
Walaupun tak melihat apa yang ada di belakangnya, tapi Nisa tahu, bahwa Ammar melihat sesuatu apa yang tidak dia lihat. Dengan gemetar Nisa berlari ke arah Ammar dan Srekk...! Pedang Ammar menebas sesuatu di belakang Nisa.
Nisa menjerit histeris ketika melihat sesuatu berkelebatan di udara kemudian lenyap tanpa bekas. Untuk kemudian wanita itu jatuh tak sadarkan diri. Ammar segera mengangkat tubuh Nisa sebelum orang kampung berdatangan ke tempat itu.
Perlahan-lahan Nisa membuka matanya. Langit-langit kamarnya yang berwarna putih menjadi hal pertama yang dia lihat. Dimana Ammar?
" Apa kamu mencariku? " Nisa menoleh ke arah suara dan mendapati Ammar yang duduk di kursi tak jauh dari tempatnya berbaring.
" Apa tadi itu yang kulihat? Terus, mengapa perutku rasanya keram sekali? "
" Hantu wanita itu mencoba untuk masuk ke tubuhmu. Dia tadi ada di belakangmu, sedang memegangimu. Itulah sebabnya tiba-tiba kamu merasakan keram di perutmu.Hantu wanita itu mencoba untuk meraih janin yang ada di dalam perutmu."
Nisa bergidik ngeri membayangkan seandainya makhluk itu berhasil mengambil anak yang berada dalam perutnya.
" Lain kali, jangan mudah tergoda untuk mengetahui sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu. Kamu itu sedang hamil. Dan wanita hamil rentan akan gangguan makhluk - makhluk tak kasat mata karena tubuh mereka berbau harum."
" Apakah karena itu kamu juga suka mencium aroma tubuhku? " tanya Nisa dengan senyum menggoda. Ammar mendekat secepat kilat dan meraup pelan bibir Nisa. " Berani berucap seperti itu lagi, maka aku akan menghukummu lebih dari ini." Nisa terpaku merasakan panas di seluruh tubuhnya. Dadanya berdegup kencang karena perlakuan Ammar barusan. Dia meraba bekas ciuman Ammar di bibirnya
" Tidurlah... hari sudah malam. Aku akan di sini menjagamu."
Nisa mendadak kicep dan menuruti perkataan lelaki yang baru saja menyentuh bibirnya itu. Dia menarik selimut yang berada di kakinya lalu menutupi separuh tubuhnya dengan selimut itu.
Beberapa saat di kamar itu hanya terdapat hening. Tak ada suara apapun juga yang terdengar kecuali suara jangkrik dan juga binatang malam yang sesekali terdengar.
Nisa terlihat bolak-balik gelisah dengan berbagai posisi tidur. Tampaknya dia tidak merasa nyaman dengan posisi tubuhnya saat ini. Perutnya yang tadi sempat kram masih belum terasa hilang sakitnya.
Ammar memperhatikan Nisa yang kini tidur dengan posisi menghadap ke arahnya.
" Mengapa, apa ada yang sakit? "
" Aku tak bisa tidur. Mataku sulit sekali kupejamkan. Pinggangku rasanya kram. Tapi jika tidur telentang, aku merasa kesulitan bernafas. Tetapi jika miring, aku merasa sakit di sekitar pinggang."
Ammar berdiri beranjak mendekati Nisa. Tangannya bergerak membopong tubuh wanita itu dan kemudian membawanya pergi meninggalkan kamar itu.
" Mau kemana? "
" Lihatlah sendiri! " Ammar memberi isyarat dengan dagunya. Sontak Anisa menoleh. Matanya terbelalak melihat pemandangan yang nampak di depan matanya melalui jendela kamar yang terbuka. Walaupun malam hari, namun matanya masih melihat dengan jelas hamparan salju yang memutih di luar sana.
__ADS_1
" Dimana ini? "
" Ini di rumahku yang lain. Yang jelas bukan di bukit Duri. Aku rasa cuaca di tempat ini sangat cocok untukmu."
" Tapi.... "
" Tidurlah.... di sini walaupun tidak ada AC, namun udara di tempat ini cukup sejuk. Kamu akan merasa nyaman dan tidak kegerahan lagi. Dan lagi pula, tempat ini jauh dari jangkauan mantan suamimu. Maka kamu tak perlu takut dan risau lagi."
Ammar lalu merebahkan tubuh Nisa di atas ranjang besar dan kemudian memeluk wanita itu dari belakang.
" Apakah posisi ini nyaman untukmu? "
Anisa mengangguk sambil memejamkan mata. Walau merasa canggung, tapi dia menikmati juga berada dalam pelukan Ammar. Benar saja, tak lama setelah itu, Nisa sudah terlelap ke alam mimpi. Dia benar-benar tidur dengan pulas sampai keesokan harinya.
...----...
Kita tinggalkan Ammar dan Nisa yang kini sedang berada di rumah Ammar. Kita akan melihat bagaimana kabar kedua anak kembar Asmi yang kini sedang berada di bukit Malaikat bersama sang ayah dan bundanya, Pangeran Hasyeem dan Ratu Asmi..
Tampak dari kejauhan sepasang anak sedang berlari cepat mengitari taman istana. Tampak sekali keduanya seperti sedang berlomba-lomba untuk adu cepat siapa dulu yang lebih cepat sampai ke tujuan.
" Ayo humaira, kejar aku. uh... dasar lelet! " ejek anak lelaki yang memakai baju hijau. Wajahnya putih bersih dan sangat tampan. Kedua matanya berwarna coklat terang dengan bintik kuning yang menyolok di tengah.
" Ayah, khaled curang.." adunya pada sang ayah yang hanya tersenyum melihat tingkah lucu kedua anak kembarnya.
Asmi yang melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia selalu tak habis pikir melihat tingkah kedua anak kembarnya itu. Setiap hari selalu saja bertengkar. Namun, jika berjauhan keduanya saling merindukan. Kadang-kadang Ayahandanya Raja Haizzar membawa Khaled ke Gunung Khayangan. Dan jika Khaled tidak kembali dalam seminggu, maka Humaira akan mengalami demam dan mengigau memanggil nama Khaled. Begitu pun sebaliknya, Khaled akan sakit jika berjauhan dengan Humaira. Asmi merasa heran sendiri dengan apa yang berlaku untuk kedua anak kembarnya itu.
Seorang pengawal istana berlari tergopoh - gopoh menghadap Pangeran Hasyeem.
" Ampun yang Mulia, sayap sebelah utara kerajaan berhasil di masuki oleh musuh. Kini semua prajurit istana sedang bertempur di alun - alun utara."
Pangeran Hasyeem terkesiap saat mendengar berita itu. Penguasa Bukit Malaikat itu menjadi geram.
Belum lagi pengawal kerajaan itu berbalik, mata tajam Pangeran Hasyeem yang seperti elang menangkap sesuatu yang bergerak cepat ke arah mereka. Secepat kilat Pangeran tampan itu bergerak maju dan menarik wanitanya ke dalam pelukannya. Sebuah anak panah melesat secara tiba-tiba menuju ke arah sang istri. Dengan sigap, pangeran Hasyeem menangkap anak panah itu dan melemparnya ke tanah. Hampir saja nyawa wanitanya melayang. Matanya nyalang penuh kemarahan. Tanpa sadar mata yang semula berwarna coklat muda berbintik kuning itu kini berubah hitam semua lantas kemudian berwarna merah.
" Siapa yang berani menyerang ratuku secara diam-diam! " bentaknya. Kedua anak kembar Asmi berlari memeluk sang Bunda. Ada ketakutan dan juga rasa cemas di wajah kedua bocah kembar itu.
Dari beberapa penjuru, bermunculan makhluk - makhluk yang berwajah mirip anjing. Tubuh mereka seperti manusia hanya saja penuh dengan bulu dan kaki mereka mirip seperti kaki kuda.
__ADS_1
Pangeran Hasyeem menghunus pedang Halilintar dan segera berdiri di depan Asmi dan kedua anaknya.
" Sayang, tetap berdiri di belakangku bersama buah hati kita. Jangan kemana-mana. "
Asmi merangkul kedua anaknya dan berdiri tepat di belakang suaminya.
Beberapa pengawal istana juga sudah berdatangan ke tempat itu. Pertempuran terbuka sudah menjalar sampai ke istana.
Dari kejauhan, Pangeran Hasyeem melihat ketiga putra dan putrinya datang dan bergabung dalam pertempuran itu.
" Putriku Arryan, bawa ibu dan kedua adikmu ke tempat yang aman. Tugasmu melindungi mereka sekarang."
" Baik, ayah. "
" Sayang, ikutlah dengan putri kita Arryan. Tempat ini tidak aman untukmu dan anak-anak kita."
" Tapi pangeran, aku tak bisa meninggalkanmu dalam situasi yang genting ini. Izinkan aku untuk tetap bersamamu, pangeran."
" Tidak, aku tak bisa membiarkanmu di tempat ini. Kamu adalah kekuatanku. Jika terjadi sesuatu terhadapmu, maka aku akan mati, ratuku. Tolong, mengertilah, demi aku dan demi anak - anak kita. Aku akan kuat selama kamu sehat dan selamat. Cepatlah, kita hampir kehabisan waktu."
Putri Arryan secepat kilat menyambar tangan ibundanya yang sedang merangkul kedua adiknya. Tubuh mereka kemudian menghilang dari tempat itu, meninggalkan segala kekacauan yang sedang terjadi di halaman istana.
" Ammar, kamu di mana? Cepatlah ke mari. Bukit Malaikat di serang pasukan Elathan, putra iblis dari neraka. "
Ammar yang saat itu sedang bersama Nisa mendengar bisikan Pangeran Hasyeem. Segera Panglima Bukit Malaikat itu memanggil semua anak buah dan pengikutnya untuk bergabung bersama membantu Pangeran Hasyeem.
Pertempuran berlangsung semakin seru. Banyak korban dari kedua belah pihak. Pedang Halilintar dan Pedang Naga jiwo berkelebatan di udara memangsa Iblis - iblish yang bermunculan tak hentinya menyerbu tempat itu. Juga tak mau ketinggalan pedang perak Pangeran Azzura yang berayun ke sana kemari, menusuk dan menebas musuh dengan tanpa ampun.
Sementara itu, Putri Arryan membawa Asmi dan kedua adik kembarnya kedunia manusia. Sesaat setelah sampai di depan rumah uwaknya sebuah sinar melesat menerjang tubuh gadis itu. Asmi dan kedua bocah kembar itu terpental beberapa depa dan menghantam pagar rumah Mas Ardi. Bunyi keributan di luar mengundang penghuni rumah yang sedang asyik menonton televisi. Mereka segera keluar rumah untuk melihat apa yang telah terjadi.
" Dek Asmi..! " seru Mbak Nur. Belum hilang keterkejutan mereka dari arah samping rumah muncul beberapa sosok iblis yang langsung menyerang ke arah Putri Arryan. Dengan sigap, gadis cantik itu menangkis dan membalas setiap serangan dari makhluk - makhluk itu.
" Allahu akbar.... allahu akbar... Allahu akbar....! " Mas Ardi dan beberapa warga kampung yang berdatangan ke tempat itu bersama - sama mengucapkan takbir. Mendengar ucapan takbir yang saling bersahut-sahutan dari orang-orang itu membuat makhluk - makhluk itu menjadi lemah. Mereka semakin tak berdaya ketika menghadapi serangan dari Putri Arryan. Tak beberapa lama, satu persatu iblis itu kemudian lenyap dari tempat itu.
Putri Arryan segera mendatangi Ibunya yang tampaknya tak sadarkan diri. Ada luka yang menganga di kepala Asmi. Mungkin akibat terbentur pagar rumah yang terbuat dari beton.
Putri Arryan menangis meraung saat melihat kondisi ibunya. Demikian juga halnya dengan kedua adiknya. Kedua bocah kembar itu menangis sambil memanggil - manggil Ibunya.
__ADS_1
Melihat hal itu, Mas Ardi segera bertindak. Dia bergegas membawa Asmi ke dalam mobil dan melarikan adiknya ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Sementara putri Arryan dan adiknya menyusul sang Uwak yang telah lebih dahulu pergi membawa sang bunda.