Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 157 Rumah Keluarga Keanan


__ADS_3

" Aku mau merekam video Kak Keanan ... dan mengirimkannya pada gadis itu. " Keanan mengangguk mempersilahkan Arryan melakukannya.


Gadis itu kemudian mengambil kamera dari dalam tasnya dan mulai merekam Keanan yang kini wajahnya mulai terlihat serius. " Arryan,... aku mencintaimu, maukah kamu menikah denganku...! " Wajah Arryan pucat pasi. Hampir saja kamera yang dia pegang jatuh ke lantai.


" Apa.. ??? "


" Kamu tidak dengar, aku tadi ngomong apa? Aku cinta kamu Arryan! " ulang Keanan. " Maukah kamu menikah denganku?"


Arryan terdiam terpaku tak sanggup berkata-kata. Benarkah apa yang baru saja dia dengar? Apakah benar tadi namanya yang baru saja diucapkan oleh Keanan..? Lalu.. apa tadi barusan Keanan melamarnya? "


Arryan terduduk di hadapan Keanan. Hatinya berbunga bahagia. Namun hanya sesaat, setelah itu dia tertunduk sambil menggelengkan kepalanya.


" Tidak....Aku tidak bisa menerimanya. Aku tak pantas untuk kak Keanan. " kata Arryan dengan sedih. Dia terpaksa menolak Keanan. Walaupun sebenarnya dia tak menampik, bahwa dia juga mencintai pemuda itu.


Tapi ada sebuah alasan kuat mengapa dia tak bisa menerima cinta Keanan. Dia menyadari, bahwa dunia dia dan Keanan sangatlah berbeda. Dia adalah putri seorang Pangeran jin yang menguasai seluruh Hutan Larangan dan Bukit Malaikat. Dan dia, makhluk setengah jin setengah manusia. Sedangkan Keanan, berdarah asli manusia. Mereka sangat jauh berbeda. Masalah ini tidaklah sesederhana yang terlihat. Walaupun mungkin dia bisa menerima perbedaan ini. Tapi apakah keluarga Keanan juga bisa menerima perbedaan ini??


" Mengapa kamu berkata demikian, Arry? Mengapa kamu menolakku? Apakah kamu tidak mencintaiku?" tanya Keanan putus asa.


Arryan menggelengkan kepalanya. Dia semakin sedih melihat raut kecewa di wajah Keanan.


" Bukan itu, Kak Keanan. Kakak belum mengenal siapa aku. Aku bukanlah gadis yang tepat untuk mendampingi hidupmu. Kita sangat jauh berbeda. Permisi, kak! " Keanan masih membisu tak mampu berkata. Apa yang dia takutkan ternyata terjadi. Gadis dihadapannya itu telah menolaknya. Dan dia tak mampu lagi untuk berkata-kata. Hatinya hancur. Sehancur - hancurnya. Mengapa Arryan menolaknya? Apa tadi yang dia katakan? Dia dan Arryan berbeda.? Apakah maksud Arryan tentang status sosial? Sungguh, Keanan tak mempermasalahkan jika hanya itu yang menjadi masalahnya. Dia tak berminat untuk mencari istri yang kaya raya, karena hartanya saja sudah cukup untuk dimakan tujuh turunan. Mengapa Arryan terlalu tinggi untuk menilainya.


" Arryan....! " Keanan ingin berucap sesuatu. Namun, Arryan berdiri dan bersiap - siap untuk pergi. " Arryan,.... aku mohon. Jangan pergi dulu. Dengarkan dulu perkataanku..! "


Arryan menatap Keanan sendu. " Tidak, kak Keanan tak akan mengerti. Aku tak ingin kak Keanan suatu saat pergi menjauh dariku, saat kak Keanan mengetahui tentang jati diriku yang sebenarnya. "


" Kau boleh mencobanya sekarang. Katakan saja siapa dirimu yang sebenarnya. Dan kita lihat, apakah aku akan pergi meninggalkanmu setelah aku mengetahuinya..! tantang Keanan dengan emosi. Dia sudah putus asa memikirkan alasan mengapa gadis itu tak bersedia menerima lamarannya.


Arryan kembali menggelengkan kepalanya. " Tidak... aku tak bisa! Aku pamit, kak. Aku mau pulang."


Arryan berbalik dan beranjak pergi dari tempat itu. Dia tak sanggup melihat tatapan patah hati Keanan. Namun saat tangannya hendak bergerak, seseorang tampaknya sedang mendorong pintu dari luar.


Ternyata yang datang adalah papa dan mama Keanan.


"Loh, ini ada nak Arryan, di sini. Nak Arryan , apa sudah lama datangnya?" tanya mama Keanan yang memang sudah mengenal Arryan dengan baik.


" Sudah lumayan lama sih, tante. " jawab Arryan.


Arryan lalu meraih tangan keduanya dan mencium tangan papa dan mama Keanan sebagai tanda bakti. Kemudian bermaksud menarik gagang pintu.


" Loh...mau kemana, nak Arryan? "

__ADS_1


" Karena tante dan om sudah datang, Arryan pamit pulang dulu, yah."


" Oh....no.. no.. no. Tidak bisa seperti itu. Kamu harus ikut ke rumah kami. Temanin Keanan sampai ke rumah dan kita makan siang bersama, ya sayang. " bujuk mama Keanan.


Arryan menoleh dan menatap ke arah Keanan. Pemuda itu hanya bisa tersenyum memberi isyarat agar Arryan mau menerima ajakan tersebut.


Arryan pun akhirnya terpaksa mengiyakan. Gadis cantik putri Pangeran Hasyeem itu tak ingin dikatakan tak punya sopan santun. Setelah sopir mengurus barang - barang Keanan, mereka semua akhirnya pulang bersama. Arryan duduk di belakang bersama Keanan dan mamanya.


Perjalanan dari rumah sakit menuju kediaman keluarga Keanan memakan waktu sekitar dua puluh menit.


Rumah Keanan terletak di pinggiran kota. Rumah mewah bergaya spanyol itu tampak mencolok karena merupakan satu-satunya rumah mewah di kawasan itu. Halaman rumahnya saja sangat luas. Di halaman samping kanan rumah Keanan, terdapat kolam renang yang luas. sedangkan di samping kiri membentang hingga ke belakang rumah, adalah kebun buah milik keluarga. Di bagian depan, terdapat taman yang hanya ditumbuhi satu bunga saja, yaitu bunga mawar merah. Arryan yang merasa heran, lalu bertanya kepada Keanan, mengapa hanya bunga mawar merah saja yang di tanam di taman itu.


Keanan menjawab karena bunga mawar adalah bunga kesayangan seluruh keluarga. Keluarganya sangat menyukai bunga mawar.


Benar-benar aneh. Baru kali ini Arryan menjumpai ada keluarga yang memiliki selera yang sama akan bunga.


Saat memasuki halaman rumah Keanan, kembali Arryan melihat sosok kakek tua berjanggut yang dilihatnya tadi di rumah sakit.


Kakek tua itu menatap ke arah Arryan sambil tersenyum. Arryan balas tersenyum sebelum kemudian kakek tua itu kembali lenyap.


Keanan turun dari mobil dan berjalan tertatih - tatih menggunakan sebuah tongkat kecil untuk menyangga tubuhnya. Dokter belum sepenuhnya membiarkan pemuda itu untuk melangkah bebas dengan kedua kakinya. Untuk itulah, dia menyarankan untuk sementara, Keanan menggunakan sebuah tongkat dulu saat kemana-mana.


Hampir saja Keanan jatuh tersungkur saat kakinya menapaki anak tetangga di depan rumah. Sigap arryan menahan tubuh Keanan hingga pemuda itu tak jadi terjatuh. " Hati-hati, kak! " kata Arryan . Dia tersenyum menutupi kegugupannya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Keanan. Sentuhan Arryan yang tak sengaja sudah membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Jantungnya berdetak keras.


Langkah Arryan terhenti saat berada di ruang keluarga. Pandangan matanya tertuju pada beberapa potret keluarga Keanan yang terpajang di dinding ruang keluarga. Di antara semua potret - potret itu, atensinya tertuju pada sebuah potret yang menurutnya sangat menarik. Potret itu berisi gambar seorang laki-laki paruh baya yang memakai baju beskap lengkap dengan blankon di kepalanya.


Arryan ingat dengan jelas. Itu adalah kakek tua berjanggut yang dia lihat di halaman rumah Keanan tadi.


Rasa penasaran membuat Arryan bertanya pada Keanan. " Kak, siapa laki-laki yang ada di gambar itu? " tunjuknya pada potret yang dia maksud.


" Oh, yang itu? Itu adalah gambar Eyang Hadi wijaya, kakek buyutku. Beliau adalah ayah dari kakekku, dari ayah." kata Keanan. Arryan mengangguk faham. Kini dia tahu siapa kakek tua berjanggut putih itu. Rupanya dia adalah kakek buyut Keanan. Wajar saja jika dia melihatnya ada di rumah ini.


Mereka akhirnya sampai juga di ruang makan, papa dan mama Keanan sudah duduk di sana sejak tadi.


" Nah, nak Arryan.. ayo silahkan duduk. Keanan ajak Nak Arryan duduk di sebelahmu! " kata Papa Keanan.


Arryan melihat ada seorang gadis muda dan seorang pemuda sebaya Keanan yang duduk di hadapan mereka.Wajah gadis itu


Gadis itu sangat cantik dan berkulit putih. Rambutnya panjang sebahu dan dikuncir kuda. Sekilas wajahnya mirip dengan Keanan. Arryan menebak jika gadis itu barangkali adiknya Keanan.


Sedangkan pemuda yang duduk di sebelahnya, tampak sedang tersenyum walau Arryan tahu, tampak dibuat - buat dan terpaksa sekali. Ada kilatan aneh di mata pemuda itu.

__ADS_1


" Arryan, kenalkan... ini Alice, adiknya Keanan. Dan ini David, sepupu Keanan." Mama Keanan memperkenalkan kedua orang yang duduk di hadapan mereka pada Arryan.


"Hai, Arryan. Aku David. Aku sepupunya Keanan. Apa kamu pacarnya Keanan? " Arryan langsung tersedak saat mendengar pertanyaan David. Dia langsung menoleh ke arah Keanan.


" Oh... maaf....maaf... Aku tak bermaksud membuatmu kaget dengan pertanyaanku. Soalnya yang aku tahu, pacar Keanan yang dulu adalah Katherine. Itu si foto model yang kini ada di London. " Kali ini wajah Keanan yang menegang. Dia merasa jengah saat David menyebutkan nama Katherine di hadapan Arryan. Dia takut, gadis itu semakin salah faham terhadap dirinya. Saat ini dia masih berjuang untuk mendapatkan cinta gadis itu.


" Ah... sudah..sudah. Tak usah membicarakan orang lain. Halo kak Arryan, aku alice. Aku adik Keanan yang paling bontot. Sudah.. jangan dengerin kak David. Katherine itu sudah gone dari hidupnya Keanan. "


Mama dan papa hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan anak - anak mereka di meja makan.


" Iya, benar kata Alice, tak usah membicarakan orang lain. Ayo kita makan dulu! " ajak mama Keanan.


Mereka kemudian makan bersama dengan tenang. Sesekali candaan santai terlontar dari Alice dan David. Arryan dan Keanan pun menanggapinya dengan santai pula.


Setelah makan bersama, obrolan dilanjutkan di ruang keluarga. Arryan duduk santai di sebelah Keanan. Tak sengaja, pandangan matanya tertuju pada tangga yang menuju ke lantai atas. Di tangga itu, Arryan melihat sesosok makhluk berwujud mirip manusia namun berwajah mirip anjing dengan taring yang panjang sedang merangkak dari lantai atas menuruni tangga. Makhluk itu kini menatapnya sambil menyeringai menampakan deretan gigi- giginya yang runcing dan panjang. Bau anyir menyeruak hidung Arryan saat makhluk itu makin mendekat ke arahnya.


Mata Arryan tajam menatap ke arah makhluk itu. Dia tidak merasa takut sedikitpun dengan makhluk itu. Sejujurnya, dia merasa penasaran mengapa makhluk itu bisa berada di rumah Keanan.


" Siapa kamu, hah? Apa maksud kamu datang kemari, hai anak jin? "


Rupanya makhluk itu mengetahui akan identitas dirinya yang sebenarnya.


Arryan yang ditanya hanya diam saja. Makhluk itu kemudian merangkak maju untuk mendekatinya.


Semakin dekat, semakin tajam bau anyir yang tercium oleh hidung Arryan. Perut Arryan terasa mual karena tak tahan dengan bau anyir dari makhluk itu.


" Kak, permisi. Toiletnya dimana? " Arryan akhirnya bangkit karena tak tahan dengan bau anyir dari makhluk itu yang membuatnya ingin muntah.


" Oh... itu, di ujung lorong ini." Keanan menunjuk ke lorong yang menghubungkan ruang keluarga dan ruang makan.


Arryan segera berjalan menuju toilet yang ditujukan oleh Keanan. Sampai di dalam, Arryan memuntahkan semua isi perutnya ke dalam toilet. Dia merasa lega setelah semua isi perutnya keluar semua. Bau anyir dari makhluk itu benar-benar membuatnya tak bisa menahan mual.


Tiba-tiba.... dari dalam toilet, muncul kepala makhluk itu hingga mengagetkan Arryan. Gadis itu mundur beberapa langkah ke belakang. Bersiap - siap untuk menghadapi serangan makhluk itu.


" Arry.. apakah kamu baik - baik saja?" Suara Keanan terdengar cemas dari luar.


Makhluk itu menatap Arryan dengan tajam. " Iya, aku baik - baik saja." jawab Arryan.


" Jauhi dia! " ancam makhluk itu sebelum menghilang dari hadapan Arryan.


Kening Arryan terangkat. " Apa maksudnya dengan berkata ' Jauhi dia'? siapa yang harus dia jauhi? " tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


" Heukkk....! " kembali Arryan memuntahkan isi perutnya karena tak tahan dengan bau anyir makhluk itu.


" Arry...benaran kamu nggak papa?


__ADS_2