Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 64 Balas Dendam Pak Panca


__ADS_3

Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebuah foto seorang wanita yang selalu saja dia bawa kemana-mana.


" Viola, sebentar lagi orang yang telah membuatmu menderita akan membayar semuanya.." kata lelaki paruh baya itu dengan sendu. Sesuatu di balik saku celananya berdering.


Lelaki paruh baya itu mengangkat telfonnya.


" Halo! " lelaki itu kemudian mendengarkan seseorang yang sedang berbicara di sana.


" hmm, bagus. Bawa sekalian lelaki bajingan itu di sana. Sekalian kita eksekusi mereka...!" kata lelaki kemudian seraya melangkah pergi.


Suasana sunyi menemani seorang lelaki paruh baya yang tampak terpekur di sisi sebuah nisan yang bertuliskan nama Viola Nugraha.


Ada setetes air mata yang jatuh di sudut matanya. Kesedihan tergambar jelas di wajahnya.


" Maafkan, papa Viola. Andai waktu bisa diulang kembali. Papa akan menebus semua kesalahan papa di masa lalu. Papa harap, kamu bisa tenang di sana. Karena hari ini, orang-orang yang dulu menyebabkan penderitaanmu, akan membayar lunas semuanya."


Lelaki paruh baya itu mengelus batu nisan dan menciumnya. Kemudian dia bangkit dan berlalu dari sana. Tujuannya hanya satu, ke tempat di mana kini anak buahnya membawa kedua orang yang dianggapnya sudah menyakiti anaknya.


Sementara itu, Asmi yang baru sadar dari pingsannya, mendapati dirinya kini dalam keadaan terikat tangan dan kakinya.


" Di mana aku? apa yang terjadi dengan diriku? " Asmi mencoba mengingat - ingat kembali kilasan kejadian mengapa dia sampai berada di tempat ini.


Asmi baru pulang dari toko Mirna. Dia memutuskan untuk langsung pulang ke rumah karena hari sudah agak sore.


Di perjalanan, sebuah mobil tak di kenal menghentikan laju motor Asmi tepat di tempat yang sepi.


Beberapa orang terlihat turun dari mobil dan menyeret tubuh Asmi dengan paksa. Karena Asmi mencoba melawan dan memberontak, mereka akhirnya membius Asmi. Tubuh Asmi yang sudah pingsan dibawa ke suatu tempat yang tidak Asmi ketahui.


"Akh, aku ingat sekarang. Jadi mereka membiusku dan membawaku ke tempat ini. Siapa mereka? Apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Asmi pada diri sendiri.


Dia menggerakkan tangannya untuk mencoba melepaskan diri. Namun gerakannya terhenti sejenak. Dia mendengar langkah kaki orang dari arah luar. Beberapa orang berjalan memasuki ruangan tempat Asmi disekap.


" Masukkan saja dia di sana! Biar jadi satu dengan mantan istrinya, hahaha!"


Seseorang mendorong masuk tubuh seorang lelaki dengan tangan yang terikat Lakban ke dalam ruangan tempat Asmi di sekap. Setelah itu mereka kembali mengunci ruangan tersebut agar Asmi dan lelaki itu tak bisa kabur.


Lelaki itu meringis menahan sakit. Wajah dan tubuhnya terlihat sudah babak belur bekas pukulan. Baju lelaki itu juga sudah compang-camping tak karuan.


Mata Asmi membelalak tak percaya saat mengenali wajah lelaki itu.


" Mas Ilham!" Asmi berseru tak percaya.


Lelaki yang ternyata adalah Ilham mantan suaminya, menoleh ke arah Asmi.


" Asmi, apa yang terjadi. Mengapa mereka juga menculikmu?" Ilham kaget mendapati Asmi juga berada di tempat ini. Dia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.


Masih terekam jelas dalam ingatannya akan kejadian semalam. Saat itu, dia baru keluar dari sebuah restoran cepat saji. Dia ingin membeli makanan jadi untuk makan malam, karena Ayu istrinya tidak memasak buat makan malam mereka.


Seseorang tiba-tiba saja menghampirinya dan secara diam-diam menodongkan pisau dari balik bajunya. Ilham tak berkutik, dengan terpaksa dia mengikuti perintah orang itu untuk berjalan memasuki sebuah Avanza hitam yang terparkir tak jauh dari restoran itu.


Begitu Ilham sudah berada di dalam mobil. Mereka melajukan mobilnya dengan cepat ke luar kota dan berhenti di tempat yang sepi. Mereka lalu menyuruh Ilham untuk turun dan setelah itu mereka beramai-ramai memukuli Ilham.


Tubuh Ilham sudah babak belur terkena pukulan. Puas, mereka lalu mengikat tangannya dan memasukkan kembali ke mobil. Selanjutnya Ilham di bawa ke tempat ini dan bertemu dengan Asmi, , yang rupanya juga diculik dan di sekap di tempat ini.


"Mas, kenapa orang-orang itu membawa kita berdua ke tempat ini? "


" Mas juga tidak tahu, dek. Apa salah kita berdua. Mas rasanya nggak punya musuh. Cuma mas aneh saja. Soalnya akhir -akhir ini ada saja orang yang berniat ingin mencelakai mas." Ilham kembali meringis merasakan sakit di wajah dan sekujur tubuhnya saat dia bergerak untuk mencoba melepaskan ikatan tangannya.


Asmi merasa heran. Dia juga mengalami hal yang sama dengan Ilham. Apa mungkin mereka adalah orang yang sama yang ingin mencelakai dirinya.

__ADS_1


" Apa ini ada hubungannya dengan tabrakan yang menimpaku? " Asmi berguman sendiri. Namun masih bisa di dengar oleh Ilham.


" Apa, ada yang mau nabrak kamu!? siapa, dek. Apa kamu kenal dengan mereka?"


" entahlah.. Asmi tidak mengenal mereka. Tapi mereka sepertinya mengenal kita. Tampaknya mereka memang berniat untuk mencelakai kita, mas!!" kata Asmi.


Ilham menghela nafas panjang. Otaknya buntu dan tak bisa berpikir jernih. Ditambah rasa sakit di sekujur tubuh dan wajahnya, membuat Ilham hanya dapat memejamkan matanya. Dia butuh istirahat sejenak untuk memulihkan tenaga.


Waktu berlalu dengan lambat. Penculik itu membiarkan Ilham dan Asmi di ruangan itu tanpa memberi makanan dan juga air.


Rasa haus dan lapar mendera keduanya. Sudah dua hari mereka di sekap dalam ruangan ini.


Hari ketiga, pintu ruangan itu terbuka. Beberapa orang terlihat memasuki ruangan tempat Asmi dan Ilham di sekap.


Di antara orang-orang itu, Asmi melihat dua orang yang sudah sangat familiar wajahnya dalam ingatanmu Asmi.


" Pak Panca, Pak Han.! "


"Kamu mengenal mereka, dek?" Ilham heran dari mana Asmi mengenal mereka yang telah menculiknya.


"Dia adalah Pak Panca, pemilik yayasan tempat Nadia bersekolah" jawab Asmi.


"Selamat datang, nona Asmi. Maaf kalau penyambutan anak buahku kurang berkenan di hatimu." kata lelaki itu.


Asmi beringsut saat lelaki itu bergerak mendekatinya. Tubuh lelaki itu berjongkok mensejajarkan diri dengan tubuh Asmi. Tangannya memegang wajah Asmi dan menahannya sehingga wajahnya kini bertatapan langsung dengan wajah Asmi.


"Apakah wanita ini yang membuatmu berpaling dan meninggalkan anakku.! tanya lelaki itu sambil menatap ke arah Ilham.


Ilham balas menatap lelaki itu dengan pandangan tak mengerti. Apa sangkut paut Asmi dengan anak dari lelaki itu. Dan siapa yang di maksud anak oleh laki-laki itu? berbagai pertanyaan hadir dalam benaknya.


Lelaki itu lalu mengeluarkan sebuah foto berukuran 10 R. Foto seorang wanita muda berwajah cantik dan lembut. Wanita itu sangat mirip dengan...Diva!!


" Diva..!apakah dia.. dia ibunya Diva?" Asmi bertanya dengan wajah penuh tanda tanya.


' Viola, jadi nama wanita yang Ada di foto ini Viola. Jika benar Viola itu ibu dari Diva. Lantas bagaimana ceritanya sampai Ilham punya hubungan dengan wanita itu?' tanya Asmi dalam hati.


" hm, mungkin kalian bertanya-tanya tentang semua ini. Apa hubungan wanita dalam foto itu dengan kalian." Pak Panca tersenyum sinis ketika memandang kedua manusia yang tengah terduduk lemah di hadapannya.


" Baiklah, akan aku jelaskan agar arwah kalian tidak penasaran nantinya. " kata lelaki itu lagi.


Asmi dan Ilham saling pandang. Lelaki kini berdiri di hadapan mereka.


Bugh!! Sebuah tendangan mendarat telak di perut Ilham. Laki-laki itu tersungkur mencium lantai.


" Mas Ilham! " pekik Asmi kaget.


Plak!! belum hilang kagetnya Asmi melihat Ilham yang jatuh tersungkur setelah ditendang, sebuah tamparan keras juga mendarat di pipi kanannya.


Sudut bibir Asmi mengeluarkan darah. Asmi mengusap pipinya yang terasa perih dan menyeka sudut bibirnya.


Matanya nyalang menatap ke arah Pak Panca.


" Hm, itu hadiah atas perbuatan kamu yang sudah menyebabkan Viola menderita. Dan kamu, lelaki bajingan.. terimalah ini..!" kembali laki-laki itu mendaratkan sebuah tendangan ke dada Ilham. Tubuh Ilham terjengkang ke belakang.


" Saya tidak tahu dan tidak mengenal putri anda. Mengapa Anda juga menaruh dendam padaku!" bentak Asmi pada Pak Panca.


Lelaki paruh baya itu tertawa terkekeh-kekeh.


" Iya, kamu memang tidak mengenal putriku. Tapi karena kamu, lelaki itu memilih meninggalkan putriku yang saat itu sedang mengandung anak dari bajingan itu!" tunjuk Pak Panca murka pada Ilham.

__ADS_1


" Maafkan saya, Pak.Setelah putus dengan Viola saya tidak pernah bertemu atau pun mendengar kabarnya lagi. Saya bahkan tidak tahu jika Viola sedang hamil anak saya. Andai saja saya tahu, saya tidak mungkin meninggalkan Viola." jawab Ilham dengan wajah sedih.


Dia tampak sangat terpukul sekali dengan kenyataan yang baru saja dia temukan. Ternyata dia memiliki anak dengan Viola.


" Hm, terlambat. Penyesalan kamu sudah terlambat, anak muda. Violaku sudah meregang nyawa sesaat setelah melahirkan putrinya. Dia pergi bersama penyakit sialan itu dan penderitaan yang di sebabkan oleh lelaki bajingan sepertimu!" Mata Pak Panca memerah karena menahan tangis.


Ilham menangis terisak menyesali perbuatan yang telah dia lakukan dahulu. Dia telah menodai kesucian Viola. Dengan memanfaatkan kepolosannya, dia berhasil merenggut Mahkota berharga Viola yang bahkan dengan senang hati dia berikan pada Ilham. Hanya karena kesalahan yang sepele saja mereka akhirnya putus. Namun dia sungguh tak menyangka bahwa hasil perbuatannya membuahkan hasil dan menjadi pangkal penderitaan gadis itu.


Mulut Asmi terkatup rapat. Ada amarah, iba, dan kekecewaan di hatinya. Bagaimana pun juga dirinya juga seorang wanita. Andai dia yang ada di posisi Viola, mungkin saja dia sudah bunuh diri.


Pak Panca berjalan menghampiri Ilham. Di tangannya terhunus sebuah belati. Wajah Ilham menjadi pucat pasi. Dia menelan air ludah yang terasa kering di tenggorokan.


" Pak, Pak Panca, apa yang akan anda lakukan? Saya mohon, maafkan saya, Pak! jangan bunuh saya, Pak! " lelaki itu menghiba dengan wajah memelas.


Jleb! sebuah belati menancap tanpa ampun di perut Ilham. Wajah dingin Pak Panca tak bergeming. Di cabutnya kembali belati yang tertancap di perut Ilham. Sekali lagi di tusukkannya tepat di dada Lelaki itu.


Tubuh Ilham jatuh tersungkur ke tanah. Darah menggenangi lantai. Lelaki itu diam tak berkutik lagi.


Asmi menjerit memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tak sanggup melihat hal itu.


Plak! sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Asmi. Sebuah tangan memegang wajahnya, kasar.


"Lihatlah, sebentar lagi kamu akan menyusulnya! hahaha!" Pak Han, orang kepercayaan lelaki itu menarik tubuh Asmi ke dekat tubuh Ilham.


Asmi menangis dengan tubuh bergetar hebat. Wajahnya terlihat lebam akibat tamparan yang diterimanya tadi.


"Pak Han, aku serahkan wanita itu padamu. Aku lelah, Aku ingin menonton sebuah pertunjukan saja!" kata Pak Panca seraya menyerahkan belati yang masih berlumur darah kepada lelaki itu.


" Pak Panca, tolong maafkan saya. Saya minta maaf jika saya memiliki salah. Karena saya sungguh-sungguh tidak tahu dengan semua ini. Saya mohon maafkan saya, pak! " hiba Asmi seraya bersimpuh di kaki Pak Panca. Rasa takut dan sedih jadi satu dalam hatinya.


"Pak Han. Urus wanita ini!" bentak Pak Panca.


Lelaki yang dipanggil pak Han segera menarik tubuh Asmi dan melemparnya ke arah anak buahnya yang dari tadi menonton pertunjukan itu.


" Habisi wanita itu. Terserah mau kalian apakan. Yang penting jangan biarkan dia hidup dan menatap matahari esok!" katanya dengan seringai puas.


" Dinikmati dulu, ya Bos. Baru di habisi!" kata salah seorang anak buahnya, yang di sambut dengan tawa riuh dari anak buahnya yang lain.


" Terserah kalian saja! " kata lelaki itu sambil berlalu menghampiri Pak Panca.


Anak buah Pak Panca dengan tanpa belas kasih menarik pakaian yang melekat di tubuh Asmi. Wanita itu hanya bisa menjerit dan menangis pasrah tanpa daya dengan tangan dan kaki yang terikat.


Srceettthhh! Sekelabat cahaya berpendar dalam ruangan itu. Dan Brukkh!


Satu persatu tubuh anak buah Pak Panca berjatuhan dengan kepala yang terlepas dari tubuh.


Asmi menjerit sambil menutup matanya karena ngeri dengan pemandangan yang di lihatlah. Darah menyembur dari potongan tubuh anak buah Pak Panca.


"Jahanam. Pengecut. Tampakkan wujudmu, bedebah! " Pak Panca berdiri dengan murka.


Sesosok lelaki tampan dengan wajah dingin dan angkuh muncul tepat di sisi Asmi dengan sebilah pedang yang masih meneteskan darah segar.


" Kau...kau makhluk sialan. Berani sekali kamu muncul dan mencampuri urusanku!" tuding Pak Panca dengan wajah penuh amarah.


Lelaki itu tak menggubris ucapan Pak Panca. Dia bergerak menghampiri dan menutup tubuh setengah bugil Asmi dengan sehelai jubahnya. Lalu menggendong tubuh wanita itu. Asmi menelungkupkan wajahnya di ceruk leher lelaki itu.


"sudah ku katakan, tak ada yang boleh menyentuh tubuh wanitaku. Kalian akan menebusnya dengan nyawa kalian jika berani melakukannya!" ucap lelaki itu seraya menatap tajam ke arah pak Panca dan Pak Han.


" Aku tak takut padamu, jin keparat! " desis Pak Panca.

__ADS_1


" Baiklah. Aku tunggu kedatanganmu bersama sekutumu Nyi Darsih di Hutan Larangan. Kita akan selesaikan persoalan kita di sana!" selesai berkata demikian tubuh Lelaki itu lenyap bersama tubuh Asmi dan juga Ilham. Yang tertinggal hanya Pak Panca dan Pak Han bersama mayat-mayat anak buahnya.


" Iblis... jahanam. Aku akan buat perhitungan denganmu. Tunggu saja saatnya pembalasan dariku!" maki Pak Panca geram.


__ADS_2