
Hati Asmi berbunga-bunga, senang rasanya karena Pangeran Hasyeem menepati janjinya dengan datang ke rumah Asmi dan melamarnya di hadapan keluarganya.
Mas Ardi, sebagai orang yang paling tua dalam keluarganya, menerima lamaran Pangeran jin yang tampan itu dan selanjutnya meminta agar kekasih hatinya itu datang bersama orangtuanya seminggu dari sekarang untuk melamar Asmi secara resmi.
Antara senang dan bingung rasanya mendengar hal itu, lantaran Asmi tahu dengan pasti bagaimana ayahandanya Pangeran Hasyeem yaitu Raja Haizzar tidak merestui hubungan mereka. Jadi bagaimana bisa Pangeran Jin meminta kepada Sang ayah untuk datang melamar Asmi.
Asmi pusing jika harus mengingat masalah itu. Dia mencoba untuk memejamkan matanya, namun mata Asmi masih saja tak mau diajak kompromi.
" Huh, masalah lamaran bikin aku susah tidur aja! " katanya gusar.
Kesal Asmi disaat semua orang sudah lelap tertidur, tetapi matanya masih saja betah berlama-lama terjaga karena hati yang risau memikirkan bagaimana caranya agar Pangeran Hasyeem bisa datang bersama orang tuanya.
" Kamu belum tidur sayang? "
Sebuah bisikan lembut hadir menggoda di telinga Asmi. Asmi sudah hafal sekali pemilik suara menggoda itu. Asmi mendengus kesal.
" Dan kamu masih saja berkeliaran di rumah seorang janda tengah malam begini? " balas Asmi tak mau kalah.
" Hmm, aku sedang berjaga-jaga kalau - kalau nanti ada yang mau membawa lari ratuku lagi, bagaimana?" katanya. Asmi tersenyum geli mendengar ucapan kekasih jinnya itu.
" Hasyeem, ..." rengek Asmi manja. " Sini, dong! "
Entah mengapa sejak dirinya dinyatakan hamil, sifat manjanya kayaknya sudah melebihi batas ambang wajar. Sedikit - sedikit di bawa baper, sensitif dan moodnya sering banget berubah - ubah.
Bluss... Pangeran jin yang tampan itu akhirnya memunculkan diri juga di hadapan Asmi .
"Ada apa? Ratuku, belum tidur?" tanya Pangeran Hasyeem lembut sambil mengusap rambut wanitanya sayang.
" Aku nggak bisa tidur, lagi!" serunya.
" Kok nggak bisa tidur.. ini sudah malam, sayang. Kamu lagi mikirin, apa sih?" tanya sang Pangeran.
" Sebenarnya aku sedang memikirkan sesuatu, aku bingung dan pusing memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah ini, karena itulah aku tak bisa tidur! "
" Masalah yang mana? lamaran? kan sudah... yang mana lagi sayang, hm? Pangeran Hasyeem memandang wajah kekasihnya.
" Aku sedang memikirkan tentang kita!"
asmi membuang pandangan.
" Sayang, kamu jangan mikir yang macam - macam tentang aku. Aku tak pernah berbuat serong ataupun berkhianat. Aku sudah buktikan janjiku untuk melamar dirimu di depan keluargamu. Jadi jangan pernah berpikir buat ninggalin aku lagi? " seru Pangeran dengan panik.
" issh, bukan itu, Pangeran! aku hanya sedang mikir soal permintaan mas Ardi yang memintamu datang bersama orangtuamu. Tapi bagaimana? ayahanda paduka raja Haizzar tidak merestui hubungan kita, jadi tidak mungkin dia akan datang melamarku!" kata Asmi cemas.
Pangeran Hasyeem tersenyum. Rupanya ini yang di cemaskan oleh ratunya.
" Soal itu tak usah kamu pikirkan, sayang. Aku sudah mempersiapkannya jauh - jauh hari. Sekarang tidurlah...!" Asmi hanya menggeleng - gelengkan kepala.
" Masih belum mengantuk! " katanya.
" terus kalo belum ngantuk mau ngapain. Sayang, kamu itu sedang hamil anak kita. Tak baik ibu hamil begadang dan tidur larut.! " kata Pangeran Hasyeem mengingatkan sang kekasih kalau di perutnya ada janin mereka yang masih lemah.
Asmi menampilkan wajah cemberut saat pangeran Hasyeem mendatanginya.
Namun pangeran Hasyeem sudah tentu faham akan tabiat dari calon istrinya itu. Dengan gerakan ringan diangkatnya tubuh Asmi yang sedikit berisi dari biasanya ke dalam gendongannya lalu jlebbbs...... sepasang kekasih itu sudah berada di antara kelamnya langit malam.
" Aku akan membawa kamu jalan-jalan ke suatu tempat, mungkin setelah ini akan mengantuk dan tertidur setelahnya." kata Sang pangeran sambil memeluk erat tubuh Sang kekasih.
Tubuh Asmi seolah - olah melayang dalam pelukan kekasihnya.
__ADS_1
" Mau kemana kita, pangeran? " tanya Asmi.
" Lihatlah di sana! " tunjuk pangeran Hasyeem ke bawah.
Asmi melihat ke bawah. Matanya menatap takjub pada pemandangan di bawah sana. Di tengah - tengah danau tempat biasa mereka singgah setelah lari pagi.. terbentang sebuah taman yang indah. Dan di sana tampak beberapa orang seperti sedang menari. Bahkan beberapa lagi... seperti sedang mengadakan atraksi. Bahkan juga ada transaksi jual beli di sana.
" tempat apa itu, pangeran? apakah di tengah - tengah danau itu memang terdapat sebuah taman? "
" Iya, di tengah danau ini ada sebuah taman yang indah. Dan yang kamu lihat sekarang adalah pasar malam jin."
" Pasar malam jin?" Asmi baru tahu selama hidupnya dalam dunia jin juga mengenal adanya pasar malam. ckckckck, hebatnya.....
Asmi memutuskan untuk singgah dan melihat- lihat pasar malam itu. Rasa resah dan suntuknya hilang berganti rasa penasaran yang begitu besar. Bagaimana rasanya belanja di pasar malam dunia jin.
Tentang barang yang dijual. Jangan berpikir jika kita bisa menemukan barang barang seperti yang biasa kita temui di pasar malam.
Hanya barang pecah belah, dan juga beberapa hewan peliharaan ghaib dan juga bermacam-macam jenis pusaka. Ada juga yang menjual makanan dan minuman.
Namun ada satu yang menarik perhatian Asmi. Di sana ada seorang penjual pakaian dan perhiasan wanita.
Asmi sudah tentu tahu, bahwa itu adalah perhiasan yang biasa di pakai oleh kebanyakan wanita jin di negeri Pangeran Hasyeem karena Asmi sudah pernah melihatnya.
" Kamu menyukainya? tanya Pangeran Hasyeem ketika melihat Asmi yang menyentuh dan mengamati beberapa pakaian dan perhiasan itu.
" Aku.... hmm. .. aku tak tahu. Tapi aku jadi penasaran..apakah aku pantas untuk memakainya? " Senyum Pangeran Hasyeem terbentuk ketika mendengar ucapan sang kekasih.
" Tentu saja kamu pantas memakainya. Karena itu semua di buat khusus untuk kaum wanita. Tak perduli dia bangsa manusia atau jin. Jika kamu mau, maka ambillah berapa pun yang kamu mau!" kata Pangeran Hasyeem lalu tangannya juga sibuk memilihkan beberapa perhiasan yang indah dan pas untuk sang kekasih.
" Darsyeem, kekasihku menginginkan beberapa perhiasan ini. bungkus dengan rapi dan antarkan ke istanaku! " kata Pangeran Hasyeem kepada lelaki penjual perhiasan itu.
" baik , tuanku. segera akan hamba antarkan.! " jawab lelaki yang dipanggil kasyeem itu dengan hormat dan menunduk.
Rasa kantuk kini sudah mulai menyerangnya. Beberapa kali terlihat dia menguap dan mengusap matanya.
" Kalau begitu ayo kita pulang, sayang! aku lihat kamu sudah mengantuk" ajak sang pangeran yang diangguki oleh Asmi.
Tangan sang pangeran meraih tangan mungil kekasihnya dan menggandengnya melesat terbang ke langit gelap di atas sana yang kini sudah mulai di tutupi awan putih pertanda sebentar lagi akan turun hujan deras yang disertai badai.
...----...
Tahap renovasi rumah Asmi berjalan lancar dan kini hampir rampung. Sesuai permintaan mas Ardi, kakak sulung Asmi. Pangeran Hasyeem akan datang malam ini untuk melamar Asmi secara resmi dengan disertai oleh kedua orangtuanya.
Sedari sore tadi, terlihat beberapa kesibukan di rumah Asmi. Tetangga di sekitar ada juga yang turut membantu. Maklum saja nanti malam akan ada tamu spesial dari keluarga pangeran Hasyeem akan datang bertamu dan melamar Asmi secara resmi.
" Dek, Kekasihmu jadikan datang nanti malam?" Mbak Nur kembali bertanya pada Asmi untuk memastikan bahwa pangeran Hasyeem akan datang untuk melamar Asmi.
" Ohh... iya, mbak. Jadi! " kata Asmi.
" Mbak tadi sudah pesan kue dan juga beberapa makanan untuk menyambut tamu kita itu! " kata kakak iparnya itu lagi.
" Makasih, ya mbak. sudah repot- repot mau mempersiapkan semua buat Asmi."
" Huss, kamu itu seperti dengan orang lain saja! " kata mbak Nur. Wanita itu terlihat sudah cantik dan rapi. Ditambah dengan kalung Emas pemberian Asmi yang melingkar di lehernya, membuat istri kakaknya itu tampil menawan.
Pukul 08.00 malam tamu yang di tunggu datang juga akhirnya. Pangeran Hasyeem yang datang bersama ibunda Ratu Kalina dan juga Ki Anom dan beberapa anggota keluarga yang lain turut hadir dalam acara lamaran itu.
Mas Ardi dan juga mbak Nur yang menyambut kedatangan keluarga Pangeran Hasyeem mempersilahkan rombongan pihak keluarga Pangeran Hasyeem untuk masuk ke rumah. Mereka memilih tempat duduk di lantai yang bergelar tikar permadani yang luas di ruangan tamu rumah asmi.
Pangeran Hasyeem memilih tempat duduk di sebelah Asmi yang malam ini kelihatan sangat cantik dengan baju kebaya modern warna toska dengan leher Sabrina.
__ADS_1
Keluarga Asmi sangat terpesona dengan paras pangeran Hasyeem yang tampan. Baru kali ini, semua keluarga dapat melihat dengan jelas raut wajah sang pangeran, termasuk Mirna.
" Calon suami Asmi ganteng sekali, ya !" bisik istri pak Taufik disaat mereka mengintip dari balik gorden di dapur.
Beberapa orang tetangga yang ikut datang untuk membantu keluarga Asmi menyiapkan acara lamaran sangat kagum dengan ketampanan pangeran Hasyeem.
" Beruntung sekali Asmi, diceraikan si Ilham dapat yang lebih ganteng. Dengar - dengar juga tajir." kata Jumirah. Tetangga yang lain manggut - manggut mendengar cerita Jumirah.
Ibunda Ratu Kalina yang mulai membuka pembicaraan. Beliau memulai memperkenalkan diri dan semua anggota keluarganya pada keluarga Asmi yang hadir menyaksikan lamaran itu.
" Saya adalah Kalina, ibu dari Hasyeem. Dan ini yang di sebelah saya adalah pamannya Hasyeem dan juga tetua adat kami Ki Anom. Kami adalah keluarga Hasyeem. dan untuk ayahnya Hasyeem, kami mohon maaf karena beliau sedang ada urusan ke luar negeri. Beliau hanya titip doa saja untuk anaknya agar dilancarkan dalam urusan lamaran ini" Sejenak Ratu Kalina mengambil nafas untuk kemudian kembali berucap.
" Kedatangan kami ke sini adalah untuk menyambung tali silaturahmi antara dua keluarga. Anak - anak kita sudah lama saling mengenal dan menjalin hubungan.
Mereka juga sudah saling mengenal sifat dan karakter satu sama lain. Untuk itulah kami rasa sebaiknya kita tak perlu menunda - nunda waktu lagi untuk hal baik seperti ini. lebih cepat tentunya akan lebih baik. Maka dari itu kami bermaksud untuk meminang Asmi secara resmi untuk anak kami Hasyeem.! " Semua yang hadir menatap ke arah Ratu Kalina. Ratu cantik itu tampak sekali kharismanya walaupun di balut pakaian biasa seperti manusia pada umumnya, namun aura agungnya tidaklah hilang.
" Kami senang dan bahagia atas niat baik dari keluarga Hasyeem. Dan kami menerima dengan senang hati apa yang telah menjadi niat baik dari Hasyeem. Kami hanya berharap, semoga ini akan menjadi pernikahan yang terakhir kalinya untuk saudara kami." jawab Mas Ardi dengan bijak.
Keluarga Hasyeem merasa lega karena lamaran Hasyeem diterima oleh pihak keluarga Asmi.
Hati Asmi juga merasa sangat bahagia. Senyumnya terpampang lebar, selebar bahu bidang Pangeran Hasyeem yang kini sedang duduk di samping Asmi. Tangan lelaki berwajah tampan itu menggenggam erat jemari tangan kekasihnya.
Sedari tadi, sebenar dia sudah tak sabar untuk memeluk dan menerkam kekasihnya yang cantik molek bakal bidadari, namun karena di sana ada keluarga Asmi, terutama mas Ardi, maka dia menahan semua itu.
" Kamu cantik sekali, sayang. " bisik Pangeran Hasyeem curi - curi, sekedar hanya untuk memuji kecantikan calon ibu dari anaknya. Wajah Asmi bersemu merah mendengar pujian Hasyeem.
" Jadi, apakah kita juga akan menetapkan hari baiknya sekarang juga?" tanya Mas Ardi kemudian. Semuanya mengangguk setuju.
" Baiklah, bagaimana jika kami meminta seminggu dari sekarang waktu pernikahan anak- anak? dan mengenai biaya pernikahan kami yang akan menanggung semuanya, termasuk mahar untuk Asmi. Tidak usah pesta yang mewah dan berlebihan, sederhana saja, intinya asalkan mereka berdua sah ." tanya Ratu Kalina.
Mas Ardi tampak sedikit terkejut akan permintaan dari pihak keluarga Hasyeem. Namun, dia kemudian berpikir bahwa semakin cepat semakin baik urusannya. maka akhirnya dia pun setuju dengan permintaan itu.
" Baiklah, saya rasa kami setuju. Toh, makin cepat makin baik. Agar tidak terjadi fitnah. Jadi seminggu dari sekarang waktu pernikahan Asmi dan saudara Hasyeem." kata Mas Ardi.
Setelah terjadi kesepakatan tentang acara pernikahan antara Asmi dan Hasyeem, maka pihak keluarga Pangeran Hasyeem mohon diri setelah memberikan sebuah amplop besar yang berisi uang untuk biaya pernikahan Asmi dan sebuah bokor yang tertutup kain sutera.
Sepeninggalnya keluarga Pangeran Hasyeem, keluarga Asmi maju berembuk mendekati Mas Ardi dan mbak Nur.
Mereka meminta Mas Ardi untuk membuka isi amplop dan juga isi bokor yang bertutup kain sutra.
Saat Masih Ardi membuka isi amplop tersebut, tangannya bergetar. Seumur hidup dia tak pernah memegang uang sebanyak itu.
" Dek,.... tadi pihak suamimu bilang, mau pesta yang sederhana saja. Cukup tetangga terdekat saja yang di undang, tapi ini kok ngasih uangnya banyak sekali?" kata Mas Ardi bingung.
" Iya, maksud ibunya Hasyeem, Mas. kita nggak usah terlalu repot buat ngadain pesta yang ribet, Asmi mau pesta yang sederhana saja, sesuai permintaan Asmi. Sisanya bisa dipakai untuk keperluan yang lain. Karena bagi Asmi yang juga sudah pernah ngalamin yang namanya berumah tangga, semua itu tak ada artinya. Buat apa ngadain pesta yang meriah, ujung - ujungnya juga di ceraikan." kata Asmi ngenes.
" Ya, sudahlah. Kalau itu yang terbaik. Mas ikut saja. Terus ini bokor seserahan dari pihak calon suamimu. Mungkin seperti ini adatnya dalam mengirim seserahan untuk calon istri. Coba buka, mah! " Mas Ardi menyuruh istrinya untuk membuka tutup bokor tersebut.
Setelah di buka, mereka semua yang hadir di ruang tamu itu dibuat terkejut. Isi bokor itu adalah bermacam-macam perhiasan yang terbuat dari emas dan intan memenuhi isi bokor itu.
" Asmi.... ya Allah. kita bakalan kaya, mas. Lihatlah itu seserahan buat adikmu isinya emas dan intan satu bokor.! " seru Mbak Nur.
Mas Ardi terdiam tak percaya, pun juga Mirna dan suaminya yang dari tadi hanya diam mengikuti semuanya.
" Asmi, katakan dengan sejujurnya, siapa calon suamimu, dek! " lelaki bertubuh tinggi kurus itu bertanya pada adiknya dengan pandangan tajam.
Asmi tertegun mendengar pertanyaan dari kakaknya. Bingung dan tak tahu harus menjawab apa.??????
.
__ADS_1