Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 174 Perjalanan ke Dimensi Alpa ( part 2)


__ADS_3

Perjalanan kali ini adalah perjalanan antara hidup dan mati Pangeran Hasyeem demi untuk menemukan kembali jiwa dari kekasih hati dan belahan jiwanya yang pergi menuju ke dunia kematian.


Semua yang berada di tempat itu memilih untuk berkumpul dan berdoa bersama. Mereka mengadakan sholat sunah dan zikir bersama untuk mendoakan Ratu Asmi dan Pangeran Hasyeem agar kembali dengan selamat.


Pangeran Hasyeem berjalan pelan menelusuri jalanan yang terbentang di hadapannya. Semakin lama, jalanan itu semakin menyempit dan terjal. Banyak jurang yang gelap dan dalam di sisi kiri dan kanan jalan itu. Sedikit saja salah melangkah, maka tak ayal lagi, kita akan terpeleset dan jatuh ke dalam jurang.


Dimensi Alpa adalah dunia yang terbentuk tanpa kehidupan. Hanya makhluk hidup yang tak berjiwa atau jiwa yang tak beraga saja yang tinggal di sini. Tak ada makhluk hidup lainnya. Jadi jika kita menjumpai sesuatu yang terlihat seperti makhluk hidup seperti apa yang kita lihat di alam dunia, maka hal itu semata hanyalah fatamorgana. Sejatinya, semua tak ada yang nyata.


Pangeran Hasyeem putra Raja Haizzar menyadari benar apa dan bagaimana keadaan di tempat tersebut. Namun, tekad hatinya sudah bulat untuk menemukan sang istri hingga dia tak peduli walaupun seberat apa rintangannya.


Tanpa terasa, perjalanan Ayah dari Pangeran Alyan itu sudah lebih dari setengah hari.


" Putri Arryan, dapatkan aku meminta sebotol air minum. Aku membutuhkannya untuk mengirimkan kepada Ayahandamu." pintar Panglima Ammar pada Putri Arryan.


Putri Arryan yang sedang duduk terpekur memandangi wajah ibundanya yang terbaring pucat dengan berbagai peralatan medis yang terpasang di tubuhnya segera berdiri dan mengambilkan air mineral dari botol minuman yang berada di dekatnya dan menyerahkannya kepada Panglima Ammar.


" Ini, Paman. Untuk apa air itu Paman?"


" Ayahmu membutuhkannya kelak." kata Panglima Ammar. Kemudian lelaki perkasa Panglima perang Istana Bukit Malaikat itu membuka tutup botol dan terlihat kemudian mulutnya komat kamit membaca mantra.


" Pangeran Hasyeem, apakah tuanku mendengar hamba? Hamba akan membuatkan air mantara untuk tuanku. Hanba akan melemparkan air ini ke dalam sana. Kalau bisa tangkap dan simpan. Gunakan air itu jika suatu saat tuanku menghadapi kesulitan." kata Ammar. Selesai itu dia lalu melemparkan botol air mineral tersebut ke dalam gerbang portal dan ajaibnya, botol air mineral itu kemudian lenyap tak terlihat lagi.


Di dimensi Alpa, hari baru saja menjelang malam. Tetapi di dunia manusia, hari sudah hampir menjelang pagi. Pangeran Hasyeem menyalakan obor yang sudah dibekali oleh Ki Anom sebelumnya. Obor tersebut sedikit banyak mampu menerangi kegelapan di sekeliling tempat itu. Baru saja pangeran Hasyeem mengangkat obor tersebut ke atas, sekelebat bayangan putih terbang melintas di depannya.


Pangeran Hasyeem lalu menurunkan obornya tepat di depan dada. Namun betapa terkejutnya lelaki itu ketika menatap ke depan. Sosok bayangan dengan wujud manusia kini sudah berada di hadapannya. Bayangan itu ternyata adalah sosok kakek tua berambut putih dengan wajah yang bersinar terang. Wajahnya ramah dengan senyum yang terhias di sudut bibirnya.


" Assalamu'alaikum..." Pangeran Hasyeem mengucap salam kepada kakek tua tersebut.


" Waalaikum salam..." balasnya. "Siapakah ananda ini dan ada keperluan apa yang membawa ananda sehingga bisa sampai ke tempat ini? "


" Namaku Pangeran Hasyeem. Tujuanku datang ke tempat ini adalah untuk menemukan dan membawa kembali ruh atau jiwa istriku yang tersesat di tempat ini. Kalau boleh tahu, siapakah anda? "


" Aku adalah yang ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi tempat ini. Apakah istrimu itu sejenis dengan bangsamu? Karena setahuku, tidak ada ruh dari wanita bangsamu yang berada di tempat ini. " jawab kakek tua itu sambil menatap tajam ke arah Pangeran Hasyeem. Dia masih bertanya sendiri dalam hati apa yang sebenarnya di cari oleh lelaki yang kini tengah berdiri di hadapannya. Adalah hal yang jarang terjadi, sesosok jin sampai memasuki tempat dimana ruh orang yang gentayangan dan tidak diterima langit atau bumi berada.


" Tidak, istriku adalah seorang manusia."


Wajah kakek tua itu menampakan keterkejutan. Sungguh, dia tak menyangka jika sosok jin yang ada dihadapannya ternyata memiliki istri dari golongan bangsa manusia.


" Oh,..maafkan aku. Aku sungguh tak mengira jika yang kamu cari adalah ruh dari seorang manusia. Tapi mengapa sampai ruh istrimu bisa berada di tempat ini?"


Pangeran Hasyeem lalu menceritakan kepada kakek tua itu bagaimana sampai ruh Asmi bisa berada di tempat ini.


" Hm, jadi itu sebabnya ananda bisa sampai ke tempat ini. Baiklah...mungkin saja aku bisa membantumu untuk menemukan ruh istrimu itu."

__ADS_1


Pangeran Hasyeem tampak senang sekali karena ada orang yang mau membantunya menemukan Asmi. " Terima kasih atas bantuan anda, Ki sanak. "


" Sama - sama. Tapi seperti apakah wujud wanita yang kamu cari itu.? " tanya lelaki tua itu kemudian.


" Dia sangat cantik dan lembut. Jiwanya sangat indah dan bercahaya. Adakah ki sanak pernah melihatnya? "


" Sepertinya aku tahu siapa yang kamu maksud ananda. Baiklah... marilah aku antarkan ananda untuk menemuinya. Ikutlah denganku..! " Kakek tua itu kemudian berbalik dan berjalan di depan Pangeran Hasyeem.


Selama perjalanan itu, tak ada lagi kata - kata yang terucap dari mulut keduanya. Keadaan di tempat itu kembali hening seperti sebelumnya. Hanya sesekali kadang terdengar jeritan atau teriakan yang mencekam yang entah berasal dari mana.


Keduanya kini berada di sebuah persimpangan. Ada tiga jalan yang terbentang di hadapan mereka. Jalan yang pertama lurus saja melewati jalan semula yang mereka lalui tadi. Jalan yang kedua membentang di sisi kanan jalan yang satunya. Sedangkan jalan yang ke tiga adalah jalan yang berbelok ke arah kiri dari jalan yang mereka lalui tadi.


Kakek tua itu membawa Pangeran Hasyeem melewati jalan yang membentang di sisi kanan jalan yang lurus. Jalan itu semakin sempit saja. Di sepanjang jalan yang mereka lalui, Ayah Pangeran Alyan itu melihat banyak sekali pijar - pijar kecil yang berterbangan di atas mereka. Seolah-olah menjadi penerang bagi jalanan yang sempit dan gelap yang kini sedang mereka lalui.


Perjalanan terus berlanjut. Mereka melewati sebuah tempat yang aneh dan menyeramkan.Tempat itu dipenuhi dengan makhluk yang berwujud aneh dan berwajah mirip dengan hewan.


Merasa heran, pangeran Hasyeem bertanya kepada kakek tua itu. " Tempat apa ini? "


Lelaki tua itu menjawab tanpa menoleh ke arah Pangeran Hasyeem. " Ini adalah tempat arwah para pengabdi dan pemuja ilmu sesat yang mati namun sebenarnya mereka belum mati pada waktunya." jawab kakek tua itu.


" Astaghfirullah.... " ucap Pangeran Hasyeem.


" Ya, sungguh kasihan sekali nasib mereka karena mati dalam keadaan yang tidak sempurna. Jiwa mereka berada dalam genggaman iblis hingga waktu yang ditentukan untuk menerima balasan atas apa yang sudah diperbuat semasa hidupnya."


Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melalui perjalanan yang lumayan lama, sampailah keduanya di sebuah tempat yang agak luas dan terbuka. Hari sudah hampir menjelang pagi. Sebentar lagi matahari akan muncul dan menampakkan sinarnya.


Sesuai dengan pesan kakek tua itu, Pangeran Hasyeem melewati jalan kecil setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. " Ikuti saja jalan kecil ini. Jalan ini akan mengantarmu ke tempat istrimu berada. Jika kamu masih ingin bertemu dengan istrimu, ingatlah, apapun nanti yang akan kamu temui, janganlah tergoda untuk mendatangi mereka apalagi berbicara dengan mereka." Suara kakek tua itu kembali terdengar.


Matahari terbit memancarkan sinarnya ke dunia ini. Namun, cahaya yang sampai ke tempat ini tak ada hangat - hangatnya sama sekali. Tempat ini tetap saja terasa dingin seperti saat pertama kali dia menginjakkan kakinya.


Ketika Pangeran Hasyeem sudah berjalan beberapa saat, ada sebuah suara memanggilnya. Seorang wanita cantik sedang berdiri menatap ke arahnya. Wanita itu menggendong seorang bayi dalam pelukannya.Tangannya melambai - lambai memanggil - manggil seolah - olah sedang meminta pertolongan.


Pangeran tampan suami dari Asmi itu teringat pesan kakek tua itu yang mengatakan bahwa apapun yang akan dia temui, jangan tergoda untuk mendatanginya.


Maka Pangeran Hasyeem memejamkan matanya dan kembali melanjutkan perjalanan hingga sampailah dia di sebuah padang rumput yang amat luas. Sejauh mata memandang hanyalah rerumputan saja yang terbentang di hadapannya. Tidak ada pohon atau tanaman yang lain.


Di kejauhan dilihatnya seorang wanita sedang berdiri mematung memandang ke suatu arah. Dia hapal sosok itu. Sosok cantik yang teramat sangat dia rindukan selama ini.


Setengah berlari, Pangeran Hasyeem mendekati sosok itu. Setelah berada cukup dekat, dia berhenti dan menatap punggung wanita itu dengan rasa yang sungguh sulit dia lukiskan.


" Asmi, ...Sayang..."


Wanita itu menoleh dan sejenak pandangan mereka bertemu. Wajah wanita itu tersenyum bahagia saat melihatnya. Pangeran Hasyeem berlari memeluk wanita itu. Wanita yang merupakan belahan jiwanya. Istri yang teramat sangat dia cintai dan juga ibu dari anak - anaknya.

__ADS_1


" Sayang..... akhirnya aku menemukan dirimu. " Bisiknya sambil mendekap erat tubuh istrinya. Dadanya berdegup kencang karena bahagia. Tak hentinya dia menghujani Asmi dengan ciuman dan juga kecupan di wajah dan pucuk kepala wanita itu.


" Bawa aku pulang, Pangeran." bisik Asmi yang kini sedang berada di pelukan suaminya. Kedua tangannya memeluk tubuh kekar dan kokoh suaminya dengan erat seolah takut akan berpisah lagi.


" Iya, sayang. Kita akan kembali bersama - sama. Kita akan pulang." jawab Pangeran Hasyeem.


Pangeran Hasyeem menggendong tubuh Asmi, bermaksud untuk membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba, sesosok makhluk tinggi besar sudah berdiri menghadang mereka.


Makhluk itu menatap tajam ke arah Pangeran Hasyeem. Ada kemarahan dari sorot matanya saat melihat siapa yang sedang berada dalam gendongan Pangeran Hasyeem.


" Turunkan wanita itu..! Dia milikku. "


Pangeran Hasyeem tak bergeming mendengar perintah dari makhluk itu. Dia masih saja tetap berdiri sambil terus menggendong Asmi dalam pelukannya.


Makhluk itu menjadi murka karena merasa diabaikan oleh Pangeran Hasyeem. Dia akhirnya maju dan menyerang lelaki perkasa itu dengan perasaan marah.


Mau tak mau, Pangeran Hasyeem terpaksa harus menurunkan Asmi dari gendongannya. Dia mendudukkan wanitanya di atas sebuah batu dan kini bersiap - siap menghadapi serangan makhluk itu.


" Majulah, waktuku tinggal sedikit. Aku tak ingin membuang waktu dengan melayanimu berlama-lama." Pangeran Hasyeem mencabut pedangnya saat di dengarnya sebuah suara yang sangat amat Dikenalnya. " Tuanku, gunakan air yang ada di botol ini untuk melawan makhluk itu. Percikkan ke pedang milik Tuanku sebelum menggunakannya" Entah dari mana, sebuah botol yang berisikan air putih tiba-tiba saja sudah muncul di hadapan Pangeran Hasyeem.


Pangeran Hasyeem lalu melakukan apa yang suara itu perintahkan. Dia meraih botol yang berisi air itu, membuka tutupnya lalu menyiramkannya ke pedang Halilintar miliknya.


Pedang berwarna keemasan itu bersinar-bersinar di tempa sinar matahari. Tanpa menunggu lama, Dia sudah kembali berhadapan dengan makhluk tinggi besar yang menghadang di depannya.


" Majulah, dan akan kubuat kamu membayar semua yang telah kamu lakukan terhadap istriku." katanya. Setelah itu, pertempuran sengit pun terjadi. Pedang Pangeran Hasyeem menerjang tanpa memberi kesempatan pada makhluk itu untuk mengelak. Akhirnya tak beberapa waktu, tubuh makhluk itu pun tumbang dan jatuh ke bumi. Detik berikutnya, tubuh makhluk itu lenyap dari hadapan suami Asmi tersebut. Dengan menghela nafas lega, Pangeran Hasyeem kembali mendekati sang Istri dan menggendongnya kembali. Dia dan Asmi kemudian menghilang dari tempat itu dan muncul kembali di depan portal yang menuju ke ruangan tempat dimana tubuh Asmi terbaring koma. Dengan sekali hentakan kaki Pangeran Hasyeem sudah mendarat di depan tubuh istrinya. Lalu dengan hati - hati dia membaringkan ruh Asmi di atas tubuhnya. Ruh itu perlahan-lahan menyatu dengan tubuh Asmi seperti semula.


Panglima Ammar kemudian menutup kembali portal tersebut setelah memastikan bahwa Pangeran Hasyeem telah kembali ke tempat tersebut dengan selamat. Dengan penuh haru dia memeluk tuannya. Demikian juga halnya dengan Ki Anom.


Pangeran Hasyeem lalu mendatangi anak - anaknya. Mereka semua sedang menunggu sang Ibunda sadar dari koma dan membuka matanya.


Akhirnya saat itu pun tiba. Mata Asmi yang selama ini terpejam secara perlahan - lahan terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tampan suaminya yang sedang menangis sambil memeluk kedua anak kembarnya. Lalu wajah - wajah orang yang dia kenal dan yang selalu dia rindukan. Mas Ardi dan saudara - saudara Asmi yang lain juga ada di tempat itu. Mereka semua merasa sangat bahagia.


" Pangeran.... " lirihnya.


Pangeran Hasyeem lalu menurunkan kedua anak kembar mereka lalu memeluk sang istri dengan segenap rasa rindu dan cintanya. Kebahagiaan di hatinya karena melihat kembali mata indah sang istri terbuka kembali.


" Ibu ratu.... ibu ratu sudah sadar. " kata Khalied dan Humaira. Kedua anak kembar itu juga ikut memeluk Sang ibu. Lalu disusul oleh Pangeran Alyan dan kedua adiknya yang lain.


" Tuanku, berikanlah air ini kepada Yang Mulia Ratu." Panglima Ammar menyodorkan secawan air minum kepada Pangeran Hasyeem.


" Air apa ini, Panglima Ammar? "


" Itu adalah air dari mata air keabadian di puncak Himalaya. Hamba mendapatkannya ketika mengobati Aluna dulu."

__ADS_1


Pangeran Hasyeem lalu memberikan air itu untuk diminum oleh Sang istri. Ajaib.. setelah meminum air tersebut, tubuh Asmi merasa segar dan sehat. Dia tak lagi merasakan sakit dan juga lemah seperti saat pertama kali dia terbangun dari komanya.


" Terima kasih, Panglima Ammar. Kini aku sudah merasa baikkan. Aku rindu dengan istana Bukit Malaikat. Apakah kita sudah bisa pulang hari ini. " Semua yang hadir di tempat itu saling pandang lalu tertawa bersamaan.


__ADS_2