
Di lantai atas, Amanda yang baru saja masuk ke dalam kamarnya meletakkan Neisha dengan sangat hati-hati di atas ranjang agar putrinya itu tidak terbangun.
Setelah selesai dengan urusan putrinya, Amanda duduk terdiam menatap ke setiap sudut kamar yang mulai sekarang akan ia tempati hanya bersama putrinya, karena tidak ada kata kamar bersama di antara ia dan Johan atas keinginan keduanya.
Amanda teringat akan kejadian beberapa saat yang lalu, saat ia masuk ke dalam kamar Johan.
Tok...tok...tok...
Amanda mengetuk kamar yang ia tau merupakan kamar Johan.
"Masuklah, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Johan membuka pintu kamarnya.
"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu!" balas Manda melangkah masuk ke dalam kamar Johan.
Amanda yang baru saja masuk ke dalam kamar Johan di buat membeku saat melihat sebuah foto yang ada di kamar Johan. Foto yang di dalamnya adalah Johan dan wanita yang sedari tadi mencuri perhatiaan semua orang tengah berdua dengan senyum bahagia.
"Benar, dia Vani!" ucap Johan menyadarkan Amanda yang langsung memutar kepalanya menatap Johan.
"Duduklah," ucap Johan lagi menunjuk sofa di seberangnya.
"Nanti aku akan menjelaskan padamu semuanya, tapi nanti," ucap Johan.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu jika kemarin aku sempat bersikap kasar dan menuduhmu yang bukan-bukan," kata Johan terdengar tulus mengatakannya, membuat Amanda yang mendengar sedikit terkejut, pasalnya Johan yang saat ini berbicara padanya sangat berbeda dengan Johan yang beberapa hari yang lalu berkata kasar padanya.
__ADS_1
"Aku sudah melupakan semuanya. Namun tetap harus aku tegaskan, aku tidak pernah sedikitpun berniat menjebakmu," jawab Amanda pelan sembari tangannya terus mengusap pelan punggung Neisha yang terlelap dalam gendongannya.
"Terima kasih," ucap Johan yang di anggukki oleh Amanda.
"Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Johan pada Amanda.
"Kamu dan aku sama-sama tau dan sadar jika semua ini bukanlah keinginan kita berdua. Jadi aku akan berterus terang padamu. Aku tidak bisa tidur di kamar yang sama denganmu, berikan aku kamar lainnya untuk aku dan Neisha tempati." Amanda berkata tanpa keraguan.
"Syukurlah jika kamu berpikir hal yang sama. Aku juga akan mengatakan itu, aku tidak mungkin membawamu tidur di kamar yang sama," ucap Johan menghela napas lega.
"Aku sudah meminta pelayan menyiapkan kamar untukmu, kamu bisa menepati kamar yang ada di sebelah kamar Arsen. Kamu bisa mengatakan jika ada yang kamu butuhkan pada Bi Maryam, dia akan mengurus semuanya!" ucap Johan yang juga membuat Manda mengembuskan napas lega.
"Terima kasih," ucapnya tulus pada Johan.
Johan mengangguk. "Tentu saja."
Amanda yang melamun tersadar dari lamunannya, ia baru mengingat jika Vani sedang menunggunya untuk bicara. Amanda memperbaiki posisi tidur Neisha, meletakkan bantal di selah kanan dan Kiri Neisha, agar putrinya tidak bergeser ke pinggir ranjang, lalu setelah itu melangkah keluar dari kamar.
'Apa yang ingin dia bicarakan padaku? Apa berhubungan dengan rasa penasaranku?' batin Amanda bertanya.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Manda tak enak hati pada Vani.
"Tidak apa-apa, aku mengerti," jawab Vani.
__ADS_1
Kedua wanita yang mempunyai sikap yang nyaris sama tersebut, saat ini tengah berada di ruangan lainnya yang mana hanya ada mereka berdua.
Amanda merasa gugup menunggu apa yang akan di bicarakan Vani padanya.
"Sebelumnya kita sudah saling berkenalan tadi, ya Mbak." Vani memulai yang diangguki oleh Amanda.
"Aku akhirnya bisa melihat sendiri apa yang di katakan orang-orang jika memang ada seseorang yang benar-benar mirip dengan kita, dan aku rasa Mbak Amanda juga menyadarinya jika kalian sangat mirip. Arsen beruntung memiliki kalian," ucap Vani lagi tersenyum.
Amanda yang mempunyai suara lembut, justru mengagumi suara Vani yang ia rasa begitu menenangkan, belum lagi wajah yang selalu memberikan senyum ketulusan kepada siapapun itu membuat siapapun merasa nyaman berbicara dengannya.
"Aku tidak ingin Mbak menjadi salah paham, makanya aku akan mengatakan langsung kepada Mbak Manda," ucap Vani semakin membuat Manda yang gugup menjadi semakin gugup.
"Ada apa, Van?" tanyanya membuat Vani tertawa.
"Jangan tegang Mbak, santai aja." Vani menyentuh tangan Amanda yang lagi-lagi terasa mampu menghangatkan serta menenangkannya.
Amanda tersenyum malu mendengar ucapan Vani, karena memang ia akui jika dirinya benar-benar tegang dan gugup.
"Sebelumnya, Mbak mungkin hanya tau jika aku kenalan keluarga Johan. Mbak juga pasti bertanya-tanya kenapa aku terlihat begitu dekat dengan semuanya," ucap Vani lagi yang kembali di jawab dengan anggukan kepala oleh Amanda.
"Aku tidak ada maksud apa-apa, ya, Mbak. Aku harap Mbak tidak berpikir yang bukan-bukan tentang apa yang akan aku sampaikan..." Vani menjeda sesaat ucapannya.
"Johan dan aku pernah bersama," ucap Vani kembali mengejutkan Amanda, meskipun ia sudah mengetahui semua saat tadi berada di kamar Johan dan sempat mendengar dari Renata, namun mendengar langsung dari Vani tetap saja membuatnya terkejut.
__ADS_1