Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 128 Makhluk Apa Itu


__ADS_3

" Apakah kamu tidak jera, Sani. Praktek ilmu Hitam yang kau jalankan itu sesat!" kata tetua desa itu dengan gusar. Rupanya dia mengenal baik laki-laki itu.


" Aku tidak bisa, ki. Sudah kepalang tanggung. Aku harus mendapatkan tujuh mayat wanita lagi agar aku bisa menyempurnakan ilmuku." jawab laki-laki itu.


Ki seta, tetua adat desa Babakan itu menghela napas dalam. Sulit sekali baginya melarang laki-laki yang sudah digelapkan matanya oleh pengaruh ilmu sesat hasil dari bersekutu dengan iblis.


Berita tentang Sani yang berniat ingin membongkar makam Amirah menjadi buah bibir warga setempat. Banyak warga yang menduga bahwa lelaki itu tengah melakukan praktek ilmu hitam.


Ada juga yang menduga kalau lelaki itu melakukan hal itu untuk mencari kekayaan.


Namun, hanya Sani sendiri yang tahu persis alasan mengapa dia melakukan hal itu.


" Kak, kakak dengar, tidak? Ada yang berniat untuk membongkar makam ibu kita." kata Hamish. Mereka berdua tak sengaja mencuri dengar pembicaraan beberapa warga saat akan pergi ke rumah kakek neneknya di desa Babakan.


Hari ini mereka ke rumah kakek neneknya untuk membantu kakek dan nenek menyiapkan acara tahlilan bagi ibu mereka. Sedangkan Ayah mereka menyusul nanti sore.


" Iya, biar saja. Nanti kita tanyakan saja pada ayah. Ayah pasti mengetahui hal itu." jawab Aluna.


Keduanya meneruskan perjalanan hingga sampai ke rumah nenek mereka yang terletak di dekat alun - alun desa. Rumah kakek dan nenek sudah ramai oleh warga yang datang membantu.


Luna dan Hamish baru saja tiba di rumah kakek dan neneknya saat tiba-tiba saja mereka semua dikejutkan oleh teriakan seseorang.


orang itu menjerit histeris sambil berlari pontang panting dengan wajah yang begitu ketakutan.


" Tolooong..... tolong. Ada mayat! Ada mayat! " teriaknya.


Hamish dan Luna segera berlari mendekati warga yang sedang berteriak tadi.


" Hey.... mas... mas. Tenang... mas tenang dulu.! " Hamish menangkap lengan lelaki tersebut dan berusaha menenangkannya.


Warga yang lain kini sudah mulai berkerumun.


" Ada apa, mas. Kenapa berteriak-teriak seperti tadi?" tanya Luna setelah melihat orang yang tadi berteriak histeris kini sudah mulai tenang.


" Ada mayat, Mbak! " jawabnya sambil bergidik ngeri.


" Dimana? Mas bisa tunjukkin, nggak.!" tanya Luna mencoba mencari informasi lebih banyak dari orang tersebut.


" Bisa, mbak. Mari saya tunjukkan!" kata orang itu. Luna dan Hamish serta para warga yang lain segera mengikuti orang itu.


Sesampainya di tempat yang dituju, semua orang yang ikut menyaksikan langsung bergidik ngeri dan ketakutan.


" Astagfirullah, Itu kan Asih. Warga desa sebelah. Ya..Allah, kasihan sekali nasib wanita itu! " seru salah seorang warga yang mengenali mayat wanita tersebut.


Warga yang berkerumun banyak yang merasa tak tega melihat kondisi mayat wanita itu. Lehernya terkoyak hampir putus.


Darah wanita itu hampir kering. Matanya melotot hampir keluar. Mungkin sesaat sebelum ajalnya, wanita itu melihat sesuatu yang teramat sangat mengerikan untuk dilihat.


Luna dan Hamish saling pandang. Mayat wanita itu sama persis kondisinya dengan keadaan ibunda mereka. Keduanya tewas dengan leher terkoyak. Hanya saja saat ini, belum diketahui pasti penyebab kematian wanita itu.


Segera para warga melaporkan peristiwa tersebut kepada tetua adat desa Babakan. Tak lama kemudian, mayat wanita tersebut sudah dibawa ke rumah keluarganya untuk dimakamkan.


-

__ADS_1


-


-


" Sepertinya kejadian yang menimpa ibu kita bukanlah kebetulan semata, kak!" kata Hamish saat keduanya kembali dari rumah kakek dan neneknya.


" Aku rasa demikian. Tapi bukankah Pangeran Alyan berhasil membunuh makhluk yang membunuh ibu kita itu, dek!" kata Luna.


" Iya, makhluk jadi - jadian yang haus akan darah...!" keduanya saling pandang.


" Manusia..!" ucap keduanya bersamaan.


Mereka berdua menyimpulkan bahwa makhluk yang sedang mereka bicarakan adalah manusia yang bisa berubah menjadi makhluk jadi - jadian dan menghisap darah korbannya, terutama darah manusia.


Tiba-tiba, wajah Hamish berubah pucat.


" Kak, jika korbannya adalah manusia, maka.... " Hamish tidak melanjutkan kata - katanya karena kini di hadapan mereka berdiri sesosok makhluk yang mengerikan.


" Kak Luna, awaasss! " teriaknya.


Hampir saja makhluk mengerikan itu menerkam Luna yang berjalan di sebelah Hamish.


Hamish dan Luna segera berkelit menghindari serangan makhluk itu.


" Lari, kak. Sepertinya kita tidak bisa menghadapi serangan makhluk itu! " kata Hamish.


Dia ingat, bahkan ayahnya sendiri saja, tidak bisa melawan makhluk itu seorang diri. Hanya pangeran Alyan saja yang bisa mengalahkan makhluk jadi - jadian itu dengan pedangnya.


Keduanya tiba di istana Bukit Duri dengan nafas yang terengah-engah.


" Aduhhhh, hampir saja kita mati ditangan makhluk jadi - jadian itu, dek! " serunya dengan nafas terputus-putus.


Keduanya lalu menemui Sang ayah dan melaporkan kejadian tersebut.


" Sepertinya saat ini kita sedang berhadapan dengan makhluk jadi - jadian penghisap darah manusia. Lantas apa yang harus kita lakukan, ayah? " tanya Hamish.


" Kalau kecurigaanku, benar. Itu artinya nyawa kakakmu dan bunda Ratu Asmi dalam bahaya.!" kata Ammar.


Luna melongo tak mengerti, namun Hamish segera mengangguk faham.


" Benar sekali, ayah. Karena kak Luna dan Bunda Ratu Asmi berasal dari bangsa manusia." kata Hamish.


" Tepat sekali, putraku. Kau memang sangat cerdas!" puji Ammar pada Sang Putra kesayangannya.


Luna mengangguk faham. Kini dia tahu mengapa ayahnya berkata demikian.


...----...


Sementara itu di lain tempat. Seorang pemuda tampan dengan rambut hitam panjang dan dikuncir kebelakang sedang mengendap-endap di antara semak - semak belukar.


Matanya yang setajam mata elang sedang mengintai buruannya. Tampak seekor rusa betina yang sangat besar sedang asyik memakan rumput. Saking asyiknya makan, rusa betina itu sampai tak menyadari ada seseorang yang sedang mengintai.


" hmm, rusa itu akan menjadi santapan yang lezat untuk makan malam nanti." gumamnya.

__ADS_1


Pemuda itu segera mengeluarkan busur dan panahnya. Gerakannya halus dan ringan. Hampir tak terdengar bahkan oleh serangga sekalipun.


Baru saja dia hendak melepaskan anak panahnya ke arah rusa betina itu, telinganya yang tajam menangkap suara gaduh yang berasal dari tempat lain.


Saat dia menoleh kembali, rupanya rusa buruannya pun telah lari karena merasa terusik oleh gerakan pemuda itu.


Karena kesal dengan suara gaduh tadi, pemuda itu memutuskannya untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Mata pemuda itu terbelalak saat melihat pemandangan yang baru saja di lihatnya.


Sesosok makhluk yang mengerikan sedang berdiri tak jauh di hadapannya. Mata makhluk itu liar melihat ke sekelilingnya. Hidungnya seperti sedang mengendus sesuatu.


Pemuda itu segera menarik anak panah yang tersampir di pundaknya. Dia bermaksud untuk memanah makhluk itu dengan busurnya.


Namun sebuah suara halus setengah berbisik, melarangnya untuk melakukan hal tersebut.


" Hei, pssst.... jangan lakukan itu jika kamu masih ingin melihat matahari esok!" kata orang itu setengah berbisik.


Pemuda itu menoleh ke arah suara tadi.


" Kau..!" serunya tertahan. Makhluk itu menoleh ke arah tempat Pemuda tadi berdiri. Hidungnya tampak mengendus sesuatu.


Buru - buru orang itu menarik tubuh pemuda itu dan memeluknya dengan erat.


" Maaf, cuma ini satu - satunya cara untuk melindungimu dari makhluk itu!" katanya lirih hampir tak terdengar.


Azzura, pemuda itu menahan nafas. Dia berjuang sekuat tenaga menahan debaran- debaran aneh di dadanya. Seumur hidupnya baru kali ini dia merasakan tubuhnya dipeluk oleh seorang gadis sedemikian rupa.


Cukup lama makhluk itu bertahan di tempat itu. Hidungnya sesekali membaui ke arah Azzura berdiri.


Setelah memastikan bahwa calon korbannya telah pergi, makhluk itu pun akhirnya meninggalkan tempat itu.


Gadis itu segera melepaskan tubuh Azzura dari pelukannya.


Azzura yang marah bermaksud ingin melayangkan protes namun dia urung melakukannya.


" maafkan Aku!" kata wanita itu sambil menundukkan tubuh.


" Makhluk tadi membaui bau darah manusia yang ada di tubuhmu. Aku terpaksa memelukmu agar bau tubuhmu tersamar oleh bau tubuhku. Karena hanya dengan cara itu aku bisa menyelamatkanmu! " kata Ambika.


" Aku seorang kesatria. Seorang kesatria tidak boleh mengenal rasa takut. Aku tidak takut pada makhluk itu! " kata Azzura dengan nada yang sedikit kesal.


" Aku tahu anda seorang kesatria yang berani. Tapi keberanian saja tidak cukup membuat seseorang bisa mengalahkan musuhnya." kata gadis itu dengan bijak.


Gadis itu adalah Ambika. Gadis yang merupakan putri dari Siluman Harimau Putih dari Hutan Tabut.


" Tapi aku memiliki senjata!" kata Azzura yang masih merasa kesal.


" Percayalah, tuan. Senjatamu tak akan mempan olehnya!" kata Ambika sambil berlalu dari hadapan Azzura.


Azzura terheran-heran mendengar penjelasan dari Ambika.


"Hei, beritahu padaku. Makhluk apa itu tadi?" tanya Azzura

__ADS_1


__ADS_2