Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 168 Jangan Keluar Rumah Selepas Senja.


__ADS_3

Nisa menutup pintu selepas kepergian mamanya. Namun sesaat setelah dia menutup pintu, seseorang memeluknya dan mencium tengkuknya dari belakang. " Bolehkah aku memelukmu dan menciummu seperti ini? " bisik orang itu.


Nisa terkesiap. Tubuhnya menegang.


Perpaduan aroma musk dan lemonade yang menyeruak ke dalam indra penciuman Nisa menghadirkan getar - getar aneh di dalam tubuh Anisa. Jujur saja, selama menjadi istri Arya, dia tak pernah disentuh oleh lelaki itu selembut ini. Pertama dan terakhir Arya menyentuh dirinya saat dalam keadaan mabuk. Sangat kasar dan beringas. Tak ada sedikitpun kelembutan yang dia berikan untuk Nisa.


" Ammar, aku... " Nisa tak melanjutkan ucapannya. Matanya terpejam takkala tangan kokoh Ammar menyentuh dan mengusap lembut perut Nisa yang kini sudah mulai buncit.


" Aku bisa mendengar detaknya yang lemah. Di sini..... di dalam sini." tunjuk Ammar ke perut Nisa. Nisa menundukkan wajahnya mengikuti arah tangan Ammar. Tanpa sadar dia juga meraba perutnya. Kini tangan keduanya berada di perut Nisa. Tangan kokoh Ammar menyentuh tangan Nisa, menggenggamnya lembut.


" Dia akan menjadi seorang anak yang hebat nantinya. Berjuanglah sedikit lagi untuk mempertahankannya." bisik Ammar, tepat di telinga Nisa membuat wanita itu merasakan pipinya menjadi panas.


" Pergilah sarapan, bayimu butuh asupan gizi. Aku pergi dulu. Sampai jumpa." selesai berkata Ammar melepaskan pelukannya lalu menghilang dari kamar Nisa. Tinggallah Nisa yang masih terpaku tak percaya akan apa yang terjadi baru saja terjadi. Lelaki itu memeluk dan menciumnya. Dia sudah dipeluk dan dicium oleh sesosok makhluk jin. Oh.....Astaga.


...------...


" Mas Seno, apakah Mas punya waktu hari ini. Ada yang ingin Dewi bicarakan. Ini penting karena menyangkut masalah putriku Nisa."


" ....... "


" Ok, segera. Saya tunggu kedatangan mas Seno di sini. Terima kasih ya, mas. Maaf, sudah merepotkan mas. "


Dewi menutup telpon setelah mengakhiri pembicaraan mereka di telepon. Dia melirik ke luar jendela melalui jendela kaca nako. Terlihat beberapa orang yang terlihat mencurigakan sedang mengawasi kantornya.


Panas matahari siang membakar ibukota. Tampak Dewi dan Seno sedang duduk berhadapan di kantor wanita yang masih saja cantik diusianya yang terbilang tidak lagi muda.


" Aku tahu, permintaanku agak sedikit berlebihan, Mas. Tapi aku mohon, demi keselamatan putriku, Mas cabut saja surat wasiat itu. Sungguh, aku dan putriku tidak menginginkan secuilpun harta dari Mas."


Seno tercenung mendengar penuturan Dewi. Dia tak menyangka putranya Arya akan berbuat sejauh itu. Untung saja tidak terjadi apa - apa dengan calon cucunya. Andai itu terjadi, maka dia sendiri yang akan membuat perhitungan dengan Arya. Tangannya terkepal karena menahan geram. " Arya.... " desisnya.


" Sudahlah, Mas. Aku mengatakan hal ini bukan bermaksud ingin mengadukan hal ini kepada, Mas. Tidak usah Mas pikirkan apa yang telah Arya lakukan. Aku hanya berharap tindak lanjut Mas terhadap nasib putriku. Aku hanya ingin dia selamat. Tak masalah walaupun Arya sudah menceraikannya. Tapi, yang aku sesalkan, mengapa Arya masih saja berniat ingin mencelakai Nisa, meski sudah bercerai dengannya."


" Tenanglah, Dewi. Aku akan mengurus semua masalah ini dengan caraku sendiri. Sebab, walau bagaimana pun, anak yang sedang di kandung Nisa adalah cucuku, darah daging kuda dan penerus keluarga Bimantara. Aku tak akan membiarkan siapapun yang berniat untuk mencelakainya, termasuk anakku sekali pun yang jelas - jelas adalah ayahnya sendiri. Meskipun dia tak mau mengakuinya."


" Terserah, Mas saja. Yang penting putriku tak lagi di usik oleh Arya."


" Aku punya sebuah Villa di Bogor. Sudah lama Villa itu tak di pakai oleh keluargaku. Tak ada yang mengetahui tentang Vila itu, karena dulu aku berniat membelinya untuk... kita. Sampai sekarang Villa itu masih kosong. Aku hanya ke sana sesekali, jika sedang penat atau merindukanmu."


" Mas.. "


" Maaf, aku terbawa perasaan, Dewi."

__ADS_1


" Baiklah, ini alamat Villa itu. Kamu dan Nisa boleh menempati Villa itu selama kalian suka. Aku jamin, Arya tak akan dapat menemukan Nisa di tempat itu. "


" Baiklah. Aku ucapkan terima kasih atas pertolonganmu, Mas."


" Sama-sama. Kalau begitu, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum."


" Waalaikumsalam."


Dewi menghela nafas panjang sepeninggalnya Seno. Ada perih yang menusuk di dada. Sejujurnya, dia masih mencintai lelaki itu. Namun dia tak ingin kembali bersama dengan lelaki itu meskipun status Seno sekarang seorang duda dan dirinya seorang janda.


Dia hanya ingin fokus untuk mengurus perusahaan dan juga putrinya. Meskipun dia sudah membagi dua perusahaan kepada kedua putrinya, tetapi tampaknya Nisa tidak berminat mengurus perusahaan. Sehingga sampai kini, perusahaan milik Nisa dipegang olehnya yang menggantikan almarhum suaminya Mas Aldi.


...-----...


Mobil yang ditumpangi Nisa dan ibunya sudah memasuki halaman Vila yang terbentang luas dengan latar belakang panorama gunung Putri yang tampak dari kejauhan. Suasana asri langsung menyambut kedatangan wanita bertubuh semampai itu begitu dia menapakkan kaki di teras depan Vila.


Mang Asep, pengurus Vila tersebut tergopoh - gopoh menyambut kedatangan Nisa dan ibunya.


" Apa betul neng ini, neng Nisa dan ibu Dewi ?" Nisa dan ibunya serentak mengangguk. "


" Saya Mang Asep, saya penjaga Vila ini. Tuan Seno tadi telepon, katanya hari ini Neng Nisa akan datang bersama ibunya. Mari neng, saya bantu membawakan barang - barangnya."


Dengan cekatan, Mang Asep menurunkan semua barang - barang Nisa dan ibunya. Lalu membawanya masuk ke dalam Vila.


" Neng, Vila ini memiliki tiga kamar. Neng mau menempati kamar yang mana? "


" Saya yang paling ujung dekat ruang makan saja, Mang." kata Nisa.


" Mama ambil yang di sebelah Nisa saja."


Setelah meletakkan barang - barang bawaan Nisa dan ibu Dewi di kamarnya masing-masing, Mang Asep pamit mohon diri. Tinggallah Nisa dan mamanya di Vila itu.


Di kamarnya, Nisa seorang diri termenung seraya memandang jauh keluar jendela. Sejujurnya, dia sudah menolak ajakan ibunya untuk pindah ke Vila ini. Karena menurutnya, cepat atau lambat, Arya pasti akan menemukan dirinya. Dan dia sebenarnya sudah lelah bersembunyi dari Arya.


Masih terbayang olehnya kejadian beberapa hari yang lalu. Saat itu, Nisa sedang berada di Supermarket untuk belanja kebutuhan bayinya. Saat ini, usia kandungan Nisa sudah memasuki bulan ke tujuh.


Setelah selesai berbelanja, Nisa berniat ke toilet karena kebelet pipis. Setelah selesai buang air, Nisa berniat merapikan dandanannya. Saat sedang asyik bercermin, tiba-tiba seseorang pria yang tak dikenal membekap mulutnya dari belakang hingga dia tak bisa lagi berkutik. Pria itu lantas menyeret Nisa memasuki salah satu toilet sambil menodongkan pisau ke lehernya. Nisa sangat ketakutan dan ingin berteriak minta tolong, tapi Nisa tak berdaya karena pria itu mengancam akan menusuknya sekarang juga jika dia berteriak minta tolong. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan menuruti saja keinginan pria yang wajahnya di tutupi topeng itu.


Pria itu kemudian melucuti pakaian Nisa dan mengambil gambarnya melalui ponsel. Nisa menangis terisak mendapati perlakuan yang begitu merendahkan dirinya sebagai wanita. Setelah puas mengambil gambar dari tubuh bugil Nisa, pria itu mengeluarkan sepucuk pistol yang sudah dipasangi peredam.


Tubuh Nisa gemetar ketakutan saat moncong pistol itu sudah terarah ke kepalanya. Dia menangis memohon agar pria itu tak menembaknya. Namun, sebelum senjata pria itu meletus, tiba-tiba saja, sesosok bayangan hitam muncul dan merebut pistol di tangan pria itu. Secepat kilat pistol itu kini sudah berada di tangan bayangan hitam itu. Lalu..... door. Pistol itu meletus tanpa suara dan tepat mengenai jantung pria itu. Pria itu jatuh terduduk di lantai lalu untuk kemudian tergeletak di lantai dengan tubuh bersimbah darah.

__ADS_1


Nisa menjerit histeris saat melihat pemandangan itu. Dia tak pernah melihat orang tertembak sebelumnya. Dia juga sangat takut melihat darah. Saking shocknya dengan kejadian itu, wanita hamil itu akhirnya pingsan . Sebelum tubuhnya jatuh ke lantai, bayangan hitam itu dengan cekatan menyambar tubuhnya dan kemudian menghilang bersama tubuh Nisa.


Supermarket itu mendadak geger, karena penemuan seorang pria yang tewas menggenaskan di dalam toilet dengan luka tembak di bagian dada.


Setelah kejadian tersebut, akhirnya mama mengambil keputusan untuk membawa Nisa keluar kota. Dia ingin menyembunyikan Nisa untuk beberapa saat, sampai anak dalam kandungan Nisa lahir. Barulah kemudian dia akan menentukan langkah berikutnya.


Matahari perlahan sudah merangkak masuk ke peraduan. Magrib baru saja lewat. Setelah makan malam, Nisa dan mama memilih untuk beristirahat di kamar masing-masing.


Baru saja Nisa hendak merebahkan tubuhnya ke tempat tidur, secara tak sengaja ekor matanya menangkap sesosok bayangan yang melewati jendela kamarnya. Kalau dia tak salah lihat, bayangan yang baru saja melintas itu adalah bayangan seorang wanita dengan rambut yang dibiarkan panjang terurai.


Rasa penasaran membuat Nisa lantas membuka jendela dan melongok keluar. Hatinya berdegup kencang. Matanya nanar menatap sesosok wanita yang memakai kebaya putih dan bawahan motif batik. Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya. Dia sedang berjalan menuruni tangga yang menuju ke kolam di samping Villa.


" Siapa wanita itu? ..... Apa yang akan dilakukannya malam - malam begini di kolam itu. " Nisa makin penasaran.


Akhirnya dia memutuskan keluar kamar dan berjalan menuju ke dapur. Tangannya bergerak membuka pintu dapur dan melangkah keluar untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh wanita berkebaya putih itu.


Kini Nisa sudah berada di ujung tangga yang menuju ke kolam di samping Vila. Saat kakinya ingin melangkah menuruni tangga, sebuah tangan yang kekar menangkap lengannya. " Jika kamu turun kesana, maka kamu akan kehilangan bayimu, atau mungkin juga nyawamu." Anisa menoleh dan mendapati Ammar sedang berdiri sambil mencekal sebelah lengannya.


" Mengapa kamu berkata seperti itu. Aku hanya penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita itu."


" Yang kamu lihat itu bukanlah wanita biasa." jawab Ammar. Mata Nisa membelalak kaget. " Apa maksudmu, Ammar?"


" Maksudku, dia adalah hantu wanita jadi - jadian yang suka menghisap darah wanita hamil dan janin yang dikandungnya. Apakah kamu tidak percaya? " Nisa menggeleng setengah tidak percaya. Ammar lalu meraih tangan Nisa. " Ikutlah denganku! "


Ammar lalu membawa Nisa mendekati wanita berkebaya putih yang kini sedang berdiri di bawah pohon Akasia yang berada tak jauh di sisi kolam.


Semula Nisa ragu-ragu dan merasa takut. Jika benar apa yang dikatakan oleh Ammar, maka dia takut dirinya akan jadi mangsa hantu wanita itu.


" Jangan khawatir, aku akan melindungimu dari hantu wanita itu."


Mata Nisa menatap penuh kengerian saat Ammar membawa Nisa mendekati wanita itu. Dari jarak beberapa meter, kedua mata Nisa dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu. Wajahnya terlihat menyeramkan. Matanya mencorong masuk ke dalam. Mulutnya lebar sampai ke pipi. Lidahnya panjang terjulur sampai ke tanah.


"Ammar, .... aku takut. Ayo kita kembali! " Nisa menarik tangan Ammar dan menyeret laki-laki itu menjauh dari sana. Dia benar-benar takut saat ini. Namun saat baru saja dia melangkahkan kaki, tiba-tiba saja..


" Aduh,.... perutku keram.. Ammar tolong aku. "


Pandangan mata Ammar tertuju pada Nisa. Bukan Nisa yang sebenarnya menjadi fokus panglima Perang Istana Bukit Malaikat itu, tapi sesosok mahkluk yang berdiri di belakang tubuh Nisalah yang kini sedang memegangi perut wanita itu.


" Nisa... dalam hitungan ke tiga, berlarilah kepadaku secepatnya."


Walaupun tak melihat apa yang ada di belakangnya, tapi Nisa tahu, bahwa Ammar melihat sesuatu apa yang tidak dia lihat. Dengan gemetar Nisa berlari ke arah Ammar dan Srekk...! Pedang Ammar menebas sesuatu di belakang Nisa.

__ADS_1


Nisa menjerit histeris ketika melihat sesuatu berkelebatan di udara kemudian lenyap tanpa bekas. Untuk kemudian wanita itu jatuh tak sadarkan diri. Ammar segera mengangkat tubuh Nisa sebelum orang kampung berdatangan ke tempat itu.


__ADS_2