Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab . 156 Lamaran Keanan


__ADS_3

" Stt...jangan bicara padaku. Saat ini tak ada orang yang bisa melihatku. Jadi kamu sebaiknya tak usah bicara padaku. Berlaku seperti biasa saja. Nanti orang - orang mengira kamu gila karena bicara sendiri."


" Astaga... ' seru Nisa dengan tangan yang membekap mulut.


Nisa makin bingung. Siapa laki-laki itu. Mengapa tak setiap orang bisa melihat dirinya.


Sepanjang malam Nisa tak


bisa memejamkan matanya. Pikirannya selalu tertuju pada laki-laki misterius yang ditemuinya tadi siang di klinik.


Sepanjang jalan, dia dibuat heran oleh kejadian - kejadian yang dia alami. Mulai dari klinik hingga di luar. Mengapa mas Arya dan orang - orang yang ada di dalam klinik bisa melihat laki-laki itu sedangkan dia tidak, atau dia yang tidak menyadarinya. Tapi mengapa saat di luar klinik, laki-laki itu mengatakan bahwa hanya dia yang bisa melihatnya sedang orang lain tidak. Nisa pusing memikirkannya.


Bahkan, saat di mobil entah dari mana, laki-laki itu tau - tau sudah muncul saja di sebelahnya. Lagi - lagi hanya dia yang bisa melihatnya, sedang Mang Danang, sopir keluarga itu tak melihat siapapun di sebelahnya.


Suara gesekan gorden kamarnya membuat Anisa menoleh ke arah jendela. Seingatnya, dia sudah menutup dan mengunci jendela kamarnya dan menutup rapat gordennya.


Gorden itu kini tersingkap sempurna dan tampaklah sesosok bayangan berdiri di depan jendela kamarnya. Tubuh Anisa menegang. lagi.... bayangan itu lagi.


Apakah dia, lelaki yang sama yang datang malam itu? pikir Nisa.


" Mengapa belum tidur? " laki-laki itu kini sudah berdiri di hadapannya. Bukankah.. tadi dia berdiri di depan jendela. "Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam kamarku? "


Laki-laki itu diam, tak menjawab pertanyaan Nisa. " Aku bisa pergi kemana saja yang aku mau, atau masuk ke tempat manapun juga selama di tempat itu ada celah udara walau sekecil ini." katanya sambil menjentikkan jarinya.


" Kamu belum menjawab pertanyaanku, mengapa kamu belum tidur, ini sudah larut malam. " dia kembali bertanya.


" Aku gak bisa bisa tidur karena memikirkan kamu. " jawab Nisa jujur. Lelaki itu terkekeh. " Apa yang menggangu pikiranmu tentang aku? " dia kemudian bertanya.


" Apa benar namamu, Ammar? " Nisa bertanya kemudian. Laki-laki itu mengangguk.


" Sudah? ..... Hanya itu saja? "


" Makhluk apa kamu? Mengapa kamu bisa menembus dinding itu? Apakah kamu sebangsa....hantu? " Nisa bertanya dengan ragu. Jujur saja ada sebersit ketakutan dalam hatinya, kalau - kalau benar, bahwa laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya ini adalah sesosok hantu gentayangan yang sering menggangu manusia. Terutama wanita yang sedang hamil seperti dirinya.


" Tenang saja, aku bukan hantu gentayangan seperti yang kamu pikirkan." kata Ammar. Nisa menganga. " Kamu bisa membaca pikiranku? "


" Aku seorang jin, tentu saja aku bisa menebak pikiranmu. "


" APA? Ka.. kamu jin. " lutut Nisa gemetar saking takutnya. Dalam pikirannya, bermunculan gambaran sosok - sosok makhluk dengan telinga yang runcing dan panjang dengan bentuk yang aneh dan mata yang berbentuk seperti mata kucing.


Tapi tunggu dulu, .... Nisa sontak menoleh dan menatap mata Ammar. " Benar... mengapa aku baru menyadari kalau matanya seperti mata kucing." kata Nisa dalam hati.


" Tapi mengapa dia berwujud seperti manusia? Bukannya wujud jin itu seperti kurcaci, hanya dalam ukuran yang lebih besar. "Dia ingat gambaran makhluk jin seperti yang pernah dia lihat melalui pencariannya di media sosial.

__ADS_1


" Kamu membayangkan diriku yang seperti ini? " Tiba-tiba sosok Ammar berubah menjadi sosok kurcaci namun dalam ukuran yang sebesar manusia membuat Nisa memekik ketakutan.


Ammar yang tak ingin Nisa makin ketakutan lagi, cepat merubah dirinya kembali seperti sedia kala. " Maaf, membuatmu takut. Tapi aku heran, mengapa kamu membayangkan wujudku seperti itu? "


" Bukankah memang wujud kalian seperti itu? " Kata Nisa setelah ketakutannya sedikit berkurang.


" Memang, kami bangsa jin memiliki berbagai macam wujud. Namun yang pastinya, kami lahiriah sama seperti manusia. Hanya saja, mata kami sedikit berbeda dengan bangsa manusia." kata Ammar.


" Apakah wujud asli kamu memang seperti ini? "


Ammar menatap Nisa dengan tatapan aneh. " Jika aku menampakkan wujud asliku, apakah kamu tidak merasa takut?"


Ammar balik bertanya.


Nisa kini menjadi ragu. Tadi saja saat Ammar merubah dirinya menjadi sesosok makhluk yang mirip kurcaci, dia sudah setakut itu. Terus... bagaimana jika wujud Ammar lebih menyeramkan lagi. Nisa urung untuk mengangguk menjawab pertanyaan Ammar.


" Sudahlah, aku tahu kamu tak bakalan siap untuk melihat wujud asliku. Sekarang lebih baik kamu tidur. Hari sudah semakin larut. " Selesai berkata demikian, Ammar kemudian melangkah keluar menembus tembok.


" Tunggu...! " Nisa berniat untuk menahan Ammar. Dia masih ingin berbicara dengan laki-laki itu, tapi Ammar sudah keburu menghilang.


" Huh... cepat sekali dia menghilangnya. Padahal aku masih ingin berbicara dengannya." kata Nisa lirih.


" Tidurlah...! " sebuah bisikan samar - samar terdengar oleh Nisa. Dan anehnya, dia yang tadinya merasa sulit untuk memejamkan mata, sekarang tiba-tiba saja dia merasa matanya terasa berat. Nisa merasakan rasa kantuk yang hebat sehingga dia akhirnya tertidur.


Sepasang mata menatap Nisa yang kini sudah tertidur pulas. Selimut yang berada di ujung kakinya bergerak dengan sendirinya menutupi tubuh wanita hamil itu. " Selamat tidur, Nisa..." Setelah itu lampu di kamar Nisa padam, berganti dengan lampu tidur.


Sementara itu, di sebuah rumah sakit, tampak Arryan yang sedang tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan tempat Keanan dirawat.


Deg.... jantung Arryan berdetak kencang. Lagi... sosok kakek tua berjanggut itu kembali terlihat olehnya. Kali ini, dia melihat kakek itu berada di dekat ruangan tempat Keanan dirawat.


Agak aneh rasanya karena ini sudah yang ketiga kalinya selama Keanan dirawat di rumah sakit ini, dia melihat kakek itu. Walaupun dia tahu bahwa, kakek itu bukanlah manusia, namun tak urung hal itu menimbulkan pertanyaan tersendiri baginya.


Siapa kakek berjanggut itu dan apa yang dia inginkan. Mengapa dia tak langsung saja menemui dan berbicara kepadanya jika memang ada hal yang ingin disampaikan oleh kakek itu, pikir Arryan.


Arryan mendorong pintu ruangan Keanan. Seraut wajah tampan Keanan menyambut kehadirannya. " Hai, udah lama, nunggunya? " Arryan melempar senyum manis yang membuat jantung seorang Keanan menjadi berdegup kencang. " Aku menunggumu satu jam saja, seperti rasanya sudah berhari - hari."


" Tidak, masuklah..! " jawab pemuda itu ramah. Dia mencoba berdiri walaupun sedikit kesulitan. " Lihatlah, aku sudah bisa berdiri."


Arryan tersenyum mendengar isi hati Keanan. Sama seperti saudara - saudaranya yang lain. Dia juga memiliki kemampuan untuk mendengar dan mengetahui isi hati dan pikiran orang lain.


Melihat Keanan seperti bersemangat sekali untuk memperlihatkan padanya bahwa dia sudah bisa berdiri sendiri, membuat Arryan merasa terenyuh. Berharap bahwa pemuda tampan itu akan sedikit memberi asa padanya. Namun, semua itu hanya angannya saja. Pemuda itu sudah memiliki seorang kekasih. Keanan sudah memiliki kekasih hati yang bbernama Katherine.


Sayangnya Arryan merasa tak mampu untuk bersaing melawan gadis itu, yang selain cantik, juga sangat terkenal. Dia merasa minder dan tak percaya diri jika harus bersaing dengan Katherine.

__ADS_1


" Bagus... itu artinya kamu sudah mengalami banyak kemajuan. Bagaimana? ... Apakah kamu jadi keluar dari rumah sakit hari ini" tanyanya mengalihkan pikirannya, mencoba melupakan gundah di hati.


" Iya, keluargaku sedang mengurus semua. Kamu tenang saja. Tugasmu di sini adalah menemaniku. Arry, apakah kamu mau menemaniku selamanya?"


Arryan menatap Keanan. Pertanyaan pemuda itu terasa aneh di dengar. Apakah Keanan sedang mengirimkan sinyal - sinyal cintanya padaku.?


" Keanan, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan, tapi aku takut kamu marah." kata Arryan dengan wajah ragu - ragu.


" Apa? katakan saja. Mengapa mesti takut. Apa aku pernah marah padamu. Apa pun itu jika kamu orangnya, aku tak akan marah." Pipi Arryan bersemu merah. mendengar perkataan Keanan.


Kembali Arryan menatap Keanan dengan pandangan mata menyelidik. " Apakah Katherine itu kekasihmu? "


Keanan yang sibuk dengan handphonenya, menatap Arryan dengan sorot mata tajam, kemudian dia terkekeh saat melihat wajah sendu Arryan. Timbul niatnya untuk menggoda gadis cantik itu.


" Kalau memang benar, apa yang akan kamu lakukan? "


" Hem... itu artinya kemarahan dia beberapa waktu lalu saat melihatku adalah wajar. Mana ada wanita yang rela melihat ada wanita lain di sisi kekasihnya." jawab Arryan. " Tapi mengapa kamu mengusirnya saat dia datang waktu itu?"


" Tidak ada, aku hanya kesal saja padanya. Dia sibuk mengejar karir dan mimpinya hingga melupakan aku. Dia lebih memilih pergi ke London demi mengejar impiannya menjadi model ternama, dan meninggalkan aku. Aku sakit hati dan kemudian berusaha untuk melupakan dirinya, hingga akhirnya aku bertemu dengan seorang gadis. Gadis cerewet yang serba ingin tahu. Gadis yang sok jual mahal tapi diam - diam mampu membuatku tak bisa berhenti untuk memikirkannya. Aku jatuh cinta padanya... Lalu dengan seenaknya, Katherine datang dan mencoba untuk kembali memasuki hidupku... Menurutmu, aku harus bagaimana? "


" Apakah gadis itu hanya pelarian dari rasa kecewamu akibat ditinggalkan oleh Katherine? "


" Demi Tuhan, tidak Arryan! Aku jatuh cinta hingga sedalam-dalamnya pada gadis itu. Rasa yang ada dihatiku sangat lah dalam. Aku saja tak pernah merasa seperti itu sebelumnya saat bersama Katherine. " Arryan tercekat saat mendengar Keanan berkata demikian.


" Masalahnya adalah, aku tak tahu apakah gadis itu juga mencintaiku. Karena aku tak pernah mengatakan perasaanku secara langsung pada gadis itu."


" Mengapa? "


" Aku takut dia akan menolakku! " jawab Keanan lesu.


" Apakah perlu kubantu? Katakan saja, mungkin aku bisa membantumu untuk menyampaikan pesanmu padanya. "


" Benarkah...? "


" Iya, katakan saja. Nanti akan aku sampaikan.! " katanya


" Baiklah,.... "


" Tunggu.... tunggu...! " Arryan menyodorkan tangannya ke arah Keanan membuat pemuda itu mengernyjtkan aneh.


" Apa? "


" Aku mau merekam video Kak Keanan ... dan mengirimkannya pada gadis itu. " Keanan mengangguk mempersilahkan Arryan melakukannya.

__ADS_1


Gadis itu kemudian mengambil kamera dari dalam tasnya dan mulai merekam Keanan yang kini wajahnya mulai terlihat serius. " Arryan,... aku mencintaimu, maukah kamu menikah denganku...! " Wajah Arryan pucat pasi. Hampir saja kamera yang dia pegang jatuh ke lantai.


" Apa.. ??? "


__ADS_2