Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 65 Melamar Asmi


__ADS_3

Pangeran Hasyeem membawa Asmi ke istananya di Bukit Malaikat. Sengaja dia membawa Asmi ke istananya, karena dia takut jika Asmi akan di sakiti lagi oleh Pak Panca dan sekutunya Nyi Darsih, murid dari penguasa Hutan larangan.


Sedangkan tubuh Ilham, lelaki itu ternyata ,masih hidup. Rupanya Tuhan masih teramat sayang dengan nyawanya. Walaupun sekarat dengan tubuh yang terluka parah dan banyak kehilangan darah, namun lelaki yang merupakan mantan suami Asmi itu masih mampu bertahan hidup.


Pangeran Hasyeem membawa tubuh Ilham ke kediaman Ki Anom. Lelaki itu sangat paham tentang ilmu pengobatan. Dengan pengetahuan dan kekuatan tenaga dalamnya, lelaki paruh baya yang terlihat sangat berkharisma itu akhirnya mampu mengobati luka di tubuh Ilham yang terluka cukup parah akibat tikaman pisau belati Pak Panca.


Udara pagi yang masuk lewat celah dinding kamar pangeran Hasyeem yang terbuat dari marmer dan batu alam membangunkan seorang wanita cantik bertubuh sintal. Tubuh itu terbalut baju tidur sutera dan terbungkus sehelai selimut yang juga dari bahan yang sama. Dia menggeliat ketika semilir dingin udara pagi menembus halus kulitnya yang halus.


" Brrrr, kenapa udara di sini sangat dingin sekali."


Karena merasakan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang dan membuat tubuhnya menggigil, wanita itu jadi enggan untuk bangun dari tidurnya.


Ujung-ujungnya, dia kembali menarik selimut yang berada di bawah kakinya dan kembali meringkuk di atas pembaringan.


Dia tak sadar, sepasang mata elang memperhatikan seluruh tingkah lakunya dengan pandangan gemas. Dia lalu berjalan mendekati tempat tidur sang wanita dan berdiri tepat di sisinya.


Perlahan tangan kekarnya terangkat ke atas. Secara ajaib, tubuh wanita di atas pembaringan itu secara perlahan juga terangkat naik ke atas. Dan berakhir dalam pelukan lelaki itu.


Dalam pelukan Pangeran Hasyeem, tubuh Asmi melayang bersama menuju balkon istana. Asmi membuka matanya karena merasa matanya sedikit silau oleh cahaya matahari yang menyapa matanya.


"Sayang, bangunlah, kamu harus melihat ini!" bisik Sang Pangeran.


Mata Asmi mengerjap dan beredarlah pandangannya ke arah yang di tunjukkan oleh Pangeran Hasyeem.


" Aih, indahnya! Aku baru tau, kalau pemandangan di sini sangat indah!" seru Asmi dengan kagum. Serta merta dia minta diturunkan dari gendongan kokoh tangan Sang kekasih.


" Aku sengaja memerintahkan untuk membuat taman itu. Agar ratuku kelak betah tinggal di istanaku." kata Sang pangeran seraya memeluk tubuh Asmi dan mendaratkan sebuah kecupan di bahu wanita cantik itu.


"Cantik sekali, aku menyukainya. Terima kasih." Asmi terharu dengan apa yang telah lakukan untuknya. Lelaki di hadapannya ini tak lelah untuk selalu menjaga dan melindunginya, serta memperjuangkan cintanya.


Sedangkan Asmi, dia bahkan sudah hampir menyerah dan memilih untuk mencoba berlari dari kenyataan bahwa dia sangat mencintai kekasih yang berasal dari bangsa jin.

__ADS_1


Asmi menundukkan wajahnya. Seakan tahu apa isi hati kekasihnya, Pangeran tampan pemilik rambut panjang berwarna keemasan itu membalikkan tubuh Asmi menghadapnya, sehingga kini posisi keduanya saling berhadapan.


Jarak mereka sangat dekat sehingga Asmi dapat merasakan hangat napas Hasyeem di Wajahnya.


Asmi mendongakkan wajahnya sehingga kini dia bisa menatap sepuasnya wajah lelaki tampan penguasa hati Asmi.


Menatap wajah cantik Asmi membuat pangeran Hasyeem jadi lepas kendali. Ditariknya tengkuk Asmi agar lebih dekat, lalu mencium bibir mungil Asmi dengan penuh gairah. Sebelah tangannya yang lain bergerak meremas kedua gunung kenyal milik Asmi sehingga suara ******* lolos dari mulut Asmi.


" Dengarkan aku, Kau kekasihku. Jangan--- pernah berpikiran untuk pergi dari sisiku. Seorang kekasih tempatnya di sisi kekasihnya. Kau tahu, aku tak akan sanggup untuk berpisah darimu walaupun sekejap saja." bisik Sang Pangeran disela - sela deru nafasnya yang semakin memburu. Asmi


"Aku takut, Pangeran. Aku takut jika ayahanda pangeran akan menghukum pangeran dengan hukuman yang lebih berat jika pangeran masih saja berhubungan denganku."


" Aku tak perduli, sayang. Asalkan aku bisa terus bersamamu, apapun akan ku lakukan. Rintangan apapun akan kulalui. Jangan lagi memintaku untuk pergi dari sisimu, karena aku tak akan sanggup untuk melakukannya." Pangeran Hasyeem memeluk erat tubuh Asmi dalam dekapannya.


Asmi balas memeluk pangeran Hasyeem. Mereka saling berpelukan mencurahkan rasa cinta di hati masing-masing.


Tak lama kemudian, Asmi mengurai pelukannya. Ditatapnya wajah pangeran Hasyeem lekat.


" Ada apa, Sayang? apa yang mengganggu pikiranmu, hm? "


" Bagaimana kamu tahu, jika anak buah Pak Panca yang menculik aku?" Asmi akhirnya bertanya juga karena rasa penasaran di hatinya akan kedatangan pangeran Hasyeem di tempat itu padahal dia ingat bahwa dia tidak memanggilnya.


"Hm, sayang, Maafkan aku. Sebenarnya, saat kamu minta agar aku pergi dan menjauh dari sisimu. Sebenarnya aku tak benar-benar pergi ataupun menjauh darimu. Apalagi aku tahu, kamu dalam bahaya. Sudah sejak lama aku mencurigai Pak Panca sebagai dalang dari semua kejadian yang menimpa dirimu. Jadi saat kamu menyuruhku pergi, aku memang pergi. Tapi aku tak pernah lepas mengawasimu. Aku sengaja membiarkan mereka menangkapmu, karena aku ingin mereka membawa kamu kepada orang yang bertanggung jawab akan semua ini. Dan ternyata, benar dugaanku. Lelaki itu berada di belakang semua ini. Juga wanita yang di kirim untuk mencelakai mu. Namanya Nyi Darsih.. Dia penganut ilmu Hitam murid dari penguasa Hutan Larangan. Pak Panca-lah orang yang telah mengupah Nyi Darsih untuk mencelakakan kamu waktu itu." kata Pangeran Hasyeem panjang lebar menjelaskan semuanya kepada Asmi.


Asmi menghela nafas panjang. Terjawab sudah semua teka - teki yang selalu menghantui benak Asmi.Semua ini ternyata berawal dari pernikahan dia dengan Ilham. Walaupun pernikahan itu terjadi hanya sesaat, namun telah menyeretnya ke dalam sebuah dendam.


Ilham, lelaki dengan segala dosa dari masa lalu, perbuatannya menyebabkan seorang Asmi harus ikut terbawa dalam lingkaran dendam seorang ayah yang memiliki penyesalan dan amarah kepada Sang putri. Sungguh semua yang terjadi adalah di luar kehendak Asmi.


Namun Asmi sempat bergidik ngeri saat dia teringat kembali dengan peristiwa kemarin. Andai Pangeran Hasyeem tak datang tepat waktu, mungkin dia sudah tinggal nama saja. Mati dengan cara yang menggemaskan, diperkosa beramai-ramai sebelum akhirnya dibunuh oleh orang suruhan Pak Panca. Lelaki separuh bayar itu adalah orang yang kejam. Asmi melihat sendiri bukti kekejamannya terhadap Ilham, mantan suaminya.


Lantas, ngomong - ngomong soal Ilham, Asmi jadi teringat dengan lelaki yang pernah menjadi suaminya itu.

__ADS_1


" Pangeran, Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?" tanya Asmi. Dia ragu - ragu untuk bertanya kepada Sang Pangeran karena takut Sang Pangeran jadi salah faham.


" Apa, sayang. Apa lagi yang ingin kamu tanyakan, hm ?" tanya Sang Pangeran.


" Di mana kamu meletakkan mayat mas Ilham, Pangeran? "


Rupanya Asmi belum tahu jika Pangeran Hasyeem berhasil menyelamatkan Ilham dan sekarang lelaki itu sedang berada di rumah Ki Anom.


"hm, sayang. mantan suami kamu itu belum lagi mati, kamu sudah menanyakan dimana mayatnya." jawab Pangeran Hasyeem sambil tersenyum menggoda. Asmi terkejut dengan ucapan Pangeran Hasyeem. Apa benar yang dikatakan oleh kekasihnya ini.


"benarkah! Mas Ilham tidak jadi mati.. eh maksudnya selamat dari kematian.?" Asmi meraih lengan lelaki itu. Ingin memastikan bahwa lelaki itu tidak sedang bercanda untuk menggoda dirinya.


Walau sejahat apa pun perlakuan Ilham pada Asmi di masa lalu, namun sebagai manusia Asmi masih tetap memiliki rasa empati dan belas kasih terhadap lelaki yang dulu pernah bergelar 'suami' bagi Asmi.


Pangeran Hasyeem tertawa terbahak- bahak melihat raut wajah Asmi.


" Hahahaha, lucu sekali raut wajahmu, sayang. Apa kamu takut jika aku cemburu, padamu? "


" Eh, iya. Kamu tidak marah, kan? jika aku sedikit mencemaskan mas Ilham.Aku hanya kasihan dengan anak dan istrinya." jawab Asmi.


" Tidak, aku tidak akan marah atau cemburu.. Aku tahu, cinta di hatimu hanya untukku saja kan, sayang."


Asmi mengangguk yakin membenarkan ucapan pangeran Hasyeem. Dia memang sangat mencintai lelaki tampan dari bangsa jin itu.


Pangeran Hasyeem menatap manik mata Asmi. Wanita ini hampir saja pergi dari hidupnya. Dia tak bisa membayangkan jika dia harus hidup tanpa Asmi.


" Sayang, menikahlah denganku! Kita menikah agar aku bisa selalu berada di dekatmu tanpa takut akan terperangkap oleh indahnya godaan dosa.. Agar aku senantiasa bisa selalu melindungi dan menjagamu." kata pangeran Hasyeem dengan sorot mata yang tajam menembus relung hati Asmi hingga ke dasar.


Asmi menggelengkan kepalanya.


" tidak, aku tak ingin menikah denganmu sebelum ayahanda pangeran merestui hubungan kita. Aku tak ingin menjadi menantu yang tak di inginkan oleh kedua orang tuamu, pangeranku." jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2