
Rizal tak menjawab pertanyaan Johan, tetapi memberikan senyum sembari menganggukkan kepalnya membuat Johan bernapas lega, sebab jika Rizal bersedia membantunya maka Johan tahu semua akan menjadi lebih mudah.
"Terima kasih, Pa." Johan memeluk Rizal.
"Apa pun demi kebahagiaan kalian," jawab Rizal menepuk lembut punggung Johan.
Johan kembali ke kamarnya setelah berbicara dengan Rizal. Tiba di dalam kamarnya, seperti biasa Manda terlihat gelisah. Beberapa hari bermalam di sana dan berada satu kamar bersama Johan membuat Amanda selalu menjadi salah tingkah. Tak hanya Manda, Johan pun merasakan hal yang sama, tetapi keduanya sama-sama berusaha untuk bersikap tenang.
Sejak tiba di sana dan karena tidak ingin membuat kedua orang tua Johan kecewa, mereka terpaksa tidur di kamar yang sama, meski sesekali Manda akan beralasan menemani Neisha yang belum bisa tidur sendirian. Namun semua usaha Manda untuk menghindar berada di kamar yang sama bersama Johan tak selalu berhasil, seperti malam ini dimana Neisha tidur ditemani Renata.
"Kenap belum tidur? Kamu masih memikirkan Alan?" tanya Johan membuat Manda sontak menatapnya.
Manda tak bisa tidur sama sekali bukan karena mengingat Alan, Manda justru tak bisa tidur karena memikirkan berada di kamar yang sama bersama Johan, tetapi Johan justru berpikir sebaliknya.
"Aku baru saja berbicara dengan Papa," ucap Johan lagi meski Manda tak menjawab ucapannya sebelumnya.
Johan mendekat pada Manda dan itu semakin membuat jantung Manda berdetak kencang. "Nda, wajahmu memerah. Ada apa?" tanya Johan reflek menyentuh wajah Manda yang justru semakin memerah karenanya.
__ADS_1
Johan duduk tepat di samping Manda, di tepi ranjang. Setiap kali mendengar Johan memanggilnya dengan kata 'Nda' selalu saja memberikan kesan tersendiri untuk Manda.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya berusaha menghilangkan rasa gugupnya.
"Aku meminta Papa membantuku mencari tahu tentang Alan."
Ucapan Johan membuat Manda menegang mendengarnya. Johan yang mengerti reaksi Manda, menggenggam lembut tangannya. "Jangan khawatir, aku sudah menjelaskan semuanya pada Papa," ucapnya.
"Bagaimana aku tidak khawatir, Jo. Apa tanggapan Papamu jika tahu menantunya justru memikirkan pria lain?" ucap Manda.
"Sudah aku katakan jangan pikirkan itu, aku sudah menjelaskan semuanya. Papa mengerti keadaan kita terutama kamu," ucap Johan lagi dengan lembut berusaha menenangkan Manda yang kembali terdiam.
"Tidak perlu menjawabnya jika kamu tidak ingin menjawabnya. Sekarang sudah malam, tidurlah!" Johan bangkit berdiri mengambil bantal berniat menuju sofa yang ada di kamarnya itu, tetapi Amanda menahan tangannya.
"Tidurlah di ranjang ini," ucap Manda.
"Bersamamu?" tanya Johan tersenyum menggoda Manda yang kembali merona mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Beberapa hari ini kamu selalu tidur di sofa. Kakimu menggantung karena ukuran sofa jelas tidak pas dengan tubuhmu. Sekarang gantian kamu yang tidur di ranjang dan aku di sofa," terang Manda perlahan turun dari ranjang.
Johan tersenyum mendengarnya. "Tidak masalah. Aku pria. Ranjang ini milikmu," balas Johan lalu melangkah menuju sofa dan mulai berbaring di sana.
Beberapa menit berlalu, Manda yang belum juga tidur terus menatap ke arah Johan yang tidur di sofa. Terlihat jelas jika pria itu tidak nyaman dengan posisinya disana dan itu juga membuat Manda menjadi tidak nyaman melihatnya. Manda turun dari ranjang menghampiri Johan. "Jo, tidurlah di ranjang!" ucapnya pelan menyentuh pelan lengan Johan.
Johan membuka matanya melihat Manda di depannya. "Kenapa belum tidur?"
"Aku tidak bisa tidur. Karena itu kamu tidurlah di ranjang," jawab Manda.
"Baiklah." Johan bangkit dan pindah ke ranjang sambil menarik tangan Manda yang dibuat terkejut dengan aksi Johan.
"Jo," lirihnya menatap Johan saat sudah di depan ranjang.
"Aku merasa tak nyaman jika membiarkanmu di sofa begitu juga kamu jika melihatku di sofa. Jadi kita sama-sama tidur di ranjang. Itu adil," ucap Johan lebih dulu berbaring di sebelah kanan ranjang.
"Ayo tidur!" ucapnya lagi pada Manda yang masih terdiam berdiri bingung harus melakukan apa.
__ADS_1
Johan yang melihat Manda hanya diam, sedikit bangkit lalu menarik tangan Manda hingga jatuh ke ranjang. Johan memperlakukan Manda seperti anak kecil, seakan dia tengah mengatur posisi tidur putranya. "Sekarang tidurlah dengan tenang, aku janji tidak akan menyentuhmu!" ucap Johan lagi setelah menyelimuti separuh tubuh Manda dan membatasi bagian tengah ranjang dengan dua bantal guling.
Johan memutar tubuhnya tidur dengan posisi menyamping membelakangi Amanda. 'Ya Tuhan kenapa aku jadi seperti ini?' ucap Johan dalam hati yang juga merasa tak biasa dengan tingkahnya sendiri.