Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 131 Berapa Nomor Teleponmu


__ADS_3

Pemuda itu tersenyum kecil kemudian berjongkok lalu memungut sebuah dompet mungil berwarna merah muda yang indah. Dia lalu membuka dompet itu dan menemukan foto Arryan yang terselip di dalam dompet itu beserta kartu identitas Arryan.


Pemuda itu lalu membaca nama yang tertera di kartu identitas tersebut.


" Hmm, jadi namanya Arryan." Senyum lebar terkembang di  wajahnya yang tampan bak dewa yunani itu.


Pemuda berbadan jangkung itu lalu memasukkan dompet milik Arryan ke balik sakunya, lalu melangkah ringan meninggalkan restoran itu.


Dia tak menyadari bahwa sepasang mata elang mengawasi semua gerak geriknya mulai dari awal dia memasuki restoran ini hingga melangkah keluar meninggalkan restoran ini beberapa detik yang lalu.


Sejak pertama mereka memasuki restoran, pemuda berbadan jangkung itu sudah mulai melirik Arryan. Beberapa kali Pangeran Hasyeem memergoki pemuda itu mencuri pandang memperhatikan wajah putrinya.


Saat Arryan minta izin untuk ke toilet, secara diam-diam pemuda itu mengikuti Arryan dari belakang.


Hingga tanpa sengaja terjadi insiden di depan pintu masuk toilet tadi.


Pangeran Hasyeem melihat pemuda itu memungut dompet putrinya yang terjatuh dan membukanya sejenak. Pemuda itu bukannya mengembalikan dompet putrinya tetapi menyimpannya di balik saku celananya, lalu melangkah keluar restoran.


Pangeran Hasyeem tersenyum licik lalu kemudian dia pamit minta izin ke toilet dan menghilang. Pangeran Hasyeem mengikuti pemuda tadi sampai ke parkiran. Saat akan masuk ke mobil, Pangeran Hasyeem mengambil kembali dompet putrinya yang disimpan di balik saku celana pemuda itu tanpa disadari olehnya. Lalu kembali ke toilet dan kemudian kembali bergabung dengan keluarganya.


" Putri Arryan, bukankah ini milikmu?" tanya Pangeran Hasyeem pada sang putri.


" Benar, ayah. Itu memang dompet milik Arryan. Tapi mengapa bisa ada di tangan Ayah? " tanya Arryan tak mengerti.


" Ayah menemukannya di meja toilet tadi saat mau buang air! Pasti tadi tertinggal saat kamu ke toilet." kata Pangeran Hasyeem pada Arryan.


" Sepertinya begitu, ayah." kata Arryan.


Sementara itu, Keanan, nama pemuda jangkung yang menyimpan dompet milik Arryan sedang kebingungan sendiri. Dia merasa menyimpan Dompet gadis itu di saku celana panjangnya. Tapi sekarang dompet itu sudah tak ada lagi.


" Perasaan tadi aku menyimpan dompet itu di saku Celana. Kok... sekarang nggak ada, ya? " Pemuda itu berguman sendiri sambil mencari kesana kemari dompet berwarna merah muda milik Arryan.


Dia tak tahu, jika sesosok jin, telah mengambil kembali dompet itu dan mengembalikannya kepada sang pemilik.


Saat sedang bingung, matanya menangkap bayangan gadis pemilik dompet itu melintasi dirinya. Dia melihat Arryan sedang memegang dompet berwarna merah muda miliknya sambil sebelah tangannya menngamit lengan seorang lelaki tampan.


Memang, Arryan dan keluarganya memutuskan untuk segera pulang begitu acara makan - makan selesai.


Keanan melongo tak percaya. Bagaimana bisa dompet itu sudah berada kembali di tangan gadis itu padahal jelas - jelas tadi dia telah memungut dan menyimpannya di saku celananya.


?????


-


-


-


Sementara itu, Luna pergi ke rumah sang nenek di desa Babakan. Besok adalah seratus hari peringatan kematian sang Ibu.


Saat melewati hutan larangan, Luna berhenti di depan sebuah pondok kecil yang terletak di tepi hutan larangan. Pondok yang menurut cerita Almarhum ibundanya adalah tempat tinggal sang ibu saat Luna masih bayi.

__ADS_1


Pondok itu kini sudah hampir rubuh termakan usia. Luna menghela nafas dalam saat ada yang menyesak di ulu hatinya. Kenangan bersama sang ibu kembali berputar dalam ingatannya.


" Bunda... mengapa ayahku bisa menghilang sedangkan aku tidak? " tanya Luna kecil saat kesal karena dirinya tak bisa dengan mudah menghilang dan muncul begitu saja seperti sang Ayah.


" Luna sayang, ayah kamu itu berbeda dengan kita." jawab sang bunda dengan sabar.


" Huhhhh, tapi Pangeran Alyan juga bisa menghilang, sama seperti ayah. Dan dia curang, bunda. Dia sering curang saat lomba lari cepat! " rengeknya kesal pada sang bunda.


" Luna, Luna tak boleh begitu. Luna harus bersyukur bahwa Luna diberi Allah kelengkapan panca indra dan juga akal. Kalaupun Luna merasa tidak bisa melakukan yang orang bisa. Luna kan, bisa melakukan apa yang orang lain tidak bisa. Jadi semua orang ada kekurangan dan juga ada kelebihannya."..........


Luna mengusap setitik cairan bening yang mengalir di sudut matanya yang jeli.


Kresssekk! kresssekk! Ada sesuatu di balik semak-semak. Luna penasaran dan mencoba mencari tahu.


Seekor Harimau besar muncul dari balik semak-semak dan berjalan menghampiri Luna. Luna mundur beberapa langkah ke belakang dan mencari celah untuk lari, tetapi...


Dug!!! .... Aduh!" kaki Luna tersandung sesuatu dan dia jatuh terjengkang ke belakang.


Harimau besar itu makin mendekat ke arah Luna. Luna bersiap untuk melawan jika Harimau itu menyerangnya.


Namun, yang terjadi adalah Harimau itu mendekat dan menjilat - jilati wajah Luna seperti hewan peliharaan yang jinak terhadap tuannya.


Luna tertawa kegelian dan memeluk Harimau yang besarnya melebihi besar tubuhnya. Sejenak kemudian Luna ingat bahwa dia membawa bekal nasi lengkap dengan lauk pauknya dan sepotong ayam. Segera dia mengeluarkan bekalnya dan memberikannya pada Harimau itu.


" Ini aku membawa bekal sedikit. Apakah kamu mau. Ayo kita makan bersama! " ajak Luna. Dia lantas mengambil sepotong ayam dan memberikannya pada Harimau itu. Sedangkan dia hanya makan nasi dan sayur saja. Keduanya makan dengan lahap.


Setelah makan, Harimau itu berlalu dari hadapan Luna, menghilang di balik rimbunan Semak dan hutan belukar yang gelap di Hutan Larangan.


Luna kembali melanjutkan perjalanannya ke rumah sang nenek. Hari sudah mulai menjelang senja. Matahari sudah mulai masuk ke ufuk barat. Sepanjang jalan sesekali dia bertemu dengan orang yang lewat pulang dari kebun.


" Aduh, neng cantik, nggak usah kerja itu. Nanti tangannya yang halus bisa terluka." kata seorang ibu saat melihat Luna ikut membantu membantu mengiris bawang.


" Tak apa - apa, bu. Itung - itung belajar!" sahut Luna sambil tersenyum.


" Neng Luna sudah punya pacar? " tanya seorang ibu yang lain.


Luna hanya tersenyum tanpa menjawab.


" Aduh, tentu saja punya, atuh. Kan neng Luna cantik. Pasti banyak yang suka! " jawab ibu yang satunya lagi.


Percakapan itu terhenti karena suara deru motor yang berhenti di depan rumah neneknya. Luna melihat seorang pemuda turun dari motor dan berjalan masuk ke rumah sang nenek.


Pemuda itu memakai baju koko dan sarung serta peci hitam di kepala. Wajahnya sangat tampan dan teduh.


" Assalamualaikum, Bu Endangnya, ada?" Pemuda itu menanyakan neneknya.


" Oh, iya ada. Sebentar saya panggilkan!" jawab Luna.


Luna segera berdiri dan masuk ke dalam rumah untuk memanggil neneknya. Tak lama kemudian Luna sudah kembali lagi bersama sang nenek.


" Oh...Panji. Mari masuk!" Nenek mempersilahkan pemuda yang bernama panji itu masuk ke dalam.

__ADS_1


Pemuda itu memilih duduk di lantai agak jauh dari pintu masuk. Nenek dan Luna juga ikut duduk di lantai.


"Apa ibumu sudah bilang sama kamu, nanti kambingnya langsung di potong di sana saja, ya! " kata neneknya.


" Eh..iya, Nek. Sudah.Jadi besok pagi kambingnya langsung dipotong setelah itu baru saya antar.! " kata Panji.


Nenek Luna mengangguk mengiyakan, kemudian menyodorkan segepok uang dua puluh ribuan kepada Panji.


" Ini, aku bayar sekalian. Dua juta, ya? " kata nenek Luna lagi. Panji mengangguk sambil menerima uang tersebut dari tangan nenek Luna.


Setelah menerima uang dari Bu Endang, nenek Luna, pemuda itu kemudian pamit mohon diri pada nenek dan Luna.


Sebelum berlalu, pemuda itu masih sempat melirik Luna yang beranjak masuk ke rumah.


" Siapa gadis itu? " Panji bertanya dalam hati. Selama ini dia cukup mengenal bu Endang, tapi dia tak pernah melihat gadis itu. Panji kemudian menyalakan motornya dan berlalu dari rumah bu Endang.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Panji sudah datang mengantarkan kambing pesanan nenek yang sudah dipotong dan dibersihkan.


Luna baru selesai sholat subuh, saat melongok melalui jendela kamarnya. Matanya tak sengaja bertatapan dengan mata Panji.


" Luna, ayo sini bantu Panji dulu menaruh daging kambing ini di tempat yang besar. Nenek mau sholat subuh dulu, entar kesiangan.!" kata sang nenek.


" Baik, nek! " jawab Luna. Segera gadis itu melepas mukenanya dan mendatangi Panji yang kini sudah bekerja memindahkan potongan daging kambing itu ke dalam wajan besar.


" Kamu cucunya bu Endang? " tanya Panji, membuka pembicaraan.


" Iya, yang meninggal kemarin adalah ibuku." jawab Luna.


" Ohh, begitu. Kenalkan, namaku Panji. Aku tinggal tak jauh dari sini. Mainlah ke rumah jika kamu ada waktu."


"Iya, terima kasih! Namaku Aluna. Tapi kamu bisa memanggilku Luna." jawab Luna.


" Oh, namamu bagus. Kalo nggak salah artinya bulan, ya. Tapi ngomong - ngomong, kamu kok baru keliatan, emangnya kamu tinggal di mana? " tanya Panji semakin penasaran.


" Aku tinggal di Bukit Duri! " Jawaban Luna membuat kening Panji berkerut.


Bukan apa - apa, Bukit Duri itu adalah tempat yang sangat jauh sekali dari desa Babakan. Lagi pula tempat itu sangat mengerikan dan jarang terjamah oleh manusia.


" Serius kamu tinggal di sana? " tanya Panji ingin menyakinkan. Luna mengangguk sekali lagi. Panji melongo, antara takjub dan heran.


" Bolehkah aku minta nomor teleponmu, Luna." tanya Panji.


" Hah, apa? telepon. Apa itu? " tanya Luna tak paham. Dia tak tahu bagaimana bentuk telepon itu.


Panji lalu mengeluarkan sebuah benda hitam dan pipih miliknya.


" Seperti ini. Biar nanti aku bisa menghubungimu." kata pemuda itu.


" Maaf , aku tak punya telepon!" Luna menggelengkan kepalanya saat menanggapi permintaan Panji.


Seumur hidupnya dia tak pernah punya telepon. Dia dan Alyan ataupun yang lainnya berkomunikasi jarak jauh hanya menggunakan Ajian Ilmu Sepih Angin.

__ADS_1


Di negerinya, dia dan teman-temannya tak mengenal alat komunikasi seperti yang ditunjukkan oleh Panji barusan.


Panji bengong, Luna bingung. ?????


__ADS_2