
Asmi berdiri dengan bersandar pada tiang bendera yang ada di dekat pos sekuriti depan sekolah Nadia. Hari ini, seperti biasa dia kebagian tugas menjemput Nadia.
Sebuah mobil mewah memasuki halaman sekolah. Buru - buru sekuriti sekolah membuka gerbang sekolah lebih lebar lagi agar mobil mewah itu bisa lebih leluasa untuk memasuki halaman sekolah.
Tampak sekuriti itu menundukkan badan ketika mobil mewah itu melewatinya. Manusia.. memang kodratnya pemuja kehormatan dan senang akan kekuasaan.
Asmi menundukkan wajahnya menghindari panas matahari yang mulai menyengat. Maklum saja sekarang sudah pukul 10.30 pagi dan cuaca sedang cerah. Maka sudah bisa di pastikan suhu udara pada jam segini lebih panas dari hari biasa.
Tak lama kemudian, bel tanda jam pulang berbunyi. Para Siswa Taman kanak - kanak itu bersorak senang dan segera berlari ke pintu. Berdesak - desakkan dan saling berhimpitan di pintu agar bisa keluar lebih dahulu.
" Tante Asmi..! " jerit Nadia sambil berlari menghampiri.
" Nadia, nggak usah lari, entar jatuh kakinya lecet dan berdarah nanti! " Asmi mengingatkan keponakannya yang rada nggak bisa diam itu agar tidak berlari.
Nadia menurut dan kemudian berjalan dengan riang. Sesampainya di depan Asmi mulutnya mulai lagi berceloteh.
" Tante, sekolah Nadia akan mengadakan touring,loh !" serunya dengan gembira.
"oh, iya.Kok bisa sih, dalam rangka apa?" tanya Asmi menanggapi ucapan Nadia.
" Kan sebentar lagi Tk Nadia mau lulusan. Nah... kata bu guru ini adalah semacam acara perpisahan, gitu. " kata bocah itu dengan nada centilnya.
" hm, baiklah. Jadi ceritanya Nadia mau ikut touring, ya?" tanya Asmi yang menangkap 'kode' ajakan dari gadis kecil itu.
" Tentu dong, Nadia pasti ikut. Diva aja ikut, Masa Nadia nggak sih, tante. Nanti tante Asmi aja ya, yang anterin. Soalnya mama nggak bisa, kan harus jaga dedek bayi. " kata gadis kecil itu lagi masih dengan nada centilnya.
" hm, ok princess. Apa pun yang princess inginkan.! " kata Asmi sambil membungkukkan badan membuat gadis kecil itu tersenyum girang.
Dari kejauhan tampak Pak Panca yang sedang berbicara dengan sang cucu, Diva. Dari roman wajahnya tampak dia seperti sedang menahan kekesalannya.
" Horeee, aku jadi ikutan touring! " sorak Nadia . Dia merasa senang karena rencana dia untuk ikutan touring dapat terwujud jika Sang tante bersedia untuk mengantar dan mendampinginya.
"Sebentar ya, tante. Nadia mau kasih tau Diva,dulu.." Gadis kecil itu berlari kembali ke dalam kelas. Dan tak lama kemudian dia kembali lagi dengan wajah yang berseri - seri.
" kata Diva, dia akan pergi bersama pengasuhnya. " kata Nadia
__ADS_1
" Loh, ibunya Diva orang tuanya Diva kemana? Apa mereka selalu sibuk bekerja? " tanya Asmi.
Nadia menggelengkan kepalanya.
" Ibunya Diva sudah meninggal sewaktu melahirkan Diva. Sedangkan ayahnya tak tahu. Kata Diva dia tak punya ayah, hanya kakek saja. "
" Oh, kasian banget si Diva. Pasti dia merindukan ibunya. " kata Asmi. Ada rasa iba di hatinya pada gadis kecil yang bernama Diva itu sewaktu mendengar cerita Nadia.
Pantas saja Asmi melihat gadis itu selalu di jemput oleh kakeknya. Ternyata nasib gadis itu sungguh memprihatinkan.
Asmi lalu menghampiri Nadia yang sedang berdiri
" Sudah, nggak ada lagi yang mau Nadia kerjakan? " Nadia menggelengkan kepalanya.
Asmi lalu menaikkan tubuh Nadia ke atas jok motornya. Hm, pemberitahuan nih ye... Asmi sekarang punya motor baru. Jangan tanya dapat dari mana... Readers pasti sudah dapat menebaknya.
Ya... readers benar sekali. Sekali lagi pacar Asmi yang tampannya selangit itu menyamar dan mengubah dirinya menjadi Asmi lalu pergi ke dealer motor, dan membeli sepeda motor baru atas nama Asmi dengan uang cash.
Asmi hanya bisa mengelus dada kesal. Bukan masalah bayarannya yang jadi persoalan Asmi, tapi mulut tetangga yang sudah mulai nyinyir berkomen.
Kemarin aja, saat dia merenovasi bagian dapur dan kamar mandi rumahnya, para tetangga sudah pada komen. Apalagi beli motor. Yakin bin sumpah, saat ini pasti Asmi sudah jadi bahan gosip orang sekampung.
Hari masih sore, cuaca sedang cerah.
Jumirah dan Mega sedang berjalan melintas di depan rumah Asmi.
" wahh... hebat lo Asmi sekarang. Denger - denger kemarin baru beli motor baru. Rumahnya juga beberapa hari lalu baru aja di renovasi. Yah...walaupun cuma bagian dapur dan kamar mandi saja, tapi sudah lumayan,lah . Biar janda, Asmi ternyata bisa juga memghidupi diri sendiri. Bisa cari uang sendiri. Mandiri.. nggak kaya kita nih, tunggu suami.! " kata Jumirah.
" Healah.. paling juga dapet uang dari usaha nggak halal. Atau hasil morotin uangnya si Wira." cibir si Mega menimpali ucapan Jumirah.
" Astaghfirullah, istighfar, Mega. Nggak baik kayak gitu. Itu namanya suudzon sama tetangga. Bukannya simpati sama kesusahan orang, ini malah hobi banget julitin orang.! " tukas Jumirah.
Dia heran sama temannya yang satu ini, dari dulu sampai sekarang masih saja benci sama Asmi. Cuma gara-gara si Wira yang suka sama Asmi dan bukan sama dia, masak harus segitu bencinya dia sama Asmi.
" Biarin.. suka- suka aku. Emang benar kali dia dapet duit dari nggak halal. Buktinya dia kan nggak kerja, cuma bantuin jaga tokonya si Mirna. Nahh, dapat duit dari mana, hayo! " sekaknya pada Jumirah. Jumirah terdiam sesaat.
__ADS_1
" Ya, siapa tahu saja dia di gaji oleh Mirna. Atau bisa saja kan, dia jual harta warisan peninggalan ibunya." kata Jumirah membalas ucapan Mega.
" Halahhh, kamu memang selalu saja membela wanita mandul itu.! " tukas Mega dengan kesal.
Pluk!! mendadak sebuah batu kerikil kecil menimpa kepala Mega. Wanita yang bertubuh agak besar itu menoleh ke belakang dan juga kanan kirinya. Namun tak ada siapapun yang di lihatnya.
" Siapa sih yang usil banget? " kesalnya karena tak menjumpai siapapun yang bisa dia jadikan sasaran karena telah menimpuk kepalanya dengan batu kerikil.
Mega tidak tahu jika seseorang sejak tadi memperhatikan dan mendengar percakapan dia dan Jumirah. Karena kesal mendengar ucapan Mega, maka dia melempar Mega dengan kerikil kecil yang terdapat di sekitar tempat itu. Maka alhasil jadilah kepala Mega yang jadi sasaran lemparannya.
" Huh, rasakan.. dasar perempuan berhati busuk. Hatinya penuh dengan prasangka dan dendam. Bagaimana bisa perempuan itu di biarkan saja. Mesti harus di beri pelajaran.! " katanya katanya.
Sejurus kemudian dia menghilang dari tempat itu setelah puas melihat wajah Mega yang meringis kesakitan akibat lemparan batu kerikil yang tepat mengenai belakang kepalanya.
" Napa, lo. Koq meringis gitu? " tanya Jumirah yang keheranan melihat raut kesakitan di wajah Mega.
" Tau, nih. kayaknya ada seseorang yang nimpuk kepala aku dengan kerikil. " jawabnya.
Jumirah menengok ke belakang Mega. Tiada seorang pun di sana. Mereka saling pandang.
" Nggak ada orang. Atau jangan - jangan penunggu pohon ini kali yang nimpuk lo.. Habisnya lo sih ngomongin orang sembarangan! " kata Jumirah seraya bergidik ngeri.
Tanpa di beri aba-aba, keduanya lantas kabur angkat kaki dari tempat itu. Hiii.... ngeri.
Malam hari, Asmi sedang duduk menonton televisi di ruang tamu. Dia duduk bersandar di pangkuan Hasyeem.
" Hasyeem, aku bosan! " rengeknya.
" hm, kamu mau apa sayang? " tanya Hasyeem sambil mengecup kepala Asmi.
" Ajak aku jalan! " pintanya manja pada Hasyeem.
" apapun yang kau mau ratuku. " jawab Hasyeem sambil memeluk tubuh Asmi erat. Namun belum lagi keduanya hendak beranjak pergi, sebuah cahaya kuning kemerahan masuk melalui lubang angin dan langsung menyambar keduanya.
Hasyeem yang tengah memeluk tubuh Asmi seketika berkelit menghindari serangan itu. Dia membawa tubuh Asmi terbang melayang ke atas. Lalu selanjutnya, tanpa ragu dia menyerang balik ke arah cahaya kuning kemerahan itu hingga akhirnya cahaya itu terpecah dan berubah menjadi pendar - pendar cahaya kecil selanjutnya kemudian menghilang.
__ADS_1
Pangeran Hasyeem tersenyum sambil menyeringai.
" hm, menarik. Rupanya murid penguasa hutan larangan sudah kembali. " Katanya.