
'Bukan hanya kamu nak, bukan hanya kamu yang menginginkannya, Papa juga ingin sekali kembali pada Vani dan menjadikannya istri serta mama untukmu,' batin Johan.
"Mama-mu juga cantik, dia baik seperti Bunda," ucap Dilan tersenyum.
"Paman kenapa?" tanya Dilan melihat Johan yang terlihat aneh menurutnya.
"Tidak ada apa-apa," jawab Johan memberikan senyum pada Dilan.
"Dilan, kenapa panggil Papa, Paman? Kenapa tidak panggil Papa seperti aku panggil ayahmu dengan sebutan ayah juga," ucap Arsenio bertanya.
Dilan yang di tanya hanya bisa menatap Johan sembari bertanya. "Apa boleh, paman?"
"Tentu saja boleh," jawab Johan tersenyum tulus pada Dilan.
'Jika bisa aku justru ingin menjadikanmu putraku sendiri, dan menikahi Bunda-mu,' sambung Johan dalam hati, namun sesaat kemudian ia menggelengkan kepala nya, membuat Arsen dan Dilan kembali menatap bingung padanya.
"Papa Arsen kenapa?" tanya Dilan bingung, terdengar kaku menyebut Johan dengan sebutan papa Arsen.
"Ada apa Pa?" ucap Arsenio juga bertanya.
"Tidak, tidak ada apa-apa!" jawab Johan gelagapan.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo kita turun, makan malam pasti sudah siap!" ucapnya lebih dulu melangkah keluar dari kamar Arsen meninggalkan Dilan dan Arsen yang hanya bisa diam menatapnya, dan menyusulnya.
Johan dan kedua pria kecil itu tiba di ruang makan melihat Amanda tengah sibuk di sana menyajikan makan malam untuk mereka. Kedua pria kecil tersebut langsung duduk di kursi mereka bersebelahan, tapi tidak dengan Johan yang masih berdiri di tempat menatap pada Amanda yang mengingatkannya pada Vani.
Johan kembali teringat saat dimana Vani hampir selalu menyempatkan diri memasak untuknya disela kesibukannya, seperti Juna yang sangat menyukai masakan Vani, Johan juga sangat menyukai dan merindukan masakan Vani.
"Andai yang sekarang ada di depanku ini kamu, Van," ucap Johan pelan yang hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.
"Papa, ayo. Aku sudah tidak sabar makan masakan Mama," ucap Arsen pada Johan yang kemudian mendekat, lalu duduk di tempatnya.
Beberapa hari sebelum Johan dan Amanda menikah, Renata dan Rizal sudah menjelaskan jika Amanda akan menjadi ibunya dan meminta Arsen memanggil Manda dengan sebutan Mama bukan lagi Bunda seperti ketika di sekolah.
"Aku tidak tau makanan kesukaan kalian, aku juga tidak tau apa ini akan cocok di lidah kalian atau tidak," ucap Amanda pada Johan dan kedua pria kecil yang ada di depannya.
"Ya sudah kalau begitu silahkan di makan," ucap Amanda mempersilahkan.
"Duduklah, kita makan bersama!" ajak Johan pada Amanda yang tersenyum menurutinya.
'Syukurlah, aku pikir dia tidak akan menawariku,' batin Amanda yang terkadang masih berpikir Johan membencinya.
"Masakan tante Manda enak!" puji Dilan mengisi keheningan di meja makan tersebut.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Amanda senang pada Dilan yang balas menganggukkan kepalanya.
"Kalau Bunda-mu?" tanya Amanda mengalihkan fokus Johan padanya. Semua yang berhubungan dengan Vani selalu dapat mengalihkan fokusnya.
"Tentu saja sangat enak, bunda pandai memasak, apapun yang ia masak selalu enak, itu juga yang buat Ayah sangat jarang membawa aku makan di luar," jawab pria kecil itu tertawa.
"Aku juga ingin mencoba masakan Bunda Vani," sahut Arsenio penuh semangat.
"Sungguh?" tanya Dilan yang di jawab anggukan mantap oleh Arsen.
"Bagaimana kalau waktu libur sekolah kamu liburan ke tempatku saja? Bunda dan ayah pasti suka," tawar Dilan pada Arsenio yang seketika langsung menatap Johan.
"Pa, boleh?" tanyanya penuh harap.
Johan terdiam. Dulu, saat Arsen kecil, ia bisa saja melarang semua orang untuk membahas tentang Vani agar putranya tidak bergantung pada Vani, tapi sekarang Arsenio sudah besar dan dia bisa minta apa yang ia inginkan. Dan akan sangat sulit melarangnya karena tidak akan ada alasan yang tepat untuk melarang putranya sekedar berlibur ke sana, apalagi di Jakarta juga ada oma dan opa Arsen.
"Papa Arsen, boleh ya?" sahut Dilan ikut meminta pada Johan berharap Johan mengizinkannya.
Mata jernih yang indah yang terlihat seperti mata Vani itu mampu membuat Joha menganggukkan kepalanya dengan sendiri, anggukan darinya membuat kedua pria kecil itu bersorak senang, saat berpikir Johan sudah menyetujuinya.
"Terima kasih, Papa!" jawab keduanya secara bersamaan.
__ADS_1
"Untuk?" tanya Johan.
"Karena sudah mengizinkan aku liburan di rumah Dilan," jawab Arsen yang baru menyadarkan Johan, namun sudah terlambat untuk menyangkalnya, saat kedua pria kecil tersebut sudah mendapat anggukan darinya.