Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 165 Siapa yang menyambung Rambut akan......


__ADS_3

Mama dan Alice menyambut kedatangan mereka dengan suka cita. Dia memeluk suami dan anak laki-laki kesayangannya dengan penuh haru.


Sedangkan keempat orang yang berasal dari Bukit Malaikat itu pamit mohon diri kepada keluarga Keanan.


" Paman, apakah benar yang dikatakan oleh Raja Siluman Serigala sewaktu si istana Hutan Alas Purwo? "


" Jika semua itu benar, apakah yang akan kamu lakukan?


Keanan terdiam. Bibirnya kelu hingga tak mampu berucap. Kejujuran keluarga Arryan seperti sebuah palu besar yang menghantam jiwanya. Benarkah gadis yang dia cintai adalah jin. Tapi bagaimana bisa seorang jin memiliki keluarga dari golongan manusia. Atau mereka semua juga adalah sebangsa jin.


Papa Keanan menepuk bahu pemuda itu hingga tersadar dari lamunan. Ternyata Arryan dan Ayahnya serta kedua orang kakaknya sudah tak ada lagi di hadapan mereka.


" Apakah kamu mencintai gadis itu? " tanya papanya. Keanan menatap laki-laki yang dipanggilnya papa itu dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.


Keanan menghela nafas dan kemudian berlalu dari hadapan papanya tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan papa. Kini, hatinya bingung. Apakah dia sanggup untuk menerima kenyataan itu, atau melupakan saja gadis itu. Disatu sisi, dia sudah jatuh cinta pada gadis itu. Perasaan di hatinya bukanlah perasaan yang main - main dan hanya sesaat. Namun, dia juga masih belum bisa menerima jati diri Arryan yang terlahir sebagai seorang jin. Perasaan bingung di hatinya, membuat pemuda itu menjadi tak dapat memejamkan mata.


"Kami sangat menghargai jika kamu bisa menyimpan rahasia jati diri kami, khususnya Arryan. "


Sebuah bisikan sayup terdengar di telinganya. Hati Keanan berubah ciut. Apakah ayah dari Arryan bisa mengawasi dirinya tanpa dia sadari..? Kalau itu benar. Waduh... bisa berabe urusannya


Otak kecil Keanan berpikir keras untuk mencari jawaban. " Tak usah kamu pikirkan. Walaupun kami sebangsa jin, tapi kami tidak pernah menggunakan kemampuan kami untuk mengawasi manusia dengan sembunyi - sembunyi. Kami tahu batasan kami. "


Keanan makin terkejut saat mendengar suara tanpa wujud itu. Walaupun tak melihat wujud orang yang berbicara di hadapannya, namun dia tahu pasti bahwa yang sedang berbicara dengannya itu adalah ayah dari Arryan.


" Maafkan aku. Tapi aku ingin tahu, bagaimana bisa Anda mengetahui apa saja yang ada dalam pikiranku? "


" Hahaha, itu mudah. Karena kami dari bangsa jin, kami dikaruniai kemampuan untuk membaca isi hati seseorang dan mengetahui apa yang belum terjadi pada orang itu dengan mudah. "


" Jika itu benar, lalu apakah kamu bisa menebak apa keinginanku saat ini? "tanya Pemuda itu. Dia penasaran

__ADS_1


" Itu mudah...! " jawab suara itu. Lalu Sekelabat bayangan bergerak di sudut ruangan kamar Keanan. Karena kaget, pemuda itu memekik sejenak. Keringat dingin sudah membasahi kening dan tangannya. Dia menyesali mengapa tadi bertanya seperti itu. Dia takut, ayah Arryan akan tersinggung dengan ucapannya.


" Apakah kamu merasa takut?" Keanan menoleh mencari asal suara itu. Sejenak, lelaki itu menatap tak percaya kepada sosok yang kini telah berdiri di depannya.


Arryan dan ayahnya.


" Assalamu'alaikum..." Kini laki-laki yang dia lihat terakhir kali saat tiba di rumahnya, kini sudah berada tepat dua langkah di depannya. Di sisinya berdiri pula gadis yang sedang menari - nari dalam pikirannya.


" Waalaikum salam. " pemuda itu membalas salam yang di lontarkan oleh makhluk astral yang ada di hadapannya. Betapa pemuda yang sebentar lagi akan bergelar Profesor karena kecerdasan otaknya itu, terhenyak menyaksikan semua ini.


" Bukankah ini yang kamu inginkan? Kamu ingin melihat penampakan sosok jin dalam wujud aslinya. Karena menurutmu, makhluk jin hanya ada dalam mitos dunia ghaib yang tak lebih dari dongeng semata, bukan? Tapi maaf sudah mengecewakanmu, anak muda. Kami ada, dan inilah kami. Inilah wujud asli anakku. Wujud asli dari seorang Putri Arryan. Tak ada yang berbeda. Hanya saja mata makhluk seperti kami berwarna - warni dengan bintik kuning di tengah. "


Keanan seketika menatap bola mata milik Arryan. Benar saja, kini Keanan dapat dengan jelas bola mata Arryan yang berwarna hitam dengan bintik kuning di tengah.


" Kamu...! " Keanan mengatup mulutnya dengan kedua tangan. " Kalian benar - benar berasal dari bangsa jin. " Baru kali ini, dia melihat kenampakan jin dalam wujud utuh seperti sekarang.


" Iya, ini aku Keanan. Inilah yang ingin ku katakan padamu saat itu. Aku adalah putri seorang jin. Dan aku juga ingin bertanya, apakah kamu bisa menerima keberadaanku yang seperti ini. Dan sekarang aku yakin, kamu pastilah sangat terpukul sekali. Maafkan aku yang menyembunyikan jati diriku selama ini. Tapi aku punya alasan untuk itu. Assalamu'alaikum. " gadis itu kemudian berlalu sedih bersama ayahnya untuk kemudian menghilang meninggalkan Keanan yang masih saja terdiam terpaku.


" Hei, bangun..! Bangun..!" Seseorang seperti mengguncang tubuh Nisa.


"Anisa.. bangun! Nisa....! Ada seseorang


yang sedang memasuki rumahmu."


Wanita itu kemudian bangun dengan mata yang masih setengah terbuka. Separuh nyawanya belum lagi terkumpul saat dirasanya tadi tangan seseorang yang menarik tubuhnya.


" Sisisi...aapa? tanyanya dengan pandangan nanar. Betapa terkejutnya wanita itu saat melihat pria yang beberapa hari lalu mendatanginya.


" Stts.... jangan keras - keras.! orang itu sedang menuju ke atas, cepatlah kamu bersembunyi." Nisa menjadi panik ketika laki-laki itu mengatakan bahwa seseorang sedang menuju ke kamarnya. Saat itulah, tiba-tiba saja pintu kamarnya di dorong seseorang dari luar disertai dengan bentakan kasar.

__ADS_1


" Hei, kamu yang di dalam. Ayo cepat buka! " orang itu menggedor pintu dengan keras sambil mendorong pintu itu. Nisa menjadi panik tak tahu harus berbuat apa. Mau bersembunyi di mana?


Tiba-tiba sebuah bayangan menarik tubuhnya dengan cepat dan memeluknya bersamaan dengan terbukanya pintu kamarnya yang didobrak kasar.


Mata orang itu nyalang menyapu ke seluruh ruangan kamar Nisa. Nisa menahan nafas karena merasa takut jika kedua orang yang kini sedang berada di kamarnya dapat memergokinya.


" Jangan takut, mereka tak bisa melihatmu." Mata Nisa terbelalak tak percaya. Benarkah mereka tak bisa melihatnya?


Nisa menarik nafas lega saat mengetahui bahwa kedua orang itu tak bisa menemukan dirinya. Tapi mengapa?? Padahal dia berdiri tak jauh di belakang kedua orang itu.


" Hah, tak ada siapa - siapa di kamar ini. Padahal tadi kukira ada orang karena lampunya menyala." kata lelaki yang berperawakan kurus tinggi itu.


" Cari, bodoh..! Siapa tahu dia bersembunyi. " kata temannya.


" Oh,iya.. " Keduanya kemudian menggeledah isi kamar tersebut, namun keduanya tidak menemukan apa yang mereka cari.


" Dimana wanita itu, ya? Kata Bos, kamarnya di lantai dua yang menghadap ke taman. Nah... kita sudah sampai disini tapi orangnya kagak ada. "


Kening Nisa berkerut saat mendengar percakapan kedua orang itu.


" Siapa yang mereka maksud dengan panggilan 'Bos'?


Seseorang kemudian mengeluarkan handphone dari sakunya dan menghubungi seseorang yang berada di tempat lain.


" Bos, orangnya nggak ada. Target 1 lenyap, tak berbekas, bos." Orang itu kemudian menjauhkan handphone dari telinganya. " Bos. Ruang depan kini sudah clear. Selanjutnya kami sedang menuju ke target berikutnya."


Darah Nisa terkesiap mendengar perkataan kedua orang itu. Keningnya semakin berkerut mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai target ke - 1. Itu berarti, bahwa ada target 2 dan target 3 dan selanjutnya. Jika saja orang itu berhasil menemukan mama dan juga kedua adiknya? Ya Tuhan, bagaimana nanti jadinya? Apakah mereka akan membunuh keduanya.


" Ammar, aku mohon tolonglah, aku....sangat mengkhawatirkan keadaan ibu dan kedua orang adik - adikku . Bagaimana.... ? "

__ADS_1


" Tenang saja, aku akan membantumu..! "


__ADS_2