Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 138 Lamaran Alyan


__ADS_3

krezekkk! krezzzkkkk! sesuatu dibalik semak - semak bergerak mendekati gadis itu.


" Pangeran..? Kaukah itu? " Sepi tak ada jawaban.


Tiba-tiba.....


" Arrggkhhhhh!!!! " Sesuatu dari balik semak - semak melompat keluar dan menerjang ke arah gadis itu.


" Pangeraaannnnn!!! Tolong! " teriak Aluna.


Sesosok makhluk tinggi besar berwajah mirip monyet namun bertaring panjang menyeramkanmenyerang Aluna dengan membabi buta.


Aluna yang kaget namun masih sempat berkelit. Nyaris saja, umpat Aluna dalam hati. Dia tak menyangka, sesuatu yang dia kira Alyan yang sedang usil mengerjainya, ternyata yang muncul adalah makhluk siluman berbentuk monyet raksasa.


" Sialan, enyah kau dari hadapanku!" bentaknya. Namun bukannya pergi, makhluk itu malah semakin mendekati Aluna.


" Arghhh!!! Arggh!! makhluk itu kembali menyerang Aluna. Kali ini Aluna tidak mau gegabah seperti waktu itu.


Sretttt! Aluna mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk menghadapi makhluk itu.


Makhluk itu melompat dan menerjang ke arah Luna. Namun Aluna tak tinggal diam. Tubuh Luna melenting ke atas lalu mendarat kembali sambil mengayunkan pedangnya ke arah makhluk itu dan crashhh...! Sabetan pedangnya mengenai punggung makhluk itu.


" Arghh!! " makhluk itu mengamuk marah ketika sabetan pedang Luna melukai punggungnya cukup dalam.


Kemarahan makhluk itu semakin besar ketika kembali lagi pedang Aluna mengenai bagian tubuhnya. Lengan kiri makhluk itu terkena sabetan pedang Luna. Namun, Luna juga harus menebusnya dengan luka cakaran di bahunya kiri. Namun yang aneh, luka itu kembali menutup setelah beberapa saat.


Aluna ternganga mengetahui keadaan itu. Alhasil, dia yang penasaran kemudian membiarkan saja saat makhluk itu kembali menyerangnya.


Makhluk itu mencakar dan mencabik - cabik tubuh Luna dengan ganas. Namun Luna bergeming tanpa mau melawan.


" Haitttt... mampus kau makhluk terkutuk!! " Aluna melihat Alyan datang dan langsung menyerang makhluk yang menyerang Luna.


Makhluk itu terlempar sejauh beberapa depan dari tubuh Luna. Dari dadanya mengucur darah segar. Makhluk itu terluka oleh sabetan pedang Naga Jiwo dari Pangeran Alyan.


Merasa tak mampu mengalahkan kedua manusia di hadapannya, makhluk itu memilih menghilang dari sana. Masih terlihat ceceran darah, jejak dari makhluk itu.


" Aluna... Ya Tuhan. Bertahanlah!! " Alyan yang panik segera berlari ke arah Aluna untuk memberi pertolongan kepada gadisnya.


Dia mengutuk kelalaiannya dalam menjaga sang kekasih. Kini kekasihnya celaka akibat keterlambatanya.

__ADS_1


Tubuh Aluna bersimbah darah karena seluruh tubuhnya penuh dengan cakaran makhluk itu.


Namun secara ajaib, luka cakaran dari makhluk itu perlahan-lahan merapat dan akhirnya kembali pulih seperti sediakala.


Alyan terpaku menyaksikan kejadian itu. Hal yang sama pun di rasakan oleh Aluna. Antara heran tak percaya, Aluna memekik kegirangan.


" Aku kebal. Tubuhku tak bisa terluka! Pangeran Alyan...! Kau lihat itu? "


" Iya, Aluna. Aku juga melihatnya. Tubuhmu tak bisa dilukai oleh senjata apapun. Itu artinya kamu tak bisa mati! " kata Alyan.


Mulut Aluna menganga lebar mendengar kata - kata Alyan.


" Benarkah aku tak bisa mati, Pangeran Alyan?" tanya Aluna heran. " Tapi bagaimana bisa? "


" Aku ingat sekarang. Waktu kamu terluka karena serangan makhluk penghisap darah waktu itu, kamu sempat meminum air dari sumur mata air keabadian di puncak Himalaya yang di bawa oleh ayahmu. Mungkin saja air itu telah membuatmu menjadi manusia abadi karena menurut legenda yang aku dengar, siapa saja yang meminum air dari sumur mata air keabadian, maka dia akan abadi." jelas Alyan pada sang kekasih.


Aluna kini paham, sekarang dia tak perlu merasa takut lagi terhadap sesuatu karena dia kini menyadari bahwa dia di anugrahi keabadian karena meminum air dari sumur mata air keabadian yang berada dari mata air suci di puncak Himalaya.


Kedua tertawa gembira dan saling berpegangan tangan. Pangeran Alyan membawa Aluna terbang ke atas puncak bukit yang tinggi sambil memeluk tubuh gadis itu. Berdua mereka memadu kasih di atas sebuah batu besar yang berdiri kokoh di puncak bukit itu. Tubuh Aluna menyandar di dada bidang sang kekasih.


" Luna, aku mencintaimu." Aluna tersenyum bahagia mendengar pernyataan cinta dari sang kekasih.


Kedua terdiam hanyut dengan perasaan masing-masing. Entah siapa yang memulai. Bibir keduanya kini sudah bertaut. Mereka kembali berciuman, namun kali ini mereka melakukannya sudah tidak kaku lagi.


Alyan memeluk tubuh kekasihnya lebih merapat lagi hingga tubuh keduanya saling menempel erat. Dinginnya angin malam seakan tak mampu meredam panasnya api cinta diantara mereka.


" Luna, menikahlah denganku! "


" Hah?!"


" Aluna, aku memintamu untuk menikah denganku. Apakah kamu bersedia? " Pangeran Alyan mengulang kembali ucapannya.


" Pangeran Alyan, apa kau tak salah ucap?"


" Tidak, berpacaran terlalu lama bisa- bisa membuat kita khilaf dan tanpa sadar melakukan perbuatan dosa. Aku tak ingin itu terjadi. Apakah kau faham, sayang?" Bluss...pipi Luna bersemu merah. Panggilan 'sayang' yang ditujukan kepadanya sukses membuat jantung Aluna berdebar-debar.


" Aku akan bicara pada ayah dan ibuku untuk melamarmu pada ayahmu. Apakah kau setuju? " Aluna terdiam. Benarkah Pangeran Alyan akan melamarnya?


Tapi apa dirinya siap untuk dilamar oleh pangeran Alyan. Jujur saja, Aluna masih ingin bebas. Menikah muda bukanlah pilihan hidup yang ingin dia lakukan saat ini. Dia takut akan kehilangan semua kebebasan yang selama ini dia miliki jika sudah menikah nanti. Tapi, Aluna sangat mencintai Pangeran Alyan. Dia tak ingin kehilangan pangeran Alyan. Aluna merasa bimbang dalam menentukan pilihan

__ADS_1


" Mengapa diam? Apakah kamu masih ragu untuk menerima lamaranku? "


Aluna tak mampu berkata. Dia lupa, pemuda di hadapannya ini bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain.


" Menikah, bukan berarti aku akan mengikatmu sehingga kamu menjadi tidak bebas dalam melakukan apa yang kamu mau. Aku tidak melarangmu untuk melakukan semua keinginanmu. Hanya saja kau harus ingat dan sadar akan batasannu, sayang! " Pangeran Alyan tahu akan kebimbangan Aluna. Dia tahu, jika kekasihnya itu takut jika menikah dengannya akan kehilangan kebebasannya.


" Pangeran Alyan! " Aluna merengut kesal.


" Iya, sayang. Hmm.. ada apa? "


" Tak sopan, membaca isi hati dan pikiran seseorang tanpa seizin yang punya! " Pangeran Alyan terkekeh mendengar omelan dari kekasihnya.


" Aku membaca isi hatimu dan juga pikiranmu, karena aku tak ingin di hati dan pikiranmu ada yang lain selain aku." Kembali wajah Aluna bersemu merah.


" Aishh.... nggak lucu, pangeran! " Aluna memberengut manja. Pangeran Alyan menjadi gemas melihat ekspresi wajah Aluna.


Cup! Dia menghadiahi kekasihnya itu sebuah kecupan singkat di bibirnya.


" Pangeran Alyan!!! "


" Hahahaha....!! Pangeran Alyan tertawa lepas karena berhasil menggoda Luna.


" Bagaimana, setuju??? "


" Tau.... akhhhh!!! " jawab Luna kesal.


Tanpa mereka sadari, sepasang mata indah milik seorang gadis sedang mengawasi dan mendengarkan semua pembicaraan kedua insan yang sedang berkasih - kasihan itu. Ada sorot cemburu dalam tatapan matanya.


" Hmm, jadi gadis itu kekasih pangeran Alyan. Tapi dia berasal dari golongan bangsa manusia, sama seperti ibundanya. Apakah pangeran Alyan benar-benar akan melamarnya? "


Kecemburuan benar-benar sudah membakar hati gadis itu hingga tanpa sadar dia menghentakkan kakinya dan mengumpat dengan geram.


" Siapa di sana? " bentak Alyan. Dia merasa seseorang sedang mengamati mereka.


" Hei, kisanak. Tampakkanlah wajahmu. Jangan bersembunyi di sana dan mengintip orang lain diam - diam seperti seorang pengecut! " ejek Alyan pada gadis itu.


Gadis itu merasa terpojok oleh kata - kata pangeran Alyan. Serta merta dia keluar dari persembunyiannya.


" Putri Keysha??!! " seru Alyan dengan wajah terkejut.

__ADS_1


" Hah, Putri Keysha? Siapa dia, Pangeran? Apakah kamu mengenalnya? " tanya Aluna heran.


__ADS_2