Suami Keduaku Pangeran Jin

Suami Keduaku Pangeran Jin
Bab. 86 Namaku, Ammar..!


__ADS_3

"Bunuh diri membuatmu mati dalam keadaan kafir dan tidak diterima oleh langit dan bumi."


Yovan akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen mereka, setelah lelah terus menerus menghubungi istrinya namun tak di angkat dan chat nya juga tak di balas. Jangankan di balas, di baca saja tidak.


Sebenarnya sudah dari tadi dia ingin pulang dan menyusul istrinya, namun egonya sebagai lelaki melarangnya untuk melakukan.


Dia merasa bahwa dia tidak bersalah sebagai lelaki normal. Harusnya Delia lah yang harusnya lebih memahaminya. Delia selalu sibuk... dan sibuk terus dengan segala aktivitas kantornya, membuat Yovan seakan dilupakan. Apalagi ketiadaan buah hati diantara mereka hingga saat ini, membuat hidup Yovan terasa sunyi.


Kehadiran Clara yang awalnya sebagai penghangat ranjang saja, malah membuat dia semakin ketagihan hingga akhirnya semuanya berakhir kacau seperti sekarang ini.


Mau menyesal juga, sudah terjadi. Harusnya Delia itu ngaca dan intropeksi diri, bukannya malah menyalahkannya. Kata Yovan dalam hati.


Seandainya saja Delia sehangat Clara. Sudah pasti dia tak akan selingkuh. Andai saja ada anak dalam kehidupan mereka, dia pasti akan betah di rumah dan tak akan terjadi perselingkuhan. Semuanya..... andai ini, andai itu.... menjadi dasar pembelaan di dalam hati Yovan. Namun, ujung-ujungnya, tetap saja rasa bersalah itu hadir. Membuatnya memutuskan untuk mendatangi istrinya untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya.


" Delia!...... Delia! " Yovan memanggil istrinya setibanya dia di apartemen mereka.


Namun tak ada sahutan. Apartemen itu tampak sepi. Seperti tidak ada orang. Mata Yovan terarah pada pintu yang menuju ke balkon.


pintu itu terlihat terbuka. " mungkin Delia sedang di sana. " pikirnya.


Yovan segera melangkah menuju balkon. Tetapi dia heran, tak ada Delia di sana. Yang ada hanyalah botol Wine yang sudah kosong dan gelas wine yang pecah di dekat pagar pembatas balkon.


" Delia kemana, ya. Apakah dia pergi ke rumah teman kantornya? " Tapi setahu Yovan, Delia tidak memiliki teman di negeri ini. Walaupun ada teman di kantor, tetapi mereka tidak terlalu akrab. Karena sifat aslinya Delia yang sedikit tertutup dan enggan bergaul.


Mata Yovan tertuju pada handphone yang tergeletak begitu saja di atas tempat tidur mereka yang berantakan.


" ini handphone milik Delia." Yovan memeriksa handphone milik Delia. Dengan mudah dia membukanya karena memang Delia tak pernah membuat sandi apapun pada handphone miliknya.


Ada beberapa panggilan tak terjawab dan salah satunya berasal dari Yovan dan ada satu nomor asing. Juga ada chat dari Yovan dan beberapa chat dari teman dan relasinya. Semuanya belum ada yang di buka.


Yovan segera menghubungi nomor nomor teman kantor dan juga nomor relasi Delia untuk menanyakan kabar keberadaan istrinya, namun mereka semua menjawab bahwa mereka tidak tahu dimana keberadaan Delia.


Teman-teman kantor Delia mengatakan terakhir kali bertemu dengan Delia adalah sore hari saat Delia hendak ke kantor Yovan.


Yovan mengacak rambutnya prustasi. Apakah Delia pergi dari apartemen mereka karena kejadian kemarin. Apakah sebegitu besar rasa sakit hati dan kecewa Delia padanya? , hati Yovan bertanya - tanya.


" Andai saja Delia tak datang.... akhhhhh!!' Yovan berteriak kesal dan marah.


Yovan ingat, tinggal satu nomor asing itu yang belum dia hubungi. Bergegas Yovan mengambil kembali handphone Delia dan menghubungi nomor asing tersebut.


Panggilan tersambung dan alangkah terkejutnya dia, ternyata itu nomor Asmi, kakak Delia. Setelah berbasa-basi sebentar, Yovan akhirnya menutup panggilan itu.

__ADS_1


Jadi kemarin Delia mendapat telepon dari kakaknya, kata Yovan dalam hati. Itu mungkin menjelaskan mengapa Delia datang menyusulnya ke kantor, pastinya ingin memberi kejutan untuk Yovan dan ingin menceritakan tentang telepon dari kakaknya di Indonesia.


Tapi apa mungkin Delia pulang ke Indonesia. Yovan pun kemudian menghubungi temannya yang kebetulan bekerja di bandara. Untuk mengecek apakah ada penumpang atas nama istrinya yang ikut penerbangan ke Indonesia, malam ini.


Namun kata temannya, tidak ada penerbangan ke Indonesia karena kebijaksanaan pemerintah untuk menutup sementara rute penerbangan ke Indonesia disebabkan merebaknya kasus corona di negeri tersebut.


" Akhhh...... kemana kamu Delia! " teriaknya kesal. Dia tak peduli walaupun penghuni apartemen yang lain akan merasa terganggu oleh teriakannya.


Hari sudah hampir pagi. Yovan merass kesal dan lelah. Semalam dia mencari istrinya namun tidak membuahkan hasil.


Istrinya seolah - olah lenyap begitu saja dari apartemen mereka. Tanpa membawa sehelai kain atau apapun juga untuk bekal.


Lelah karena sudah kehabisan akal untuk menemukan istrinya, Yovan berjalan kembali ke balkon. Dia berdiri di pinggir balkon dan memandang ke sekelilingnya. Hanya semburat merah dilangit yang bercampur dengan warna abu-abu saja yang terlihat bersama hamparan gedung - gedung tinggi yang mencakar langit di sekitar mereka.


Mata Yovan nanar memandang sesuatu. Bodohnya.... dia melupakan CCTV yang ada di gedung ini. Tentu saja, setiap apartemen memiliki CCTV-nya. Termasuk CCTV yang ada di depannya saat ini. Benda itu terpasang tepat di ujung balkon kamarnya.


" Bodohnya aku.... mengapa aku tak kepikiran untuk mengecek CCTV, jadi aku bisa tahu aktivitas Delia di tempat ini kemarin." Bergegas Yovan pergi ke ruang keamanan gedung apartemen ini.


Di sana Yovan meminta izin kepada petugas yang berjaga-jaga untuk melihat rekaman CCTV yang terpasang di unit kamarnya untuk mencari informasi tentang jejak aktivitas istrinya dan juga keberadaannya saat ini.


Petugas itu mengizinkannya untuk melihat rekaman CCTV kemarin di kamar Yovan. Dan di sinilah sekarang Yovan berada.


Tubuh Yovan terhenyak karena Shock setelah menyaksikan rekaman CCTV dari kamar mereka. Juga petugas keamanan yang memberi izin pada Yovan. Dia tak menyangka bahwa salah satu penghuni apartemen yang dia jaga ada yang melakukan bunuh diri dengan melompat dari pagar pembatas balkon.


Ini semua salahku, andai saja dia tidak selingkuh, pasti Delia tidak akan memergokinya sedang bercinta dengan nikmat bersama Clara. Pasti Delia merasa sangat kecewa dan terpukul sekali hingga nekat bunuh diri dengan cara seperti itu. Bathin Yovan diliputi rasa bersalah dan penyesalan.


Yovan kemudian memutuskan kembali ke apartemennya. Sesampainya di sana, dia menangis meraung menyesali semuanya. Semua kebodohannya yang dengan mudahnya tergoda untuk menghianati pernikahan mereka hanya karena nafsu.


Apa nanti yang akan dia katakan pada seluruh keluarga Delia. Bagaimana cara Yovan menghadapi keluarga Delia.


Yovan sedih dan bingung. Mengapa semua harus berakhir seperti ini... sungguh dia tak menginginkan semua akan berakhir seperti ini, apalagi kematian Delia yang tragis.


...----...


Sementara itu, di suatu tempat yang jauh, seseorang baru saja tersadar dari pingsan setelah hampir satu hari dia tidak sadarkan diri. Dia bangkit dari tidurnya sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


efek alkohol dan juga guncangan emosi membuat wanita cantik itu tak sadarkan diri setelah mencoba bunuh diri dengan melompati pagar pembatas balkon lantai lima.


Delia mencoba mengamati ruangan disekelilingnya. Tempat apa ini, pikirnya. Apakah aku sudah mati. Apakah ini adalah penjara kubur bagi makhluk berdosa seperti dirinya yang memilih jalan sesat dengan bunuh diri.


Delia kini sedang berada di sebuah ruangan. Cahaya temaram dari sebuah batu berkilau yang memancar menjadi satu - satunya penerangan di ruang ini.

__ADS_1


"hmm, rupanya kamu sudah sadar? " Sebuah suara menyapa Delia, dingin dan kaku.


" Awwwh....!! " Delia terpekik kaget saat sepasang mata abu - abu dengan bintik kuning di tengah menatap lurus padanya dengan pandangan tajam. Apakah itu malaikat yang bertugas menyiksa dirinya.


Gemetar tubuh Delia memandang ke arah sosok lelaki bertubuh tinggi dengan jubah hitam berjalan mendekati dirinya. Tidak... Delia tak mau jika harus disiksa...Dia memilih bunuh diri karena tak dapat menerima sakit hati dan kecewa karena penghianatan Yovan.


" Kamu takut padaku, tapi kamu tidak takut untuk bunuh diri! " kata sosok itu dengan dingin.


" si...siapa kamu? mau apa kamu? pergilah...jangan mendekat padaku!"


" hahaha.... mengapa sekarang kamu mengusirku, bukannya berterimakasih karena aku sudah menyelamatkan kamu, kamu malah mengusirku."


'Apa tadi? dia menyelamatkan aku?' tanya Delia dalam hati. ' berarti aku belum mati!' katanya lagi.


Delia mencoba bangkit dan berdiri, tapi tubuhnya jatuh terhuyung. Untung lah dia bersandar pada dinding tembok ruangan itu hingga tubuhnya tak jadi jatuh.


Lelaki itu terbang dengan ringan mendekati Delia. Menatap tajam ke dalam sorot mata Delia. Lalu perlahan di dekatkannya wajahnya ke wajah Delia. Jemarinya yang besar dan kuat mencengkeram wajah cantik Delia.


Delia memejamkan mata karena takut melihat wajah lelaki itu.. Wajahnya tampan khas wajah Irlandia dengan celtik alis yang khas, membuat ketampanannya beroleh nilai sembilan plus, namun sorot matanya yang dingin dan aneh dengan bintik kuning di tengah, seperti mata kucing hutan yang siap untuk membunuh mangsanya membuat nilai sembilan itu berubah menjadi minus sembilan.


Delia bergidik ngeri. Apakah makhluk yang berdiri di hadapannya ini seorang manusia. Jika benar, apakah dia seorang phisycopat yang berkeliaran mencari mangsa dan setelah puas menyiksa lalu membunuh korbannya.


Tak terasa Delia menangis. Dia kini menyesal karena mencoba bunuh diri, jika ternyata dia sebenarnya takut mati. Namun dia teringat lagi akan penghianatan Yovan. Kembali rasa sakit di hatinya membuncah jiwa. Hingga perlahan rasa takut itu hilang, berganti kepasrahan bahwa dirinya siap untuk mati.


Delia memasrahkan dirinya untuk dibunuh oleh lelaki itu. Detik demi detik dia menunggu tangan lelaki itu mencekik atau bahkan mencabik - cabik lehernya.


Sebuah benda kenyal dan lembut menempel di bibirnya yang basah oleh air mata.


Mata Delia terbuka. Lelaki itu tidak mencekik atau mencabik - cabik lehernya, melainkan ******* habis bibir Delia hingga wanita itu hampir kehabisan nafas.


" Jika suamimu bisa berselingkuh terhadapmu, maka mari kita lakukan hal yang sama. Jadilah kekasihku... maka akan ku perlakuan dirimu sebagai ratuku."


Delia diam terpaku. Terkejut atas apa yang dilakukan lelaki itu padanya. Dia juga terkejut atas tawaran lelaki itu.


" Bagaimana, apa kamu menerima tawaranku? " Delia tak habis pikir. Seperti apa makhluk yang ada di hadapannya. Mengapa dia mengetahui jika suaminya sudah berselingkuh. Dan apa tujuannya mengajaknya untuk berselingkuh.


" Mengapa aku harus menerima tawaranmu? apa untungnya bagiku. Dan apa jaminannya bahwa aku akan bahagia jika bersamamu. Lelaki sama saja. Tak pernah cukup satu."


" Baiklah, akan aku buktikan bahwa aku lebih pantas daripada suamimu yang suka selingkuh itu.! "


selesai berkata demikian lelaki itu terbang membawa tubuh Delia itu dan kembali ke apartemennya.

__ADS_1


Dia mengantar Delia kembali ke apartemen wanita itu. Sebelum pergi dia berbalik dan mendekap erat tubuh Delia. Menyesap bau tubuh wanita itu dan menandainya.


" Ingatlah sayang, namaku Ammar.. dan aku adalah kekasihmu. Camkan itu ratuku..!" dilumatnya kembali bibir merah Delia dengan sepenuh gairahnya. Lalu setelah itu lelaki itu melesat ringan meninggalkan Delia yang masih terpaku di tempatnya.


__ADS_2