terpampang pundi - pundi emas yang akan dia dapatkan sebagai imbalan atas kedua anak tersebut.


Alyan dan Aluna terus saja berkejar - kejaran di antara awan. Tanpa menyadari akan adanya bahaya yang sedang mengintai mereka berdua.


"Pangeran, ayo kita pulang, kita sudah bermain terlalu lama. Nanti ayah ibuku mencariku! " kata Luna. Gadis kecil itu mulai cemas, karena waktu sudah sore dan mereka bermain terlalu jauh dari istana.


Alyan tersenyum mendengar ucapan Luna yang sedikit cemas jika kedua orang tuanya akan mencarinya nanti. Cukup lama dia membiarkan Luna terus mencari - cari dirinya.


Alyan dapat dengan mudah bersembunyi karena dia memiliki kemampuan untuk menghilang dan tak kasat mata. Jangan lupa.. karena dalam tubuh Alyan mengalir darah jin dari seorang pangeran Hasyeem yang memiliki kemampuan untuk menghilang atau memunculkan dirinya secara tiba-tiba.


Setelah cukup lama bersembunyi Akhirnya dia keluar juga dari persembunyiannya. Namun, dia tak bingung karena tidak menemukan Luna di sana.


" Luna di mana, ya? Luna, Luna! kamu dimana?" serunya sambil berteriak memanggil - manggil Luna.


Alyan terus mencari - cari keberadaan. Luna. Namun dia tak menemukan gadis cilik teman bermainnya itu.


" Kemana perginya si Luna, ya? " ucapnya dalam hati." Apa jangan, jangan dia sudah kembali? Tapi... masa sih, dia marah lalu pulang sendiri?" kata Alyan dalam hati.


" Jangan - jangan ada yang tidak beres dengan Aluna? " kata Alyan menduga - duga.


Bocah itu kemudian duduk bersila. Mulut mungilnya terlihat komat kamit merapalkan mantra. Tak lama kemudian, bocah itu menutup matanya dan berkonsentrasi mencari keberadaan Luna.


Bukan main, bocah kecil itu sudah menguasai ilmu Sepih angin milik ayahnya dengan nyaris sempurna.


Tak berapa lama kemudian, dia sudah membuka matanya. Bocah itu tampak gusar dan segera melesat ke suatu arah.


Sementara itu di suatu tempat, seorang lelaki yang tidak dikenal tampak sedang menggendong seorang bocah perempuan yang tengah meronta - ronta berusaha untuk melepaskan diri.

__ADS_1


" Lepaskan, aku! Lepaskan aku, tuan! " bentak bocah perempuan itu.


" Hahahaha, akhirnya aku mendapatkanmu. Dan sebentar lagi aku akan mendapatkan temanmu juga. kalian berdua adalah calon pundi - pundi uangku. Hah,..diamlah bocah setan! kamu sungguh sangat merepotkan sekali! " Laki-laki yang tak dikenal itu kemudian membawa bocah perempuan itu ke suatu tempat yang agak jauh dari istana Pangeran Hasyeem.


"Lepaskan aku! Awas nanti ku adukan kau pada ayahandaku! dia akan menghukummu! cepat..lepaskan aku! " kembali bocah perempuan itu membentak lelaki itu. Kali ini dengan nada yang lebih tinggi.


Namun, lelaki itu tak peduli dengan ocehan seorang bocah perempuan. Dia malah tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu.


" Hahaha, bocah setan. Rupanya kau banyak sekali bicara! " Lelaki itu tampak kesal karena baginya dari tadi Aluna terlalu banyak bicara.


" Lepaskan aku! " bentak Aluna. " Pangeran Alyan..! Pangeran.! tolong aku!.. Pangeran! " serunya dengan lantangnya.


Lelaki itu semakin kesal. Dia menarik Aluna dan mencengkram tubuh kecil Aluna dengan marah.


" Dengar, hai bocah setan. Anak Jin yang kau panggil itu tak akan datang menolongmu! " lelaki itu mengguncang tubuh Aluna dengan keras.


" Lepaskan dia!" Suara bentakan nyaring dari seorang bocah terdengar di telinga lelaki itu.


Lelaki itu menoleh. Dia tertawa terkekeh ketika mendapati seorang bocah lelaki sedang berdiri berkacak pinggang dengan sikap menantang.


" Huh, aku datang bukan untuk menyerahkan diri padamu, tapi mau mencabut nyawamu!! " serunya dengan lantang.


Kembali lelaki itu tertawa terbahak - bahak. Walaupun dia sudah mendengar akan kehebatan bocah anak dari penguasa Bukit Malaikat, namun baginya tetap saja yang dihadapinya sekarang adalah seorang anak kecil ingusan yang belum mengerti apa - apa.


" Hei, anak Jin. Mulutmu besar sekali. Bersiaplah!! aku akan menangkapmu!" kata lelaki itu. Dia menyerang Alyan yang dari tadi sudah bersiap - siap menghadapi serangan lelaki itu.


Serangan pertama lelaki itu dapat dipatahkan dengan mudah. Dia menjadi naik darah. Bocah ingusan di depannya itu tersenyum mengejek.


" Seranganmu hanya mengenai angin, penyihir tua! Percuma saja! tenagamu lemah, kalah oleh usia.! " ejeknya dengan berani. Tak ada perasaan takut di matanya.


" Pangeran Alyan, hati - hati! dia licik sekali! " kata Luna mengingatkan Alyan.


" Tenang saja Luna! dia akan kubuat seperti perkedel buatan bundaku! lalu kita lempar biar kapok! " katanya sambil kembali mengelak dan berkelit dari serangan demi serangan lelaki itu.

__ADS_1


Bukan itu saja, pada suatu kesempatan anak kecil itu berhasil membalas serangan lelaki itu hingga membuat lelaki itu terjengkal ke belakang.


" Keparat!! anak kecil ini tidak bisa di anggap enteng! Aku harus cari akal agar bisa mengalahkannya." kata lelaki itu dalam hati. Dan ucapannya itu dapat didengar oleh Alyan. Anak kecil itu ternyata juga memiliki kemampuan ayahnya yang bisa membaca pikiran orang lain.


Alyan tersenyum mengejek. Dia sekarang mulai waspada. Dia takut lelaki itu akan mencelakai Luna.


Wusss! Alyan menghilang dari hadapan lelaki itu dan muncul di belakangnya. Dia menghadiahkan pukulan pada tengkuk lelaki itu sehingga lelaki itu tersungkur jatuh.


Alyan melesat menghampiri Luna.


" Ayo cepat kita kabur!" kata Alyan sambil menarik tangan Luna agar segera mengikutinya kabur dari tempat itu.


Kedua bocah itu melesat pergi meninggalkan tempat itu. Namun lelaki itu tidak tinggal diam. Segera dia bangkit dan mengejar kedua bocah ingusan tersebut.


" Kemana larinya kedua bocah ingusan itu?" katanya gemas. " Awas, jika nanti aku dapatkan, tak akan kuberi ampun. Aku tak segan - segan lagi untuk membunuhnya!" ucap lelaki itu dengan marah.


Sementara itu, Alyan dan Aluna terus berlari meninggalkan tempat itu tanpa melihat arah. Mereka terus saja berlari, hingga kemudian mereka berhenti karena lelah. Napas kedua ngos-ngosan.


" Hah, aku lelah sekali, Pangeran!" matanya nanar memandang ke sekelilingnya.


" Pangeran! Pangeran Alyan! " serunya pada bocah lelaki di sampingnya yang masih sibuk mengatur nafas.


" heh, ada apa? "


" Apa kamu mengenal tempat ini? Tempat ini sepertinya bukan tempat kita biasa bermain!" seru Luna.


Alyan memandang ke sekeliling. Benar. Ini memang bukan tempat mereka sering bermain.


" Iya, kamu benar! sepertinya kita telah tersesat, Luna! "


Luna sudah mulai ketakutan. Mendengar kata tersesat yang diucapkan oleh Alyan membuat gadis kecil itu menjadi cemas dan mulai menangis.


Alyan segera memeluk Aluna dan berusaha menenangkan gadis itu.

__ADS_1


" Cup..cup..cup. Jangan menangis, Luna! aku akan menjagamu! Kamu jangan takut, ya! kita akan segera menemukan jalan pulang." bujuk Alyan pada Luna.


Gadis kecil itu mengangguk. Dia percaya bahwa bocah lelaki itu akan menemukan jalan dan membawanya kembali ke pulang ke rumah.


__ADS_2