Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 132 Aluna di Serang


__ADS_3

" Maaf , aku tak punya telepon!" Luna menggelengkan kepalanya saat menanggapi permintaan Panji.


Seumur hidupnya dia tak pernah punya telepon. Dia dan Alyan ataupun yang lainnya berkomunikasi jarak jauh hanya menggunakan Ajian Ilmu Sepih Angin.


Di negerinya, dia dan teman-temannya tak mengenal alat komunikasi seperti yang ditunjukkan oleh Panji barusan.


Panji bengong, Luna bingung. ?????


-


Hari ini peringatan seratus hari meninggalnya Amirah, ibu Aluna. Nenek Aluna, Bu Endang mengadakan acara tahlilan dan mengundang semua warga untuk datang guna ikut mendoakan almarhum ibunda Luna.


Sementara itu Alyan yang teringat akan Luna secara diam-diam pernñgi menemui gadis itu.


Luna yang saat itu sedang sibuk membantu sang nenek, tidak menyadari kedatangan Alyan.


" Luna, tolong siapkan piring yang di sana, isi dengan kue - kue serta jajanan ini, ya sayang! " perintah neneknya.


" Baik, nek! " jawab Luna. Segera Luna mengambil piring dan memasukkan beberapa potong kue dan jajanan ke dalam setiap piring.


Alyan berniat ingin memberi kejutan untuk Luna. Sehingga sengaja dia hadir dengan tidak menampakkan wujudnya.


" Sini, aku bantu, Luna! " Panji datang dengan tiba-tiba.


Alyan yang ingin menampakkan dirinya, menjadi urung. Dia kembali lagi menyembunyikan diri memperhatikan kedua insan yang berlainan Jenis itu dengan sembunyi-sembunyi.


" Tidak , tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri! " kata Aluna.


"Mengapa kamu terkesan menghindar dan memilih menutup diri. Apa kamu masih bersedih atas kepergian ibumu? "


Luna hanya diam, sambil tangannya sibuk menata kue - kue di atas piring.


" Luna,... kamu bisa bercerita padaku. Keluarkan saja keluh kesahmu. Aku siap menjadi pendengar setiamu! " kata Panji.


Luna masih saja terdiam. Dia menghela nafas dalam. Lalu berkata.


" Tidak, aku tidak menghindar. Aku hanya tidak terlalu suka keramaian. Di tempatku berada, kami hidup di tempat tertutup dan tersembunyi. Jauh dari keramaian. Jadi maaf, jika sikapku terkesan tertutup." kata gadis itu.


" Luna, maaf. Mungkin ini terlalu pribadi. Tapi jika aku boleh tahu, apa kamu sudah memiliki seorang kekasih? " tanya Panji terus terang.


Memang Panji adalah lelaki yang suka berterus terang dan hangat. Kepribadiannya sederhana dan sholeh. Walaupun hidup di tengah-tengah kemodernan zaman, tetapi tak mengubah cara hidupnya yang bersahaja dan sederhana.


" Iya, aku susah memiliki seorang kekasih. Aku sangat mengagumi kepribadian dan juga sikapnya." kata Luna berterus terang.


Mendengar pengakuan Luna, senyum di wajah Alyan langsung terbit.

__ADS_1


" Tapi akhir - akhir ini kami jarang bertemu. Mungkin dia sedang sibuk." kata Aluna sambil menunduk sedih.


Tenggorokan Alyan terasa tercekat. Dia merasa tersentil akan perkataan Aluna. Memang, akhir - akhir ini dia jarang menemui Aluna. Padahal seharusnya dia berada di sisi gadis itu. Gadis itu sedang terpuruk dan bersedih, mengapa dia tak menyadari bahwa Aluna pastilah merasa sedih dan kesepian. Dia butuh dukungan dan dihibur. Dan Alyan melupakan hal itu.


Sementara itu, Panji menelan kekecewaan dan rasa sedihnya di hati. Dia berharap Aluna belum memiliki seorang kekasih. Tetapi harapannya ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Luna ternyata sudah memiliki seorang kekasih.


" Sudahlah, jangan bersedih. Mungkin saja sekarang kekasihmu sedang ada urusan yang penting. Kamu bisa datang padaku, jika sedang bersedih. Aku akan selalu ada untukmu! " kata Panji sambil merangkul pundak Luna. Luna menunduk sambil terisak sedih.


Wajah Alyan mengeras. Berani sekali dia menyentuh Aluna.


" Ehhemm! " Alyan muncul di hadapan keduanya. Panji tampak kaget melihat kehadiran Alyan. Berbeda halnya dengan Luna. Dia tampak biasa saja.


" Kamu, siisiapa? " tanya Panji dengan ekspresi heran. Mengapa tiba-tiba saja pemuda ini sudah ada di hadapan mereka.


" Dia Pangeran....eh..maksudku, Alyan. Dia kekasihku! " jawab Luna.


" Alyan, kenalkan ini Panji. Dia dan aku baru saja berteman." kata Luna. Alyan mengulurkan tangannya ke arah Panji.


" Panji! " ucap Panji seraya menerima uluran tangan Alyan.


" Maaf, aku datang terlambat. Aku dan keluargaku ada sedikit urusan keluarga yang harus dikerjakan."


Wajah Aluna terangkat ke atas, saat mendengar Alyan menyebut keluarga.


" Apa yang terjadi. Apakah ibumu baik - baik saja? " tanya Aluna.


Aluna menarik nafas lega. " Syukurlah..!" jawabnya lega.


" Hah, ... apa? Putri Arryan mau bersekolah di negeri manusia? " Luna terlonjak kaget, saat menyadari kata - kata Alyan yang terakhir. Dia tak menyangka kalau putri Arryan akan memilih tinggal di dunia manusia


Sedangkan Panji mengeryitkan alis, tanda bingung akan maksud ucapan Luna.


" Arryan sendiri yang meminta kepada ayah dan ibuku. Dia ingin belajar ilmu kedokteran di negeri ini." jelas Alyan pada Aluna.


Aluna manggut - manggut mendengar penjelasan dari Alyan. Dia tak menyangka putri Arryan memilih untuk tinggal dan bersekolah di negeri manusia.


Sedangkan dia sendiri yang murni berdarah manusia, lebih menyukai tinggal di negeri jin yang sedikit terbelakang oleh peradaban dunia namun tenang dan damai.


Sedangkan Panji, pemuda itu tampak bingung dengan semua pembicaraan antara Aluna dan Alyan. Memangnya mereka tinggal di dunia mana? pikir Panji.


"Sepertinya acara akan segera di mulai. Ayo kita bergabung bersama mereka! " ajak Alyan pada Panji dan Luna.


Ketiganya lalu bersama-sama melangkah ke depan. Mereka bergabung bersama keluarga yang lain ikut membacakan tahlil dan doa bagi almarhum ibunya Luna.


Asmi dan suaminya sudah kembali ke istana Bukit Malaikat. Sebenarnya Mas Ardi keberatan Asmi dan suaminya memutuskan pulang secepat itu. Dia masih ingin berkumpul bersama saudara - saudaranya terutama Asmi. Namun, karena Asmi bersikukuh ingin cepat kembali, maka. Mas Ardi tidak bisa berbuat apa- apa.

__ADS_1


Nama, Azzura masih berada di rumah Uwaknya. Pemuda bartampang baby face itu terlihat sedang menikmati sebuah hobi baru, bermain game.


Bersama Bahri, sepupunya, keduanya sekarang asyik bermain game.


" Yah,..... Bahri ada musuh di arah jam 5, kamu maju aku yang coverin kamu! " keduanya sibuk berteriak mengomentari dan memberi petunjuk. Kadang, kalo lagi khilap, kata - kata kebun binatang pun terasa lolos, terlontar keluar dari mulut keduanya. Hadeeuuhhh......


-


-


-


" Luna, jangan tidur. Konsentrasi dan waspada!" sebuah bisikan yang sudah sangat dikenal Luna sampai ke telinganya.


Saat ini Luna masih berada di rumah neneknya. Sang nenek yang masih rindu memintanya untuk tinggal barang beberapa hari lagi.


Jadilah sekarang Luna tinggal dan menetap di desa Babakan, di rumah Sang nenek untuk beberapa hari ke depan.


Segera Luna beranjak bangun dan mencoba untuk berkonsentrasi. Dia mengeluarkan Ajian Sepih Angin miliknya dan mulai menganalisa keadaan sekelilingnya.


" Pangeran Alyan, kamu di mana? " tanya gadis itu.


" Aku sudah di sini, Luna. Dekat dengan rumah nenekmu. Aku tadi sempat melihat sesuatu bergerak ke arah sini. Lalu aku mengikutinya. Waspadalah, jangan lengah..! "


Baru saja Pangeran Alyan berkata demikian, sebuah bayangan menerobos masuk melalui dinding kamar yang ditempati Aluna.


" Pangeran Alyan..! ada sebuah bayangan hitam tinggi besar, masuk ke kamarku! " kata Luna.


" Kamu di mana, Luna? "


" Aku sedang bersembunyi di samping lemari. Cepatlah datang ke sini, Pangeran!" bisik Luna.


Bayangan hitam itu kini berubah menjadi sesosok makhluk yang mirip dengan makhluk yang menyerang almarhum ibunya dulu.


" Pangeran, makhluk itu...bayangan hitam itu berubah menjadi makhluk itu. Makhluk yang sama yang menyerang ibuku.! " seru Luna panik.


" Luna, segera keluar dari rumah itu, sekarang! " kata Alyan.


" Tak bisa, Pangeran. Bagaimana jika makhluk itu menyerang nenekku? "


Tepat pada saat itu, makhluk itu memergoki keberadaan Luna. Tak ayal, makhluk itu menyerang Luna tanpa ampun dan membabi buta.


" Pangeran.... makhluk itu menyerangku! " seru Luna yang kini bergerak menghindari serangan makhluk itu.


Alyan segera melesat cepat memasuki kamar Luna.

__ADS_1


" Luna, kemarilah. Berlindung di belakangku! " seru Pangeran Alyan sambil bersiap menghunus pedangnya.


Mata makhluk itu nyalang menatap Aluna dan Alyan.


__ADS_2