
Dilain tempat, Asmi masih berjalan dengan cemas bersama Azyziel menuju tempat yang ditujukan oleh Azyziel. Mereka pergi ke tempat Pangeran Hasyeem yang katanya sedang terluka.Walau sempat merasa ada yang aneh, namun Asmi tetap mengikuti kemana Azyziel membawanya pergi.
Di dalam hati Asmi, hanya satu tujuan, yaitu menemui kekasihnya yang dikabarkan sedang terluka. Dia ingin bertemu untuk merawat kekasihnya.
" Apakah masih jauh tempat yang kau katakan itu, Azyziel? " tanya Asmi dengan tidak sabar. Hatinya sudah tak bisa lagi menahan gejolak perasaan cemas yang terus terusan membakar jiwa.
" hmm, itu... iya.ehh.. tidak. sebentar lagi kita akan sampai. " jawab Azyziel dengan gugup. Kilat aneh di mata Azyziel semakin aneh saja saat mengatakan itu.
Asmi berhenti dan menatap mata kelam berbintik kuning milik Azyziel. Sejenak dia meragu. Nalurinya yang tajam mulai merasakan adanya gelagat yang mencurigakan dari sikap Azyziel.
Asmi mendengus seraya menghentak tangannya yang di pegang oleh Azyziel hingga pegangan tangan lelaki itu terlepas.
" Katakan padaku, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dariku! Benarkah Pangeranku sedang terluka? Jawab Azyziel!" bentak Asmi gusar.
" Tidak ada, aku tidak menyembunyikan apapun." jawabnya gelagapan.
Wajah Asmi tersenyum misterius. Lalu tiba-tiba, tangan Asmi terangkat keatas dan mencengkram leher Azyziel dengan kasar. Sigap Azyziel mengelak dan menangkap tangan Asmi yang lain lalu memutarnya dengan kasar.
" hmm, ternyata selain cantik rupanya kamu juga berbisa. Sedikit saja jika aku lengah tadi, kamu bisa saja menghabisi aku. Kamu memang susah sekali untuk ditaklukan."
" Siapa kamu!! mengapa kamu menjebak dan membohongiku ? Apa maumu?" tanya Asmi pada Azyziel.
"Hahahaha, ternyata kamu cepat tanggap juga. Baiklah....aku akan memberitahumu agar kamu tidak mati penasaran." jawab Azyziel dengan senyum mengejek.
" Siapa kamu sebenarnya? Mengapa kamu membohongiku. Apa niatmu sebenarnya? "
" Hahahaha, aku sangat iba melihatmu. Kamu dan Pangeran Hasyeem begitu saling mencintai. Tapi sayangnya, Pamanku Paduka Raja Haizzar tidak sudi merestui hubungan kalian. Untuk itulah dia memerintahkan aku untuk menculik dan melenyapkanmu. Tapi sepertinya aku berubah pikiran..... aku ada ide yang lebih baik."
Asmi menjadi geram. Dia merasa dibohongi dan dipermainkan perasaannya oleh Azyziel.
" Terkutuklah kau Azyziel. Kalau sampai pangeran Hasyeem tahu, dia akan membunuhmu! " kutuk Asmi marah.
" Hahaha, Dia tak akan bisa menemukan aku. Kau tahu.....saat ini kita sedang berada jauh dari tempatmu atau pun tempat pangeran Hasyeem. Dan lagi pula saat ini aku pastikan bahwa pangeran kesayanganmu itu sedang sibuk bertarung dengan Raja Bana. Dia tak ada waktu untuk mengurusi dirimu." ucap Azyziel dengan sinis.
Asmi menggelengkan kepalanya dengan lemah.
" tidak, kamu bohong. Kamu mengatakan ini agar aku percaya bahwa pangeran Hasyeem telah melupakan aku, kan? "
"Aku tidak berbohong. Pangeran kesayanganmu itu kini sedang bertarung mati - matian bersama Pangeran Anggada melawan Raja Bana, Rajanya para siluman di negeri ini."
" Mungkin saja sekarang keduanya sedang terkapar atau sudah menemui ajalnya, karena yang aku tahu, Raja Bana adalah sosok siluman yang kuat dan tangguh."
Asmi ingin menangis ketika mendengar ucapan Azyziel. Apa tadi... katanya Raja Bana adalah sosok siluman yang kuat dan tangguh. Lantas... Apakah semua yang dikatakan Azyziel itu benar. Otaknya berusaha mencerna semua ini. Sabar.. Asmi. Ingat jangan gegabah untuk mempercayai semua ini. Mereka penuh dengan tipu daya, bisik hati Asmi.
" Tidak...tidak terjadi apa - apa pada Pangeran Hasyeemku. Kamu bohong. Kamu membohongi aku. Sekarang aku mohon antarkan aku kepada Pangeran Hasyeem. Aku mau bertemu dengannya." kata Asmi menghiba.
" Huh, apa kamu pikir aku sudi untuk melakukan hal itu. Jangan bermimpi.. Sekarang kamu ikut aku. Kamu adalah milikku sekarang!" Lengan Asmi ditarik dengan kuat oleh Azyziel. Lelaki itu kemudian melesat terbang membawa Asmi ke istana miliknya yang berada di suatu tempat.
" Lepaskan... aku bilang lepaskan aku! " Asmi meronta dalam pegangan tangan kokoh Azyziel. Tangisan marah dan putus asa menjadi satu dengan rontaan tubuh dan tangan Asmi pada Azyziel.
Dia menyesal karena sudah percaya begitu saja dengan orang yang baru dia kenal, hanya karena mendengar kabar tentang kekasihnya yang terluka, tanpa mencari tahu terlebih dahulu tentang kebenarannya.
" Huh, kamu sungguh merepotkan sekali.!' tangan Azyziel bergerak menyentuh bagian belakang kepala Asmi. Dia menotok urat syaraf Asmi agar Asmi tidak bisa melawan atau berontak lagi.
Mata Asmi mendelik marah menerima perlakuan Azyziel. Namun anehnya... dia tak bisa bersuara dan bergerak. Perlahan kesadarannya mulai berkurang. Sebelum akhirnya benar- benar tak ingat apapun lagi.....Asmi pingsan.
__ADS_1
Azyziel tersenyum licik. Dengan ringan dia menggendong tubuh mungil Asmi menembus batas antara negeri jin dan manusia. Dia membawa kekasih Pangeran Hasyeem itu ke suatu tempat tersembunyi di negeri jin.
" hmm, kupikir istana ini cocok untuk tempat persembunyian aku dan wanita itu. Pangeran Hasyeem tentu tak akan menduga, jika kekasihnya yang cantik itu di tempat ini, hahaha." katanya bermonolog pada diri sendiri.
Kemudian Azyziel meletakkan Asmi di atas tempat tidur di salah satu ruangan di istana. Dia kemudian mengunci pintu dari luar dan melesat pergi meninggalkan istana itu ke tempat yang lain untuk menemui seorang.
" Aku sudah melakukan tugas yang kamu perintahkan. Aku sudah memisahkan wanita itu dengan Pangeran Hasyeem." kata Azyziel pada orang yang ditemuinya.
Orang itu menyeringai lebar, dia tersenyum penuh kemenangan.
" Baiklah, kerjamu bagus. Aku pasti akan memberikan hadiah untukmu. Wanita itu tak layak untuk putraku."
" Tapi Paduka, aku ada satu permintaan." Azyziel terlihat ragu untuk mengucapkan permintaannya.
" Katakan saja, apa yang kau inginkan!" kata orang itu.
" Bolehkan aku memilikinya?"
" Apa, kau juga menginginkan hal yang sama dengan putraku?"
Azyziel mengangguk membenarkan pernyataan orang itu. Dia memang menginginkan Asmi. Entah mengapa sejak awal dia sudah menyukai wanita itu. Wanita yang juga dicintai oleh sepupunya.
" Kalian berdua memang sudah gila. Entah apa yang menarik dari wanita itu, hingga kalian berdua begitu mengilainya!" katanya dengan wajah gusar.
" Entahlah, Paduka. Tapi aku menyukainya. Ada sesuatu dalam diri wanita itu yang unik. Dia memiliki aura tubuh yang sangat menarik." kata Azyziel sambil membayangkan wajah Asmi.
" Ahh, sudahlah. Terserah kamu saja. Yang penting, wanita itu menjauh dari putraku. Aku tak ingin memiliki menantu dari bangsa manusia."
Orang itu yang tak lain adalah Paduka Raja Haizzar kemudian pergi berlalu dari hadapan Azyziel. Sesaat Azyziel diam terpaku menatap kepergian Paduka Raja Haizzar yang tak lain merupakan pamannya sendiri. Setelah itu diapun lantas melesat pergi meninggalkan tempat itu, ke tempat semula dia meninggalkan Asmi.
Tanpa Azyziel sadari, sesosok bayangan mengikutinya dari sejak dia keluar dari tempat itu.
Sementara itu, di dalam ruangannya. Asmi sudah sadar dari pingsan namun dia masih belum bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Rupanya Azyziel menotok dirinya tepat di bagian syaraf belakang wanita cantik itu hingga menyebabkan tubuh wanita itu lumpuh tak bisa bergerak.
Asmi hanya bisa menggerakkan - gerakkan matanya saja.
' Tuhan, mengapa aku tak bisa menggerakkan seluruh tubuhku dan bersuara? ' jerit Asmi sedih dalam hati. Dia mencoba untuk meronta, namun tak ada sedikitpun tenaganya bisa dia kerahkan.
Tubuhnya lemas dan tak bertenaga. Walaupun dia tidak terikat namun dia juga sama sekali tak mampu untuk bergerak.
Asmi putus asa dan hanya bisa menangis. Mengapa nasib begitu malangnya menimpa diri.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan Azyziel melangkah masuk. Matanya tajam menatap ke arah Asmi.
Asmi menutup matanya tak ingin Azyziel tahu jika dia sudah sadar.
" Hmm, kamu sudah sadar?"
Asmi membuka mata dan mendelik marah ke arah Azyziel.. kesal karena Azyziel mengetahui jika dia sudah sadar.
" Oh, maaf. Aku lupa! "
Azyziel segera melepaskan totokannya sehingga Asmi kini bisa untuk menggerakkan tubuhnya dan tentu saja bersuara.
" Sialan, lepaskan aku. Aku mau pulang. Aku tak mau disini.! " bentaknya dengan marah.
__ADS_1
" wow, ternyata kamu galak sekali. Menyesal aku membuka totokanku. Kamu berisik sekali." Azyziel berjalan mendekati Asmi bermaksud ingin menakut-nakutinya. Namun sialnya matanya tak sengaja tertuju pada paha Asmi yang terekspos ketika wanita itu beringsut menjauh.
Asmi beringsut mundur sambil memeluk kedua tangannya. Tak sengaja tangan kirinya menyentuh jemari manis tangan kanan Asmi.
" Cincin bermata safir biru. Mengapa aku melupakannya?" Asmi tersenyum. Azyziel mengeryitkan alis menatap heran pada wanita yang ada di hadapannya.
' apa yang tengah dipikirkan oleh wanita ini," pikirnya. Beruntung sekali, Azyziel bukanlah pangeran Hasyeem yang bisa dengan mudah membaca hati dan pikiran orang. Sehingga dia tak bisa membaca isi hati dan pikiran Asmi.
Azyziel mendekati wanita itu. Semakin dekat hasrat di hatinya semakin tak tertahan. Gila..wanita ini seperti mempunyai magnet pemikat yang luar biasa, pikirnya.
" Apa yang kamu pikirkan, hah?! jangan kamu pikir kamu bisa lolos dengan mudah dari tempat ini. Aku sudah memasang berbagai jebakan. Jadi jangan coba - coba berpikir bisa keluar dari tempat ini! " kata Azyziel seraya memegangi wajah cantik Asmi. Gerak jakunnya naik turun menahan hasrat birahi yang bergejolak. Sebelah tangan Azyziel meraba paha Asmi yang putih mulus. Sementara bibir nya sudah menyambar bibir Asmi. ********** dengan kasar.
Asmi berontak mendorong tubuh Azyziel hingga tubuh lelaki daripada bangsa Jin itu terjengkang ke belakang.
Asmi meringis menahan sakit akibat ciuman kasar dari lelaki berambut panjang dan hitam di bibirnya. Airmatanya tumpah karena merasa malu dan dilecehkan.
Tangannya meraba cincin bermata safir biru dan berdoa dalam hati agar bisa bebas dari tempat itu segera. Dia ingin pergi kemana saja yang penting bisa keluar dari tempat itu. Matanya Terpejam rapat.
Blusss! Tubuh wanita cantik itu lenyap dari hadapan Azyziel tepat ketika lelaki itu kembali berniat untuk menggagahinya.
" Hah, dia lenyap. Wanita itu lenyap. Apa yang terjadi?" tanya Azyziel kebingungan.
Brrakkk!! Azyziel menoleh ke arah pintu.
Bersamaan dengan terbukanya pintu kamar itu, seseorang yang sama sekali tidak dia harapkan kehadirannya memasuki ruangan itu dengan wajah yang dibakar amarah. Wajahnya sangar menahan emosi dihati yang sebentar lagi akan meledak.
" Pangeran Hasyeem! "
" Yah, aku. Aku datang untuk menjemput wanitaku yang kamu bawa tanpa izinku. Cepat katakan, dimana kamu menyembunyikannya!" banyak kasar Sang pangeran.
Azyziel tersenyum mengejek. Dalam hatinya bersyukur jika ternyata Pangeran Hasyeem belum mengetahui jika Asmi telah menghilang. Dia sebenarnya malu mengatakan jika wanita itu menghilang begitu saja dari hadapannya.
Seakan-akan sudah mengejek seorang Azyziel karena telah diperdaya oleh seorang wanita dari bangsa manusia.
" Azyziel, katakan! Mana Asmi? "Pangeran Hasyeem menarik Azyziel hingga tubuh lelaki itu kini terangkat ke atas. M a0
ulut Azyziel terjatuh rapat.
" AZYZIEL!! geram suara Pangeran Hasyeem.
" Atas dasar apa kamu mengatakan jika aku menyembunyikan Asmi? "
" Masih saja mengelak. Pengawal pribadiku melihatmu membawa Asmi! "
" Hah, ... memang aku akui, aku yang membawa Asmi kemari. Namun sekarang kekasih manusiamu itu sudah tak ada." akhirnya Azyziel mengakui.
"Kau pikir aku percaya begitu saja dengan ucapanmu, setelah semua yang kamu lakukan pada kekasihku?!" kata Pangeran Hasyeem.
" Terserah, kamu mau percaya atau tidak, tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Kekasihmu itu tiba-tiba saja sudah menghilang saat aku kembali tadi." kata Azyziel. Tentu saja dia tidak mengatakan bahwa Asmi menghilang ketika dia berusaha untuk menggagahi wanita itu.
" Cincin, apakah Asmi memakai cincin itu untuk kabur dari sini? " gimana pangeran Hasyeem nyaris tak terdengar.
" Cincin??? " Kening Azyziel berkerut.
Dia masih tak mengerti apa hubungannya antara cincin dengan menghilangnya Asmi secara tiba-tiba dari hadapannya.
__ADS_1
" Baiklah, aku mempercayaimu, tapi urusanmu denganku masih belum selesai. Aku akan membuat perhitungan denganmu, nanti! " kata Sang Pangeran sambil berlalu meninggalkan Azyziel yang masih berdiri terpaku.
" Silahkan... aku akan menunggu saat itu. Tapi satu hal yang aku akan pastikan, bahwa kekasihmu akan jatuh dalam pelukanku cepat atau lambat! " katanya sambil tersenyum sinis.