
Raja Haizzar sedang berada di istana Ratu Kalina. Dia bermaksud merayu Ratu Kalina yang sedang dalam mode marah dan ngambek bicara padanya. Tiba-tiba seorang Pengawal istana masuk dengan tergesa-gesa.
" Ampun yang mulia Raja Haizzar, Pangeran Hasyeem marah dan membebaskan tahanan. Kini pangeran Hasyeem dan tahanan wanita itu pergi dari istana bersama - sama, beberapa saat yang lalu." lapor sang Pengawal.
" Hah, Bedebah. Berani sekali pangeran Hasyeem melakukan semua itu. Dia sudah berani membebaskan tahanan tanpa seizinku." bentak Sang Raja murka. Wajahnya merah padam menahan geram.
" Dinda Kalina, ini semua terjadi karena dirimu. Kamu yang telah membawa wanita dari bangsa manusia itu kemari, sehingga Putra kita pangeran Hasyeem kabur dari kurungan bersama wanita itu! " Raja Haizzar dengan gusar.
Ratu Kalina yang juga turut mendengar laporan dari Pengawal istana bahwa pangeran Hasyeem kabur dari kurungan bersama Asmi , tersenyum lega. Dia bersyukur Asmi bisa bebas dari tawanan suaminya.
Kemarin, dia sebenarnya merasa iba melihat wanita itu hanya pasrah ketika dibawa oleh para Pengawal istana ke ruang tahanan. Dia ingin mencegahnya tapi tak berdaya sehingga dia hanya bisa melayangkan protes marah kepada Sang suami.
" Aku bersyukur, Pangeran Hasyeem membebaskan Asmi. Sikap paduka Raja sudah keterlaluan.. Dia itu tamuku. Dia juga kekasih putramu. Apa pantas seorang Raja bersikap seperti itu. Terhadap seorang utusan musuh saja, kita tak boleh bersikap seperti itu, apalagi kepada seorang tamu yang juga merupakan kekasih putra kita." kata Ratu Kalina sambil berlalu dari hadapan suaminya.
" Dinda, sepertinya dinda lebih berpihak kepada wanita itu.!" Raja Haizzar kesal karena sepertinya isterinya juga mulai berpihak pada wanita yang menjadi kekasih pangeran Hasyeem.
" Dinda tidak berpihak pada siapapun, Kanda. Dinda hanya mencoba bersikap bijaksana. Pangeran Hasyeem putra kita. Apa yang membuat pangeran Hasyeem bahagia, dinda pasti akan melakukannya. Buat apa kita meneruskan kehendak kita jika hal itu membuat putra kita menderita. Maafkan dinda, Kanda. Tapi dinda tak akan sanggup untuk melihat penderitaan putra kita." jawab Ratu Kalina.
Paduka raja Haizzar terdiam mendengar perkataan Ratu Kalina. Baru kali ini, istri tercintanya itu berani menentang perkataan dan kehendaknya. Hati Raja Haizzar merasa gundah. Apakah yang telah dia lakukan membuat pangeran Hasyeem menderita. Tapi Dia melakukan semuanya demi kebaikan pangeran Hasyeem di masa depan nanti.
Apa jadinya, jika seorang pangeran dari bangsa Jin menikah dan memiliki anak dari bangsa manusia. Bagaimana nanti nasib bangsa dan keturunannya. Bagaimana nasib anak dari pangeran Hasyeem dan wanita itu. Bagaimana bentuk dan rupa anak hasil pernikahan antara jin dan manusia.
Memikirkan hal itu membuat Raja Haizzar menjadi pusing dan kalut sendiri. Putra kesayangannya tak memberinya banyak pilihan. Dia harus bisa menyadarkan putra kesayangannya itu, sebelum semua menjadi salah dan menghancurkan semuanya.
...---...
Sementara itu, di Bukit Malaikat, Pangeran Hasyeem dan Asmi sedang berduaan di balkon istana Bukit Malaikat.
Pangeran Hasyeem memeluk erat Sang kekasih seolah takut wanita itu akan pergi atau menghilang dari sisinya. Sesekali dikecupnya pucuk kepala Sang kekasih dengan mesra.
" Sayang, aku ingin kita menikah secepatnya. Aku tak bisa tahan jika harus menunggu lama. Aku tak ingin kita berdua terjerumus pada godaan cinta yang berlumpur dosa."
" Pernikahan yang bagaimana, pangeran. Aku adalah wanita yang sudah pernah bersuami. Kau tahu benar akan hal itu. Bukannya aku tak ingin bersamamu dirimu. Tapi restu belum kudapat, apalagi kini... aku yakin sekali, jika sekarang ayahmu akan semakin membenciku."
" Aku tak peduli walaupun beribu ataupun berjuta orang seperti Raja Haizzar akan menentang kita, aku akan tetap memilihmu, sayang."
" Tapi bukan itu saja yang membuat aku ragu, pangeran."
" Apa lagi, sayang. Dengar! aku menerima apapun keadaanmu. Aku hanya butuh dirimu. Kehadiranmu di sisiku. Karena aku sangat mencintaimu. Kau dengar, aku sangat menyayangimu, ratuku." Asmi tercekat mendengar segala ucapan Hasyeem.
__ADS_1
Dia menatap lelaki itu dengan tatapan yang dalam. Mencoba mencari kebohongan dimata coklat terang yang sangat indah itu. Namun, di sana hanya ada cinta untuknya. Tatapan penuh damba padanya.
" Tapi aku tak bisa memberimu keturunan, pangeran." jawabnya pilu.
" Aku tahu, tapi kau belum mencobanya denganku, kan? " senyum nakal Sang pangeran terukir di wajahnya yang tampan itu.
" Kau.... aah. Kau mesum sekali! "
" Kenapa,... benarkan. Kamu belum pernah merasakan menikah dengan lelaki dari bangsa jin. Siapa tahu, denganku kau akan memiliki puluhan atau ratusan anak. Mengapa hal seperti itu masih saja kau risaukan. Aku akan menghamili dan memberimu anak berapapun yang kamu inginkan. Akan kupastikan itu.., sayang!"
Wajah Asmi sontak merona merah. Ucapan absurd Sang pangeran membuat dia merasa malu.
" mengapa kamu bicara seperti itu. Kamu membuatku malu! "
" Mengapa mesti malu. Itu benar, sayang. percayalah, aku bisa memberimu keturunan. Kita akan melakukannya bersama." Selesai berkata demikian, Pangeran Hasyeem me****t bibir seksi Asmi dengan penuh nafsu.
" Kau milikku, sayang!" bisiknya sambil kedua tangannya bermain di antara dua gundukan kenyal milik Asmi.
" Hasyeem,.... akh.... Hasyeem!" Asmi memejamkan matanya. Menikmati sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh kekasih tampannya.
Keduanya semakin lupa diri. Tubuh Asmi sudah tak tertutup sehelai kainpun. Dia semakin mabuk, hanyut terbuai oleh alunan gelora cinta pangeran Hasyeem, hingga suatu ketika.....
Pangeran Hasyeem menghentikan kegiatannya tepat ketika tangannya menyentuh organ intim Asmi yang sudah basah oleh cairan kewanitaannya.
" Mengapa.... mengapa berhenti, pangeran?"
" Tidak, ini salah, sayang. Maafkan aku. Aku harusnya bisa menjagamu. Kita akan melakukannya dengan cara halal, sayang." Pangeran mengecup pucuk kepala Asmi dengan sayang. Dia memakaikan kembali pakaian Asmi yang tadi dia lepaskan dengan penuh nafsu.
Berikutnya, Pangeran Hasyeem melesat pergi meninggalkan Asmi yang termangu sendiri.
" Apakah dia tak menginginkan aku? mengapa dia pergi meninggalkan aku?"
...----...
Pangeran Hasyeem pergi menemui Ki Anom. Dia ingin membicarakan sesuatu dengan sesepuh kampung Raden itu. Lelaki paruh baya yang terkenal bijak itu pasti bisa memberikan solusi dan saran padanya.
" Assalamu'alaikum, ki Anom! " sapa Sang pangeran.
" waalaikum salam, masuklah Pangeran!" jawab lelaki itu. Pangeran Hasyeem mengambil tempat duduk di hadapan ki Anom. Ki Anom menatap wajah Tuannya yang tampak muram. Netra kelam lelaki tua itu tajam menembus bola coklat terang nan tajam, setajam mata elang di hadapannya ini.
__ADS_1
" Aku ingin meminta pendapatmu, ki."
" Dengan senang hati, Tuanku. Jika pendapat orang tua ini sungguh berarti bagi pangeran, maka aku akan memberikannya padamu, tuanku. " jawab Laki-laki itu
"Aku ingin menikahinya, Ki."
Lelaki tua itu menarik nafas dalam. Kini dia faham penyebab kegundahan di hati tuannya.
" Apa tuanku sudah mantap untuk memilihnya sebagai pendamping hidup?"
" Iya, Ki. Aku sangat mencintainya. Banyak cobaan dan godaan yang sudah kami lewati bersama. Terakhir aku bahkan nyaris kehilangannya."
" Apakah anda sudah siap dengan konsekuensinya, tuan?"
" Apapun akan aku terima dan aku hadapi. Aku tak bisa lagi, menunda keinginanku, Ki."
" termasuk amarah dari paduka raja Haizzar? "
" apapun itu, Ki. Aku sudah memikirkan semuanya."
"Apa tuanku juga sudah memikirkan apa saja yang bisa menimpa tuan putri Asmi, jika tuanku meneruskan keinginan tuan untuk menikah dengan tuan putri asmi ? "
Pangeran Hasyeem sejenak terdiam. Apakah dia sudah berfikir ke arah sana. Apa yang akan terjadi pada Asmi jika mereka nekat untuk menikah saat ini.
" Menurut ki Anom, hal buruk apa yang bakal menimpa kekasihku, jika kami nekat untuk melangsungkan pernikahan kami? "
" bisa saja Raja Haizzar akan murka dan memerintahkan pengawalnya untuk menghabisi tuanku putri Asmi dengan atau tanpa sepengetahuan tuanku."
Pangeran Hasyeem terdiam. Hatinya berdebar - debar hebat. Apakah ki Anom bersungguh-sungguh dengan segala perkataannya.
" apa menurutmu, ayahku akan sanggup melakukan hal itu? "
Lelaki paruh baya itu menatap tuannya dengan tatapan tajam.
" Tuanku tentu belum lupa apa yang telah Raja Haizzar lakukan pada tuanku dan tuan putri Asmi baru - baru ini? "
Pangeran Hasyeem menarik nafas dalam. Dia faham akan maksud ucapan ki Anom.
" Jadi bagaimana menurutmu, Ki. Apa yang harus aku lakukan?" tanya pangeran Hasyeem. Pikirannya kalut dan bingung.
__ADS_1
" Sebaiknya tuanku harus bersabar sedikit lagi untuk melunakkan hati paduka raja Haizzar. Hamba yakin, pada akhirnya akan ada jalan bagi kalian untuk bersama, jika memang kalian di takdir kan untuk berjodoh."
Pangeran Hasyeem kembali menarik nafas dalam - dalam. Mengapa dia punya firasat bahwa ini tidaklah semudah dia membalikkan telapak tangan.