
Amanda menangis tersedu-sedu saat menceritakan kisah masa lalunya kepada Johan, suaminya. Meskipun waktu sudah lama berlalu, tak bisa Amanda pungkiri jika kematian suaminya adalah sesuatu yang tak akan pernah dia lupakan di dalam hidupnya. Hari itu adalah hari di mana luka yang tak akan pernah sembuh ... tumbuh di hati Amanda.
Melihat sang istri terisak-isak, Johan pun menarik Amanda ke dalam dekapannya. Pria itu mengusap punggung Amanda sembari berusaha untuk menenangkan wanita itu. Johan tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dia cintai. Meskipun telah berusaha melupakan dan mengikhlaskannya, luka itu tak akan pernah hilang. Rasa kehilangan itu pasti akan tetap ada walaupun kebahagiaan yang baru telah datang di hidupnya.
“Shh ... sudah jangan menangis. Mantan suamimu pasti akan bersedih kalau dia melihatmu menangis dari atas sana,” ucap Johan, sambil tersenyum tipis.
Amanda mengusap air matanya, lalu melepaskan diri dari dekapan Johan.
“Maaf, aku tidak bermaksud cengeng seperti ini,” ucap Amanda. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menghentikan air matanya, lalu menghembuskan napas secara perlahan guna menenangkan diri.
Johan menggelengkan kepalanya. “Amanda, tidak perlu minta maaf. Kamu boleh menangis, namun, jangan biarkan kesedihan menjeratmu,” balas Johan.
Mendengar itu, Amanda menganggukkan kepalanya dan tersenyum. “Terima kasih, Johan.”
“Maaf kalau pertanyaanku ini kurang sopan. Tapi, kalau kau dan Alan belum pernah berhubungan intim, lalu siapa ayah Aneisha?” tanya Johan bingung.
Pertanyaan tersebut muncul di kepala Johan tepat setelah Amanda bercerita kalau dia dan Alan belum sempat berhubungan intim karena Amanda sedang datang bulan di malam pertama mereka. Tidak mungkin anak itu muncul begitu saja, bukan?
“Jika kau belum siap untuk bercerita, aku tidak akan memaksa, Amanda,” sambung Johan sebab Amanda tak kunjung menjawab pertanyaannya. Ia pikir, mungkin hal ini masih sulit untuk diceritakan.
“Tidak apa-apa, Johan. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu,” balas Amanda. “Aku tidak ingin menyembunyikan apa pun darimu.”
Amanda tersenyum tipis, lalu kembali menceritakan tentang masa lalunya.
Setelah Alan meninggal, Amanda lebih banyak mengurung diri di rumahnya. Wanita itu bahkan tidak pernah pergi bekerja lagi karena kematian Alan betul-betul membawa duka yang mendalam di hidup Amanda.
__ADS_1
Kematian Alan seolah membawa separuh jiwa Amanda. Semangat hidup Amanda juga dibawa pergi oleh pria itu. Kini, Amanda hanya menjalani kehidupan tanpa adanya semangat lagi. Wanita itu bahkan menutup diri dari lingkungan dan dunia luar sebab dia lebih senang terkurung dalam kesedihan atas meninggalnya Alan.
Beberapa bulan pun berlalu. Amanda masih menjalani kehidupannya seperti biasa, kehidupan yang dipenuhi tangis dan duka. Kematian Alan memang sudah lama terjadi, namun luka di hati Amanda belum juga sembuh. Wanita itu masih juga berduka karena kematian Alan.
Tiada hari yang Amanda lewati tanpa menangisi kepergian Alan. Setiap malam, ia akan terjaga, sambil membayangkan kalau Alan berada di sisinya dan memeluknya di antara dinginnya malam. Namun, setiap kali ia menyadari jika semua itu hanya bisa terjadi dalam bayangannya, ia akan menangis hingga tanpa sadar terlelap.
Malam itu, Amanda tengah terlelap dalam tidurnya ketika dia mendengar suara tangisan bayi. Amanda mengerjapkan matanya, lalu menajamkan indra pendengarannya. Awalnya, dia pikir dia hanya berhalusinasi atau bermimpi. Namun, suara itu justru bertambah keras dan Amanda yakin sekali jika memang ada seorang bayi yang sedang menangis.
“Bayi siapa yang menangis malam-malam begini?” tanya Amanda. Meskipun tak pernah bersosialisasi lagi dengan tetangganya, Amanda yakin kalau tidak ada tetangganya yang baru saja melahirkan atau memiliki anak balita.
Amanda berguling turun dari tempat tidur, lalu pergi ke luar rumah. Namun, di luar rumah dia tidak melihat ada siapa pun di sana. Ia pun kembali ke kamarnya setelah menutup pintu. Namun, ketika ia hendak berbaring kembali, ia lagi-lagi mendengar suara tangisan bayi. Ia pun akhirnya berinisiatif untuk membuka jendela kamarnya.
Ketika ia membuka jendela kamar, mata Amanda membulat sempurna. Ia melihat seorang bayi diletakkan di dalam sebuah keranjang dengan berselimutkan kain tipis. Wajah bayi tersebut tampak merah, kedinginan.
“Astaga, bayi siapa ini?” gumam Amanda.
“Shh, jangan menangis. Kamu sekarang aman di sini,” ucap Amanda sambil berusaha menidurkan bayi tersebut di dalam gendongannya.
“Siapa orang yang tega membuang bayi manis sepertimu? Jahat sekali,” ucap Amanda seraya membelai pipi bayi tersebut. “Tapi, tidak apa-apa. Mulai sekarang, aku yang akan merawatmu.”
Amanda memberi nama bayi tersebut Aneisha. Meski bukan putri kandungnya, dia menyayangi Aneisha selayaknya anak kandungnya sendiri.
Satu minggu pun berlalu. Kehadiran Aneisha membawa semangat baru di hidup Amanda. Amanda bahkan sudah jarang mengurung diri dan bersedih. Amanda kini jauh lebih ceria dan merawat bayi mungil yang ia temukan itu dengan penuh kasih sayang.
Kabar mengenai Amanda yang memiliki seorang putri pun terdengar sampai ke telinga orang tua Alan. Mereka tak tahu dari mana datangnya bayi itu. Yang jelas, mereka akan menggunakan bayi itu sebagai alasan mereka melancarkan rencana mereka untuk menyingkirkan Amanda dari rumah putranya.
__ADS_1
“Amanda, buka pintunya!” teriak ibu Alan sambil menggedor-gedor pintu rumah Amanda.
Amanda yang saat itu tengah mengganti popok Aneisha pun mempercepat apa yang dia lakukan, lalu keluar dari kamarnya. Ia mengerutkan dahi saat mendengar suara teriakan ibu mertuanya. Amanda merasa heran dengan kedatangan orang tua Alan di rumahnya sebab mereka tak pernah sekali pun mengunjunginya setelah Alan tiada.
Amanda pun membukakan pintu untuk mereka.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Amanda begitu ia membuka pintu. Amanda memegang pipinya yang terasa panas sambil menatap ibu mertuanya dengan tatapan bingung.
“Kenapa Mama menamparku?” tanya Amanda bingung.
Pasalnya, dia tidak pernah membuat kesalahan. Bertemu dengan keluarga Alan saja tidak pernah setelah hari kematian Alan. Tapi, kini ibu mertuanya tiba-tiba langsung menamparnya.
“Kamu masih tanya kenapa setelah apa yang kau lakukan kepada putraku?” tanya ibu Alan.
“Ma, aku benar-benar tidak mengerti,” ucap Amanda bingung.
“Anak siapa yang kau gendong saat ini?” tanya ibu Alan sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Aneisha. “Kamu pasti sudah mengkhianati putraku, ‘kan?!” tuduhnya.
Amanda menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, Ma. Aneisha adalah anak—”
“Halah! Tidak usah banyak alasan! Dasar wanita tidak tahu diri. Kau pasti membawa pria lain masuk ke rumah ini setelah Alan meninggal, ‘kan?” tuding ayah Alan.
“Tidak! Aku tidak pernah mengkhianati mas Alan!” kilah Amanda.
__ADS_1
“Bukti sudah terlihat jelas tapi kau masih belum mau mengaku juga?” cibir ibu Alan. “Sudah, Pa. Usir saja wanita ini dari rumah Alan.”
“Mulai sekarang aku ingin kau pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali!” teriak ayah Alan dengan telak.