
Pasangan pengantin baru yang tengah berbahagia itu terlihat keluar dari hotel dengan wajah bahagia yang terus diumbar oleh keduanya, membuat siapapun yang melihat akan merasa iri dengan kebahagiaan yang mereka perlihatkan.
Beberapa orang terutama petinggi yang ada di hotel menyapa pasangan yang telah menjadi bahan perbincangan di hotel tersebut karena kemegahan acara serta kesempurnaan pasangan yang terlihat itu. Ucapan selamat juga masih sering mereka dapatkan dari orang-orang yang berpapasan dengan mereka.
Juna yang biasanya hanya akan melewati acuh orang-orang yang menyapanya, sekarang terpaksa harus menghentikan langkah kakinya saat Vani yang lebih dulu berhenti balas menyapa orang-orang tersebut. Mengabaikan peringatannya yang telah memberikan peraturan pada Vani untuk tidak begitu ramah pada siapapun.
"Jangan terlalu banyak tersenyum, ingat apa yang aku katakan padamu. Senyum ini hanya untukku." Juna berbisik di telinga Vani, mengabaikan semua tatapan orang yang tersenyum sendiri melihatnya.
Juna merasa begitu bahagia saat kata sah sudah melekat pada mereka, sehingga ia bisa melakukan apapun pada Vani. Seperti contohnya saat ini dimana ia dapat berjalan bersama dengan merangkul pinggang Vani, saat ia bisa membawa dan mengenalkan Vani pada setiap rekan bisnis atau acara kantornya, dapat bermesraan dan dapat selalu menghabiskan waktu bersama Vani tanpa ada hambatan apapun sebab Vani utuh miliknya.
"Kamu bahagia?" tanya Juna begitu lembut pada Vani.
"Kenapa kamu selalu bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia, apa kamu tidak bahagia?" ucap Vani balik bertanya.
"Tentu saja aku sangat bahagia, saking bahagianya hingga aku tidak dapat mengungkapkannya. Aku mencintaimu sangat-sangat mencintaimu, sayang!" jawab Juna semakin menempelkan tubuh mereka berjalan keluar dari hotel menuju mobil yang sudah siap menjemput mereka.
"Kita sama-sama bahagia, maka berhentilah bertanya seperti itu, aku tidak menyukai pertanyaanmu yang seperti itu!" ujar Vani ketus.
"Baiklah, aku salah, maafkan aku!" ucap Juna mengalah.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Senyum dan wajah bahagia semua orang terlihat menyambut kedatangan Vani dan Juna saat tiba di kediaman Anggara.
"Wah. Wajah lelah sekaligus bahagia benar-benar terlihat dari pengantin baru kita ini. Aku berharap segera menjadi auntie," ucap Vivian kencang sengaja ingin menggoda Vani dan Juna.
"Dah lihatlah itu, baru satu hari tapi aku melihat ada yang berubah dari sahabatku. Lebih tepatnya ada sesuatu yang baru darinya!" sahut Karina yang juga masih berada di kota kelahiran Vani, ikut menggoda Vani.
"Sudahlah, ayo masuk! Bukankah kita akan makan bersama sebelum melepas pengantin baru ini," ucap nyonya Anggara menyelamatkan putrinya dari rasa malu akibat ledekan Vivian dan Karina.
"Vani melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah di apit oleh kedua sahabatnya, Karina dan Esi yang masih saja menggodanya.
"Berapa kali?" tanya Esi berbisik.
"Dia meninggalkan banyak sekali cap di lehermu, dan kamu melewatkan satu tempat yang tidak kamu tutupi!" sahut Karina menyentuh bagian yang di ucapannya membuat Vani begitu malu mendengarnya.
"Apa ada yang lucu? Apa itu?" tanya Ibu Vani membuat Vani gelagapan.
"Tidak apa-apa, Ma!" ucap Vani gugup sembari mencubit pelan tangan kedua sahabatnya.
'Ya Tuhan, pantas saja mereka semua menatapku seperti itu!' batin Vani benar-benar merasa malu.
"Kalian tidak berencana menunda kehamilan, kan?" tanya Vivan tiba-tiba saat semua orang sudah mulai melahap makanan mereka.
__ADS_1
"Mama berharap tidak. Mama ingin segera mendengar suara anak kecil memanggil Oma, benar, kan, besan?" sahut Ajeng berkata pada pengantin baru yang ada di hadapan mereka, lalu menatap Ajeng–besannya yang mengangguk setuju.
"Tidak Mah, kami tidak menundanya. Doakan saja semoga kami segera di beri kepercayaan mempunyai keturunan!" jawab Juna masih saja terdengar datar
"Syukurlah, kami semua mendoakan yang terbaik untuk kalian!" ucap Ajeng lagi yang di anggukan oleh semua orang.
Beberapa saat kemudian, setelah makan siang bersama itu, semuanya melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga.
Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya jika setelah menikah, Vani akan tinggal bersama Juna di rumah mereka sendiri. Rumah yang telah Juna siapkan untuk mereka.
"Jadi kalian akan langsung pindah hari ini, setelah nanti tiba di Jakarta?" tanya Ajeng.
"Iya Ma. Kami akan langsung ke sana, aku sudah meminta Dika menyiapkan semuanya," jawab Juna.
"Di mana tempat tinggal baru kalian, Kak?" Aura bertanya, mewakili pertanyaan semua orang, karena memang, selain Juna, Vani dan Dika , tidak ada yang tau mengenai rumah baru mereka.
Juna menjawab pertanyaan adiknya, memberitahukan alamat baru mereka dengan jelas.
"Pusat kota? Bagaimana bisa? Sulit mendapatkan lokasi di tengah kota," ucap Abimanyu.
"Karena uang dan keberuntungan," jawab Juna datar, tetapi akan terkesan sombong untuk orang yang tidak mengenal Juna.
__ADS_1
"Baiklah, pilihan yang bagus. Besar dan di tengah kota. Selain kami berharap kalian akan sering berkunjung, kami juga akan sering berkunjung ke sana!" ucap Ajeng.
"Dan aku pasti akan sering menginap di sana. Aku kasihan jika kak Vani hanya berdua dengan kakakku, bisa-bisa habis Kak Vani selalu dimakan oleh kak Juna," sahut Aura kembali mulai meledek pasangan pengantin baru itu.