Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 48 Lamaran Wira


__ADS_3

Cahaya bulan menerobos diantara kegelapan malam di hutan larangan yang basah karena hujan yang menyiram di sore harinya.Tampak sesosok laki-laki bertubuh tegap sedang berlari dengan cepat menembus kegelapan malam di hutan itu tanpa rasa takut sedikitpun yang terpancar di wajahnya.


Tak lama kemudian, laki-laki itu sudah sampai di depan sebuah gubuk kecil di pinggir hutan Larangan. Dengan sedikit ragu dia mengetuk pintu gubuk itu yang dari dalam terlihat remang cahaya pelita yang menandakan ada seseorang di dalam sana.


" Nyi, Nyi Darsih! apakah kau ada di dalam? " tanya laki-laki itu.


" Masuklah! " terdengar suara serak seorang wanita dari dalam gubuk yang menyuruh laki-laki itu agar masuk ke dalam.


Laki-laki itu membuka pintu gubuk dengan perlahan. Tampaklah seraut wajahyang pucat dan dingin menampakkan kesan kejam dan angkuh


Lelaki berwajah dingin itu menatap ke arah seorang wanita yang wajahnya sudah separuh terbakar. Wajah itu tampak mengerikan dengan rambut putih panjangnya dan tubuh yang sedikit bungkuk.


" wanita itu masih hidup! Kau gagal membunuhnya! " ucapnya dingin dan datar.


" cih, ( Nyi Darsih membuang ludah), tentu saja dia masih hidup. Kamu lupa mengatakan padaku jika wanita itu berada di bawah perlindungan Pangeran Hasyeem, putra Raja Haizzar. Raja dari bangsa Jin penguasa Gunung Kahyangan? " bentak wanita itu yang tak terima di salahkan karena gagal membunuh target sesuai yang di perintahkan oleh laki-laki yang kini sedang berdiri di hadapannya.


" Itu bukan urusanku! " sambarnya dingin. Ada raut kemarahan di wajahnya yang dingin.


" Aku nyaris kehilangan nyawa karena tugas bodoh darimu. Sekarang lebih baik kamu pulang. Aku tak mau jika harus berurusan kembali dengan penguasa bukit Malaikat !" bentak Nyi Darsih murka.


Wajah laki-laki itu mengeras. Seumur hidupnya dia paling benci dengan penolakan. Wanita di hadapannya ini sudah berani menolaknya. Dia tak tahu sedang berhadapan dengan siapa, pikirnya.


Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sejenak mata Nyi Darsih membulat sempurna. Wanita itu terbelalak kaget ketika menatap ke arah benda yang berada di tangan laki-laki itu


" kau.. kau.. dari mana kamu mendapatkan foto itu..? " wajahnya mendadak pucat pasi saat melihat foto seseorang yang terletak di hadapannya.


" Tak peduli aku mendapatkan darimana foto ini, tapi jika kau tidak segera membunuh wanita itu, maka aku akan membunuh wanita yang ada dalam foto ini dengan tanganku sendiri!, Nyi Darsih !" ancamnya pada wanita itu.


Wanita itu menjadi geram. " Kamu mengancamku!! " bentaknya. Tangannya bergerak hendak melancarkan serangan pada laki-laki itu, namun dengan tenang lelaki itu mengeluarkan sebuah benda pipih dari saku celananya.


" Jangan coba - coba bertindak gegabah, Nyi. Sekali saja aku menekan benda ini, maka tamatlah riwayat wanita itu! " ucapnya datar.

__ADS_1


Seketika wajah Nyi Darsih menjadi tegang. Lelaki di hadapannya ini tampaknya tidak main - main dengan ucapannya. Matanya kembali tertuju pada wanita yang ada dalam foto itu.


Nyi Darsih menghela nafas panjang. Sungguh pilihan yang berat.


" baiklah, kau menang. Aku akan berusaha semampuku untuk menjalankan tugas ini. Tapi resikonya sangat besar. Wanita ini bukanlah wanita sembarangan!"


" Justru karena dia bukanlah wanita biasa maka aku menyerahkan tugas ini padamu, Nyi Darsih. Hanya kamu yang bisa melakukannya.! kata lelaki itu.


Nyi Darsih tak berkata - kata lagi. Laki-laki itu kemudian pergi setelah sebelumnya melemparkan sebuah amplop coklat yang cukup tebal yang isinya sudah bisa wanita itu tebak. Dia kembali menghela nafas. Wajahnya sungguh kalut.


...----...


Sementara itu, Asmi sedang sibuk di toko melayani pembeli yang datang berbelanja di toko Mirna. Sementara Ali, pemuda itu tampak sedang serius menghitung stok barang dagangan sekaligus menyusun barang dagangan yang baru datang di gudang.


" Sibuk, dek? " sebuah suara mengejutkan Asmi yang sedang asyik menghitung belanjaan seorang pembeli.


" Mas Wira! kapan datang? " tanya Asmi. Dia tak menyangka, l-elaki yang sudah beberapa lama tak kelihatan batang hidungnya itu tiba-tiba muncul di hadapannya.


" Baru kemarin." jawab Wira. Lelaki berwajah ganteng dengan kulit sawo matang itu dengan sigap membantu Asmi melayani pembeli.


" Sudah, mas. Nggak usah di bantu. Nanti mas lelah! " kata Asmi yang masih berusaha mencegah Wira membantunya.


" Sudah, lanjutkan saja. biar cepat selesai. Lagian ini tidak berat, kok! " kata Wira yang juga ngeyel mau membantu Asmi. Niatnya sih.... biar bisa dekat sama Asmi.


Asmi hanya bisa pasrah saja. Tak lama kemudian pembeli tak tampak lagi karena sudah pada pulang, selesai di layani. Suasana tampak lenggang.


" Selesai ini, mas mau ngajak Asmi jalan. Ada sesuatu yang mau mas bicarakan. " kata Wira dengan mimik wajah serius.


Asmi menatap lelaki ganteng itu dengan wajah penuh tanda tanya. ' Mas Wira mau ngomong apa, sih! ' tanya Asmi dalam hati.


Mendadak perasaannya jadi nggak enak. Serba salah dan juga kikuk. Asmi menghempas tangannya dengan kasar. 'Ini kenapa, ya. Kok aku mendadak gelisah, gini? ' pikirnya.

__ADS_1


Sore harinya, Wira membantu Asmi menutup toko dan sesuai janjinya lelaki itu kemudian mengajak Asmi untuk jalan.


Asmi naik di jok motor Wira dengan canggung. Lelaki itu meraih tangan Asmi dan meletakkkannya di pinggangnya.


" pegang ya erat, dek. Entar jatuh! " kata lelaki itu kemudian menyalakan motornya dan segera melaju membelah sore hari yang ramai oleh hiruk pikuknya manusia yang lalu lalang dengan berbagai urusan.


" Kita mau kemana, mas? " tanya Asmi. Wanita cantik itu merasa bingung karena tak tahu akan kemana tujuan Wira membawanya.


" Sebentar lagi sampai, dek! " jawab lelaki itu. Dan benar saja. Tak lama kemudian lelaki itu memarkirkan motor besarnya di depan sebuah cafe yang lumayan besar.


" turun, dek. Kita sudah sampai. " kata Wira.


Asmi kemudian turun dari motor Wira dan berdiri di samping motor Wira dengan canggung.


" Ayo, kok diam aja. Kita masuk ke dalam! " ajak Wira sambil menggandeng tangan Asmi memasuki Cafe. Suasana cafe itu tampak nyaman dan terkesan romantis karena di setiap meja di pasangi lilin besar yang berwarna merah dan setangkai mawar merah. Cocok sekali bagi pasangan yang ingin makan malam romantis atau menghabiskan waktu dengan pasangan.


Wira mendatangi meja kasir untuk menanyakan meja yang dia pesan melalui online. Kasir itu segera memanggil pelayan cafe yang langsung mengantarkan Wira dan Asmi ke meja mereka.


Tak lama pelayan itu datang kembali menyodorkan daftar menu pada Wira. Wira menyodorkan kembali kepada Asmi.


" kamu mau makan apa, dek. Pesanlah yang kamu mau! " pintar lelaki itu pada Asmi.


" Asmi mau teh hijau dan cheese cake saja, mas. " kata Asmi. Pelayan itu menuliskan pesanan Asmi dan Wira yang meminta secangkir ekspreso. Pelayan itu kemudian berlalu dari hadapan mereka.


" Mas, sebenarnya mas mau ngomong apa sih, sama Asmi? " tanya Asmi kemudian.


Wira menatap Asmi dalam dan lembut. Asmi menunduk menghindari tatapan Wira. Dia tak ingin mabuk dan terlena dengan lelaki itu, dan memberikan harapan palsu karena sudah ada Hasyeem di hatinya. Walaupun tak terlihat di dunia nyata tetapi dia telah memiliki seseorang sebagai pemilik hatinya.


" Asmi, Maksud mas mengajak Asmi kemari karena ada sesuatu yang mau mas omongin." ucap Wira sambil menggenggam jemari wanita itu.


Dada Asmi berdesir aneh. Kira - kira Asmi sudah dapat menebak arah dan maksud pembicaraan lelaki ini.

__ADS_1


" Mas berniat melamar kamu untuk jadi istri mas, dek. "


DUARR!!! jantung Asmi mendadak berhenti. Wajahnya mendadak pucat tak berdarah.


__ADS_2