
" Kak Asmi.! " Nazwa terpekik tak percaya dengan apa yang terlihat di hadapannya.
" Ini beneran kak Asmi? " Nazwa masih tidak percaya, karena Asmi yang dia tahu beberapa hari yang lalu masih di rumahnya. Tapi kenapa tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
" kapan kakak sampai di sini? kenapa kakak tidak menelpon dulu. " tanya Nazwa beruntun.
" ah, itu, aku ada urusan sedikit di sini. aku baru saja tiba. " jawab Asmi terbatas - bata.
Dia gugup bagaimana harus menjelaskan pada Nazwa, cara dia bisa ada di tempat ini. Masa dia harus bilang ke Nazwa, kalau dia ke sini bersama seorang jin dan terbang menghilang bersama angin. Kan nggak lucu. Bisa bisa dia di bilang gila... hehehe
" terus gimana cara kakak masuk ke rumah aku, bukannya aku sudah mengunci pintu? " tanya Nazwa yang masih keherananan atas hadirnya Asmi di kamarnya.
" oh, itu tadi pintu kamu nggak terkunci. Aku langsung masuk saja saat ku dengar kamu teriak- teriak. " jawab Asmi sekenanya.
" aku teriak - teriak? masa sih? perasaan tadi aku nggak ngerasa teriak, kak! " Nazwa mengingat ingat apakah tadi dirinya berteriak-teriak saat makhluk seram itu datang.
" suara kamu kenceng banget sampai ke luar. " kata Asmi.
Nazwa cuma bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Koq bisa ya, aku di bilang teriak teriak padahal aku nggak rasa. ' pikirnya.
Nazwa melirik jam di meja belajar sebelah ranjangnya. Waktu menunjukan pukul 04.00 pagi.
Mendadak suasana menjadi hening.
" Kak, Asmi. Kalau kakak lelah kakak bisa tidur di sini. Aku akan ambilkan selimut cadangan di lemari. "
" hmm, iya. boleh. aku juga sudah lelah dan mengantuk. "
Nazwa lalu menyiapkan tempat tidur dan memberikan sebuah selimut lagi untuk Asmi. Kemudian mereka berdua kembali melanjutkan tidur mereka yang tadi sempat terganggu.
Sementara itu, di rumah Doni. Lelaki ganteng itu tidak bisa tidur karena dari tadi dia selalu di ganggu oleh mimpi buruk. Mimpi yang sama dan selalu berulang ulang, sampai Doni hapal di luar kepala, kilasan dan alur cerita dalam mimpinya..
" sialan, kenapa gue selalu mimpi itu lagi! "
Doni kesal sebab kini dia jadi nggak bisa tidur. Dia melirik ke arah jam kecil di atas meja. Sekarang pukul 03.00 pagi. Dia menghela nafas. Mendadak dia merasa lapar.
Doni berjalan ke arah dapur dan membuka lemari es untuk mencari makanan yang bisa untuk mengganjal perutnya.
Setelah selesai makan dan minum, Doni bermaksud untuk kembali lagi ke kamar. Namun cowok ganteng itu merasa heran, sebab melalui celah pintu yang terbuka, dia melihat ada seseorang di kamarnya sedang duduk di atas tempat tidur.
Orang itu duduk membelakangi pintu, hingga Doni tak bisa melihat wajah orang itu. Apalagi cahaya lampu di kamar Doni redup. Namun dari bentuk tubuhnya Doni yakin yang sedang duduk di atas tempat tidurnya itu adalah seorang perempuan.
Perasaan Doni menjadi tidak enak. Siapa perempuan yang ada di kamarnya. Apakah Nazwa? tapi tak mungkin Nazwa datang ke kamarnya malam - malam begini.
__ADS_1
Akhirnya Doni nekat menerobos masuk ke kamarnya sendiri karena rasa penasarannya akan identitas perempuan yang sedang duduk di atas tempat tidurnya kini.
Akan tetapi, Doni di buat tercengang akan pemandangan yang di lihatnya.
Perempuan yang sedang duduk di atas kasur tempat tidurnya tidak memiliki wajah. Walaupun cahaya penerangan di kamarnya sangat minim, namun Doni masih bisa melihat perempuan itu tak memiliki raut wajah.
Doni mundur beberapa langkah ke belakang. Nyalinya mendadak ciut. Apalagi kini perempuan itu menengadahkan kepalanya hingga semakin jelas terlihat betapa menyeramkan muka yang tanpa raut wajah.
Doni rasanya ingin segera beranjak pergi dari kamarnya. Namun kakinya tak mampu dia gerakan. Kini perempuan itu mulai berdiri dan berjalan ke arah Doni.
Doni semakin ketakutan. Tubuh Doni gemetar, otaknya memerintahkan dia agar berlari sekarang juga namun anggota gerak tubuhnya seakan tak berfungsi, lumpuh.
Perempuan tak berwajah itu semakin dekat. Jarak mereka hanya serengkuhan tangan. Doni memejamkan matanya. Dia tak sanggup menatap.
Perempuan itu kini sudah mendekat kan kepalanya pada wajah Doni. Jari jari tangannya yang runcing terulur ke leher Doni, mencengkram kuat hingga Doni tak mampu bernafas.
Antara sesak nafas dan takut, mulut Doni tak sadar terucap lafaz Allah ketika perlahan kesadarannya hadir saat berhadapan dengan maut yang membuat dia teringat akan Zat Tunggal Pemilik Kehidupan semua Makhluk di dunia.
Cengkraman di leher Doni terlepas. Tubuh Doni jatuh terkulai lemas hampir kehabisan oksigen. Perlahan tubuh perempuan tak berwajah itu lenyap. Kini yang tersisa hanya tubuh Doni yang tergeletak tak berdaya, pingsan di lantai kamarnya.
...----★...
Hari sudah siang, ketika Asmi membuka matanya. Dia melirik ke sebelah, Nazwa masih terlelap tidur. Mereka berdua bangun kesiangan karena keduanya baru bisa tertidur setelah usai sholat subuh.
Bergegas Asmi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dia berniat membangunkan Nazwa untuk meminjam pakaian, karena dia tak membawa barang selembar bajupun saat pergi dari kamarnya.
Asmi ingin menjerit karena kesal pada Hasyeem , namun urung karena ucapan jin tampan itu.
" Apa kamu berniat untuk membangunkan sepupumu yang sedang tidur itu dengan jeritanmu? "
" kenapa juga kamu muncul tiba-tiba? buat kaget saja. "
" aku merindukanmu, sayang. " jawab Hasyeem dengan enteng.
" baru sekejab saja berpisah, masa sudah rindu. "
Asmi ingat, tadi malam Hasyeem yang mengantarkan dia ke kamar Nazwa, tepat saat makhluk itu hendak menyentuh Nazwa.
Hasyeem juga yang sudah mengusir makhluk itu hingga Nazwa terlepas dari cengkraman makhluk ghaib yang berwujud mengerikan itu.
" kau tahu, aku tak bisa tenang jika tidak melihatmu, walaupun sekejab saja. " Asmi mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Hasyeem.
" rayuan gombal, abang! mana adek tahaaan.! " Asmi terkekeh geli.
__ADS_1
" siapa bilang aku merayu, aku mengatakan isi hatiku yang sebenarnya. Aku tak bisa, jika sekejab saja tak melihatmu.! " sewot Hasyeem ketika Asmi hanya terkekeh menanggapi ucapannya.
" Hasyeem!! " panggil Asmi. Hasyeem hanya diam sambil memainkan ujung rambut Asmi.
Merasa tak ada respon, Asmi menoleh ke belakang. Tatapannya beradu dengan tatapan sendu Hasyeem. Mata lelaki tampan dari bangsa jin terlihat sudah dipenuhi oleh kabut gairah.
Owalah, Asmi tahu gelagat itu. Buru buru dia menarik dirinya dari pelukan Hasyeem. Dia sudah bisa membayangkan adegan selanjutnya jika dia tak segera kabur dari hadapan jin mesum itu.
Masih jelas terekam dalam ingatannya, ketika kencan dengan Hasyeem di istana Bukit Malaikat. Hampir saja mereka melakukan adegan dua puluh satu tahun ke atas jika saja Hasyeem tak keburu melepaskan dia. Sedangkan Asmi sudah pasrah saja menerima semua perlakuan Hasyeem. Namun rupanya lelaki dari bangsa jin yang bertubuh perkasa itu menepati janjinya untuk tidak berbuat lebih pada Asmi sebelum halal.
" Mau kemana, sayang? "
" aku mau pinjam bajunya Nazwa. Aku tak bawa baju ganti saat pergi dari kamarku. "
" mengapa harus pinjam, kamu kan bisa pakai bajumu sendiri. "
Asmi mendelik kesal. Yang benar saja. Bagaimana caranya dia bisa mengambil bajunya. ' apa dia pikir rumahku di sebelah rumah Nazwa' dengus Asmi kesal.
" Ayo, aku antar ke kamarmu! " tanpa menunggu jawaban Asmi, Hasyeem meraih tangan wanita itu dan membawanya kembali ke rumahnya.
Asmi menepuk jidat sesaat setelah mereka berada kembali di kamarnya.
" astaga, aku lupa kalau pacarku adalah seorang jin. " Dia lalu berlari ke kamar mandi untuk buang air kecil dan kembali lagi mengambil bajunya di lemari.
"aku lupa, aku mau sekalian mandi lagi dan pake baju.! awas lo, jangan ngintip!! "
Hasyeem menjentik jidat Asmi.
" aw, sakit.!! " Hasyeem terkekeh geli melihat tingkah Asmi yang kekanak-kanakan.
" itu hukuman karena sudah berpikir aku akan mengintip mu. Berburuk sangka itu dosa, sayang. " nasehat Hasyeem pada Asmi. Yang di nasehati sudah keburu kabur ke kamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Asmi kembali ke kamar. Hasyeem masih berada di kamar Asmi. Jin tampan itu belum pergi dari kamar Asmi.
" ku kira kamu sudah pergi. " Hasyeem menoleh pada Asmi. Berjalan ke arahnya lalu memeluk tubuh wanita itu. Menyesapi bau harum tubuh wanitanya.
" Aku menunggu kamu untuk, ...?"
Hasyeem belum selesai berucap, ketika sebuah sinar putih melesat ingin menghantam tubuh mereka, tepatnya tubuh Asmi. Segera Hasyeem membawa tubuh Asmi berlindung di balik punggungnya sambil sebelah tangannya menangkis serangan itu.
" Siapa kamu..!! tampakkan segera wujudmu. Jangan jadi pengecut " geram Hasyeem.
Sinar putih itu berputar putar membentuk pusaran lalu kemudian perlahan berubah wujud menjadi seorang wanita cantik bergaun putih dan bercadar.
__ADS_1
" Putri Azylla.!! "
... ...