Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Hamil


__ADS_3

Beberapa hari berlalu. Saat ini Manda dan kedua anaknya baru saja tiba di rumah, sepulang Arsen sekolah. Arsenio dan Neisha lebih dulu turun dari mobil sembari membawa mainan yang baru saja mereka beli tadi sepulang sekolah. Manda baru saja akan keluar dari mobil, tetapi kepala nya yang sejak tadi terasa pusing semakin pusing, membuatnya masih berada di mobil, bersandar sambil memejamkan matanya.


"Nyonya, wajah Anda terlihat pucat!" ucap supir yang menghampiri Manda saat Manda tak juga keluar dari mobil.


"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya supir itu lagi, bersamaan dengan mobil Johan yang tiba di rumah.


Johan yang melihat Manda berada di dalam mobil, segera menghampirinya.


"Sayang, ada apa?" tanya Johan dengan cepat serta panik.


"Kamu disini?" Manda sedikit terkejut menatap suaminya yang berada di rumah mereka, saat belum waktunya pulang kantor.


"Aku ingin makan siang di rumah bersama kalian," jawab Johan. "Kamu kenapa?" tanyanya lagi mulai memapah Manda keluar dari mobil.


"Aku hanya merasa pusing!" jawab Manda pelan.


Melihat keadaan istrinya, Johan menggendong Manda masuk ke dalam rumah, tiba di dalam rumah, ia merebahkan Manda di sofa dengan sangat hati-hati.


"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Johan yang terlihat semakin cemas.


"Ya, aku baik-baik saja!" Manda coba tersenyum, mencoba menenangkan suaminya yang terlihat mengkhawatirkannya.


Manda tertegun, ia merasa sedikit bingung dan mulai menebak. Manda mengingat jika berapa hari ini ia sudah cukup sering merasa pusing dan mual tanpa sebab.


Sudah lewat beberapa hari, tamu bulanku belum tiba, apa ini tandanya aku hamil? batin Manda dengan mata berkaca-kaca merasa senang, namun itu justru semakin membuat Johan panik melihatnya.


"Sayang, ada apa? Katakan padaku! Apa lebih baik kita ke rumah sakit memeriksakan keadaanmu?" tanya Johan mengusap lembut wajah istrinya yang sedikit pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


"Aku tidak apa-apa, tidak perlu ke rumah sakit. Ini hanya pusing biasa.


Pergilah minta tolong sama bi Maryam untuk mengurus Neisha dan Arsenio setelah itu bawa aku ke kamar!" pinta Manda pada suaminya, yang langsung bertindak.

__ADS_1


Setelah berbicara pada pelayan, Johan kembali menggendong Manda. Membawanya menuju kamar mereka, dan membaringkan tubuh istrinya itu di atas ranjang yang menjadi tempat favorit mereka untuk berciinta.


"Sayang, gantilah pakaianmu, temani aku di rumah saja ya?" pinta Manda lebih manja, dan itu membuat Johan tentu saja tersenyum senang mendengarnya.


"Baiklah, aku telepon orang kantor dulu, setelah itu ganti pakaianku!" jawabnya tersenyum tak menolak.


Setelah Johan tak terlihat lagi, Manda bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi membawa alat pemeriksa kehamilan yang sudah beberapa hari yang lalu dibelinya.


Manda menatap alat tes kehamilan yang ada di tanganya. Meskipun tes kehamilan sangat akurat di coba saat pagi hari dengan urine pertama, tapi Manda tetap akan mencobanya, menggunakan alat tes kehamilan terbaik yang di milikinya.


Manda memeriksa dirinya, dan beberapa menit kemudian air matanya menetes haru saat dia menatap hasil yang keluar dari alat pendeteksi kehamilan yang ada di tangannya.


Ya Tuhan, terima kasih atas semuanya, aku tidak menyangka akan secepat ini. Terima kasih, Tuhan, aku akan menjaganya dengan baik. Batin Manda menangis senang merasa amat bersyukur.


"Sayang, kamu di dalam?" tanya Johan mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya, aku di dalam," jawab Manda menghentikan tangisnya.


Manda mencuci wajahnya, tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin yang terlihat amat bahagia. Manda menyimpan hasil uji kehamilan di dalam saku bajunya, lalu keluar dari kamar mandi.


Manda melangkah menuju ranjang, perlahan naik, lalu berbaring disana, dan menepuk ruang kosong di sampingnya, meminta Johan untuk turut berbaring di sampingnya.


"Sayang, kenapa?" tanya Johan bingung melihat Manda yang tersenyum menatapnya.


"Tolong kunci pintunya!" ucap Manda masih saja tersenyum.


Johan menuruti permintaan Manda, setelah itu kembali menghampiri Manda dan berbaring di sampingnya seperti yang Manda pinta sebelumnya. Johan yang masih merasa sedikit panik dibuat terkejut saat Manda mendekatkan wajah mereka, lalu menciuum bibirnya. Bukan sebuah kecupan, namun sebuah ******* lembut menggiring Johan untuk membalasnya. Mendapat ajakan istrinya untuk berciuumaan tentu saja tidak akan di tolak oleh Johan, dia dengan semangat membalas pergerakan dari istrinya dengan rakus tapi tetap lembut.


"Sayang, aku ingin di atas!" ucap Manda saat ciuuman mereka terlepas, dan itu begitu mengejutkan Johan.


"Ha?" Johan seakan bingung dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


Manda yang melihat itu kembali tersenyum, mendorong pelan tubuh Johan membuat Johan terlentang dan dia dengan cepat menaiki tubuh Johan sembari menggerakkan pinggulnya. "Masih tidak mengerti?" tanyanya.


"Kamu tidak ingin melakukannya?" tanya Manda merengut kesal saat Johan tak menanggapinya.


Manda bahkan akan turun dari tubuh Johan, tetapi Johan menahannya.


"Tidak, bukan seperti itu sayang, tentu saja aku tidak akan pernah menolaknya, aku hanya sedikit terkejut." Johan dengan cepat menarik ke atas pakaian Manda, membuat kedua gundukan milik Manda terlihat.


"Aku akan selalu memuaskanmu," ucap Johan dengan cepat mencium sekilas bibir Manda sembari perlahan melepas semua kain yang ada di tubuh mereka meski dengan posisi Manda di atasnya.


Manda tersenyum melihat betapa semangatnya Johan membuka pakaian mereka hingga sesuatu di bawah sana terasa keras dengan gagah siap memasukinya. Membayangkan senjata Johan yang selalu dapat memuaskannya itu, membuat wajah Manda semakin merona.


"Kamu dapat merasakannya, bukan? Dia sudah sangat siap," ucap Johan, mengangkat sedikit pinggang Manda lalu dengan sekali arahan berhasil menancapkan miliknya.


Suara serak dari keduanya terdengar saat penyatuan itu terjadi.


Meski masih merasa bingung dengan sikap istrinya, tetapi Johan tentu tetap sangat menikmati apa yang mereka lakukan.


Manda mulai menggerakkan pinggulnya, saat Johan juga akan membantunya memompa dari bawah, Manda menghentikannya.


"Kita harus melakukannya dengan lembut. Jangan membuatnya terkejut," ucap Manda membuat Johan seketika berhenti, semakin menatap bingung padanya.


"Sayang, ada apa sebenarnya? Maaf, aku benar-benar merasa bingung."


Manda menyentuh tangan Johan yang ada di dadanya, lalu menurunkannya menuju perut. "Ada tamu di sini," ucapnya tersenyum.


"Sa–yang?" kata Johan yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Manda, membuat mata Johan menggenang saat air matanya siap tumpah karena bahagianya.


Johan mengusap lembut perut Manda. "Hai, terima kasih sudah hadir, Nak." ucapnya terdengar canggung.


Manda yang berada di atas Johan kembali bergerak, mengalihkan fokus Johan dari perutnya dan kembali mengeluarkan suara serak menikmati permainan mereka dengan perasaan bahagia.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, istriku," ucapnya disela ******* mereka.


"Aku juga mencintaimu, suamiku," balas Manda dengan pinggul yang terus bergerak.


__ADS_2