Suamiku Bucin Akut

Suamiku Bucin Akut
Bulan Madu


__ADS_3

Wajah cemberut Vani tak kunjung hilang selama di perjalanan yang sudah memakan waktu beberapa jam. Vani yang harusnya tengah bersantai di rumah dipaksa Juna untuk ikut bersamanya ke suatu tempat yang Vani tak tahu kemana.


"Kemana kita sebenarnya?" tanya Vani kesal, sebab sejak tadi Juna tak kunjung menjawabnya.


"Kamu pasti akan suka." Hanya itu kalimat yang terus Juna katakan sebagai jawaban.


"Tidurlah, sayang. Saat tiba di sana kamu pasti akan suka," ucap Juna lagi mengusap lembut kepala Vani.


Meski masih merasa kesal, Vani tetap mencoba mengikuti ucapan Juna. Vani memilih menutup matanya berharap saat terbangun dia sudah tiba di tujuan.


Juna tersenyum melihat Vani yang sudah memejamkan matanya. Tujuan Juna adalah salah satu pulau yang ada di kepulauan Fiji. Kebetulan Juna memiliki pulau pribadi di Fiji jadi Dika memilih Fiji sebagai destinasi bulan madu untuk mereka. Seperti permintaan Juna juga jika dia ingin bulan madunya dengan Vani menjadi momen yang spesial, sakral, dan intim. Juna tidak mau ada orang asing yang mengganggu kenyamanan bulan madu mereka nanti.


Setelah berjam-jam mengudara dan sempat melakukan transit, mereka akhirnya tiba di pulau pribadi milik Juna. Kini mereka sedang dalam perjalanan dari tempat pendaratan ke rumah mewah Juna yang berada di dekat pantai.


Sepanjang perjalanan, Vani yang tadinya hanya cemberut, sekarang benar-benar terpana dengan pemandangan di sekelilingnya. Sejauh mata memandang, Vani bisa melihat pepohonan dan siluet biru laut. Langit biru pulau tropis pun tak mau kalah untuk menyambut kedatangan Vani dan Juna.


“Pulau ini indah sekali. Tapi, kenapa sangat sepi?” tanya Vani bingung.

__ADS_1


“Pulau ini memang pulau pribadiku. Aku tidak ingin wisatawan asing masuk ke sini. Jadi, yang tinggal di sini hanyalah penduduk asli pulau ini saja supaya keindahan pulau ini tetap terjaga,” jelas Juna.


Vani mengedipkan matanya berkali-kali, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia lantas bertanya untuk memastikan, “Pulau ini adalah milikmu?”


“Well, sekarang menjadi milik kita karena milikku adalah milikmu juga,” jawab Juna membuat rona merah terlukis di pipi mulusnya.


Setelah beristirahat akibat jet lag, Juna mengajak Vani untuk makan malam di luar. Pria itu sudah menyiapkan sebuah makan malam yang romantis untuk Vani. Sambil menggenggam tangan Vani, Juna melangkahkan kakinya menuju ke arah pantai. Mereka berdua berjalan ke sana sambil bercanda dan tertawa.


"Kamu suka?" tanyanya.


"Jelas aku suka. Aku sangat suka. Maafkan sikapku tadi," ucap Vani merasa bersalah.


Menyadari jika Vani dari tadi memeluk tubuhnya yang kedinginan karena angin malam di pantai, Juna lantas menarik gadis itu ke dalam dekapannya sambil menciumi puncak kepala Vani.


“Sayang, apakah tempatnya masih jauh?” tanya Vani bingung karena dari tadi mereka tidak kunjung sampai di tempat makan malam mereka.


“Sebentar lagi kita sampai,” jawab Juna dengan tenang.

__ADS_1


Setelah berjalan paling tidak sepuluh meter, mereka akhirnya tiba. Vani terkesiap dan menahan napasnya saat melihat di depan sana sudah ada api unggun dan lilin-lilin yang mengitari sebuah tikar di mana berbagai jenis makanan sudah disiapkan. Tak hanya itu saja, sinar rembulan yang memantul di permukaan laut seolah ikut menambah suasana romantis yang telah diciptakan oleh Juna.


“Ayo, duduk. Katamu kamu sudah lapar, bukan?” ajak Juna.


Juna dan Vani duduk di tikar secara berhadap-hadapan. Vani merasa terharu atas apa yang dilakukan oleh Juna. Mata gadis itu bahkan sampai berbinar-binar karenanya.


Acara makan malam itu disambung dengan mereka kembali ke rumah dan berdansa di ruang keluarga. Vani melingkarkan tangannya pada leher Juna sementara Juna terus menarik Vani ke dalam pelukannya. Mereka berdua menari sambil mengikuti ritme dari lagu yang diputar oleh Juna.


Juna menatap Vani, menyelam jauh ke dalam keindahan iris cokelat terang gadis itu. Dia memerhatikan lekuk wajah Vani yang tegas, hingga matanya jatuh pada bibir ranum Vani. Bibir Vani yang mungil nan tipis itu membuat Juna tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium gadis itu.


Juna mengangkat dagu Vani, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Vani. Vani yang terhanyut dalam suasana pun membalas ciuman dari Juna. Dua sejoli itu terus berciuman hingga lama-kelamaan, ciuman lembut mereka berubah menjadi ciuman yang menggairahkan.


Pria itu mengangkat tubuh istrinya. Tanpa melepas pagutan bibir mereka, Juna membawa Vani ke kamar pengantin yang sudah dihiasi dengan lilin-lilin dan bunga mawar.


Juna perlahan meletakkan tubuh Vani di atas ranjang, lalu mengungkung tubuh Vani dengan tubuhnya. Tangan jahil pria itu tidak diam saja, dia mulai menggoda titik-titik sensitif Vani hingga membuat gadis itu meliuk-liukkan tubuhnya dan mendesah, menahan rasa nikmat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.


Tubuh Vani seolah pasrah dengan apa pun yang ingin Juna lakukan padanya. Gadis itu mempercayakan seluruh dirinya kepada pria yang saat ini sudah menjadi suaminya. Juna tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Pria itu lantas melucuti tubuh keduanya hingga tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka.

__ADS_1


Malam itu, ditemani riak gelombang dan cahaya rembulan, sepasang suami istri itu memadu kasih. Mereka berusaha untuk memuaskan gelora yang menggebu di dada mereka, hingga akhirnya mereka terbaring tak berdaya akibat ledakan percintaan yang luar biasa.


__ADS_2