Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Semua Merasa Bersalah


__ADS_3

"Pa, jika saja aku tidak hadir dalam kehidupan Johan. Maka semua ini tidak akan terjadi. Aku lah penyebab semuanya," ucap Amelia.


Renata yang mendengar itu seakan tersindir. Jika bukan karenanya juga Johan tidak akan jadi seperti ini. Awal kehancuran Johan adalah saat dia tidak merestui hubungan Johan dan Vani, terlebih setelah dia memaksa Johan menikahi Vani.


Tuhan dengan mudah membolak-balikkan perasaan dan hati seseorang, seperti yang sejarang Amelia dan Renata rasakan. Perasaan bersalah menyelimuti keduanya. Renata yang sebelumnya masih saja menyalahkan Vani atas apa yang terjadi, sekarang baru mengakui dan menyadari jika semua adalah ulahnya. Semua balasan dari perbuatannya. Dialah yang menjadi penyebab kehancuran putranya.


Renata terus saja menatap Johan yang terbaring kemas di ranjang.


"Pa. Lihat itu!" tunjuk Renata saat melihat tangan Johan sedikit bergerak.


Apa yang Renata sempat lihat, tidak dilihat oleh Amelia atau pun Rizal. Entah itu hanya perasaan Renata saja atau memang semua itu terjadi. Renata menggenggam sebelah tangan Johan, menciumnya berulang kali dengan tangis yang kembali pecah.

__ADS_1


"Ma, kita harus kuat untuk bisa menguatkan Johan. Kita harus bisa menghadapi semua ini, semua yang terjadi pasti akan ada hikmahnya. Percayalah Tuhan pasti akan mendengarkan doa kita! Percayalah Johan akan segera sadar," ucap Rizal, mencoba menenangkan Renata yang masih menangis. Bahkan Renata pun juga terlihat sangat lemah, sebab sudah hampir satu minggu ini ia jarang menyentuh makanan jika bukan dipaksa oleh Rio, hanya kesedihan yang selalu menyelimutinya


"Sebagai seorang Ibu, aku tidak ada disaat putraku membutuhkan teman, aku tidak ada disaat putraku membutuhkan dukungan, aku tidak ada dihari-hari buruk yang ia lewati. Aku ibu yang begitu buruk, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk putraku. Aku benar-benar ibu yang buruk untuknya! Aku benar-benar tidak berguna sebagai seorang ibu. Aku ingin putraku sadar. Maafkan mama, Jo. Tolong jangan menyiksa mama dengan cara ini. Mama mohon sadarlah," ucap Renata, disela isak tangisnya.


Rizal yang mendengar itu merasa terenyuh hatinya. Kesalahan bukan hanya ada pada istrinya, kesalahan itu juga ada padanya. Jika saja dia bisa menjadi pria yang lebih bijak dan bertanggungjawab, maka semua ini tidak akan terjadi.


Perih yang dirasakan Renata, bahkan ia merasakan jauh lebih perih lagi. Bukan hanya Renata yang merasa gagal, ia sebagai kepala keluarga juga merasa sangat buruk. Ia merasa jika dirinya tidak bisa diandalkan untuk putranya, kekayaan, kepintaran, kekuasaan dan semua yang ia miliki sama sekali tidak berguna disaat ia gagal memberi kebahagiaan untuk putranya.


"Aku ingin putraku, aku ingin Johan anakku bangun dan memarahiku! Aku sangat bahagia jika dia bangun dan memarahiku, aku sangat menginginkannya," tangis Renata sesenggukan, menepuk-nepuk dadanya yang terasa begitu sesak.


Ya Tuhan, berikanlah mukjizatmu pada putraku, bangunkanlah dia dari tidur panjangnya. Aku sungguh tidak sanggup melihatnya seperti ini, Aku mohon! Tolong jangan hukum anakku atas kesalahan kami. Batinnya.

__ADS_1


Masih dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi wajah tuanya, Renata kembali merangkak mendekati ranjang Johan yang masih terbaring tak sadarkan diri. Tangannya kembali menggenggam erat tangan Johan, dan berulang kali mengecup tangan putranya. Hatinya terasa begitu sakit dan terluka melihat kondisi putranya, tak ada kata yang bisa ia ungkapkan bagaimana hancur dan terlukanya ia saat ini.


"Kenapa, Jo? Kenapa, nak? Akhir-akhir ini kamu menghilang tanpa kabar membuat mama begitu mengkhawatirkan mu. Kamu selalu menghindar setiap kali kami ingin bertemu. Disaat mama begitu cemas dan merindukanmu, kamu selalu mengabaikan kami. Kamu sama sekali tidak berniat menghubungi mama, kamu sama sekali tidak berniat menemui mama. Jika bukan orang yang menghubungi mama mengabari ini semua terjadi, mungkin kita tidak akan bertemu. Kenapa mereka harus menghubungi mama dengan membawa kabar yang begitu buruk untuk mama, apa ini semua memang rencanamu? Beginikah caramu membalas semua kesalahan mama karena telah menjadi ibu yang tidak berguna ini? Apa ini caramu menghukum mama?" ucap Renata semakin sesenggukan, bahkan suaranya hampir tak terdengar tertutupi dengan tangisannya sembari terus mencium tangan Johan.


"Apa yang kamu mau, sayang? Kamu ingin Vani kembali? Mama akan bersujud di kakinya agar dia kembali padamu jika itu yang kamu mau. Mama akan meminta maaf padanya. Mama akan melakukan apapun asal kamu sadar. Mama mohon..."


Suara ketukan pintu dari seseorang mengalihkan Rizal dan Amelia, namun tidak untuk Renata yang masih mencium dan menatap sedih putranya.


Rizal menatap terkejut tapi juga senang dengan kedatangan seseorang yang sebenarnya sangat dia harapkan, namun dia tidak bisa memaksanya karena menghargai status Vani. Vani adalah orang yang sebenarnya sangat Rizal harapkan, ia sangat yakin jika kehadiran Vani pasti akan membuat keadaan Johan menjadi lebih baik.


"Vani" ucap Rizal yang dapat didengar jelas oleh Renata saat mendengar nama yang juga mulai dia harapkan dapat membuat Johan sadar.

__ADS_1


__ADS_2