
Amelia pergi setelah berbicara dengan Vani, sekarang tinggallah Vani yang bersiap menjawab pertanyaan Juna yang pasti akan bertanya padanya maksud kedatangan Amelia.
"Sayang, apa yang dikatakannya? Kenapa kalian menangis?" tanya Juna, begitu penasaran seperti yang Vani tebak.
"Amelia mengatakan jika dia dan Johan memutuskan untuk berpisah setelah anak mereka lahir!" jawab Vani, membuat Juna kalang kabut mendengarnya.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Juna heran melihat kegelisahan suaminya.
"Apa Johan sengaja melakukan semua ini agar bisa kembali padamu? Tidak, Van. Aku tidak akan pernah membiarkan Johan merebutmu dariku. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, kamu hanya milikku dan selamanya hanya akan menjadi istriku, bahkan hingga kita mati kamu akan tetap menjadi istriku," ucap Juna membuat Vani tersenyum mengerti apa yang dipikirkan dan dicemaskan oleh suaminya.
Vani mengikis jarak antara mereka lalu menangkup kedua pipi suaminya, "Mas lihat aku!" pinta Vani membuat Juna seketika langsung terdiam menatapnya.
"Siapa yang ada didalam mataku?" tanya Johan.
"Itu kamu bukan?" ucap Vani lagi yang dijawab anggukan oleh Juna.
"Sama halnya di mataku ada kamu, di hati dan hidupku juga hanya ada kamu dan namamu. Aku mencintaimu, aku istrimu, dan aku milikmu. Lalu apa yang kamu takutkan?" tanya Vani, mengecup sayang kedua pipi suaminya, lalu memeluk Juna yang perlahan mulai tenang mendengarnya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kalian terisak menangis seperti tadi?" tanya Juna lagi.
"Amelia akan pergi meninggalkan anaknya untuk Johan, dia juga memintaku untuk memperhatikan anaknya!" jawab Vani jujur pada Juna, karena ia tidak ingin menutupi apapun dari suaminya.
"Apa dia sudah gila meminta kamu memperhatikan anak dari mantan pacarmu?" kesal Juna ingin melepaskan pelukan Vani namun Vani memeluk erat tubuhnya.
"Mas, dia hanya menitip anaknya agar tidak merasa kekurangan kasih sayang. Dia tau jika keluargaku dan keluarga Juna sudah berbaikan dan kemungkinan bertemu pasti ada, jadi dia hanya memintaku untuk sedikit memberikan perhatian pada anaknya agar tidak merasa kesepian tanpa kehadiran seorang ibu. Aku janji aku tidak akan menemuinya jika bukan tante Renata yang membawanya ke rumah!" jawab Vani menenangkan suaminya.
"Aku mencintaimu, sayang. Aku tidak ingin anak mereka membuatmu kembali dekat dengan Johan. Aku mohon apapun yang terjadi tolong jangan pernah meninggalkan aku. Aku bisa gila hidup tanpamu!" ucap Juna mengeratkan pelukannya namun masih terbilang aman untuk perut buncit istrinya
"Aku juga mencintaimu Mas, aku tidak mungkin meninggalkanmu karena kamu suamiku dan imam yang harus selalu aku ikuti. Kamu juga ayah dari anakku, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu?" ucap Vani, tersenyum dalam pelukan suaminya.
"Mas, aku ingin keluar. Temani aku!" ajak Vani, melepaskan pelukannya.
"Ke mana?" tanya Juna.
"Entahlah, ke mana saja yang penting tempatnya nyaman," jawab Vani di turuti oleh Juna.
__ADS_1
Hati Juna yang baru saja tenang, kembali memanas saat mereka yang baru saja akan keluar dari rumah berpapasan dengan pria yang menjadi alasan Juna cemas sebelumnya.
Ya, hanya berselang beberapa menit setelah Amelia pergi. Johan tiba-tiba muncul di sana membuat Juna mulai berpikir buruk tentang mereka. Juna memperhatikan Johan dengan sangat intens, melihat kondisi pria itu yang sudah lebih baik dari terakhir kali kabar yang didengarnya.
Johan tak lagi menggunakan kursi roda. Meski belum begitu normal seperti sebelumnya, tetapi Johan sudah kembali bisa berjalan sendiri tanpa perlu bantuan kursi roda atau pun tongkat lagi.
Sama seperti Juna yang memperhatikannya, Vani juga memperhatikan Johan. Rasa iba kembali hadir di hatinya pada pria yang pernah dicintainya itu.
Tadi istrinya, sekarang suaminya. Apa rencana mereka sebenarnya? Batin Juna kesal.
Tangan yang semulanya bergandengan itu terlepas, dan dengan posesifnya Juna merangkul pinggang Vani agar menempel padanya, sembari memberikan tatapan sengit pada pria yang hatinya seperti tertusuk duri melihat hal tersebut.
"Vani, apa kita bisa bicara?" tanya Johan lembut, menatap Vani dengan tatapan penuh cinta yang diselimuti dengan penyesalannya.
"Tidak bisa dan tidak akan aku izinkan!" sahut Juna tegas, menjawab permintaan Johan pada istrinya.
"Aku juga ingin bicara padamu!" ucap Johan pada Juna yang terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Aku?" tunjuk Juna pada dirinya sendiri, yang dijawab anggukan oleh Johan.
"Ya sudah ayo kita masuk!" jawab Vani, kembali menarik tangan Juna untuk kembali ketempat sebelumnya dimana ia dan Amelia berbicara.