
Dengan tangis dan amarah yang menyelimutinya, Amelia masuk ke dalam rumah keluarga Manopo, membuat semua orang yang ada di sana jelas terkejut dan bertanya-tanya, apa yang telah terjadi pada menantu keluarga manopo tersebut.
"Ada apa Amel? Kenapa menangis?" tanya Yunita–mertuanya.
"Ma, Johan mempermalukanku di depan umum!" Amelia menceritakan semua yang terjadi di acara pesta yang dia hadiri.
Sebenarnya Johan sama sekali tidak mengajak Amelia, tetapi Amelia yang sangat jarang bertemu dengan Johan sekalipun mereka telah menikah, memutuskan menyusul Johan saat Amelia tahu dimana keberadaan Johan. Amelia merasa senang saat dia berpikir jika dia dapat mempermalukan Vani, melampiaskan semua amarah dan kebenciannya pada Vani, tetapi yang terjadi justri sebaliknya. Amelia dipermalukan oleh suaminya sendiri yang lebih mementingkan perasaan Vani dibandingkan dirinya, semua itu membuat kebencian Amelia pada Vani semakin menjadi.
"Kamu tidak berbohong?" tanya Rizal, ayah mertuanya.
Yunita yang licik tersenyum dalam hati saat dia berpikir dia punya kesempatan untuk membantu sang menantunya. "Apa aku bilang. Mereka licik, mereka pasti sengaja ingin merusak rumah tangga Johan karena dendam. Mereka hanya pura-pura baik, Rizal." Yunita membuka kembali sedikit sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu mereka.
"Dendam? Dendam apa? Apa maksudnya?" tanya Amelia bingung.
"Sebelum menikah dengan Mama, Papa sudah menikah dengan perempuan bernama Irena Stevani, lalu mereka berpisah dan setelah itu Papa menikahi Mama. Wanita bernama Irene itu tidak terima lalu bunuh diri," jawab Yunita menjelaskan.
"Lalu apa hubungannya dengan rumah tangga kami?" tanya Amelia lagi.
__ADS_1
"Keluarga wanita itu berpikir jika papa dan mama sudah menyakiti wanita itu, mengatakan kami penyebabnya. Dia menganggap mama pelakor. Wanita itu adalah adik kandung papanya Vani. Adik kesayangan Anggara," terang Yunita yang seketika dapat dimengerti oleh Amelia.
Pantas saja mereka tidak menyukai Vani. Ternyata ada konflik di masa lalu mereka. Amelia menyeringai dibalik tangisnya.
"Kenapa mereka begitu jahat? Apa salahku pada mereka. Aku sangat menyayangi Johan, aku tidak ingin pernikahan kami rusak hanya karena dia," ucap Amelia semakin mengencangkan tangisnya. Membuat Rizal yang sedari tadi terdiam mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk membantu anak dan menantunya.
"Jangan khawatir, Amel. Papa tidak akan membiarkan siapapun merusak pernikahan kalian. Ini janji kami," ucap Rizal dengan lantang, membuat Amelia dan Yunita sama-sama tertawa senang dalam hati mereka.
Setelah cukup lama membujuk Amelia. Saat Amelia sudah masuk ke dalam kamar Johan yang ada di sana, Yunita dan Rizal bergegas pergi menemui putra mereka, yang pertama akan mereka lakukan adalah menegur Johan, sebelum menyelesaikan urusan dengan Vani.
Yunita dan Rizal tiba ditempat tujuan mereka saat ini. Tempat tinggal rahasia Johan yang Rizal ketahui dari orang suruhannya.
"Ada perlu apa kalian kemari? Darimana kalian bisa tahu aku disini? Kalian memata mataiku?" Johan bertanya dengan nada ketus menatap kedua orang tuanya yang saat ini ada dihadapannya.
"Kita bicara di dalam!" ucap Rizal berusaha tenang.
"Aku sedang tidak ingin diganggu, lain kali saja!" Johan berniat kembali masuk dan menutup pintu, tapi Rizal menahannya dan menerobos masuk ke dalam sana, bersama dengan Yunita.
__ADS_1
Johan yang melihat itu hanya diam melipat kedua tangannya di dada, membiarkan kedua orang tuanya masuk dan melihat hal-hal yang jelas akan membuat kedua orang tuanya semakin kesal.
"Johan! Apa maksud semua ini?" bentak Yunita kesal, wanita yang telah melahirkan Johan itu menurunkan sebagian foto-foto yang berjejer di setiap sudut ruangan apartemen Johan. Melempar foto-foto Vani sehingga bingkainya pecah berserakan di lantai.
Berbeda dengan Yunita yang merasa amat kesal melihat foto-foto Vani memenuhi apartemen Johan. Rizal justru terdiam membeku menatap semua foto itu.
Wajah Vani begitu mirip dengan mantan istrinya dan itu membuat Rizal sendiri tak tahu apa yang terjadi padanya. Jantungnya berdebar kencang, perasaan sedih rindu tiba-tiba saja menyelimutinya setelah melihat foto Vani.
Hubungan Johan dan Vani sudah lama dia ketahui, tetapi baru kali ini Rizal melihat jelas sosok Vani, meski hanya dari foto.
"Irene," gumamnya pelan dan itu semakin memancing emosi Yunita.
Yunita melanjutkan aksinya, menghancurkan semua foto Vani yang ada di sana. Johan yang melihat itu menjadi murka, Johan menghentikam aksi Yunita.
"Johan. Kamu sudah menikah! Hargai Amelia sebagai Istrimu. Lupakan wanita ****** itu, dia hanya masa lalumu!" bentak Lusi masih saja ingin menghancurkan foto-foto Vani.
"Jangan menyebutnya ******. Kata itu bukankah cocok untuk Mama. Mama memintaku menghargai perasaan Amelia, apa saat itu Mama menghargai perasaan wanita yang suaminya telah mama rebut? Mama menikahi pria yang jelas-jelas sudah punya istri, menjadi simpanan pria itu, lalu menghancurkan hidup wanita tak bersalah itu. Berhenti menasehatiku karena semua itu tidak pantas keluar dari bibir kalian!" tukas Johan menatap sinis pada kedua orang tuanya, mengatakan semua kebenaran yang sesungguhnya sudah lama dia ketahui, berbeda dari cerita yang sering mamanya katakan.
__ADS_1
"Jika saja aku tidak terlahir dari orang tua seperti kalian, mungkin aku saat ini akan hidup bahagia bersama Vani. Wanita yang aku cintai." Sambung Johan.
Rizal sama sekali tak menghiraukan perdebatan anatara istri dan anaknya, yang ada dibenaknya saat ini adalah mantan istrinya yang telah meninggal. Banyak sekali pertanyaan muncul yang ingin dia temukan jawabannya. Siapa Vani sebenarnya? Kenapa dia mirip sekali dengan Irene?